Pengantar Tafsir Hasan Al Banna

Muhammad Mahdi 'Akif

Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam, seluruh keluarganya dan kepada para shahabatnya.

Ini merupakan salah satu pusaka, warisan intelektual dari Imam Hasan Al Banna yang sangat meonumental, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala merahmatinya. Di dalamnya beliau mengupas secara tuntas sendi-sendi agama, diantaranya berisi pembahasan tentang akidah, hadits, tafsir, pesan-pesan Al Qur,an, fikih, fatwa-fatwa, akhlak, sejarah nabi, tasawuf, logika, ceramah, dan nasihat-nasihat. Hal ini merupakan harta simpanan yang sangat berharga, khazanah intelektual Islam yang kredibel dan menjadi wacana yang sarat dengan solusi, relevan dengan berbagai persoalan yang dihadapi oleh umat Islam. Ia laksana proyektor sejarah yang dapat menerangi jalan menuju kepada Allah Subhanahu wa ta’ala, di samping itu juga menjadi perbekalan yang baik bagi para Ikhwan dan yang lainnya, termasuk para siswa dan mahasiswa yang sangat haus akan pemahaman yang benar terhadap risalah Islam yang abadi. Dan setiap persoalan di dalam ensiklopedi Islam ini memiliki dasar dan referensi yang terpercaya, yaitu Al Qur’an, As Sunnah, dan amalan as salafu ash shâlih, mudah-mudahan Allah Subhanahu wa ta’ala Meridhai mereka.

Buku yang pertama di dalam ensiklopedi ini, Insya Allah akan diikuti oelh buku-buku tafsir, pesan-pesan Al Qur’an, fikih, fatwa-fatwa, akhlak, logika, dan nasehat-nasehat agama.

Di dalam buku yang pertama ini, pembahasan ilmiahnya berkisar pada âsma Al husna (nama-nama Allah yang baik). Di sini Imam Hasan Al Banna telah menjelaskan sisi-sisi persoalan yang kompleks. Dan beliau juga memaparkan pendapat-pendapat serta mengomentari para ulama salaf secara objektif dan terperinci, yaitu para salaf yang kredibel dalam bidangnya dan mereka meyakini bahwa Allah Subhanahu wa ta’ala Selalu mengawasi setiap gerak dan langkah mereka. Beliau juga membahas secara detail tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala di dalam Al Qur’an beserta ayat-ayat yang mengisaratkan sebagian sifat-sifat yang wajib bagi Allah Swr., dan menunjukkan kesempurnaan uluhiyah-Nya. Kemudian beliau menuliskan dalil-dalil aqli dan naqli serta dalil-dalil mantik atas pengukuhan sifat-sifat Allah Subhanahu wa  ta’ala, di samping menolak seluruh syubhat yang ada di permasalahan tersebut.

Bahkan beliau juga menukill pendapat sebagian pakar nonmuslim seputar pembahasan tentang pengukuhan terhadap wujud dan sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala. Lalu, beliau membahas tentang ayat-ayat  dan hadits-hadits yang berhubungan dengan sifat-sifat yang secara sekilas tampak perserupaan Al Haq dengan makhluk-Nya. Kemudian, beliau juga memberi contoh dari ayat-ayat Al Qur’an dan dari sunnah-sunnah. Beliau juga menyebutkan pendapat ahlus sunnah wal jamâ’ah setelah menyebutkan pendapat-pendapat dari  golongan yang lain di dalam permasalahan ini. Kemudian beliau menjelaskan madzab ulama salaf dan khalaf tentang ayat-ayat dan hadits-hadits sifat. Beliau mengatakan bahwa ulama salaf—mudah-mudahan Allah meridhai mereka—memercayai pengukuhan ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat-sifat Allah Subhanahu wa ta’ala sebagaimana diriwayatkan, dan mereka menolak untuk menjelaskan maksudnya bagi Allah Subhanahu wa ta’ala dengan keyakinan untuk menghilangkan perserupaan Allah Subhanahu wa ta’ala dengan makhluk-Nya. Kemudian beliau mentarjih (menguatkan) pendapat ulama salaf bahwa ia lebih baik untuk diikuti.

