Sa'id Hawwa

Pelayanan dan Tawadhu’

[Pelayanan dan tawadhu’ termasuk sarana tazkiyatun nafs dan sekaligus menjadi hukti bahwa jiwa telah tersucikan. Oleh sebab itu, Allah dan Rasul-Nya sangat menganjurkan kedua hal ini:

“Barangsiapa membantu kebutuhan saudaranya maka Allah akan membantu kebutuhannya.”

Allah berfirman: “Dan berendah dirilah kamu terhadap orang-orang yang beriman.” (Al Hijr: 88)

Pelayanan ada dua: Pelayanan khusus dan pelayanan umum. Keduanya punya pengaruh dalam tazkiyatun nafs . Pelayanan umum memerlukan kesabaran, lapang dada dan kesiapan untuk memenuhi tuntutan pada setiap saat, sedangkan pelayanan khusus memerlukan tawadhu’ dan kerendahan hati kepada kaum Mu’minin. Oleh sebab itu pelayanan termasuk sarana penting dalam tazkiyah bagi orang yang menunaikannya secara ikhlas dan bersabar. Jika landasan pelayanan adalah tawadhu’ maka tawadhu’ itu sendiri termasuk salah satu sarana tazkiyatun nafs karena ia dapat menjauhkan jiwa dari kesombongan dan ‘ujub. Berikut ini kami pilihkan penjelasan Al Ghazali tentang masalah ini],

Al Ghazali berkata, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Allah tidak menambah seorang hamba yang memaafkan kecuali . kemuliaan, dan tidaklah seseorang bersikap tawadhu’ karena Allah kecuali Allah pasti mengangkatnya.” (Muslim)

Sabda Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Berbahagialah orang yang tawadhu’ tanpa menghinakan diri, menginfaqkan harta yang dikumpulkannya kepada hal yang tidak bermaknat, mengasihi orang yang rendah dan hina, dan bergaul dengan ahli fiqih dan hikmah.” (Diriwayatkan oleh Al Baghawi, Ibnu Qani’, Thabrani dan Al Bazzar)

Kedermawanan adalah taqwa, kemuliaan adalah tawadhu’ dan keyakinan adalah kekayaan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Abu Dunya. Al Hakim meng-isnad-kan bagian awalnya dan berkata: Shahih sanad-nya)

Al Fudhail ditanya tentang apa itu tawadhu”? Ia menjawab: “Kamu tunduk kepada kebenaran, dan patuh kepadanya sekalipun kebenaran itu kamu dengar dari anak kecil, bahkan sekalipun kamu dengar dari orang yang paling tidak tahu kiblat shalatnya.”

Dikatakan kepada Abdul Malik bin Marwan: Siapakah orang yang paling utama? Ia berkata: Orang yang tawadhu’ pada saat berkuasa, zuhud pada saat berambisi, dan tidak membalas. pada saat kuat melakukannya.’

Ziad An Namri berkata: Orang zuhud tanpa tawadhu’ seperti pohon yang tidak berbuah.

Malik bin Dinar berkata: Seandainya ada penyeru yang berseru di pintu masjid agar orang yang paling jahat di antara kalian mengeluarkan seseorang; demi Allah tidak ada orang yang dapat mendahului aku ke pintu kecuali orang yang punya kelebihan kekuatan dan daya upaya. Dikatakan, ‘Ketika perkataannya itu sampai kepada Ibnu Al Mubarak, ia berkata: Dengan inilah Malik menjadi malik (pemilik) keutamaan’.

Al Fudhail berkata: Barangsiapa mencintai kepemimpinan maka ia tidak beruntung selamanya.Abu Yazid berkata, “Selagi seorang hamba masih mengira bahwa di antara makhluk ada orang yang lebih buruk dari dirinya maka ia adalah orang yang sombong.” Dikatakan kepadanya: Lalu kapan ia menjadai orang yang tawadhu”? Ia menjawab: “Apabila tidak memandang adanya kedudukan dan hal bagi dirinya.”

Dari Umar bin Syaibah, ia berkata: Aku pernah berada di Mekkah di antara Shafa dan Marwah, lalu aku melihat seorang lelaki menaiki seekor baghal sedang di depannya ada seorang budak, dan tiba-tiba mereka mengecam orang-orang. Kemudian aku kembali setelah itu, lalu aku masuk ke Baghdad dan ketika berada di sebuah jembatan tiba-tiba ada seorang lelaki kurus dan panjang rambutnya. Kemudian aku memandang dan mengamatinya; lalu dia bertanya kepadaku: “Mengapa kamu memandangiku? Aku berkata kepadanya: Aku menyerupakanmu dengan seseorang yang pernah aku lihat di Mekkah, dan aku sebutkan sifatnya, ialu ia berkata kepadaku, ‘Orang itu adalah aku’. Aku bertanya: Apa yang telah diperbuat Allah terhadap dirimu? Ia menjawab: ‘Sesungguhnya aku mengangkat diri di tempat orang-orang merendahkan dirinya lalu Allah meletakkan diriku di tempat orang-orang mengangkat dirinya’.

Al Mughirah berkata, “Kami dahulu takut kepada Ibrahim An Nakha’i seperti kami takut kepada kewibawaan Amir.” An Nakha’i pernah berkata: “Sesungguhnya zaman dimana aku menjadi ahli fiqih KuM merupakan zaman yang buruk.”

Abu Bakar Ash Shiddiq Radhiyallahu ‘Anh berkata: “Kami menemukan kedermawanan di dalam taqwa. kecukupan di dalam keyakinan, dan kemuliaan di dalam tawadhu. “