Abdullah Haidir

Penjara

Penjara bukan terminal akhir bagi perjalangan seorang pejuang. Dalam sejarahnya, dia sering menjadi tempat singgah para pejuang melawan kezaliman.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata, “Apa yang dapat diperbuat musuhku? Surgaku ada di dadaku. Dipenjara  adalah menyepi (khalwat), dibunuh adalah syahid, dan dibuang adalah berwisata.

Dipenjara karena membawa kebenaran jelas lebih mulia dibanding orang yang bebas karena pandai menyimpan kejahatan. Fisik dapat dipenjara, namun keyakinan, fikrah, spirit perjuangan, cita-cita dan khayalan tidak dapat dipenjara!

Lagipula, asalnya, sebagai Muslim kita ini terpenjara oleh ajaran dan ketentuan Allah. “Dunia adalah penjara mukmin dan surga orang kafir.” (HR. Muslim)

Suatu saat Hasan Al-Basri yang berpakaian bagus berjalan, lalu dihadang seorang non Muslim yang keadannya lusuh. Maka dia bertanya kepadanya, “Ya Syaikh, katanya dunia adalah penjara seorang mukmin dan surga orang kafir, kenapa engkau tampak perlente sedangkan saya menderita?”

Hasan Al Basri menjawab, “Seenak-enaknya orang Muslim di dunia, dibanding kemewahan dan kebebasan surga, maka dunia baginya bagai penjara.”

“Sedangkan orang kafir, semenderita-menderitanya di dunia, dibanding kepedihan dan kesengsaraan di neraka, maka dunia baginya bagai surga.”

Jika ada akitifis dakwah dipenjara karena sepak terjang dakwahnya, ketahuilah, ini bukan yang pertama dan terakhir kali! Imam Ahmad, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Sayid Quthb, HAMKA, Syaikh Muhammad Al Ghazali adalah di antara dai yang pernah dipenjara. Jasad mereka telah terkubur, namun semangat mereka tetap ‘hidup’.