Pendahuluan Tafsir Hasan Al Banna (1)

Jum'ah Amin Abdul Aziz

Segala puji bagi Allah, Rabb alam semesta. Shalawat dan salam mudah-mudahan tetap tercurahkan kepada penutup para Rasul, pemimpin kita, Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wassalaam, kepada para keluarga dan seluruh shahabatnya.

Masyarakat sudah mengenal Imam Asy Syahid Hasan Al Banna—mudah-mudahan Allah meridhainya—bahwa beliau adalah seorang murabbi bagi para kader dai, pencetak para pemimpin, dan pewaris para tokoh. Beliau tidak hanya terkenal sebagai penulis buku, redaktur majalah, atau penerbit buku-buku saja, namun juga populer sebagai kreator umat atau pencetus kebangkitan. Mereka juga mengenal beliau sebagai seorang penulis yang profesional, ulama yang sangat cerdas dan berwawasan luas.

Ketiga kompetensi tersebut sudah cukup bagi seseorang untuk menciptakan karya ilmiah yang layak untuk dicetak dan diterbitkan. Seandainya hal-hal tersebut tidak dimiliki oleh Imam Hasan Al-Banna, maka orang menganggap bahwa beliau tidak memiliki pusaka intelektual atau karya ilmiah yang dikarenakan minimnya warisan intelektual yang tertulis. Sementara semua orang mengharapkan dari beliau beberapa karya ilmiahnya atau buku yang berhubungan dengan ilmu kemanusiaan (humaniora) pada umumnya dan secara khusus cabang-cabang ilmu yang beraneka ragam. Pada saat penelitian dan pengamatan terhadap tulisan-tulisan Imam Hasan Al-Banna, kami mendapatkan banyak tulisannya yang berhubungan dengan dasar-dasar ilmu dan cabang-cabangnya dalam bentuk makalah-makalah dan artikel-artikel  yang tertulis di beberapa macam majalah. Di sini sangat jelas terlihat kepiawaian dan kedudukan beliau di antara para ulama. Dengan demikian, timbullah niat dan keinginan yang kuat untuk mengumpulkan warisan intelektual beliau ini dan menyajikannya secara komprehensif kepada setiap orang yang selalu menanti-nantikannya, di antaranya adalah kalangan ulama, pembaca, pelajar, dan pecinta ilmu dalam bentuk perdananya sebelum dianalisis dan dikaji secara mendalam. Sebab, karya ini untuk memenuhi amanah ilmiah dalam melayani agama Islam dan umatnya, serta untuk melayani ilmu dan ulama di samping untuk menguak sisi-sisi penting dari kepribadian Imam Asy-Syahid. Mudah-mudahan Allah subhanahu wa ta’ala merahmatinya.

Betapa banyak sisi-sisi penting yang terdapat di dalam diri Imam Al-Banna, sehingga membutuhkan penelitian dan kajian-kajian secara komprehensif agar dapat dipahami dengan baik. Maka, setiap kali kami memetik buah dari buah-buahan ilmunya yang  mendalam di dalam konsep berpikir, tingkah laku dan pengalamannya, kami menjumpai buah-buahan yang lain di dalam koran-koran dan majalah-majalah yang selalu memotivasi kami untuk menambah kajian dan penelitian.

Ketika kami menyajikan karya ilmiah ini, kami meminta kepada murid-murid Imam al-Banna agar secara serius memerhatikan dan memahami harga ilmiah tersebut. Sebab, pemuda ini benar-benar sosok yang telah memperoleh ilham dan disegani. Konon, beliau telah banyak memberikan kontribusi pemikiran kepada umat sekaligus mengamalkannya dengan baik. Kami juga meminta kepada para ulama dan peneliti untuk melakukan studi kritis terhadap pusaka intelektual ini secara tuntas agar dapat dinikmati oleh para pembaca yang sangat beragam tingkat kecerdasan dan intelektualnya. Di samping itu, agar mereka dapat menyebarluaskan dan memperkenalkan karya ini kepada masyarakat, sehingga menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat menambah pahala Imam Al-Banna pada hari di mana harta dan anak-anak tidak lagi ada manfaatnya kecuali orang-orang yang diberkati oleh Allah subhanahu wa ta’ala berupa hati yang suci.

