Shalah Shawi

Mukadimah Ats Tsawabit wa Al Mutaghayirat: Prinsip-prinsip Gerakan Da’wah

Bismillahir rahmanir rahim

Segala puji milik Allah. Kami memuji, memohon pertolongan, petunjuk, dan ampunan-Nya. Kami berlindung kepada Allah dari keburukan nafsu dan perbuatan. Barangsiapa diberi hidayah-Nya, maka dialah orang yang mendapat hidayah, sedangkan barangsiapa disesatkan-Nya, maka engkau tidak akan mendapati pelindung yang bisa membimbingnya.

Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan yang haq selain Allah Yang Maha Esa, tiada sekutu bagi-Nya, dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya.

Ya allah, Tuhan penguasa Jibril, Mikail, dan Israfil. Wahai pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui segala yang ghaib dan yang tampak, Engkaulah yang memberikan putusan terhadap hamba-hamba-Mu dalam hal yang mereka perselisihkan. Tunjukilah kami kepada kebenaran dalam hal yang diperselisihkan, karena sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki menuju jalan yang lurus.

Ama ba’du

Kajian ini (Ats Tsawabit wa Al Mutaghayirat: Prinsip-prinsip Gerakan Da’wah – red) adalah sebuah upaya untuk menata skala prioritas, baik hal-hal yang bersifat ilmiah maupun alamiah dalam perjalanan gerakan Islam kontemporer. Yaitu dengan cara mengemukakan perbedaan antara lain yang qath’iy (pasti dan mutlak) dan yang telah menjadi keputusan ijmak, juga beberapa pilihan ilmiah yang rajih (dipandang lebih kuat), dimana menentangnya dianggap sebagai perilaku ganjil dan menyeleweng, yang oleh kajian ini disebut tsawabit, dengan hal-hal zhaniy (dugaan dan relatif) dan masalah-masalah ijtihad yang oleh kajian ini disebut mutaghayirat. Di samping itu, kami juga menjelaskan manhaj yang mu’tabar  (diakui) di kalangan ahli ilmu, yang berhubungan dengan masing-masing dari kedua hal di atas.

Dengan ini kami berharap dapat memberi andil untuk menata ulang lembar-lembar kerja dalam perjalanan gerakan Islam, meletakkan tolok ukur evaluasi dan pemecahan berbagai persoalan kekinian kita, baik yang bersifat ilmiah maupun amaliah, yang hal itu disepakati menjadi objek perhatian bersama orang-orang yang sibuk mengurus problemantika gerakan Islam dewasa ini, walaupun berbeda-beda manhaj dan tolok ukurnya.

Bagi orang yang mau merenungkan, bukanlah hal yang samar bahwa kebanyakan persoalan besar yang menajdi titik singgung dan titik kritis dalam realitas gerakan Islam modern, yang karenanya muncul berbagai fitnah dan konflik, sumbernya bukanlah perselisihan pada prinsip-prinsip yang mendasar secara ilmiah, namun lebih banyak disebabkan adanya kerancuan dalam pemahaman, sehingga memunculkan perbedaan dalam mengidentifikasi berbagai persoalan, berikut bagaimana merumuskan solusinya, juga dalam menetapkan manhaj dan menentukan sarana yang mungkin digunakan.

Selain itu, tidak samar pula bahwa perbedaan ini muncul juga karena sebagian kalangan masih rancu dalam memahami, mana hal-hal yang telah menjadi keputusan ijmak dan mana pula yang masih menjadi objek ijtihad, dalam persoalan kekinian. Ini pada gilirannya menyebabkan kerancuan dalam menyusun skala prioritas kerja, dalam bentuk, misalnya, berkembangnya perhatian yang berlebihan terhadap masalah parsial, mencela dan menyebut ahli bid’ah orang yang berbeda pendapat, dengan cara yang menutup semua pintu dialog dan evaluasi. Dalam waktu yang bersamaan, sebagian persoalan prinsip justru diabaikan dan dipinggirkan, padahal ia merupakan sandaran utama dalam manhaj ahlus sunah wal jamaah, yang tanpanya arah perjalanan menjadi rancu dan orang-orang yang menempuh perjalanan pun menjadi terseok-seok.

