Hasan Al Banna

Pendapat Muhammad Abduh tentang Peran Wahyu bagi Ilmu Pengetahuan

Saya akan mengutip pendapat Imam Muhammad Abduh dalam kaitannya dengan pemahaman tafsir ayat bulan sabit. Beliau mencoba mengulas peran wahyu dalam ilmu pengetahuan. Beliau berpendapat: ‘Ilmu yang kita butuhkan dalam kehidupan ada beberapa macam, di antaranya:

  1. Ilmu yang tidak membutuhkan guru atau ustadz, seperti perasaan dan hati nurani.
  2. Ilmu yang tidak ada gurunya. Ilmu ini tidak dapat dicapai oleh manusia sedikitpun. Misalnya, ilmu tentang cara penciptaan makhluk pertama kali. Pakar botani mungkin dapat mengetahui unsur yang membentuk tumbuh-tumbuhan, dan bagaimana tumbuh-tumbuhan itu berkembang dan memperoleh makanan. Ahli kedokteran mungkin dapat menyimpulkan tentang pertumbuhan dan perkembangan janin—dari air mani sampai hingga menjadi manusia yang berakal dan mandiri. Namun, keduanya, baik ahli botani maupun kedokteran, tidak dapat mengetahui bagaimana macam-macam tumbuhan dan janin diciptakan, atau bagaimana unsur keduanya diciptakan pertama kali. Dan demikian juga pada makhluk-makhluk yang lain. Dari sini dapat diketahui benang merah antara Sang Khalik dan makhluk ciptaan-Nya. Sisi penciptaan makhluk tidak dapat dicapai. Demikian halnya Dzat dan sifat-sifat Allah subhanahu wa ta’ala.
  3. Ilmu yang wajib diimani dan diyakini setelah kita merasakan dan mendapatkan petunjuk dari ayat-ayat Allah subhanahu wa ta’ala yang terdapat di dunia nyata maupun yang terdapat di dalam diri kita. Perasaan dan petunjuk imani itu samar-samar, sehingga tidak ada jalan lain bagi kita kecuali meyakininya. Kita wajib meyakini adanya Allah subhanahu wa ta’ala, memercayai adanya hikmah di balik penciptaan kita dan mengimani perkara dan kehidupan kita. Di samping itu, hal-hal yang menyangkut kewajiban untuk bersyukur dan beribadah. Ini tidak mungkin diperoleh dengan cara berbuat dan berusaha yang dilakukan oleh manusia. Dulu manusia pernah dibingungkan dan terjerumus ke dalam kesesatan akibat membahas masalah ini. Penyebabnya, ketidaktahuan mereka tentang hubungan antara Pencipta dan ciptaan-Nya. Di antara mereka ada yang menyifati Allah subhanahu wa ta’ala dengan sifat-sifat yang tidak layak baginya. Sebagian menduga-duga apakah perbuatan manusia itu bermanfaat bagi Allah atau tidak. Artinya apakah Dia menurunkan musibah karena ingin memberi nikmat atau karena dendam kepada manusia. Dan beberapa orang mengira bahwa kehidupan akhirat bergantung pada kondisi mereka, dan balasan di akhirat bergantung pada kenikmatan dunia. Oleh karena itu, mereka menciptakan obat-obatan untuk menjaga dan memelihara jasad dan kenikmatan mereka.Dengan demikian, jika manusia tidak mampu menentukan hal-hal yang wajib dan dibutuhkan oleh dirinya tentang keimanan kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan kehidupan akhirat, maka dia juga wajib bersyukur kepada Allah subhanahu wa ta’ala dan harus mempersiapkan diri untuk menghadapi kehidupan akhirat, karena panca indera dan akal tidak mampu mencapainya. Maka, tidak diragukan lagi bahwa manusia membutuhkan akal lain yang dapat membantunya dalam mengetahui perkara-perkara gaib ini. Akal tersebut adalah nabi yang diutus oleh Allah subhanahu wa ta’ala.
  4. Ilmu yang manfaatnya dapat diketahui oleh akal, namun selalu direkayasa oleh faktor lain. Misalnya, hawa nafsu yang mengendalikan penglihatan dan mata hati dalam melihat sesuatu, sehingga ia tidak dapat melihat dengan baik hakikatnya atau menganggap sama antara manfaat dan mudarat, antara hak dan batil. Contoh konkretnya adalah akal telah mengetahui bahwa fitnah itu tercela, namun karena ia menganggapnya bermanfaat bagi dirinya, kemudian hawa nafsunya mempengaruhi jiwanya dan memalingkan hal yang merusak, namun nafsunya telah menutupi akalnya. Kemudian ia mempengaruhi akal yang mengetahui bahwa hal itu berbahaya dan melarangnya untuk mengonsumsinya. Oleh karena itu, manusia membutuhkan guru lain yang dapat menolong akalnya dari intervensi nafsu dan dapat mengarahkan nafsunya kepada petunjuk.

Manusia tidak mungkin dapat mencapai kebenaran di atas dirinya sendiri, tanpa bantuan para nabi. Namun, jangan membebani mereka dengan hal-hal di luar tugasnya sebagai seorang nabi. Atau, di luar kemampuan yang telah diberikan oleh Allah subhanahu wa ta’ala, atau meminta bantuan mereka dengan sesuatu yang mustahil dilakukan, seperti ucapan beberapa Bani Israil kepada Musa alayhissalaam:

“…kami tidak akan beriman kepadamu sebelum kami melihat Allah dengan terang…” (QS. Al Baqarah [2] : 55)

Adapun sesuatu yang tidak dapat diketahui dengan pancaindra dan akal tetap mungkin untuk dilakukan, maka kita dapat meminta pertolongan kepada petunjuk dan pembawa berita dari Allah subhanahu wa ta’ala, agar kita dapat memperolehnya dengan keimanan dan kepasrahan utuh. Oleh karena itu, kami mengatakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam adalah akal umat. Seandainya tugas nabi juga menjelaskan ilmu alam, maka kekuatan indra dan akal harus mandek. Kebebasan dan kemerdekaan manusia harus dicabut. Setiap orang harus menerima informasi tentang alam secara tunduk dan pasrah.Dan setiap rasul harus mengajari masing-masing orang tentang persoalan-persoalan kehidupan dan akhiratnya. Maka katakanlah: setiap orang tidak wajib mengetahui apa yang kita ketahui.

Ya, memang para nabi dan rasul telah mengingatkan manusia secara global untuk mengoptimalkan indra dan akalnya dalam mencari ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk meningkatkan kualitas dirinya, akan tetapi sebatas hal-hal yang dapat menguatkan keimanan dan dapat menambah ibrah.