Ahmad Sarwat

Perbedaan Pendapat

Mungkin tidak sedikit kalangan awam yang belum belajar secara khusus tentang ilmu fiqh yang akan merasa aneh dengan perbedaan di kalangan ulama.

Seringkali bila mereka membaca tulisan yang terkait dengan kajian fiqhiyah, mereka dapati isinya merupakan penjabaran perbedaan pendapat di kalangan ulama. Bahkan tidak jarang disebutkan ada mazhab A, mazhab B, atau ulama ini dan ulama itu.

Masing- masing datang dengan pendapatnya sendiri-sendiri yang nyaris tidak pernah sama. Dan tidak sedikit yang kemudian bukannya menjadi paham, tapi malah tambah bingung.

Biasanya pertanyaan menggugat yang terlontar antara lain seperti berikut ini: Bukankah agama ini satu? Syariat ini satu? Bukankah kebenaran satu tidak berbilang? Bukankah sumbernya pun satu juga, yaitu wahyu Allah? Tapi kenapa terjadi perbedaan sehingga dalam satu masalah ada pendapat lebih dari satu dan tidak satu pendapat antara madzhab sehingga umat Islam lebih mudah mengambil pendapat, karena mereka adalah umat yang satu?

Terkadang ada yang menduga bahwa perbedaan ini menyebabkan kontradiksi dalam syariat atau kontradiksi dalam sumber syariat atau perbedaan akidah, seperti perbedaan aliran-aliran dalam agama selain Islam seperti golongan Kristen Ortodoks, Katolik, Protestan, naudzubillah!!

Semua anggapan ini adalah tidak benar. Sebab perbedaan antara madzhab fiqh dalam Islam merupakan rahmat dan kemudahan bagi umat Islam. Khazanah kekayaan syariat yang besar ini adalah kebanggaan dan izzah bagi umatnya.

Perbedaan fuqaha hanya terjadi dalam masalah-masalah cabang dan ijtihad fiqh, bukan dalam masalah inti, dasar dan akidah. Tak pernah kita dengar dalam sejarah Islam, perbedaan fiqh antara madzhab menyeret mereka kepada konflik bersenjata yang mengancam kesatuan umat Islam.

Sebab perbedaan mereka dalam masalah parsial yang tidak membahayakan. Perbedaan dalam masalah akidah sesungguhnya yang dicela dan memecah belah umat Islam serta melemahkan eksistensinya.

Pangkal perbedaan ulama adalah tingkat berbeda antara pemahaman manusia dalam menangkap pesan dan makna, mengambil kesimpulan hukum, menangkap rahasia syariat dan memahami illat hukum.

Semua ini tidak bertentangan dengan kesatuan sumber syariat. Karena syariat Islam tidak saling bertentangan satu sama lainnya. Perbedaan terjadi karena keterbatasan dan kelemahan manusia. Meski demikian tetap harus beramal dengan salah satu pendapat yang ada untuk memudahkan manusia dalam beragama sebab wahyu sudah terputus. Namun bagi seorang mujtahid ia mesti beramal dengan hasil ijtihadnya sendiri berdasarkan interpretasinya yang terkuat menurutnya terhadap makna teks syariat.

Karena interpretasi ini yang menjadi pemicu dari perbedaan. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,”Jika seorang mujtahid berijtihad, jika benar ia mendapatkan dua pahala dan jika salah dapat satu pahala,”

Kecuali jika sebuah dalil bersifat qathi’ (pasti) dengan makna sangat jelas baik dari Al Quran, Sunnah mutawatir atau hadits Ahad Masyhur maka tidak ruang untuk ijtihad.

A. Bolehkah Terjadi Perbedaan?

Sebuah pertanyaan yang sangat mendasar, bolehkah umat Islam berbeda pendapat dalam masalah agama?

