Abu Ridho Abdi Sumaithi

Pengantar Risalah Pergerakan

Islam, sejak kemunculannya yang pertama –dibawakan oleh Rasulullah  Muhammad saw. hingga hari ini telah berumur empat belas abad. Sepanjang waktu itu, Islam mentalami Pasang surut peradaban. Dalam  sebuah nubuwatnya Rasulullah Pernah menengarai bahwa umat lslam  setidaknya akan melalui lima periode dalam perjalanannya hingga hari  kiamat nanti; peridode Kenabian, periode Kekhalifahan yang tegak di  atas nilai-nilai kenabian, periode Mulkan Aadhan atau Penguasa yang  Menggigit,peridode mulkan jabariayan  atau Penguasa yang menindas,  dan terakhir sebelum datangnya Kiamat umat ini sekali lagi akan  berjaya dengan kembali  ke periode kekhalifahan yang tegak di atas  nilai-nilai kenabian. (disarikan dari hadits yang diriwayatkan oleh  Imam Ahmad dan Baihaqi)

Satu pertanyaan paling relevan kita ungkapkan demi membawa nubuwat  Rasul tersebut adalah, “Pada peridode yang manakah umat Islam  sekarang ini berada?” Jawaban atas pertanyaan ini akan (dan sudah)  menjadi titik tolak maraknya diskursus mengenai Kebangkitan Islam  abad 20 menjelang 21.

Betapa tidak? Berdasarkan nubuwwat tersebut -sembari mengaca pada  realitas sejarah-  kita akan menemukan bahwa umat  ini tidak pada periode pertama (periode Kenabian), tidak juga pada periode kedua (Kekhalifahan yang tegak di atas nilai-nilai kenabian, bukan pula periode ketiga (Mulkan Aadhan). Secara harfiyah, istilah yang disebut terakhir itu artinya adalah “penguasa yang menggigi”. Yakni suatu pemerintahan yang secara legal-formal masih menjadikan Islam, Al Quran, dan SUnnah sebagai  dasar sistem politik, namun dalam praktiknya tidak konsisten, bahkan bertabur penyimpangan.

Karena itu dapat disimpulkan bahwa- umat sekarang ini berada pada seburuk-buruk periode, yakni Mulkan Jabariyan. Suatu periode secara de jure hukum Islam tidak lagi tegak di muka bumi, apalagi secara de facto. Inilah periode perlalanan umat dimana Khalifah Islamiyah tidak lagi tegak. Dan itulah yang sedang dialami umat Islam pada hari ini.

Tentang Mulkan Jabariyan ini Rasulullah saw mengingatkan dengan sabdanya,  “Sesungguhnya di neraka Jahannam itu ada lembah, dan di dalam lembah itu ada sebuah sumur yang disebur Habhab. Adalah hak Allah untuk menempatkan penguasa Jabbarun ‘Anid ke dalamnya.” (HR ATh Thabrani)

Umatlslam telah melalui sejarahnya yang panjang dengan kebangkitan dan kernunduran yang darang silih berganti. Hal yang sama juga
dialami oleh peradaban-peradaban ain. Ini merupakan sunatullah yang tidak bisa ditawar-tawar.

“Dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu Kami pergilirkan diantara manusia (agar mereha mendapat pelajaran).” (Ali Imran; 140)

Begitulah pada setiap kurun yang dilalui umat ini, kita selalu melihat di dalamnya terdapat krisis dalam aspek-aspek tertentu dari kehidupannya. Krisis itu kemudian memicu munculnya gerakan pembaruan (baca: kebangkitan) dengan lontaran isu-isu yang khas sesuai dengan ragam dan karakteristik binis yang terjadi saat itu.

Sebutlah misalnya Abu Bakar Ash shidiq, Umar bin Abdut Aziz, Ibnu Taimiyah, Shalahudin Al Ayubi, Muhammad bin Abdul Wahab, Imam Sanusi, dan masih banyak yang lain. Masing-masing mereka berhak menyandang predikat mujahid dan mujahid Islam. Namun, tentunya aksi yang mereka lancarkan dan karya tulis yang mereka hasilkan tidak sama dan sebangun. Ibnu Taimiyah banyak menuliskan masalah-masalah tauhid dan sistem kenegaraan dalam karya-karyanya, karena memang saat itu terjadi penyelewengan dalam pemikiran Islam oleh kaum MU’tazilah dan penyerbuan asing terhadap dunia Islam. Sementara Shalahuddin Al Ayubi memusatkan perhatian pada [enghancuran pasukan Salib dan bagaimana menghalau mereka dari tanah suci Palestina. Tentu orang yang bijak tidak akan mengatakan bahwa Shalahuddin kurang memperhatikan tauhid atau Ibnu Taimiyah acuh tak acuh terhadap pembebasan Masjidil Aqsha.

