Al Mustasyar Abdullah Al 'Aqil

Mereka Yang Telah Pergi (1)

Segala puji bagi Allah ta’ala, shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan shahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Sungguh saya mendapat kehormatan saat diminta memberi pengantar buku yang sangat menarik, yang disusun oleh seorang dai, murabbi, guru besar, dan mantan Wakil Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami di Makkah Al Mukaramah, Al Ustadz Abdullah Al ‘Aqil.

Buku ini berisi biografi, aktivitas, sifat, dan ucapan beberapa putra-putra terbaik Islam, baik di dunia Arab maupun lainnya. Mereka telah meninggalkan berbagai warisan monumental, kerja-kerja mulia, serta sikap-sikap kepahlawanan di medan dakwah dan jihad fi sabilillah.

Mereka telah memberikan pengorbanan dengan sesuatu yang paling berharga yang dimiliki untuk memagari agama dan membela tanah air. Mereka mencurahkan segenap tenaga, waktu, dan kekayaan untuk mendapatkan ilmu yang bermanfaat. Padahal, dalam waktu yang bersamaan, para penjajah tengah menyerang negara-negara Islam, menjarah kekayaanya, menguras perbendaharaan yang ada di dalamnya, memenjarakan dan membantai penduduknya. Oleh karena itu, orang-orang seperti mereka adalah para perintis umat di medan jihad dan kebangkitan.

Guru besar Abdullah Al ‘Aqil telah dikenal oleh para aktivis perjuangan dan dakwah Islam. Ia dilahirkan tahun 1930-an dan memulai studinya di Iraq. Pada akhir tahun 1940-an, berangkat ke Mesir untuk meneruskan studi di Fakultas Syariah Universitas Al Azhar. Beliau menamatkan studinya di Al Azhar tahun 1954, kemudian singgah di Arab Saudi. Selanjutnya ke Iraq untuk menjadi guru sekolah swasta An Najah di Az Zubair. Beberapa tahun berikutnya beliau berangkat ke Kuwait untuk memegang jabatan-jabatan penting. Jabatan terakhir beliau adalah Konsultan Kementerian Wakaf dan Urusan Keislaman Kuwait. Namun, tahun 1986 beliau meninggalkan Kuwait menuju Arab Saudi untuk menjabat Wakil Sekretaris Jenderal Rabithah Alam Islami dan Sekretaris Jenderal Majelis Tinggi Urusan Masjid. Tahun-tahun selanjutnya, waktu beliau banyak dihabiskan pada bidang penulisan dan penerbitan.

Ketika studi di Mesir, permulaan tahun 1950-an, ia berhasil menyegarkan kehausannya untuk mengenal para ulama pergerakan, dai, mujtahid, penguasa yang ikhlas, dan para pemimpin pergerakan kemerdekaan yang menjadikan Mesir sebagai tempat perlindungan dan titik tolak membebaskan bangsa mereka dari cengkeraman penjajah. Ia selalu menghadiri majelis-majelis mereka, mengkaji sikap-sikap dan pendapat-pendapatnya, mengambil manfaat dari ilmu dan sifat wara’ mereka, serta mereguk pendidikan dari mata air keimanan, kesadaran politik, kedalaman pemikiran, dan keluasan dakwah.

Maka tidak mengherankan kalau figur-figur agung dan tokoh-tokoh bersih itu masih diingatnya, meskipun sudah berpisah selama puluhan tahun. Kecintaaannya yang tulus dalam menulis biografi mereka dapat Anda rasakan dalam setiap baris kalimat, bahkan dalam setiap kata dalam buku yang disajikan dengan gaya bahasa menawan, kata-kata mudah dicerna, makna mendalam, dan pemaparan yang sangat menarik ini.

Sungguh Ustadz Al ‘Aqil sangat dekat dengan tokoh-tokoh yang ditulisnya. Ia merasakan pengaruh mereka dari dekat dan mengikuti ceramah-ceramah, seminar-seminar, kajian-kajian, pertemuan-pertemuan, atau perkemahan-perkemahan bernuansa keimanan mereka. Karena itu, penulisannya tergolong penulisan seorang pakar yang benar-benar mengenal tokoh.

Buku ini memuat biografi lebih dari tujuh puluh tokoh terkemuka dari dua puluh negara Arab dan lainnya, yang hidup pada abad XIV H atau XX M. Saya kira penulis masih memiliki stok pengalaman dan pengetahuan yang melimpah tentang penulisan serupa yang sama-sama kita rindukan.

Saya pribadi belum mengenal tokoh-tokoh dalam buku ini, meskipun saya seorang wartawan. Maka, bagaimana dengan masyarakat Muslim pada umumnya? Padahal mereka disuguhi berbagai media massa yang memuat kehidupan para bintang film, pemain sepakbola, tokoh politik, serta para pejabat yang diangkat sebagai idola dan panutan kawula muda. Akibatnya, tiada tempat bagi para pembaharu, dai, atau mujahid yang telah mengorbankan ruhnya untuk membela agama dan umatnya.

Dari sini, tampaklah pentingnya upaya yang dilakukan tokoh-tokoh agung melalui majalah Al Mujtama’. Upaya ini membimbing generasi muda Islam untuk mengenal sejarah mereka secara benar, sehingga mereka bertambah yakin bahwa sejarah telah mempersembahkan manusia-manusia agung yang telah berkorban tanpa mengharapkan balasan, kecuali keridhaan Allah subhanahu wa ta’ala dan pahala di akhirat.

Agar tidak panjang kata, saya persilakan pembaca menghirup wanginya bunga yang akan membuatnya bahagia, sebagaimana saya berbahagia saat membacanya. Segala puji bagi Allah subhanahu wa ta’ala yang dengan nikmatnya segala kebaikan terlaksana.

Kairo, Maret 2000

Badr Muhammad Badr