Referensi-referensi

Yang ingin dijelaskan dan ditekankan di sini adalah bahwa pusaka intelektual ini kami kumpulkan melalui penelitian yang sangat lama dan mendalam pada media-media cetak lama. Kami memulai dari tabloid mingguan Al-Ikhwân Al-Muslimîn, dari tahun 1938. Kemudian kami meneliti media selain Al-Ikhwân Al-Muslimîn yang menerbitkan makalah-makalah beliau pada waktu itu, seperti Asy-Syîhâb, Al-Muslimîn, Al-Manâr dan Al-Fath. Kemudian  kajian yang terakhir kami lakukan pada koran harian Al-Ikhwân Al-Muslimîn dari tahun 1946 sampai dengan tahun 1948. Dan kami akan berhenti sejenak setelah mendapatkan referensi-referensi terpenting dari media-media cetak tersebut sampai kami mengenal dan mengetahui sesuatu yang telah kami kumpulkan sebagai pusaka intelektual Imam Asy-Syahid Hasan Al-Banna.

Pertama: Tabloid Mingguan ”Al Ikhwân Al Muslimîn”

Edisi perdana tabloid ini diterbitkan pada tanggal 22 Shafar 1352 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Juni 1933 M. Dan masih beredar dengan nama Al Ikhwân sampai edisi ke-68 pada tahun kelima tanggal 12 Ramadhan 1357 H atau 4 November 1938 M. Namun, tabloid ini tidak lagi mewakili pemikiran Ikhwan terhitung sejak diterbitkan edisi ke-34 tahun kelima, tanggal 24 Dzulhijjah 1356 H atau 25 Februari 1938 M, di mana Ustadz Muhammad Asy-Syâfi’î, seorang pengacara, telah menjauhkan tabloid tersebut dari pemikiran Ikhwan sebagaimana telah kami jelaskan di dalam buku Awrâq Min Târîkh Al Ikhwân Al Muslîmîn.[2]

Di tabloid tersebut Imam Asy-Syahid pernah menulis dua macam artikel. Pertama, berupa beberapa artikel yang beliau tulis di dalam rubrik agama, dan ini adalah bagian yang terpenting. Dewan redaksi tabloid tersebut telah memuat artikel tersebut sejak edisi perdana diterbitkan. Beliau menulis di dalam tabloid tersebut selama kurang lebih lima tahun,[3] berupa artikel berkala yang membahas tentang masalah-masalah yang berhubungan dengan ilmu-ilmu agama, seperti tafsir, akidah, fikih, fatwa, tasawuf, akhlak, dan ceramah.

Artikel-artikel Imam Hasan Al-Banna memiliki kelebihan dari sisi kesatuan tema dan penuangan gagasan sistematis. Makalah-makalah agama beliau menggambarkan sebuah tulisan atau buku ilmiah. Kecuali tafsir yang penulisannya dinisbatkan kepada Syekh Mustafa Muhammad Ath-Thayr sejak edisi kelima pada tahun pertama, dan yang diterbitkan pada tanggal 20 Rabiul Awwal 1352 H atau 13 Juli 1933 M.

Tema-tema agama di dalam majalah Al Ikhwân ini mencapai sekitar 2.016 dari 3.093 tema yang terdapat di dalam majalah tersebut. atau kira-kira 65,18 % dari jumlah seluruh tema yang diangkat oleh majalah itu.[4]