Bersamaan dengan itu, tidak samar juga bahwa manhaj yang menjadi pegangan ahlusunah waljamaah dalam berinteraksi dengan orang yang berbeda pendapat telah lenyap, baik itu perbedaan pendapat dalam masalah prinsip dan kaidah-kaidah global maupun dalam hal furu’iyah dan ijtihadiyah. Juga tidak adanya kemampuan membedakan antara fiqh ijtima’ i (sosial) dalam kerja dakwah dan pembangunan dan fiqih ijtima’  dalam aktivitas membela dan mempertahankan eksistensi Islam, dimana hal ini menuntut dihidupkannya kembali fiqih muwazanah (perbandingan) untuk menimbang antara maslahat dan mafsadat, pertimbangan akibat yang akan timbul, prinsip menutup pintu kerusakan, juga kaidah-kaidah dasar sejenis dalam bangunan syariat Islam yang penuh berkah.

Di sisi lain, berbagai upaya yang dikerahkan untuk merajut keretakan dalam tubuh berbagai gerakan Islam, untuk mengajak para kadernya bertemu dalam ungkapan yang seragam sesuai yang tertera dalam Al Quran dan Sunah, untuk saling menenggang dalam persoalan ijtihad, dan untuk berkonsentrasi menghadapi kemunkaran yang lebih besar (seperti sekulerisme, berhukum kepada undang-undang buatan manusia, permusuhan terbuka terhadap Islam dan tokoh-tokohnya) yang membuat umat ini menderita sepanjang tujuh dasawarsa silam, telah kehilangan unsur takamul (saling melengkapi) dalam perjalanannya.

Perlu juga dipahami bahwa hal itu tidak berarti menyeru kepada dibubarkannya eksistensi ragam kelompok yang ada demi kepentingan satu kelompok saja daripadanya, dengan alasan bahwa ia lebih tua atau lebih lurus, tidak menyangkal legalitas aktivitas suatu kelompok, atau meragukan urgensinya atau kapasitas orang-orang yang mengembannya, karena ia dipandang berporos pada kebatilan atau persatuannya terbentuk atas kemaksiatan.

Akan tetapi, upaya tersebut mengajak kelompok-kelompok yang ada untuk meluruskan cara pelaksanaannya, dengan asumsi bahwa kelurusan internal dalam merealisasikan aktivitas-aktivitasnya merupakan muakdimah alamiah menuju kelurusan dalm berinteraksi dengan yang lain. Dengan begitu, aktivitas menjadi berkembang, langgeng, dan efektif.

Upaya yang dilakukan hendaknya mengajak kita untuk meluruskan cara pandangnya terhadap segenap kelompok dan meletakkan landasan cara pandang terhadap keberagamannya, bahwa keberagaman itu adalah keberagaman variatif, yang dengannya segala tenaga yang dikerahkan menjadi saling melengkapi. Bukan keberagaman kontradiktif, yang membuat abrisan-barisan yang ada saling berbenturan.

Ia juga menyeru kepada sosialisasi semangat saling melengkapi antara kelompok-kelompok tersebut, dengan asumsi bahwa masing-masing memiliki fokus seputar menghidupkan sejumlah kewajiban dan menjaga serta mengamankan sejumlah celah, yang berbeda dengan fokus yang dijadikan orbit oleh orang lain. Sesungguhnya, gerakan Islam terpanggil untuk menghidupkan berbagai kewajiban dan mengamankan berbagai celah secara keseluruhan. Jika hal itutidak bisa terealisir dalam satu eksistensi kelompok, maka setidaknya bisa terealisir dalam keseluruhan kelompok, dalam bentuk eksistensi yang bersifat parsial, dimana kita harus menganggap bahwa semua saling melengkapi dalam emnunaikan berbagai kewajiban dan mengamankan keseluruhan celah.

Semuanya bertujuan menggapai keridloan Allah dan menegakkan syariat islam. Kewajiban yang tidak bisa ditunaikan oleh yang satu, maka yang lain bangkit untuk menutupinya.