1. Perbedaan Pendapat di Antara Para Nabi

Meski para nabi dan rasul memiliki kedudukan yang mulia serta mendapatkan ‘ishmah (penjagaan) dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala agar tidak tercebur ke dalam dosa, namun dalam prakteknya masih dimungkinkan mereka berbeda pandangan, bukan dengan kaumnya, tetapi dengan sesama nabi dan rasul, yang sama-sama menjadi utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Nabi Musa dan saudaranya sendrii, yaitu Nabi Harun, mereka berdua pernah berselisih dan berbeda pandangan dalam satu urusan. Dan Musa juga pernah berbeda pandangan dengan Nabi Khidhir alihimussalam. Nabi Sulaiman dan ayahnya yang juga sama-sama utusan Allah, yaitu Nabi Daud alihimussalam, juga pernah berbeda pandangan ketika memutuskan perkara di tengah umat mereka.

a. Nabi Musa dan Harun

Nabi Musa pernah berselisih dengan saudaranya, nabi Harun alaihimas salam. Perselisihan itu bukan hanya sebatas perang kata-kata, bahkan sampai Musa menarik rambut di kepala dan jenggot saudaranya itu dengan marah dan kecewa.

Berkata Musa: “Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka telah sesat, . (sehingga) kamu tidak mengikuti aku? Maka apakah kamu telah (sengaja) mendurhakai perintahku?” (QS Thaha: 92-93)

Sumber keributan antara keduanya berhulu ketika Nabi Musa Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dipanggil Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk menerima wahyu di atas bukit Thursina. Musa menitipkan urusan kaumnya itu kepada saudaranya, Harun.

Namun pendektan Harun agak sedikit berbeda dengan Musa. Harun konon lebih lemah lembut, halus, lebih banyak bermain perasaan, sehingga memberikan lebih banyak toleransi atas kedegilan bangsa Yahudi itu. Tidak seperti sikap Nabi Musa yang lebih keras dalam menghadapi mereka. Sehingga ketika Musa kembali dari menghadap Allah Subhanahu wa Ta’ala dan dilihatnya kaumnya seperti itu, meledaklah marahnya.

Dan tatkala Musa telah kembali kepada kaumnya dengan marah dan sedih hati berkatalah dia, “Alangkah buruknya perbuatan yang kamu kerjakan sesudah kepergianku! Apakah kamu hendak mendahului janji Tuhanmu? Dan Musa pun melemparkan luh-luh itu dan memegang kepala saudaranya sambil menariknya ke arahnya, Harun berkata, “Hai anak ibuku, sesungguhnya kaum ini telah menganggapku lemah dan hampir-hampir mereka membunuhku, sebab itu janganlah kamu menjadikan musuh-musuh gembira melihatku, dan janganlah kamu masukkan aku ke dalam golongan orang-orang yang zalim”(Q. Al A’raf: 150)

Dalam pada itu, Nabi Harun saudaranya itu pun menjawab:

Harun menjawab’ “Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan kepalaku; sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan berkata, “Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku.”(QS Thaha : 94)

Penting untuk kita garis-bawahi disini, bahwa Musa dan Harun, keduanya adalah saudara, sama-sama diangkat menjadi nabi untuk kaum yang sama, yaitu kaum Yahudi. Tetapi pola pendekatan yang masing-masing lakukan ternyata berbeda, dan terjadilah tarik menarik rambut dan jenggot di antara mereka. Padahal kalau dipikir-pikir, Nabi Musa ini amat kuat fisiknya, dan pernah meninju orang dengan sekali pukulan hingga mati. Dan dalam riwayat yang shahih disebutkan bahkan malaikat Izrail pun pernah kena tinju matanya hingga picek, lalu mengadu kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Artinya, perbedaan pendapat antara Musa dan Harun malah sampai kepada keributan fisik. Tetapi begitulah, keduanya tetap berkedudukan sebagai utusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

b. Musa dan Khidhir

Masih terkait dengan Nabi Musa lagi, kali ini beliau berbeda pandangan dengan Nabi Khidhir alaihissalam. Kisahnya disebutkan juga di dalam Al Quran, meski tidak sampai keributan fisik.

Sebab saat itu posisi Nabi Musa bukan sebagai pemimpin, melainkan sebagai murid yang sedang belajar untuk mendapatkan ilmu dari orang yang derajatnya lebih tinggi.

Dan begitulah, keduanya selalu berselisih dan beda pendapat dalam perjalanan. Musa selalu mempertanyakan semua tindakan shahabatnya itu, meski pada akhirnya beliau selalu harus dibuat mengerti. Tetapi intinya, beda pemahaman itu adalah sesuatu yang wajar dan mungkin terjadi, bahkan di kalangan sesama para nabi. Dan tidak ada kebenaran tunggal dalam hal ini.