Sedangkan jenis kedua dari artikel-artikel Imam Asy-Syahid adalah berupa tema-tema umum, seputar permasalah sosial, politik, dan etika. Tema-tema itu disesuaikan dengan peristiwa-peristiwa atau kejadian-kejadian aktual yang sedang terjadi di negara Mesir atau dunia Islam lainnya. Di samping itu, di majalah tersebut beliau juga menulis untuk rubrik opini. Kadang-kadang beliau mengkhususkan opininya itu untuk memberikan nasihat kepada Ikhwan dengan tema-tema dakwah. Di antara tema-tema tersebut adalah Kemana kita  mengajak Manusia? dan  Dakwah Kami serta tema-tema lainnya yang telah dimodifikasi oleh Ikhwan di dalam sebuah buku yang berjudul Rasâ’il Al Imâm Asy Syahîd. Artikel-artikel semacam ini memiliki kelebihan dengan variasi tema yang disajikan dan tidak berkelanjutan, kecuali hanya sedikit jumlahnya, serta keterkaitannya dengan fenomena-fenomena dan peristiwa yang sedang terjadi di masyarakat atau dunia internasional atau untuk kebutuhan Ikhwan dan dakwah. Dan kenyataan membuktikan bahwa kita dan kami ketika meneliti di dalam majalah mingguan Al Ikhwân Al Muslimîn tersebut menemukan khazanah intelektual yang sangat berharga yang belum pernah kami ramalkan sebelumnya terdapat dalam diri Imam Asy Syahid. Hal ini merupakan motivasi yang sangat kuat untuk berlanjutnya penelitian dan kajian terhadap pusaka intelektual beliau yang lain di dalam jurnal-jurnal ilmiah yang lain yang terbit saat itu. Maka, tidak ada jalan lain kecuali kami harus meneruskan penelitian ini agar kita dapat meminum air sungai yang tawar ini.

Kedua: Majalah “An Nadzîr”

Majalah An Nadzîr adalah majalah yang diterbitkan Ikhwanul Muslimin untuk menyebarkan fikrah, harakah, dan pemahaman mereka setelah tabloid mingguan Ikhwanul Muslimin tidak lagi diterbitkan. Edisi perdana diterbitkan pada tanggal 30 Rabiul Awwal 1357 H atau 30 Mei 1938 M. Duduk sebagai pemimpin umum adalah Ustadz Mahmûd Abû Zayd, dan Ustadz Shâlih ‘Isymâwî sebagai pemimpin redaksi. Majalah ini memperkenalkan dirinya sebagai majalah mingguan politik Islam yang diterbitkan di atas prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin. Hal ini terus berlangsung dan berakhir ketika pemimpin umum Ustadz Mahmûd Abû Zayd menyimpang dari jalan Ikhwan dan membuat organisasi tandingan dengan yang lain dan dikenal dengan nama organisasi Syabâb Sayyidinâ Muhammad. Edisi terakhir majalah An Nadzîr yang masih membawa panji Ikhwan diterbitkan pada tanggal 28 Dzulqa’idah 1358 H atau 8 Januari 1940 M.

Perlu diketahui bahwa majalah An Nadzîr ini berbeda dengan majalah sebelumnya, tabloid mingguan Al Ikhwân Al Muslimîn, dari sisi perhatiannya yang lebih terhadap kajian sosial dan politik. Di dalam majalah ini, Imam Al Banna telah menulis sekitar delapan puluh artikel yang menyoroti masalah-masalah sosial dan politik yang sedang berkembang dengan porsi cukup banyak dengan disertai penjelasan secara syar’i dan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam, khususnya perkara-perkara yang memerlukan penjelasan.

Ketiga: Majalah “Al Manâr”

Majalah ini diterbitkan oleh Syekh Rasyid Ridha pada tanggal 22 Syawal 1315 H atau bertepatan dengan tanggal 15 Maret 1898 M. Aktivitas majalah tersebut terus berlangsung sampai wafatnya Syekh Rasyid Ridha pada tanggal 22 Agustus 1935 M. Majalah ini memproyeksikan diri dengan menyajikan Islam sebagai ajaran yang murni, mendeteksi penyakit-penyakit yang mewabah pada saat itu untuk kemudian diberikan pengobatan yang efektif, di samping mendorong umat Islam untuk senantiasa berpegang teguh kepada agama yang hanif ini, tidak ketinggalan pula perhatiannya terhadap tafsir Al-Qur’an.