Sekarang kita sampai pada kesimpulan sementara bahwa krisis dan kebangkitan adalah dua kata kunci yang harus kita sertakan setiap kali kita membahas tentang perjalanan sejarah umat Islam. Dan kita akan melakukan apresiasi terhadap buku yang ada di hadapan pembaca ini dengan asumsi dasar tersebut.

Buku ini berjudul Majmu’ah Rasail (Kumpulan Risalah), karya Imam Syahid Hasan Al Banna. Sesuai dengan namanya, buku ini berisi kumpulan surat, makalah, dan transkrip pidato yang pernah disampaikan oleh Hasan Al Banna sepanjang hayatnya di medan dakwah dan jihad. Keistimewaan buku ini terletak pada keistimewaan penulisnya dan gerakan dakwah yang dirintisnya, yakni Ikhwanul Muslimin.

Tentang siapa dan bagaimana sosok Hasan Al Banna sendiri telah dijelaskan dalam salah satu bagian buku ini. Ia dipandang sebagai tokoh pembaharu Islam yang layak disejajarkan dengan tokoh-tokoh pembaharu yang muncul pada masa-masa sebelumnya. Dengan seluruh karakter yang melekat pada dirinya, kiranya dia layak menjadi representasi dari tokoh kebangkitan Islam abad 21.

Sedangkan kehadiran Ikhwanul Muslimin sendiri merupakan jawaban terhadap krisi yang tengah melanda umat Islam abad ii. Hasan Al Banna sebagai peletak dasar gerakan inni bernar-benar memahami karakter krisi tersebut, kemudian dia berusaha menyusun jawabannya yang memadai untuk menanggulanginya.

Krisis yang tengah melanda umat Islam saat inni tidak lagi terkonsesntrasi pada aspek-aspek tertentu dalam kehidupan umat, melainkan menyentuh keseluruhannya, hampir dalam semua segi kaum muslimin mengalami kemunduran. Lihatlah betapa secara politik mereka terjajah dan tidak memiliki lembaga “Daulah Islamiyah” yang mampu mengayomi warganya. Secara ekonomi mereka marginal, dalam masalah pendidikan dan ilmu pengetahuan mereka tertinggal, dalam aspek sosial budaya mereka mengekor pada kehidupan Barat, dan demikian seterusnya pada bidang-bidang kehidupan yang lain. Bahkan dari segi kefahamannya terhadap ajaran Islam sendiri, mayoritas mereka masih jauh dari memadai. Tentang kemunduran umat Islam ini Amir Syaqib Arsalan mendeskripsikan secara gamblang dalam bukunya, Limadza Ta’akhkharal Muslimun wa Taqaddama Ghairuhum.

Lantas apa yang dibutuhkan oleh umat semacam ini? Tidak lain kecuali munculnya sebuah gerakan dakwah yang terpadu dan menyodorkan solusi sistemik bagi permasalahan umat yang sudah demikian parah dan berlarut-larut. Dan peran inilah yang coba dimainkan oleh Jamaah Ikhwanul Muslimin. Maka ia dengan segenap sumber daya dan perangkat yang dimiliki -tampil dengan melontarkan isu sentral: “Kembali kepada keutuhan Islam”. Yakni kembali kepada pemahaman Islam secara integral dan komprehensif, bukan Islam yang parsial dan tambal sulam. Islam sebagai suatu sistem nilai yang mengatur hidup dan kehidupan manusia dalam segala aspeknya, bukan Islam yang dipahami sebatas simbol dan ritual peradaban semata.

Lebih lanjut tentang siapa dan bagaimana Hasan Al Banna, seperti apa pula profil gerakan Ikhwanul Muslimin yang dicanangkannya? Sebagaian besar (kalau bukan semua) terekam secara kronologis maupun tematis dalam buku ini. Inilah sumber mata air pertama yang berisi informasi dari tangan pertama. Tentu kita harus menelaahnya pertama kali sebelum menerima penjelasan dari sumber yang lain. Selamat menyimak.