Menggapai Malam Seribu Bulan

Samson Rahman

1.       Keutamaan Malam Al Qadr

Dalam ramadhan, terdapat satu malam yang bergelimang berkah, yang populer dengan sebutan lailatul qadar, malam yang lebih berharga dari seribu bulan. Malam ini menambah daftar panjang kemuliaan bulan Ramadhan. Allah berfirman,

“Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan”. (Al-Qadr: 1-5)

Lailatul Qadar juga dapat menghapuskan dosa orang-orang yang melaksanakan ibadah pada malam tersebut. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

2.       Makna Lailatul Qadr

Al-Qadr dalam bahasa Arab memiliki tiga makna (lihat Fathul Bari), yaitu:

  1. Ta’zhim  artinya pengagungan dan penghormatan. Al Qadr untuk makna ini terdapat dalam firman Allah, “Dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya”. (Al-An’am :91)
  2. Tadhyiq artinya penyempitan. Al-Qadr untuk makna ini termuat dalam firman Allah, Dan orang yang disempitkan rezkinya hendaklah memberi nafkah dari harta yang diberikan Allah kepadanya”. (Ath Thalaq: 7).
  3. Al Qadr  artinya pasangan dari qadha, yaitu ketetapan yang diturunkan oleh Allah kepada tiap-tiap manusia.

Tiga makna Al Qadr ini jika dipasangkan dengan kata “Lailah” yang berarti malam, maka artinya menjadi sebagai berikut :

1. Lailatul Qadr adalah malam yang penuh keagungan dan kehormatan.

Banyak hal yang membuat malam ini menjadi penuh keagungan dan kehormatan sebagaimana dicatat oleh Ibnu Hajar, di antaranya:

Pertama, malam tersebut adalah malam diturunkannya Al Qur’an. Begitu agungnya Al Qur’an, menyebabkan semua faktor yang mengiringinya menjadi agung dan terhormat. Sebutan Al Qur’an Al `Azhim, yang berarti Al-Qur’an yang penuh keagungan sangat akrab di telinga kita. Menurut makna ini, malam Al Qadr menjadi mulia karena faktor turunnya A-Qur’an.

Kedua, malam ini disebut juga sebagai malam penuh keagungan karena turunnya malaikat dengan seizin Tuhan mereka. Malaikat adalah makhluk Allah yang mulia dan selalu taat dengan perintah Allah serta tidak pernah berbuat dosa. Turunnya para malaikat, makhluk Allah yang mulia ini menjadikan malam tersebut turut menjadi mulia.

Ketiga, Malam ini juga menjadi agung karena dijadikan oleh Allah sebagai malam yang penuh barakah, rahmat, dan maghfirah. Keberkahan Allah di malam ini tercurah, sifat rahmat-Nya ditebar buat seluruh makhluk-Nya, dan pintu ampunAn Nya dibuka selebar-lebarnya. Keberkahan, rahmat, dan maghfirah adalah ciri-ciri keagungan dan kehormatan.

Keempat, Malam ini juga menjadi agung karena akan membuat orang yang menghidupkannya dengan ibadah menjadi agung dan terhormat.

2. Lailatul Qadr memiliki makna malam yang sempit.

Sifat ini dialamatkan kepada malam Al Qadr, karena dua faktor:

Pertama, ilmu tentang penentuan qadar yang turun malam itu tetap menjadi rahasia Allah, dan manusia tetap sempit pengetahuannya tentang hal ini.

Kedua, bumi pada malam itu menjadi sempit karena dijejali oleh turunnya malaikat yang begitu banyak.

  1. Lailatul Qadr adalah malam penentuan Qadar. Pada malam itu kejadian-kejadian yang akan terjadi setahun ke depan ditetapkan. Hal ini sejalan dengan firman Allah,

“Haa Miim, Demi Kitab (Al-Qur’an) yang menjelaskan, Sesungguhnya Kami menurunkannya pada suatu malam yang diberkahi, dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan. Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah. (yaitu) urusan yang besar dari sisi Kami” (Ad-Dukhan : 1-5)

Yang dimaksud dengan urusan-urusan di sini ialah segala perkara yang berhubungan dengan kehidupan makhluk, seperti: hidup, mati, rezeki, untung baik, untung buruk, dan sebagainya. Al Qadr di sini dimaksudkan sebagai rincian tahunan dari Qadha Allah yang telah ditetapkan secara umum sejak jaman azali.

