Manna' Khalil Al Qaththan

Penyampaian Wahyu oleh Malaikat kepada Rasul

Wahyu Allah kepada para Nabi-Nya itu ada kalanya adalah tanpa perantara, seperti apa yang telah kami sebutkan di atas, misalnya mimpi yang benar di waktu tidur dan kalam Ilahi dari balik tabir dalam keadaan jaga yang disadari; dan ada kalanya melalui perantaraan malaikat wahyu. Masalah inilah yang hendak kami bicarakan dalam topik ini, karena Al-Qur’an di turunkan dengan wahyu macam ini.

Ada dua cara penyampaian wahyu oleh malaikat kepada Rasul:

Pertama, datang dengan suatu suara seperti suara lonceng, yaitu suara yang amat kuat yang dapat mempengaruhi kesadaran, sehingga ia dengan segala kekuatannya siap menerima pengaruh itu. Cara ini adalah yang paling berat bagi Rasul. Apabila Wahyu yang turun kepada Rasulullah dengan cara ini, biasanya beliau mengumpulkan segala kekuatan dan kesadarannya untuk menerima, menghafal dan memahaminya. Terkadang suara itu seperti kepakan saya-sayap malaikat, seperti diisyaratkan di dalam hadits,

Apabila Allah menghendaki suatu urusan di langit, maka para malaikat memukul-mukulkan sayapnya karena tunduk kepada firman-Nya, bagaikan gemerincingnya mata rantai di atas batu-batu yang licin.” (HR. Al-Bukhari)

Dan mungkin pula suara malaikat itu sendiri pada waktu Rasul baru mendengarnya untuk pertama kali.

Kedua, Malaikat menjelma kepada Rasul sebagai seorang laki-laki. Cara seperti ini lebih ringan daripada cara sebelumnya, karena adanya kesesuaian antara pembicara dengan pendengar. Beliau mendengarkan apa yang disampaikan pembawa wahyu itu dengan senang, dan merasa tenang seperti seseorang yang sedang berhadapan dengan saudaranya sendiri.

Keadaan Jibril menampakkan diri seperti seorang laki-laki itu tidaklah mengharuskan ia melepaskan sifat keruhaniannya. Dan tidak pula berarti bahwa zatnya telah berubah menjadi seorang laki-laki. Tetapi yang dimaksudkan ialah bahwa dia menampakkan diri dalam bentuk manusia. Yang pasti, keadaan pertama –tatkala wahyu turun seperti suara lonceng yang dahsyat- tidak membuatnya tenang, karena yang demikian menuntut ketinggian spiritual Rasulullah yang seimbang dengan tingkat keruhanian malaikat. Dan inilah yang paling berat. Kata Ibnu Khaldun, “Dalam keadaan yang pertama, Rasulullah melepaskan kodratnya sebagai manusia yang bersifat jasmani untuk berhubungan dengan malaikat yang bersifat ruhani. Sedangkan dalam keadaan lain sebaliknya, malaikat berubah dari ruhani semata menjadi manusia jasmani.”

Keduanya itu tersebut dalam hadits yang diriwayatkan dari Aisyah Ummul Mukminin bahwa Al-Harits bin Hisyam bertanya kepada Rasulullah mengenai hal itu. Nabi menjawab, “Kadang-kadang ia datang kepadaku bagaikan dentingan lonceng, dan itulah yang paling berat bagiku, lalu ia pergi, dan aku telah menyadari apa yang telah dikatakannya. Dan terkadang malaikat menjelma kepadaku sebagai seorang laki-laki, lalu dia berbicara kepadaku, dan aku pun memahami apa yang dikatakan.”

Al-Harits berkata, “Aku pernah melihat tatkala wahyu sedang turun kepada beliau pada suatu hari yang amat dingin. Lalu malaikat itu pergi, keringat mengucur dari dahi Rasulullah.”[1]

Keduanya itu merupakan macam ketiga pembicaraan Ilahi yang diisyaratkan di dalam ayat,

Dan tidak ada seorang manusia pun yang Allah berbicara kepadanya, kecuali dengan perantaraan wahyu, atau dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan kepadanya dengan seizin-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Dia Maha Tinggi dan Maha Bijaksana.” (QS. As-Syura : 51)

Tentang hembusan ke dalam hati, telah disebutkan di dalam hadits Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Ruh kudus telah menghembuskan ke dalam hatiku bahwa seseorang itu tidak akan mati sehingga dia menyempurnakan rezeki dan ajalnya. Maka bertakwalah kepada Allah, dan carilah rezeki dengan jalan yang baik.”[2]

Hadits ini tidak menunjukkan turunnya wahyu secara tersendiri. Hal ini mungkin dapat dikembalikan kepada salah satu dari dua keadaan yang tersebut di dalam hadits Aisyah. Mungkin malaikat datang kepada beliau dalam keadaan yang menyerupai suara lonceng, lalu dihembuskannya wahyu kepadanya. Bisa jadi wahyu yang melalui hembusan itu adalah wahyu selain Al-Qur’an.



[1] HR. Al-Bukhari

[2] HR. Abu Nu’aim dalam Al-Hiyah dengan sanad yang shahih