Apabila sikap saling melengkapi menggantikan tempat saling memangsa, dan saling menasihati menggantikan tempat saling tuduh dengan berbagai tuduhan dan kejanggalan, berarti jalan telah terbentang melampaui realitas caci maki yang diderita oleh kelompok-kelompok tersebut, sehingga menjadi fitnah bagi khalayak besar umat manusia. Pada akhirnya mereka jatuh pada pilihan sekuler dan berpihak pada kubu pemecahan non wahyu.

Imam As Syatibi –rahimahullah­- ketika menjelaskan bahwa perbedaan dalam masalah furu’iyah pada hakikatnya kembali kepada kesepakatan, karena semua pihak sepakat mencari tujuan peletak syariat, dan tujuan itu adalah satu. Ia berkata,

“Dari sini tampaklah wujud saling menolong, saling cinta, dan saling kasih sayang, di antara orang-orang yang berselisih dalam masalah ijtihadiah, sehingga mereka tidak menjadi berkubu-kubu dan tidak pula berpecah menjadi berfirqah-firqah, untuk mencari tujuan pembuat syariat. Maka perselisihan cara tidak berdampak apa-apa, seperti halnya tidak ada perselisihan antara orang-orang yang beribadah kepada Allah dengan ragam ibadah. Seperti orang yang mendekatkan diri kepada Allah dengan salat, ada yang dengan puasa, ada pula yang dengan sedekah, dan juga berbagai ibadah lainnya. Mereka sepakat dalam pokok, yaitu menghadapkan wajah kepada Allah, Dzat yang diibadahi, walaupun mereka berbeda dalam bentuk. Begitu juga para mujtahid, ketika tujuan mereka adalah menepati tujuan pembuat syariat (Allah), maka kalimat dan kata mereka menjadi satu.”

Upaya ini –sejak mula pertama— bukanlah bertujuan membubarkan kelompok-kelompok yang ada untuk kepentingan salah satu darinya, bukan pula untuk meremehkan nilai ibadah dan kewajiban-kewajiban kolektif yang menjadi kisarannya, karena suatu kewajiban yang lebih penting. Sebab ia bertolak— setelah kajian dan renungan— dari pendapat tentang harusnya seluruh aktifitas tersebut, sebagiannya tidak mencukupi dari sebagian yang lain dan salah satunya tidak bisa menggantikan kedudukan yang lain.

Upaya ini bertujuan mengubah keragaman menjadi fenomena positif, yaitu dengan mendudukkan sikap saling melengkapi di tempat sikap saling menyerang, mendudukkan sikap saling menasihati di tempat sikap saling menuduh dengan kejanggalan-kejanggalan, dan mengikat tali ukhuwah atas dasar kitab dan sunah, bukan yang lain, dan mengukuhkan wala’ dan bara’ atas dasar agama Islam yang universal, yang tercermin dalam Kitab, Sunah, dan ijmak, bukan atas dasar simbol-simbol jamaah dan tidak pula atas dasar pilihan-pilihan limiah maupun amaliahnya.

Sesungguhnya ia bertujuan untuk menegaskan ketetapan-ketetapan yang mutlak, yaitu objek-objek ijmak dan pokok-pokok yang tetap menurut ahlusunah waljamaah, dan menilainya sebagai satu-satunya pangkal pengikat wala’ dan bara’ dalam perjalanan berbagai jamaah Islam.

Sebagaimana ia juga bertujuan untuk mengemukakan sejumlah ketetapan yang bersifat relatif, yakni sebagai pilihan ilmiah yang kuat dan mencerminkan prinsip pokok dalam perjalanan gerakan Islam. Digabungkan dengan pemikiran sebelumnya, maka semakin sempurnalah wilayah ilmiah yang selayaknya disepakati oleh berbagai kelompok gerakan dalam realita kita dewasa ini, walaupun pada sebagiannya terdapat perbedaan yang lemah.

