Hasan Al Banna

Pendapat Beberapa Ilmuwan tentang Kemampuan Akal

Di sini kami akan menuliskan beberapa pendapat ilmuwan tentang masalah di atas dengan mencantumkan pendahuluan yang di tulis oleh Imam Syekh Muhammad Abduh di dalam Risalah Tauhid. Beliau mengatakan:

Apabila kita memprediksi kemampuan akal manusia dalam memahami sesuatu, niscaya kita akan menemukan bahwa puncak kemampuannya hanya dapat mencapai pada sisi luarnya, selama masih dapat dijangkau oleh pengetahuan manusia, baik rasa, nurani, maupun pikiran. Kemudian akal juga hanya mampu mengetahui asal usul sesuatu dan macam-macamnya dan mengetahui beberapa kaidah untuk menjelaskan apa yang tampak. Sedangkan untuk mencapai substansinya, kekuatan akal tidak akan pernah mampu untuk mengetahuinya, sebab untuk mencapai substansi sesuatu yang tersusun harus memahami hakikat unsur-unsur yang menyusunnya. Oleh karena itu, sudah dapat dipastikan semua akan berakhir pada kesimpulan bahwa tidak ada jalan menuju pada puncak pemahaman terhadap substansi sesuatu itu. Para pemikir telah menetapkan hukum-hukum yang jumlahnya sangat banyak yang dihasilkan dari ilmu tertentu, namun mereka tidak dapat memahami bahwa apa substansinya? Seperti orang tidak akan mengetahui substansi arti cahaya, akan tetapi dia mengetahui bahwa setiap penglihatan memiliki dua mata. Ini adalah analog yang nyata dalam pembahasan ini.

1.  Filosof Perancis yang bernama Gustave Le Bon[1]

Dalam bukunya Perubahan Materi Le Bon berbicara tentang perkembangan ilmu pengetahuan alam dan keterbatasan akal manusia dalam mengetahui substansi sistem alam. Dia berbicara secara panjang lebar tentang hal ini, namun kini  kami ringkas sebagai berikut:

Semua teori ilmiah kita bukanlah sesuatu yang klasik, sebab sejarah ilmu eksperimental yang teruji tidak berjalan lebih dari tiga abad lamanya. Dalam masa ini, telah terjadi dua siklus perputaran sejarah pemikiran ilmuwan yang berbeda. Siklus pertama: kepercayaan dan keyakinan. Pada masa ini telah tersusun beberapa teori filsafat dan prinsip agama. Teori ini adalah kaidah-kaidah  pengetahuan klasik tentang eksistensi. Kemudian, lambat laun teori-teori ini menghilang setelah datangnya periode penelitian-penelitian ilmiah secara gencar, khususnya pada paruh awal abad yang lalu. Pencetus ilmu modern menganggap bahwa setelah mereka menyelesaikan membangun ilmu pengetahuan, maka ilmu itu digunakan untuk mematahkan mitos-mitos masa lalu. Maka periode ini, keyakinan ilmu pengetahuan mengalami puncak kesempurnaannya. Keyakinan ini terus dibukukan dan tercatat dalam ilmu modern sampai munculnya penemuan-penemuan yang tidak terduga pada masa-masa terakhir periode ini, di mana penemuan baru tersebut telah menghancurkan pemikiran ilmu pengetahuan yang mengandung unsur keragu-raguan dalam hasil penelitiannya yang dianggap sebagai penemuan paling maksimal. Kemudian bangunan pemikiran yang tidak diketahui asal usulnya itu akhirnya dikejutkan oleh ledakan yang hebat dari penemuan-penemuan modern. Maka, dengan ini teori-teori yang saling bertolak belakang dan mustahil itu dapat terlihat dengan jelas oleh mata yang melihatnya, setelah tertutup rapat-rapat oleh dugaan-dugaan yang tak terbukti.

Pada akhirnya manusia menyadari bahwa dirinya telah tertipu. Dengan cepat mereka mempertanyakan tentang teori-teori yang bersumber dari keyakinan tentang alam. Dan mereka akhirnya mengetahui bahwa keyakinan tersebut pada kenyataannya adalah omong kosong yang dilatarbelakangi oleh kebodohan. Kemudian apa yang terjadi di dalam resolusi-resolusi ilmiah dan juga pada keyakinan-keyakinan tentang agama[2] terjadi juga pada bidang lain ketika mereka mulai mendiskusikan matematika. Akhirnya, saat kemunduran telah dimulai, kemudian orang-orang banyak melupakannya.