Lalu mereka bertemu dengan seorang hamba di antara hamba-hamba Kami, yang telah Kami berikan kepadanya rahmat dari sisi Kami, dan yang telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami. (QS Al Kahfi: 65)

Musa berkata kepada Khidhr: “Bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar di antara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepadamu?” (QS Al Kahfi: 66)

Dia menjawab: “Sesungguhnya kamu sekali-kali tidak akan sanggup sabar bersama aku. (QS Al Kahfi: 67)

Dan bagaimana kamu dapat sabar atas sesuatu, yang kamu belum mempunyai pengetahuan yang cukup tentang hal itu?” (QS Al Kahfi: 68)

Musa berkata: “Insya Allah kamu akan mendapati aku sebagai orang yang sabar, dan aku tidak akan menentangmu dalam sesuatu urusanpun.” (QS Al Kahfi: 69)

Dia berkata: “Jika kamu mengikutiku, maka janganlah kamu menanyakan kepadaku tentang sesuatu apapun, sampai aku sendiri menerangkannya kepadamu.”(QS Al Kahfi: 70)

Khidhr berkata: “Inilah perpisahan antara aku dengan kamu; kelak akan kuberitahukan kepadamu tujuan perbuatan-perbuatan yang kamu tidak dapat sabar terhadapnya. .”(QS Al Kahfi: 78)

c. Nabi Sulaiman dan Daud

Dan (ingatlah kisah) Daud dan Sulaiman, di waktu keduanya memberikan keputusan mengenai tanaman, karena tanaman itu dirusak oleh kambing-kambing kepunyaan kaumnya. Dan adalah Kami menyaksikan keputusan yang diberikan oleh mereka itu,

2. Perbedaan Pendapat di Antara Para Malaikat

Bahkan sesama malaikat yang mulia dan tanpa hawa nafsu sekali pun tetap terjadi beda pendapat. Masih ingat kisah seorang yang taubat karena telah membunuh 99 nyawa ditambah satu nyawa?

Dalam perjalanan menuju taubatnya, Allah mencabut nyawanya. Maka berikhtilaflah dua malaikat tentang nasibnya. Malaikat kasih sayang ingin membawanya ke surga lantaran kematiannya didahului dengan taubat nashuha. Namun rekannya yang juga malaikat tetapi job-nya mengurusi orang pendosa ingin membawanya ke neraka, lantaran masih banyak urusan dosa yang belum diselesaikanya terkait dengan hutang nyawa.

Bayangkan, bahkan dua malaikat yang tidak punya kepentingan hewani, tidak punya perasaan, tidak punya kepentingan terpendam, tetap saja ditaqdirkan Allah Subhanahu wa Ta’ala untuk berbeda pendapat.

Kisah lengkapnya bisa kita baca di dalam kitab tershahih kedua setelah Al Quran, yaitu Shahih Bukhari.

Ada seorang dari kalangan Bani Isra’il yang telah membunuh sembilan puluh sembilan orang manusia kemudian dia pergi untuk bertanya (tentang peluang ampunan). Maka dia menemui seorang pendeta dan bertanya kepadanya; Apakah ada pintu taubat buatku’. Pendeta itu menjawab; Tidak ada. Maka orang ini membunuh pendeta tersebut. Kemudian dia bertanya lagi lalu ada seorang laki-laki yang berkata kepadanya; Datangilah desa anu. Kemudian orang itu (pergi menuju desa dimaksud) dan ketika hampir menemui ajalnya dia bangkit sambil memegang dadanya namun akhirnya meninggal dunia. Atas kejadian itu malaikat rahmat dan malaikat adzab (siksa) berselisih. Lalu Allah Subhanahu wa Ta’ala mewahyukan kepada bumi yang dituju (desa untuk mencari taubat) agar mendekat dan mewahyukan kepada bumi yang ditinggalkan (tempat dia melakukan kejahatan) agar menjauh lalu berfirman kepada kedua malaikat itu: Ukurlah jarak keduanya. Ternyata orang itu lebih dekat ke desa yang dituju maka dia diampuni. (HR. Bukhari)

Lafadz yang amat menarik dari hadits ini bisa kita garis-bawahi, yaitu:

Atas kejadian itu Malaikat rahmat dan malaikat adzab berselisih

Menarik sekali, ada dua malaikat berselisih. Mungkin tidak terbayangkan di tengah kita, bagaimana bisa malaikat dengan sesama mereka berselisih pandangan.