3.       Kapan Lailatul Qadr Terjadi ?

Para ulama berbeda pendapat tentang penentuan malam Al Qadr (lihat Fiqi Sunnah). Di antara mereka ada yang berpendapat bahwa malam Al-Qadr jatuh pada malam ke 21, ada yang mengatakan malam ke-23, ada yang mengatakan malam ke-25, ada yang mengatakan malam ke-27, ada yang mengatakan malam ke-29, dan ada pula yang mengatakan malam tersebut jatuh secara berpindah-pindah dari tahun yang satu ke tahun berikutnya.

Pendapat mayoritas mengatakan bahwa malam Al Qodr jatuh pada malam ke-27. Hal ini berdasarkan hadits-hadits berikut:

1. Hadits Riwayat Imam Ahmad dengan sanad yang shahih dari Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anh:

“Barangsiapa yang ingin berjaga-jaga dan bertemu dengan malam Al Qadr, maka berjaga-jagalah pada malam ke dua puluh tujuh”.

2. Hadits Riwayat Imam Muslim, Ahmad, Abu Dawud, At Tirmidzi, dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata,

“Demi Allah Yang tiada ilah kecuali Dia! Sesungguhnya ia jatuh di bulan ramadhan. Dan Demi Allah, sesungguhnya aku mengetahui malam apa itu gerangan? Ia adalah malam yang kami diperintahkan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghidupkannya. Ia adalah malam ke duapuluh tujuh. Dan tandanya adalah terbitnya matahari pada subuh harinya, putih, tanpa sinar”.

4.       Hikmah Tidak Adanya Kepastian Waktu

Di antara hikmah tidak dipastikannya kapan turunnya lailatul Qadar adalah:

  1. Agar kita terus giat dan sungguh-sungguh beribadah, tidak hanya beribadah pada hari-hari tertentu dan meninggalkan ibadah di hari-hari yang lain.
  2. Untuk melatih kita istiqamah dalam amal.

5.       Menggapai Lailatul Qadr

Lailatul Qodr tidak disambut dengan memasang obor, pelita, atau apa saja yang bernuansa api. Ia juga tidak disambut dengan membuat kue-kue khusus menyambut hadirnya malaikat, sebagaimana dilakukan oleh sebagian masyarakat kita. Baik api ataupun makanan yang menyambut lailatul Qadr adalah seremonial yang bersifat fisik dan tidak ada dasarnya dalam Islam, tidak sejalan dengan semangat Al Qadr yang bersifat maknawi.

Lailatul Qodar juga tidak disambut dengan cara memperindah rumah, membeli sofa baru, memadati keramaian di mall-mall dan seterusnya. Perbuatan ini sangat jauh panggang dari api, karena sangat berseberangan dengan apa yang dicontohkan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam

Kalau kita melihat keseriusan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, isteri-isteri beliau dan para sahabat menyongsong tibanya lailatul Qadr. Kita akan berkesimpulan bahwa Lailatul Qadr adalah puncak kenikmatan yang dihadirkan oleh Allah di bulan Ramadhan.

Puncak kenikmatan ini sangat kecil kemungkinannya akan dirasakan oleh orang-orang yang tidak meniti hari demi hari Ramadhannya dengan “iimanan” dan “ihtisaban”. Karenanya, mereka menyambut malam tersebut dengan penuh kesungguhan, dengan cara menghidupkan malam-malam mereka dengan beribadah dan mendekatkan diri kepada Allah lebih daripada hari-hari biasanya.

Di antara cara menggapai lailatul Qodr adalah:

1. Menghidupkan malamnya dengan “imanan” dan “ihtisaban”.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Barangsiapa yang shalat pada malam lailatil qadr berdasarkan iman dan ihtisab, maka Allah akan mengampunkan dosa-dosanya yang telah lalu” (HRBukhari dan Muslim).

Dalam hadits yang lain disebutkan,

“Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam apabila memasuki sepuluh hari terakhir bulan ramadhan, beliau menghidupkan malamnya, membangunkan keluarganya, dan mengencangkan ikat pinggangnya (bersungguh-sungguh dalam ibadah dan tidak bercampur dengan istrinya).”

Beliau menghidupkan malam-malam terakhir tersebut di masjid, memperbanyak tadarus Al Qur’an dan menghidupkan malam dengan ibadah.

2. Ketika kita bertemu dengan malam ini, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan kita untuk membaca doa berikut:

“Ya Allah, Sesungguhnya Engkau Maha Pemberi maaf, senangkan memaafkan, karenanya ampunilah daku”.

Semoga kita dapat menggapai malam yang penuh mulia, penuh keagungan, dan penuh barakah ini. Amiin.