Menjadi Hamba Rabbani, Bukan Hamba Ramadhani

Harjani Hefni

Setiap bulan Ramadhan datang, ada perubahan besar pada beberapa orang. Dengan semangat, mereka melakukan ibadah-ibadah wajib dan sunah dengan tingkat intensitas yang jauh berbeda dari bulan-bulan sebelumnya. Namun sayang, setelah Ramadhan berlalu dan usai, maka berlalu pula dan usai pulalah intensitas ibadah yang selama Ramadhan mereka lakukan.

Pendekatan cara beribadah seperti ini tentu sangat keliru dan tidak benar. Sebab, hanya menjadikan Ramadhan sebagai tumpuan utama beribadah dan dengan menyepelekan bulan-bulan lain. Maka, sama artinya bahwa kita melakukan ibadah yang hanya bersifat musiman. Kita menjadi hamba musiman dan bukan hamba yang selalu istiqamah dan lurus di jalan Allah.

Padahal, tujuan puasa yang sebenarnya adalah sebagaimana yang Allah firmankan,

“Wahai orang-orang yang beriman telah diwajibkan berpuasa kepadamu sebagaimana telah diwajibkan atas orang-orang yang datang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (Al-Baqarah: 183).

Yakni, membidani lahirnya ketakwaan kita kepada Allah secara berkesinambungan dan kontinyu. Oleh karena itulah, Allah menggunakan kata tattaquun dalam bentuk fi’il mudhari’ yang berarti untuk saat ini dan yang akan datang.

Artinya adalah bahwa dengan puasa, seseorang akan mampu melakukan internalisasi ketakwaan ini dalam darah dagingnya, sehingga dia memiliki kepekaan rabbani yang terus menerus, tanpa mengenal waktu, kondisi, dan ruang. Ketakwaaan yang sebenarnya bukan hanya ada dan harus terasa di bulan Ramadhan, namun juga hendaknya terus bergulir di luar bulan suci, sebagai buah dari latihan-latihan yang melelahkan di bulan Ramadhan ini.

Sebab, ketakwaan tidak memiliki batas ruang dan zaman tertentu. Dia harus terus mengalir deras kapan dan dimana saja dia berada. Bagi manusia takwa, dirinya akan senantiasa berada dalam aura rabbani yang menggelegak-gelegak untuk melakukan kebaikan dan kebajikan, untuk menjauhi larangan dan maksiat kepada Allah.

Dalam hari-harinya, akan terasa nuansa rabbaniyah yang menggerakkan dirinya untuk senantiasa dekat dengan Allah, merapat ke sisi-Nya, mendekat ke hadirat-Nya. Mata hatinya memiliki “radar” furqan yang sangat gampang membedakan antara yang benar dan yang salah, antara yang batil dan yang hak, antara cahaya Tuhan dan kegelapan syetan.

Nuraninya memiliki sensitivitas tinggi dalam memilah antara kebaikan dan kejahatan. Hamba rabbani akan senantiasa berada dalam koridor-koridor lurus Tuhannya dan akan senantiasa menjauhi jerat-jerat syetan.

Namun sekali lagi, aktivitas itu harus senenantiasa berlangsung tanpa henti dan jeda. Gelombang ketakwaan itu harus terus bergolak dan berhembus di luar bulan Ramadhan.

Suatu kali dikatakan kepada Imam Bisyr, bahwa ada sekelompok manusia yang hanya bersungguh-sungguh beribadah di bulan Ramadhan dan dia diminta pendapatnya mengenai orang yang memiliki sikap beribadah seperti itu. Dia menjawab, “Seburuk-buruk kaum adalah mereka yang tidak mengetahui hak Allah kecuali pada bulan Ramadhan. Sesungguhnya orang shaleh akan senantiasa bersungguh-sungguh beribadah sepanjang tahun.”