Tetapi itu urusan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Buat kita, cukup kita tahu bahwa berselisih itu tidak berarti haram dan dosa. Ada perselisihan yang diharamkan, tetapi ada juga yang dibenarkan. Kalau berpeda pandangan itu haram dan dosa, seharusnya malaikat tidak boleh berbeda pandangan.

Setidaknya, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak perlu menceritakan kisah perselisihan mereka, seharusnya ditutup rapat saja, menjadi urusan dunia ghaib.

3. Perbedaan Pendapat di Antara Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dan Shahabat

a. Penyerbukan Bunga Kurma

b. Posisi Pasukan

Dalam kasus penempatan pasukan perang di medan Badar, terjadi perbedaan pendapat antara Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan seorang shahabat. Menurut shahabat yang ahli perang ini, pendapat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam yang bukan berdasarkan wahyu kurang tepat. Setelah beliau menjelaskan pikirannya, ternyata Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kagum atas strategi shahabatnya itu dan bersedia memindahkan posisi pasukan ke tempat yang lebih strategis.

Di sini, nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bahkan menyerah dan kalah dalam berpendapat dengan seorang shahabatnya. Namun beliau tetap menghargai pendapat itu. Toh, pendapat beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam sendiri tidak berdasarkan wahyu.

c. Tawanan Perang Badar

Masih dalam perang yang sama, saat perang hampir berakhir, muncul keinginan di dalam diri Rasululah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk menghentikan peperangan dan menjadikan lawan sebagai tawanan perang. Tindakan itu didasari oleh banyak pertimbangan, selain itu juga karena saat itu belum ada ketentuan dari langit. Maka nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bermusyawarah dengan para shahabatnya dan diambil keputusan untuk menawan dan meminta tebusan saja.

Saat itu hanya satu orang yang berbeda pendapat, yaitu Umar bin Al Khattab radhiyallahuanhu. Beliau tidak sepakat untuk menghentikan perang dan meminta agar nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam meneruskan perang hingga musuh mati semua. Tidak layak kita menghentikan perang begitu saja karena mengharapkan kekayaan dan kasihan.

Tentu saja pendapat seperti ini tidak diterima forum musyarawah dan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam serta para shahabat lain tetap pada keputusan semula, hentikan perang. Tidak lama kemudian turun wahyu yang membuat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam gemetar ketakutan, karena ayat itu justru membenarkan pendapat Umar bin Al Khattab radhiyallahuanhu dan menyalahkan semua pendapat yang ada.

Tidak patut, bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawiyah sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untukmu). Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al Anfal: 67)

4. Perbedaan Pendapat di Antara Para Shahabat

Para shahabat Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah generasi terbaik, dimana status yang Allah Subhanahu wa Ta’ala sandangkan kepada mereka tidak pernah diberikan kepada generasi yang lain, yaitu ridwanullahi ‘alaihim.

Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (QS At Taubah: 100)

Namun demikian, keridhaan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mereka dapat tidak menghalangi adanya perbedaan pendapat dalam memahami nash-nash syariah di tengah mereka. Bahkan perbedaan itu bukan hanya terjadi selepas Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam wafat, bahkan jauh ketika beliau Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam masih berada di tengah-tengah mereka sendiri.

a. Shalat Ashar di Perkampungan Bani Quraidhah

Dalam peristiwa shalat Ashar di perkampungan bani Quraidhah, kita dapat mengambil pelajaran berharga bahwa urusan khilafiyah tidak pernah pandang bulu. Bahkan para shahabat nabi yang mulia sekalipun tidak pernah sepi dari urusan itu.

Saat itu para shahabat terpecah dua, sebagian shalat Ashar di perkampungan Bani Quraidhah, meski telah lewat Maghrib, karena pesan nabi adalah,

“Janganlah kalian shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraidhah.”