Secara umum, isi majalah Al-Manâr merefleksikan permasalahan-permasalahan agama dan sosial. Namun, kadang-kadang juga menyoroti persoalan-persoalan politik yang dijalankan oleh umat Islam di dalam kehidupan mereka. Sayangnya, setelah kurang lebih berselang tujuh bulan dari kematian pemiliknya, pimpinan majalah diserahkan kepada ulama berkebangsaan Syiria yang bernama Bahjah Al-Baithâr dan dia tidak dapat meneruskan misi Syekh Rasyid Ridha setelah dua edisi diterbitkan. Dengan demikian, majalah ini tidak terbit lagi untuk yang kedua kalinya sampai kurun waktu tiga tahun. Pada msa-masa kekosongan ini, keluarga Syekh Rasyid Ridha meminta kepada Imam Al-Banna untuk meneruskan misi penerbitan Al-Manâr. Sebab, Imam Al-Banna tidak asing lagi bagi keluarga Syekh Rasyid Ridha. Lantas Imam Al-Banna menerima tawaran tersebut setelah meminta persetujuan dari keluarga beliau dan pecinta-pecintanya. Beliau telah mengeluarkan majalah ilmiah dan peradaban itu setingkat dengan majalah yang diterbitkan pada masa pemiliknya. Edisi perdana di bawah kepemimpinan redaksi Imam Al-Banna diterbitkan pada awal bulan Jumadil Akhir 1358 H atau 18 Juli 1939 M.

Perlu diperhatikan bahwa Imam Al-Banna meneruskan penulisan tafsir Al-Qur’an yang telah diprakarsai oleh Syekh Rasyid Ridha di majalah Al-Manâr ini namun terhenti penulisannya pada surat Yûsuf. Dari sini, Imam Al-Banna memulai dengan Tafisr surat Ar-Ra’du sebagai kelanjutan dari penulisan Syekh Ridha rahimahullah. Sebagai tambahan informasi, Imam Al-Banna adalah orang yang menulis sebagian besar rubrik yang ada di dalam majalah itu. Beliau menulis rubrik pembuka, rubrik tafsir Al-Qur’an, tepatnya setelah disita pada akhir bulan November 1940 M.

Keempat: majalah “At-Ta’aruf”

Setelah majalah An-Nadzîr menyimpang jauh dari jalan dan kode etik penyiaran dan dakwah Ikhwanul Muslimin, mereka menyewa majalah At-Ta’arûf. Tepatnya pada tanggal 23 Muharram 1359 H atau bertepatan dengan tanggal 2 Maret 1940 M. Konsep majalah ini adalah mengkombinasikan konsep tabloid mingguan Al-Ikhwân Al-Muslimîn dan majalah An-Nadzîr serta memadukan antara muatan syar’i, sosial, dan politik secara berimbang. Namun, majalah yang terbit di bawah bayang-bayang hukum adat setelah meletus Perang Dunia II ini, gerak langkahnya semakin lama semakin lamban dan mendapat tekanan dari pihak luar. Sampai pada akhirnya majalah ini disita dan bubar setelah edisi Sya’ban 1359 H atau bertepatan dengan September 1940 M, setelah berjalan kurang lebih tujuh bulan sejak disewa oleh Ikhwan.

Sebagai catatan penting, Imam Al-Banna pernah menulis sebagian rubrik pembuka di samping menulis dalam rubrik fikih, serta artikel-artikel lain yang membahas tentang pendapat Ikhwan dalam memperbaiki carut-marut politik dan realitas sosial pada waktu itu.

Kelima: majalah dua mingguan “Al-Ikhwân Al-Muslimîn”

Setelah jurnal Islam Al-Ikhwân Al-Muslimîn mengalami kekosongan selama kurang lebih dua tahun, pemerintah memperbolehkan mereka untuk menerbitkan majalah untuk kedua kalinya pasca pengunduran diri Imam Al-Banna dari pencalonan anggota parlemen pada pemilu tahun 1942 M. Edisi perdana diterbitkan pada paruh bulan tanggal 17 Sya’ban 1361 H atau bertepatan dengan tanggal 29 Agustus 1942 M. Kemudian majalah ini berubah menjadi majalah mingguan pada edisi kelima dan keenam tahun ketiga terhitung sejak tanggal 1 Ramadhan 1364 H atau 9 Agustus 1945 M. Kemudian majalah ini disita untuk yang kesekian kalinya setelah menerbitkan edisi ke-224 (pada tahun ketujuh tanggal 3 Shafar 1368 H yang bertepatan dengan tanggal 4 Desember 1948 M) ketika dikeluarkan keputusan pembubaran jamaah Ikhwanul Muslimin dan seluruh asetnya disita oleh pemerintah Perdana Menteri Muhammad Fahmi Naqrâsyi.

