Hasan Al Banna

Menuju Cahaya: Peradaban Barat Saat ini

Guna melengkapi pembahasan ini, kami ingin mengatakan bahwa kemajuan teknologi di Barat –yang lelah membuat kesombongan para ilmuwannya dan pernah menundukkan dunia dengan produk-produknya– kini menghadapi kebangkrutan. Peradabannya mulai roboh, undang-undang dan nilai-nilai dasarnya pun mulai hancur.

Dominasi politiknya telah binasa oleh kediktatoran, tonggak perekonomiaannya diguncang oleh krisis yang tiada henti, sedangkan berjuta-juta orang menderita.

Pengangguran dan kelaparan turut menjadi saksi atas keruntuhan peradaban ini. Akar sistem sosial mereka digerogoti oleh berbagai prinsip yang ganjil. Unjuk rasa yang kian marak di berbagai tempat seakan menggugat keberadaannya. Orang-orangkebingungan mencari penyelesaian atas berbagai persoalan yang mereka hadapi, dan kini mereka pun tersesat jalan.

Konferensi-konferensi yang mereka adakan telah gagal, tanpa membuahkan hasil apapun. Perjanjian-perjanjian yang mereka buat hancur tercabik-cabik. Mereka bagaikan sesosok bayangan yang tak lagi mempunyai ruh dan tidak memiliki cahaya untuk dapat menembus kegelapan hidup.

Adapun orang-orang besar di antara mereka, tangan sebelahnya menciptakan berbagai kesepakatan damai dengan sesamanya sedangkan tangan yang lain melahirkan berbagai penderitaaan hidup.

Demikianlah, dunia kini –dengan segala perilaku politiknya yang aniaya dan rakus– bagaikan bahtera di tengah samudera yang diterpa angin topan dari segala penjuru. Kemanusiaan seluruhnya tengah mengalami penderitaan, kegelisahan, dan goncangan Mereka telah terbakar oleh api kerakusan dan materialisme. Karenanya mereka kini sangat membutuhkan tetesan embun nan sejuk dari nilai-nilai Islam yang hanif, untuk membasuh dan membersihkan noda penderitaan mereka, serta membawanya kepada kebahagiaan.

Pada masa lalu, kepemimpinan dunia ini pernah dipegang oleh dunia Timur.  Setelah muncul peradaban Yunani dan Romawi, maka berpindahlah ia ke Barat. Setelah itu, datanglah masa kenabian Musa, Isa, dan Muhammad saw. yang membawa kepemimpinan dunia kembali ke Timur. Setelah itu, dunia Timur terlelap lagi dalam tidurnya yang panjang, dan bangkitlah Negara-negara Barat dengan peradaban modernnya.

Demikianlah hukum alam yang tidak mungkin dapat dihindari. Dunia Barat mewarisi kepemimpinan dunia hingga saat ini. Namun, inilah wajah peradaban Barat;sebagaimana kita saksikan sekarang penuh dengan kezhaliman, sikap aniaya, dan melampaui batas.

Sungguh, kini dunia tengah menanti-nantikan kembalinya kepemimpinan peradaban timur yang kuat, untuk menaungi mereka dengan panji-panji ilahi, memayunginya dengan naungan Al-Qur’an, dan menghadirkan ke hadapan dunia “tentara-tentara iman” yang kuat dan tegar.

Hanya dengan cara itulah dunia ini akan kembali tenteram dan damai, sehingga seluruh alam pun berucap, “Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami kepada petunjuk ini, dan kami sekali-kali tidak akan mendapat petunjuk kalau Allah tidak memberikan kepada kami petunjuk tersebut.” (At-A ‘raf: 43)

Cita-cita ini bukanlah khayalan belaka, namun ia merupakan kepastian sejarah. Kalau pun hal ini tidak terwujud, maka Allah swt. telah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, barangsiapa di antara kamu murtad dari agama- Nya, maka kelak Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Allah mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada celaan orang-orang yang suka mencela. Itulah karunia Allah yang diberikan kepada siapa yang dikehendaki-Nya.” (Al-Maidah: 54)

Meskipun demikian, kita berusaha untuk menjadi orang-orang yang mendapatkan anugerah Allah dan ditulis di papan terhormat ini: “Tuhanmulah yang menciptakan apa yang Dia kehendaki dan Dia pilih.”