Selain itu, prinsip yang harus dipegang teguh adalah pengakuan setiap jamaah terhadap lainnya dalam masalah furuiyah dan manhaj tarbiahnya, sepanjang masih berada dalam wilayah Al Quran, Sunah, dan ijmak ulama. Kemudian keharusan adanya koordinasi dan kesatuan sikap dalam persoalan-persoalan penting dan masalah-masalah besar, sehingga tidak terjadi benturan sikap yang membuahkan kegagalan dan kacaunya urusan. Persatuan adalah rahmat, sedangkan perpecahan adalah azab.

Pengakuan setiap jamaah terhadap lainnya dalam masalah furuiyah tidak berarti menafikan perlunya saling menasihati, menjelaskan yang benar, dan mendiskusikan masalah ini maupun lainnya, dengan argumentasi ilmiah dan mengajak yang lain untuk mengamalkan yang lebih hati-hati, serta keluar dari perbedaan, sepanjang hal itu tidak mendatangkan kerusakan yang lebih besar. Yang dituju tidak lain adalah dijadikannya prinsip-prinsip yang tetap itu, bukan lainnya, sebagai pangkal pengikat wala’ dan bara’ .

Sesungguhnya, pilihan-pilihan furu’iyah ini, apapun hasil yang dilahirkan dari diskusi seputarnya, apakah kesepakatan atau perbedaan, ia tidak meretakkan bangunan, tidak membelah persatuan, tidak bersempit dada terhadap orang yang berbeda pendapat, dan tidak mencelanya dengan mendiamkannya atau sejenisnya. Melainkan, barangsiapa mengamalkan pilihannya dalam masalah itu, tidak boleh diingkari dan tidak boleh pula diputuskan hubungan. Demikian pula, barangsiapa mengamalkan pilihan lain dalam masalah itu, ia tidak boleh diingkari dan tidak boleh didiamkan, selama sikapnya itu muncul dari ijtihad atau taqlid yang diizinkan.

Atas landasan inilah, maka manhaj kami dalam kajian ini adalah menampilkan persoalan-persoalan harakah Islam secara keseluruhan menurut pokok-pokok yang telah ditetapkan dalam manhaj ahlusunah waljamaah, dan membedakannya—sebagaimana keterangan terdahulu—antara hal-hal yang mutlak dan pasti (tsawabit) dan hal-hal yang relatif dan berubah (mutaghayirat) dimana hasil ijtihad di dalamnya adalah sah.

Dalam hal yang disebutkan terakhir ini, perlu dibedakan antara sesuatu yang kesatuan pada satu kata tentangnya menjadi niscaya—sebab ia menyangkut persoalan-persoalan strategis yang mencerminkan agenda bersama di antara para aktivis gerakan Islam, dimana kesepakatan tentangnya dianggap sebagai modal utama yang niscaya untuk bisa mengatasi realita konflik yang melanda perjalanan gerakan Islam modern dan untuk mencapai kesatuan sikap yang diidamkan—dengan sesuatu yang tidak terkait dengan persoalan strategis tersebut, karena tergolong sikap-sikap individu semata.

Catatan:

Seharusnya kajian ini tidak diangkat ke khalayak sebelum melewati serangkaian diskusi yang melibatkan para wakil dari berbagai aliran pemikiran kontemporer, sehingga memperoleh penelitian dan penajaman. Namun, pertimbangan-pertimbangan teknis yang tidak bisa disebutkan di sini, menyebabkan disegerakannya penyebarluasan ini dengan cepat.

Saya berharap, kiranya para pembaca berkenan memberikan catatan atau komentar sebagai bahan untuk catatan berikutnya.

Saya tegaskan pada penutup mukadimah ini, bahwa kajian ini adalah semata-mata upaya dari seorang pencari ilmu yang hatinya dibuat pilu oleh perpecahan yang melanda berbagai kelompok gerakan islam. Saya sekedar ingin memberi andil dengan pena saya sesuai yang saya sanggupi, untuk berusaha menghilangkan fitnah itu dan memadamkan kobarnya. Kalau benar, maka itu datangnya dari Allah dan kalau salah, maka itu dari saya atau setan. InsyaAllah saya sanggup memperbaiki kesalahannya dalam kehidupannya dan sesudah kematiannya.

Allah-lah tempat memohon pertolongan. Kepada-Nyalah segala ketergantungan. Dialah pemberi hidayah kepada jalan yang benar.