Majalah ini sejak diresmikan dipimpin oleh Ustadz Shâlih ‘Isymâwî. Kemudian mempopulerkan jati dirinya sebagai majalah Islam dan sosial yang diterbitkan oleh kantor umum Ikhwanul Muslimin, lantas majalah mengubah visinya sejak edisi keenam puluh dua menjadi dakwah kebenaran, kekuatan dan kebebasan.

Di dalam majalah ini, Imam Al-Banna menulis lebih dari seratus artikel tentang berbagai macam persoalan agama, pemikiran, sosial, politik, dan dakwah dengan judul Misi Dakwah. Beliau menerangkan tentang pandangan Ikhwan dalam memperbaiki persoalan-persoalan di segala bidang kehidupan. Dan, penting untuk diingat, Imam Al-Banna sangat antusias memahamkan opini umum terhadap persoalan-persoalan yang dihadapi oleh umat Islam, kemudian beliau menjelaskan kepada mereka tentang apa yang terjadi pada diri mereka, sehingga mereka dapat memahami dengan baik tentang perkara mereka dan bangkit dari tidur panjangnya.

Keenam: Koran Harian “Al-Ikhwân Al-Muslimîn”

Koran harian Islam adalah media yang sangat diharapkan dan ditunggu-tunggu oleh para tokoh pemikir Muslim. Oleh karena itu, Imam Al-Banna berinisiatif merealisasikan obsesi mereka dengan mendirikan badan usaha penerbitan koran harian pada tanggal 3 Jumadil Akhirah 1265 H (yang bertepatan dengan tanggal 5 Mei 1946 M), dengan diterbitkannya edisi perdana koran harian Al-Ikhwân Al-Muslimîn. Inilah perusahaan besar koran harian yang diinginkan oleh kelompok Ikhwan, hingga mereka mampu merealisasikan apa yang diinginkannya itu. Ustadz Ahmad Sukrî ditunjuk sebagai pemimpin perusahaan, sementara Ustadz Zakariyâ Khursyîd ditunjuk sebagai pemimpin redaksi. Ustadz Shâlih ‘Isymâwî menjadi pemimpin redaksi terhitung sejak diterbitkannya koran edisi 373 pada tahun kedua. Kemudian Ustadz ‘Abd al-Halîm al-Wisyâhî menjadi pemimpin perusahaan setelah keluarnya Ustadz Ahmad Sukrî dari jamaah Ikhwan karena alasan-alasan yang telah tercatat dalam sejarah gerakan-gerakan Islam.

Imam Al-Banna telah menjelaskan pada edisi perdana tentang strategi yang akan dilakukan adalah seperti strategi koran untuk umat Islam, bahkan seperti ceramah umum untuk seluruh organisasi Islam dan gerakan-gerakan pembaruan. Misi utama koran ini adalah mengatakan kebenaran dengan tegas  tanpa ada rasa takut. Koran ini terus beredar sesuai dengan visi dan misinya, seperti mimbar untuk mengemukakan pendapat yang independen dan kritik membangun yang tidak berdasarkan kepada ambisi dan hawa nafsu, memerangi imperialisme dengan segala macam bentuknya, meruntuhkan otoriterisme dengan segala macam bentuknya, diktatorisme, di samping berusaha untuk menghilangkan kemiskinan, kebodohan, pornografi, dan setiap penyakit sosial lainnya. Tidak ketinggalan, koran ini juga mengajak umat Islam untuk kembali kepada adab-adab islami dan pendidikan Islam.

Penerbitan koran ini berhenti ketika jamaah Ikhwan akan dibubarkan pada tanggal 7 Shafar 1368 H (bertepatan dengan tanggal 8 Desember 1948 M). Edisi terakhir diterbitkan pada tanggal 2 Shafar 1368 H atau 3 Desember 1948 M. Perusahaan koran ini telah menerbitkan sebanyak 794 edisi selama masih aktif mengelola perusahaan.

