Abbas Hasan As Sisi

Perantara

Kesamaan, baik dalam usia, pekerjaan, wawasan, maupun lingkungan, merupakan sesuatu yang dapat mempercepat keakraban, saling pengertian dan saling kasih sayang, terutama di kalangan pemuda. Maka jarang kita temukan seorang kakek akrab dengan seorang pemuda, karena adanya perbedaan yang tajam dalam memandang standar kehidupan.

Bila seorang da’i sudah mencapai batas usia yang tidak memungkinkan lagi untuk berinteraksi dengan kalangan muda dalam rangka pembinaan, maka tidak ada masalah bila memanfaatkan pemuda aktivis da’wah sebagai perantara antara kedua belah pihak guna meng-arahkan sang da’i dalam mengenali mereka.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam telah memberi petunjuk dengan sabdanya, “Sayangilah manusia dan bersabarlah bersama mereka.” Sesungguhnya membentuk seseorang seperti yang diharapkan Islam itu memerlukan manhaj dalam memproses dan menyelami kepribadiannya. Sehingga tidak terjadi benturan secara langsung dengan hambatan moral atau psikologi, fanatisme maupun pemikiran jahili.

Oleh karena itu, pemuda aktivis da’wah harus sering konsultasi dengan da’i (yang dijembatani) dalam meme-cahkan setiap masalah yang dihadapi. Sebaliknya, da’i  harus memberikan pengalaman-pengalamannya dalam mengatasi hambatan-hambatan tersebut. Demikian juga bagi orang yang langsung membmanya, yakni murabbi, dia harus tetap gigih dan sabar sampai Allah membuka-kan hati mad’u (orang yang dibinanya) dan memberinya taufiq ke jalan Islam. Masa interaksi, baik lama maupun sebentar, merupakan cerminan pembinaan akhlak dan perilaku yang dapat membangkitkan semangat yang terpendam, yang terkadang menghalangi seseorang untuk produktif dalam beramal. Maka, sarana untuk mencapai tujuan yang ikhlas adalah sesuatu yang telah dimantap-kan Allah dalam hatinya. Setelah berlangsung beberapa hari, beberapa bulan, bahkan beberapa tahun, akhirnya mad’u berubah menjadi lebih dewasa, baik perilaku dan kondisinya.