Tidak dapat dibantah lagi bahwa dasar-dasar yang dibanggakan oleh ilmu pengetahuan tidak hilang begitu saja. Akan tetapi, ia tetap hidup di dalam pemikiran rakyat biasa seperti halnya kebenaran yang sudah ditetapkan. Kemudian, buku-buku tingkat dasar terus dicetak dan diterbitkan, akan tetapi ia sudah tidak lagi dianggap penting oleh para ilmuwan bidang substansi. Sebab, penemuan-penemuan yang mengejutkan telah menguak tirai anggapan-anggapan yang selama ini berkembang di dalam pikiran mereka. Dan peran ini telah mulai dilakukan oleh buku-buku modern. Dengan demikian, ilmu pengetahuan telah masuk dalam peran-peran yang sia-sia ketika mereka menduga bahwa ilmu pengetahuan itu terhindar dari kesia-siaan sampai sekarang ini. Maka, kita dapat melihat dasar-dasar yang diduga memiliki pondasi matematika yang telah diteliti itu menjadi objek perselisihan di antara para ilmuwan yang memiliki tugas sebagai pengajar dan pembela ilmu tersebut.

Kemudian dia (Gustave Le Bon) mendatangkan beberapa saksi atau bukti atas pendapatnya dari pernyataan Henri Poincare[3], Emil Boutroux[4], Math, dan Lucian Frank. Dia juga mengutip perkataan ilmuwan terakhir ini: pendapat-pendapat ilmuwan yang telah mendahului kita yang seolah-olah telah membentuk dasar yang kuat perlu mendapat perhatian untuk didiskusikan. Sebab, pendapat-pendapat tersebut telah ditolak oleh pendapat-pendapat baru yang mengatakan bahwa setiap fenomena alam menerima penjelasan secara mekanik. Sedangkan dasar-dasar ilmu mekanik sendiri kebenarannya masih diragukan. Dan peristiwa-peristiwa modern telah menjadi saksi dan bukti atas goncangnya keyakinan-keyakinan kita terhadap nilai mutlak sistem yang dianggap sebagai dasar ilmu pengetahuan sampai saat ini.

Kemudian dia menambahkan: sikap yang baik untuk diambil adalah tidak mengapa banyak menyesuaikan kemajuan ilmu pengetahuan dengan kesia-siaan ini, sebab wujud eksistensi itu dipenuhi dengan ketidaktahuan. Tabir penghalang yang menutupi kita biasanya tersusun dari pendapat-pendapat yang menyesatkan, rasa kurang sempurna yang mengharuskan kita menyajikan dugaan-dugaan yang memakai kedok kebenaran yang ditetapkan kepada para pembaca, seperti yang dilakukan oleh buku-buku pelajaran. Di samping itu, berbuat tirani dalam meletakkan batasan-batasan bagi ilmu pengetahuan, padahal hal itu mungkin untuk diketahui, seperti yang diinginkan oleh Auguste Comte[5]


[1] Gustave Le Bon merupakan sosialis Perancis yang mempunyai reputasi dengan istilah populernya dalam bidang ilmu psikologi umum. Salah satu bukunya adalah Psikologi Massa (ditulis pada tahun 1895 M)

[2] Imam al-Banna menyebutkan dalam catatan pinggir: “Yang dimaksud oleh pengarang (Le Bon) adalah keyakinan-keyakinan agama menurut mereka. Sebab, akidah Islam sejalan dengan ilmu pengetahuan sepanjang masa dan tidak merasa lemah di hadapannya. Kami telah menjelaskan pada masa pembahasan yang lain.”

[3] Poincarê adalah panggilan Jules Henri Poincarê (1854-1912 M) , pakar Matematika dan Fisika serta penulis Perancis. Dianggap salah satu pakar matematika pada zamannya. Penelitiannya tentang teori pengembangan telah berpengaruh pada perluasan bidang fisika-matematika. Berperan penting dalam pengembangan persamaan-persamaan diferensial (matematika) dan teori garis orbit angkasa luar. Karya-karyanya: Metode Kontemporer Matematika Langit (1913 M) dan Dasar-dasar Ilmu Pengetahuan (1913 M). Lihat, Muhammad Syafiq Gharbâl, Jilid 1 hlm. 421. Ibid, Mawsû’at al-Falsafah wal Falâsifah, Dr. Abd al-Mun’im Hafni, Jilid 1 hlm. 324, Maktabah Madbûlî, 1999 M.

[4]Emile Boutroux(1845-1921 M) : pakar Matematikan Perancis, pemerhati  banyak bidang seperti teori petunjuk matematika, perhitungan sempurna, teori pertemuan-pertemuan, metode pendekatan berkelanjutan (lihat Kamus Robert Franz hlm. 826)

[5] Auguste Comte (1798-1857M) adalah filofof Perancis. Pendiri filsafat positivisme yang menolak metafisika, dan mengakui hasil penemuan ilmu pengetahuan modern. Dia bertujuan untuk memperbaiki kehidupan manusia agar hidup dalam keserasian dan keamanan. Pendapatnya ditulis dalam bukunya: Ceramah-ceramah dalam Filsafat Positivisme. Lihat: Muhammad Syafiq Gharbâl, Jilid 2 hlm. 1517.