Namun sebagian yang lain tidak shalat di sana, tetapi di tengah jalan namun pada waktunya. Lalu apa komentar nabi, adakah beliau membela salah satu pendapat? Jawabnya tidak. Beliau tidak menyalahkan kelompok mana pun karena keduanya telah melakukan ijtihad dan taat kepada perintah. Hanya saja, ada perbedaan dalam memahami teks sabda beliau. Jadi, khilaf di masa kenabian sudah terjadi dan tetap menjadi khilaf.

Dari hadits ini, jumhur mengambil kesimpulan tidak ada dosa atas mereka yang sudah berijtihad, karena Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam tidak mencela salah satu dari dua kelompok shahabat tersebut.

Ibnul Qayyim rahimahullahu mengatakan[1] bahwa para ahli fiqih berselisih pendapat, mana dari kedua kelompok ini yang benar. Satu kelompok menyatakan bahwa yang benar adalah mereka yang menundanya. Seandainya kita bersama mereka tentulah kita tunda seperti mereka menundanya. Dan kita tidak mengerjakannya kecuali di perkampungan Bani Quraizhah karena mengikuti perintah beliau sekaligus meninggalkan takwilan yang bertentangan dengan dzahir hadits tersebut.

Yang lain mengatakan bahwa yang benar adalah yang melakukan shalat di jalan, pada waktunya. Mereka memperoleh dua keutamaan; bersegera mengerjakan perintah untuk berangkat menuju Bani Quraizhah dan segera menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan mendirikan shalat pada waktunya lalu menyusul rombongan. Maka mereka mendapat dua keutamaan; keutamaan jihad dan shalat pada

waktunya.

Sedangkan mereka yang mengakhirkan shalat ‘Ashar paling mungkin adalah mereka udzur, bahkan menerima satu pahala karena bersandar kepada dzahir dalil tersebut.

Niat mereka hanyalah menjalankan perintah. Tapi untuk dikatakan bahwa mereka benar, sementara yang segera mengerjakan shalat dan berangkat jihad adalah salah, adalah tidak mungkin. Karena mereka yang shalat di jalan berarti mengumpulkan dua dalil. Mereka memperoleh dua keutamaan, sehingga menerima dua pahala. Yang lain juga menerima pahala

5. Perbedaan Pendapat di Antara Para Ulama

B. Batas Kebolehan Perbedaan Pendapat

1. Beda Pandangan Bukan Perpecahan

2. Masalah Cabang dan Bukan Fundmental Aqidah

3. Bukan Permusuhan dan Fanatisme

4. Adab dan Akhlaq Berbeda Pendapat

C. Sebab Perbedaan Pendapat

Adapun sebab perbedaan ulama dalam teks yang bersifat dhanni (lawan dari qathi) atau yang lafadhnya mengandung kemungkinan makna lebih dari satu adalah sebagai berikut:

1. Perbedaan makna lafadh teks Arab.

Perbedaan makna ini bisa disebabkan oleh lafadh tersebut umum (mujmal) atau lafadh yang memiliki arti lebih dari satu makna (musytarak), atau makna lafadh memiliki arti umum dan khusus, atau lafadh yang memiliki makna hakiki atau makna menurut adat kebiasaan, dan lain-lain.

Contohnya, lafadh al quru’ memiliki dua arti; haid dan suci (Al Baqarah:228). Atau lafadh perintah (amr) bisa bermakna wajib atau anjuran. Lafadh nahy; memiliki makna larangan yang haram atau makruh.

Contoh lainnya adalah lafaz yang memiliki kemungkinan dua makna antara umum atau khusus adalah Al Baqarah: 206 “Tidak ada paksaan dalam agama” apakah ini informasi memiliki arti larangan atau informasi tentang hal sebenarnya?