Imam Hasan Al Banna juga membahas tentang ilmu musthalah al hadîts di dalam kajian hari Selasa yang beliau sampaikan di kantor umum (Ikhwanul Muslimin). Beliau mengatakan bahwa As Sunnah pernah mengalami masa keemasan. Beliau juga menjelaskan bahwa As Sunnah adalah dasar agama Allah Subhanahu wa ta’ala yang kedua dan merupakan tafsir bagi kitab-Nya. Menurut beliau, hadits adalah sekumpulan ucapan, perbuatan atau ketetapan Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau juga membahas tentang periode modifikasi hadits, tentang riwayat dan sanad sebagai salah satu karakteristik umat Islam. Artinya, bahwa tidak terdapat dalam sejarah umat sebelum Islam yang memerhatikan transfer informasi (riwayat hadits)nya dan koreksi atas sejarahnya seperti umat Islam. Maka, hal ini merupakan karakteristik umat Islam dan risalah penutupnya, sebagaimana telah belaiu jelaskan secara sempurna dan komprehensif  di dalam pasal yang berjudul “Dalam Keluasan As Sunnah.” Sekumpulan hadits yang menyajikan beberapa contoh hal tersebut antara lain hadits niat dan penjelasannya, hadits tentang dampak penyimpangan dan kerusakannya, hadits tentang keutamaan saling mencintai di antara umat Islam dan sebab-sebab kerusakan umat, hadits tentang sebab-sebab kelemahan umat, hadits tentang keutamaan-keutamaan Al Qur’an, hadits tentang manisnya iman, hadits tentang hak seorang Muslim terhadap Muslim yang lainnya, dan hadits tentang amal yang paling mulia.

Ide dan gagasan Imam Hasan Al Banna tentang Al Qur’an dan hadits menggambarkan bahwa beliau sosok yang cerdas dengan pemikiran yang  kreatif dan pemahaman yang menyeluruh. Belaiu adalah tokoh yang senantiasa berada dalam kebenaran, sebagaimana termaktub di dalam hadits-hadits yang diriwayatkan oleh Ath Thabrânî: “Umatku adalah umat yang diberkati, tidak diketahui apakah permulaannya yang baik ataukah akhirnya.” Dan di dalam riwayat yang lain disebutkan: “Umatku laksana hujan, tidak diketahui permulaannya yang baik ataukah yang akhirnya.”

Dan mudah-mudahan, di dalam generasi terakhir muncul seseorang yang menyelami dan mendalami bidang yang ingin dilihat oleh Nabi Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau bersabda di dalam hadits diriwayatkan oleh Muslim, Abû Hurairah:

“Aku ingin kita melihat saudara-saudara kita.” Lantas para shahabat bertanya: “Bukankah kami ini saudara-saudaramu?” Beliau berkata: “Kalian adalah sahabat-sahabatku, sedangkan saudara-saudaraku adalah umat yang datang setelahku dan mereka beriman kepadaku padahal mereka tidak pernah melihatku” (Hadits).

Siapakah mereka, orang-orang yang diamati oleh Nabi pilihan, Muhammad Saw., sebagai umat yang akan berada bersamanya dan beliau ingin sekali melihatnya? Tidak diragukan lagi bahwa mereka adalah karamah yang mulia yang selalu komitmen terhadap agama Islam dan kepada mukjizat Islam  yang terbesar: Al Qur’an Al Karîm. Mereka memiliki hubungan yang sangat kuat terhadap wahyu ini. Mereka telah menempatkan Al Qur’an di dalam hati mereka yang paling dalam, sehingga mereka dapat mempersembahkan bagi dunia masa-masa kejayaan ilmu pengetahuan dan teknologi serta masa-masa keemasan pemikiran yang menjadikan Islam tersebar luas di seluruh penjuru dunia dan mengangkat Al Qur’an pada derajat yang tertinggi di hadapan semua umat. Kami menganggap bahwa Imam Hasan Al Banna adalah termasuk generasi semacam ini.

Di dalam ide dan gagasan Imam Hasan Al Banna tentang Al Qur’an dan hadits Nabi yang suci, tampak dengan jelas bahwa beliau mengajarkan kepada kita bagaimana tata cara berinteraksi dengan Al Qur’an—sebagai aturan yang abadi dan mukjizat terbesar—serta bagaimana memahami sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Beliau juga telah meletakkan kepada kita dasar-dasar manhaj kembali kepada Al Qur’an di dalam kuliah yang beliau sampaikan dan juga yang telah tercatat di dalam majalah-majalah Ikhwan.