Jawaban ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba rabbani, yakni hamba yang selalu dekat dengan nilai-nilai ketuhanan, amal-amalnya akan senantiasa bertaburan bak gemintang, kapan saja dan bulan apa saja. Keterikatan kita bukan pada bulan itu, namun keterikatan kita senantasa berupa ketaatan kepada Allah.

Hamba rabbani akan menggetarkan dinding-dinding malam dengan dzikirnya, kapan saja dan dimana saja. Hamba rabbani akan menggetarkan atap-atap langit dengan tasbih dan tahmidnya kapan saja dan dimana saja.

Hamba rabbani akan menggelar “konser” tahlil di mesjid-mesjid, di mushala-mushala, di kereta-kereta, di mobil-mobil dan dimana saja dia berada. Bibirnya senantiasa basah dengan berdzikir kepada Allah, kalbunya penuh dengan cahaya Allah. Hamba rabbani terus berjalan di atas shiratal mustaqim.

Hamba rabbani memiliki mata anti maksiat, telinga anti desas-desus, mulut anti fitnah dan adu domba. Hatinya sebening mutiara dan pikirannya secerah bintang kartika.

Tak heran jika hamba-hamba rabbani ini akan menjadi suluh dan secercah cahaya yang akan memberikan penerangan terhadap manusia-manusia lain. Bukan hanya di bulan Ramadhan saja, namun di setiap detakan waktu, di setiap tarikan nafas, di setiap langkah kaki. Dia menjadi musuh utama hamba syaitani, manusia-manusia yang mengabdi pada kehendak syetan dan hawa nafsunya.

Di bulan Ramadhan ini, kesempatan untuk melatih diri menjadi hamba rabbani betul-betul terbuka lebar. Karena, bulan ini mengandung berbagai keistimewaan. Bulan ini bulan paling mulia diantara sebelas bulan lainnya, bulan yang di dalamnya rahmat dicurahkan, ampunan ditawarkan dengan gencar, pembebasan dari api neraka dibuka lebar-lebar. Bulan yang di dalamnya tangan-tangan syetan dibelenggu, pintu Rayyan dibuka menganga.

Bulan yang sedekah di dalamnya jauh lebih baik dari pada sedekah di bulan lainnya, pahal-pahala amal dilipat tanpa diketahui jumlah lipatannya. Bulan dimana umrah yang dilakukan pada bulan ini setara dengan ibadah haji di bulan lain, atau dalam hadits lain disebutkan laksana melakukan haji bersama Rasulullah.

Bulan yang di dalamnya doa-doa tidak tertolak saat dipanjatkan pada saat berbuka. Bulan yang di dalamnya Al Qur’an untuk pertama kalinya diturunkan dari Lauh Mahfuzh ke langit dunia. Bulan yang menjadi tameng pelakunya dari api neraka, laksana tameng mereka pada saat perang.

Bulan ini akan menjadi uji coba pertama siapa diantara kita yang mampu merengkuh semua pahala di bulan suci untuk kita jadikan bekal menjadi hamba rabbani di masa-masa mendatang. Bekal ketakwaan, bekal kesabaran, tahan uji, kepekaan sosial, kearifan ucapan dan lainnya. Kelulusan kita di bulan ini sangat menentukan apakah kita mampu menjadi hamba rabbani atau kita gagal mencapainya.

Maka, tidak ada cara lain bagi kita selain mengokohkan “otot” ketakwaan kita kepada Allah di bulan suci ini, agar kita tidak menjadi ‘abdun ramadhani, hamba yang hanya takwa, sabar dan tawakkal di bulan Ramadhan. Hamba yang hanya tahu hak dan kewajibannya di bulan Ramadhan, hamba yang hanya menyucikan telinga, mata, mulut, dan lisannya di bulan Ramadhan semata.

Kita berharap, bahwa puasa tahun ini akan mencetak kita menjadi hamba rabbani dan bukan hamba ramadhani. Fakun ‘abdan Rabbaniyan wala Takun ‘Abdan Ramadhaniyan. Semoga. Amien.