2. Perbedaan riwayat.

Maksudnya adalah perbedaan riwayat hadits. Faktor perbedaan riwayat ada beberapa, diantaranya:

  • hadits itu diterima (sampai) kepada seorang perawi namun tidak sampai kepada perawi lainya
  • atau sampai kepadanya namun jalan perawinya lemah dan sampai kepada lainnya dengan jalan perawi yang kuat
  • atau sampai kepada seorang perawi dengan satu jalan; atau salah seorang ahli hadits melihat satu jalan perawi lemah namun yang lain menilai jalan itu kuat
  • atau dia menilai tak ada penghalang untuk menerima suatu riwayat hadits. Perbedaan ini berdasarkan cara menilai layak tidaknya seorang perawi sebagai pembawa hadits.
  • atau sebuah hadits sampai kepada seseorang dengan jalan yang sudah disepakati, namun kedua perawi berbeda tentang syarat-syarat dalam beramal dengan hadits itu. Seperti hadits mursal.

3. Perbedaan sumber-sumber pengambilan hukum.

Ada sebagian berlandasan sumber istihsan, masalih mursalah, perkataan sahabat, istishab, saddu dzarai’ dan sebagian ulama tidak mengambil sumber-sumber tersebut.

4. Perbedaan kai dah usul fiqh.

Seperti kaidah usul fiqh yang berbunyi “Nash umum yang dikhususkan tidak menjadi hujjah (pegangan)”, “mafhum (pemahaman eksplisit) nash tidak dijadikan dasar”, “tambahan terhadap nash quran dalam hukum adalah nasakh (penghapusan)” kaidah- kaidah ini menjadi perbedaan ulama.

5. Ijtihad dengan qiyas.

Dari sinilah perbedaan ulama sangat banyak dan luas. Sebab Qiyas memiliki asal (masalah inti sebagai patokan), syarat dan illat. Dan illat memiliki sejumlah syarat dan langkah-langkah yang harus terpenuhi sehingga sebuah prosedur qiyas bisa diterima. Di sinilah muncul banyak perbedaan hasil qiyas disamping juga ada kesepakatan antara ulama.

6. Pertentangan (kontradiksi) dan tarjih antar dalil-dalil.

Ini merupakan bab luas dalam perbedaan ulama dan diskusi mereka. Dalam bab ini ada yang berpegang dengan takwil, ta’lil, kompromi antara dalil yang bertentangan, penyesuaian antara dalil, penghapusan (naskh) salah satu dalil yang bertentangan. Pertentangan terjadi biasanya antara nash-nash atau antara qiyas, atau antar sunnah baik dalam perkataan N abi dengan perbuatannya, atau dalam penetapan-penetapannya. Perbedaan sunnah juga bisa disebabkan oleh penyifatan tindakan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam dalam berpolitik atau memberi fatwa.

Dari sini bisa diketahui bahwa ijtihad ulama – semoga Allah membalas mereka dengan balasan kebaikan – tidak mungkin semuanya merepresentasikan sebagai syariat Allah yang turun kepada Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Meski demikian kita memiliki kewajiban untuk beramal dengan salah satu dari perbedaan ulama. Yang benar, kebanyakan masalah ijtihadiah dan pendapat yang bersifat zhanniyah (pretensi) dihormati dan disikapi sama.

Perbedaan ini tidak boleh menjadi pemicu kepada ashobiyah (fanatisme golongan), permusuhan, perpecahan yang dibenci Allah antara kaum Muslimin yang disebut Al Quran sebagai umat bersaudara, yang juga diperintah untuk berpegang teguh dengan tali Allah.

Para sahabat sendiri berhati-hati dan tidak mau ijtihadnya disebut hukum Allah atau syariat Allah. Namun mereka menyebut,”Ini adalah pendapatku, jika benar ia berasal dari Allah jika salah maka ia berasal dari saya dan dari setan, Allah dan Rasul-Nya darinya (pendapat saya) berlepas diri.”

Di antara nasehat yang disampaikan oleh Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, kepada para pasukannya baik dipimpin langsung atau tidak adalah,

“Jika kalian mengepung sebuah benteng, dan mereka ingin memberlakukan hukum Allah, maka jangan kalian terapkan mereka dengan hukum Allah, namun berlakukan kepada mereka dengan hukummu, karena engkau tidak tahu, apakah engkau tepat dalam menerapkan hukum Allah kepada mereka atau tidak,” (HR Ahmad, Tirmizi, Ibnu Majah)

Ini menegaskan tentang ketetapan ijtihad atau kesalahannya dalam masalah cabang fiqh



[1] Zadul Ma’ad jilid 3 halaman 131

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>