Koran ini adalah media yang paling penting bagi Ikhwan untuk menyebarluaskan ide-ide dan gagasan mereka. Oleh karena itu, Imam Asy-Syahid sangat antusias memberikan kontribusi lebih banyak bagi koran ini. Beliau telah menulis kurang lebih 370 artikel tentang berbagai macam permasalahan dalam kehidupan umat manusia. Dalam masalah-masalah agama, beliau menulis rubrik mingguan dengan judul “Khutbah Jumat” yang mencakup pesan-pesan agama dalam hal keimanan dan ibadah. Persoalan-persoalan sosial dan politik juga tidak luput dari pengamatan dan analisis beliau. Imam Al-Banna juga menulis artikel berkala dengan judul “Kami”, untuk menjelaskan dakwah Ikhwanul Muslimin dan untuk menerangkan hubungan antara Ikhwan dengan organisasi-organisasi dan lembaga-lembaga lain, serta untuk meng-ekspose ide-ide dan gagasan-gagasan Ikhwan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan sosial.

Ketujuh: Majalah “Asy Syihâb”

Majalah ini diterbitkan oleh Imam Asy-Syahid pada permulaan bulan Muharram tahun 1367 H (bertepatan dengan tanggal 14 Nopember 1947 M), mengatasnamakan diri sebagai majalah agama dengan model majalah Al-Manâr. Majalah ini memfokuskan perhatiannya pada penelitian dan permasalahan-permasalahan Islam; terbit setiap tanggal satu dalam bulan-bulan Arab, Imam Al-Banna duduk sebagai pemimpin redaksi majalah tersebut merangkap sebagai dewan kehormatan. Sedangkan pemimpin perusahaan diserahkan kepada Ustadz Sa’id Ramadhân.

Di dalam majalah ini Imam Al-Banna menulis misi utama Asy-Syîhâb, yaitu berusaha memaparkan hukum-hukum Islam secara sederhana, mudah, dan komprehensif dengan gaya bahasa kontemporer. Misi yang lain adalah berusaha menyajikan Islam sebagai sistem sosial yang sempurna, bukan hanya sebatas teori ketuhanan semata, selain menjaga akidah dan iman kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

Majalah ini telah menerbitkan segudang gagasan dan pemikiran serta penelitian-penelitian ilmiah penting yang ditulis oleh para ulama dan para pemikir dari dalam negeri maupun luar negeri dengan jumlah yang sangat banyak. Namun sayang, penerbitan tidak berlangsung lama, hanya sampai pada lima edisi. Dan edisi terakhir dikeluarkan pada permulaan bulan Jumadil Ula tahun 1367 H atau bertepatan dengan tanggal 12 Maret 1948 M.

Imam Al-Banna, di dalam majalah Asy-Syihâb ini menulis wawasan tentang tafsir, dimulai dari tafsir surat Al-Fâtihah. Beliau juga menulis ilmu-ilmu Al-Qur’an dan musthalah al-hadîts.

Kedelapan: Majalah “Al Fath

Majalah ini adalah majalah agama, ilmiah, dan akhlak. Diterbitkan oleh Ustadz Muhib Ad-Dîn Al-Khathîb pada tanggal 29 Dzulhijjah 1344 H atau pada tanggal 10 Juni 1926 M. Aktif selama 24 tahun dan tutup pada tahun 1368 H atau tahun 1949 M. Kalimat terkenal yang diucapkan pemimpinnya adalah: “Aku menutup penerbitan ini di hari di mana para penghafal Al Quran di negeri ini dianggap penjahat yang selalu diawasi dan disiksa.” Beliau maksudkan dengan pernyataan ini adalah ketika Ikhwanul Muslimin diusir dan dikucilkan dari pergaulan politik (di Mesir).

Majalah ini memusatkan perhatiannya pada persoalan-persoalan yang dihadapi oleh dunia Islam di belahan bumi bagian timur dan barat. Selama beroperasi, majalah ini juga memuat tulisan-tulisan berisi kritik tajam terhadap musuh-musuh Islam dan pengusung misi westernisasi. Dengan demikian, majalah ini mempunyai peran yang sangat penting dalam menghadapi musuh-musuh dakwah.