Manhaj kembali kepada Al Qur’an Al Karîm menurut beliau merupakan manhaj dan undang-undang bagi kehidupan, demikian juga sunnah Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam. Realitas yang menggambarkan marjinalisasi Al Qur’an dan As Sunnah dari kehidupan yang menjadikan kedua sumber hukum tersebut sebagai landasan utama bagi sains dan agama harus dihilangkan. Interaksi yang harmonis dengan Al Qur’an dan As Sunnah harus mampu dikembalikan kepada dunia nyata. Kondisi perseteruan antara umat Islam dan Al Qur’an mereka telah selesai. Dan Ikhwanul Muslimin telah mengibarkan panji-panji Islam dan menancapkannya supaya Al Qur’an menjadi sumber dan referensi utama bagi setiap Muslim dewasa ini, seperti realitas kehidupan salafu Ash shâlih. Sehingga, setiap Muslim diharapkan selalu kembali kepada sumber rabbani yang kekal ini, agar ia dapat mentransfer ilmu pengetahuan di dalam ide dan gagasan-gagasannya kepada setiap insan, kehidupan dan realitas di samping dapat mengemukakan ide dan gagasan-gagasannya dalam memecahkan persoalan-persoalan individu, keluarga, sosial, hubungan kenegaraan dan hubungan internasional. Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman kepada Rasul-Nya:

“Dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, yaitu Al Kitab (Al Qur’an), itulah yang benar, dengan membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Mengetahui lagi Maha Melihat (keadaan) hamba-hamba-Nya. Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia-karunia yang amat besar.” (QS  Fâthir [35]: 31-32)

Kita telah belajar dari Imam Hasan Al Banna bahwa kualitas pembaca Al Qur’an harus  secara berangsur-angsur menjadi  lebih baik ketika berinteraksi dengan Al Qur’an. Umat Islam terdahulu telah membuktikan bahwa mereka selalu membaca Al Qur’an dan terus berusaha untuk mencapai puncaknya. Sementara kita—kecuali orang-orang yang dirahmati Allah Swt.—membaca Al Qur’an dan menariknya kepada level kualitas kita. Ini adalah bentuk kezaliman bagi mukjizat alam ini. Di samping itu, kita harus memahami apa yang telah dikatakan oleh Imam Syâfi’î:

Sesungguhnya As Sunnah Nabi  adalah pemahaman Nabi Shalallahu ‘alaihi wasallam terhadap Al Qur’an, atau inti pemahamannya terhadap Al Qur’an. Beliau selalu berinteraksi dengan Al Qur’an secara sempurna di dalam kehidupannya lahir dan batin.

Ketika wahyu turun di dalam hati penghulu para rasul dengan menggunakan bahasa Arab yang fasih, berarti bahwa wahyu tersebut telah mengembalikan dan membangun sistem kehidupan umat Islam kea rah yang lebih baik serta mentarbiyah mereka dengan sebaik-baik tarbiyah. Di bawah naungan Al Qur’an, umat Islam berubah menjadi umat yang percaya kepada pentingnya syura (musyawarah). Mereka meyakini bahwa syura adalah ibadah, ketaatan dan akhlak islami yang harus dipegang teguh, di samping sebagai kewajiban yang diperintahkan oleh Allah Subhanahu wa ta’ala. Mereka juga percaya bahwa amar makruf nahi munkar sangat penting. Dan dengan Al Qur’an, umat Islam selalu membenci tirani dan kesewenang-wenangan dari mana saja datangnya.

Kita menuju kepada umat yang telah merasakan keadilan mutlak yang telah mengubah mereka membenci perbedaan ras dan membenci tingkah laku orang-orang yang sombong dan membanggakan bangsanya.

Kita menyaksikan sorang Muslim seperti Rabi’ bin ‘Âmir yang berteriak dengan suara lantang kepada panglima Persia, ketika Panglima Persia itu bertanya kepada Rabi’ bin ‘Âmir: “Tujuan apa yang ada pada diri kalian?” Rabi’ menjawab dengan mantap dan percaya diri: “Kami datang untuk membebaskan manusia dari penyembahan kepada makhluk untuk menyembah Allah Subhanahu wa ta’ala semata; dari impitan dunia kepada kelapangan dunia akhirat; dan dari kezhaliman agama-agama menuju keadilan Islam.” Ini adalah peradaban Al Qur’an yang telah membangkitkan kemanusiaan dan telah mengangkat umat Islam kepada level Al Qur’an yang mulia. Umar bin Khaththab pernah berkata:”Sesungguhnya Allah telah memuliakan kita dengan Islam, maka apabila kita mencari kemuliaan dari selainnya maka Allah akan merendahkan kita!”

Saya memohon kepada Allah Subhanahu wa ta’ala agar menerima jerih payah para Ikhwan dengan pusaka peninggalan Imam Al Banna ini. Dan mudah-mudahan setiap Muslim dan Muslimah dapat merasakan faedah dari khazanah intelektual yang mulia ini. Sesungguhnya Dia adalah sebaik-baik pelindung dan sebaik-baik penolong. Âmîn.

Muhammad Mahdi ‘Akif

Mursyid ‘Amm VII Ikhwanul Muslimin

Comments are closed.