Majalah ini telah memberi kesempatan kepada Imam Al-Banna untuk menulis artikel tentang berbagai macam persoalan kehidupan. Maka, beliau dengan cepat dan kreatif menulis sebayak 23 artikel tentang dakwah di jalan Allah subhanahu wa ta’ala, jalan menuju perbaikan sosial, politik, ekonomi, dan lain-lain. Artikel-artikel beliau telah diterbitkan dari tahun 1928 M sampai dengan 1929 M.

Kami merasa agak kesulitan ketika mengumpulkan artikel-artikel Imam Al-Banna di dalam majalah ini yang telah rusak, di samping kesulitan memperoleh atau membacanya. Maka, kami berusaha untuk mengumpulkan artikel-artikel sesuai dengan kemampuan yang kami miliki.

Kesembilan: Majalah “An Nidhâl”

Ini adalah majalah tengah bulanan yang memuat masalah-masalah sosial, politik, dan agama. Edisi perdana diterbitkan pada tanggal 15 Mei 1938 M dan berhenti setelah menerbitkan edisi yang ke-32 pada tahun kedua. Dewan kehormatan dan pemimpin redaksinya adalah Ustadz Mahmûd Hamdî al-Juraysî (pernah menjadi anggota Ikhwan kemudian mengundurkan diri dari keanggotaan).

Majalah ini mewakili fikrah yang bermacam-macam. Awal mulanya menjadi corong bagi partai Persaudaraan dan Pembaruan Islam yang memiliki ideologi gabungan sosialisme, nasionalisme, dan Islam. Hal ini berlangsung sampai delapan edisi. Setelah itu, majalah mengubah diri menjadi tabloid politik demokrasi independen. Kemudian, sebelum gulung tikar, majalah dipergunakan untuk iklan organisasi swasta pencari pekerjaan. Imam Al-Banna pernah menulis artikel-artikelnya di majalah tersebut pada edisi-edisi permulaan.

Kesepuluh: Majalah “Al I’tishâm”

Ini adalah majalah Islam komprehensif yang memuat secara detail persoalan-persoalan agama Islam. Didirikan pada tahun 1939 M oleh direkturnya, Ustadz Ahmad ‘Îsâ ‘Âsyûr. Beliau terkesan dengan keluasan wawasan Imam Al-Banna dan pertemuannya dengan Asy-Syahid terjadi pada saat perjalanan haji tahun 1945 M, di mana beliau menjadi ketua panitia organisasi massa Islam. Ustadz Ahmad ‘Îsâ ‘Âsyûr telah menyertai beliau ketika ceramah pada hari Selasa, kemudian ustadz menulis ceramah Asy-Syahid dan meriwayatkan ceramah-ceramah tersebut di dalam bukunya yang terkenal dengan nama Hadîts Ats-Tsulâtsâ. Kami telah mengambil dua artikel dari majalah Al-I’tishâm, di mana keduanya belum dimasukkan oleh Ustadz Ahmad ‘Îsâ ‘Âsyûr di dalam bukunya Hadîts Ats-Tsulâtsâ.

Majalah Al-I’tishâm tidak terbit lagi setelah Ustadz Ahmad ‘Îsâ ‘Âsyûr sebagai direktur dan dewan kehormatan wafat. Hal itu bertepatan dengan disahkannya undang-undang jurnalistik yang notabene adalah pembredelan majalah-majalah Islam.



[2] Jam’ah Amin ‘Abdul Azîz, Âwrâq min Târîkh al-Muslîmîn Buku Kedua, Kairo: Kairo: Dâr at-Tâwzî’ wa an-Nashr al-Islâmiyah (cetakan pertama), tahun 1424 H/2003 M. hal 135.

[3] Makalah terakhir yang ditulis oleh Imam al-Banna di tabloid ini pada tahun ke-5, edisi 33 tanggal 10 Dzulhijjah 1356 H/13 Februari 1928 M dengan judul “Cara Ikhwanul Muslimin Berpegang Teguh kepada Sendi-sendi Agama.”

[4] Syu’ab al-Ghabâsyi, Shihâfah al-Ikhwân al-Muslimin. Terusan jadwal no.1, Kairo: Dâr al Tawzi’ wa an-Nasyr al Islâmiyah, 1421 H/2000 M.