Manna' Khalil Al Qaththan

Perbedaan Tingkat Perawi Hadits

Tingkatan para perawi itu berbeda-beda:

Di antara mereka Ats Tsabt (yang teguh), Al Hafizh (yang hafalannya kuat), Al Wari’ (yang saleh),  Al Mutqin (yang teliti), An Naqid (yang kritis terhadap hadits). Yang mendapatkan predikat demikian ini tidak lagi dipersilisihkan, dan dijadikan pegangan atas Jarh dan Ta’dilnya, dan pendapatnya tentang para perawi dapat dijadikan sebagai hujjah.

Di antara mereka ada yang memiliki sifat Al ‘Adl dalam dirinya, tsabt teguh dalam periwayatannya, shaduq jujur dan benar dalam penyampaiannya, wara’ dalam agamanya, hafizh dan mutqin pada haditsnya. Demikian itu adalah perawi yang ‘adil yang bisa dijadikan hujjah dengan haditsnya, dan dipercaya pribadinya.

Di antara mereka ada yang shaduq, wara’. Shaleh, dan bertakqa, tsabt namun terkadang salah periwayatannya. Para ulama yang peneliti hadits masih menerimanya dan dapat dijadikan sebagai hujjah haditsnya.

Di antara mereka ada yang shaduq, wara’. Bertakwa namun seringkali lalai, ragu, salah, dan lupa. Yang demikian ini boleh ditulis haditsnya bila terkait dengan targhib (motivasi) dan tarhib (ancaman). Kezuhudan, dan adab, sedangkan dalam masalah halal dan haram tidak boleh berhujjah dengan haditsnya. Adapun orang yang nampak darinya kebohongan maka haditsnya ditinggalkan dan riwayatnya dibuang.[1]

Orang-Orang yang Paling Masyhur Berbicara Mengenai Perawi

Para ulama menyebutkan bahwasanya sebagian sahabat dikenal sering berbicara mengenai perawi, mereka adalah: Abdullah bin Abbas, Abdullah bin Salam, ‘Ubadah bin Ash Shamit, Anas bin Malik, Aisyah, berdasarkan apa ditemukan dari mereka berupa pendustaan dan penolakan kepada sebagian orang yang menyampaikan hadits kepada mereka.

Maka ketika muncul gerakan pemalsuan hadits, para ulama bangkit untuk memeranginya, mereka memperhatikan para perawi dan mengenali mereka. Dan sejumlah tabi’in juga berbicara mengenai jarh dan ta’dil di antara mereka yang paling terkenal:

  1. Sa’id bin Jubair (wafat tahun 95 H)
  2. Sa’id bin Al Musayyib (wafat tahun 94 H)
  3. ‘Amir Asy Sya’bi (wafat tahun 103 H)
  4. Muhammad bin Sirin (wafat tahun 110 H)

Mereka adalah generasi pertama.

Dan pada pertengahan abad II Hijrah mulai muncul sejumlah ulama peneliti dan ulama besar haidts yang pandai dalam mengetahui ihwal para perawi, sehingga penilaian mereka terhadap para tokoh sanad diterima, karena mereka mempunyai kelebihan dalam ketelitian. Di antara mereka ini adalah:

  1. Ma’mar bin Rasyid (wafat tahun 153 H)
  2. Hisyam Ad Dustawa (wafat tahun 153 H)
  3. Abdurrahman bin ‘Amru Al Auza’i (wafat tahun 157 H)
  4. Syu’bah bin AL Hajjaj (wafat tahun 160 H)
  5. Sufyan At Tsaury (wafat tahun 161 H)
  6. Abdul Aziz bin Majisun (wafat tahun 164 H)
  7. Hammad bin Salamah (wafat tahun 167 H)
  8. Hammad bin Zaid (wafat tahun 179 H)
  9. Malik bin Anas (wafat tahun 179 H)
  10. Abdullah bin Al Mubarak (wafat tahun 181 H)
  11. Hasyim bin Basyir (wafat tahun 183 H)
  12. Abu Ishaq Al Fazari (wafat tahun 188 H)
  13. Abdurrahman bin Mahdi (wafat tahun 198 H)
  14. Yahya bin Sa’id Al Qaththan (wafat tahun 198 H)

Mereka ini adalah generasi kedua.

Kemudian generasi ketiga, di antara para tokoh adalah:

  1. Abdullah bin Az Zubair Al Humaidi (wafat tahun 219 H)
  2. Abu Al Walid AtH Thayalisi (wafat tahun 227 H)
  3. Yahya bin Ma’in (wafat tahun 233 H, Imam Al Jarh wa At Ta’dil pada masanya.
  4. Ali bin Abdillah Al Madini (wafat tahun 234 H)
  5. Imam Ahmad bin Hanbal (wafat tahun 241 H)

Kemudian datang setelah mereka generasi berikutnya, di antara para tokoh yang paling terkenal:

  1. Imam Muhammad bin Isma’il Al Bukhari (wafat tahun 256 H)
  2. Abu Zur’ah Ubaidillah bin Abdul Karim Ar Razi (wafat tahun 277 H)
  3. Abu Hatim Muhammad bin Idris Ar Razi (wafat tahun 277 H)

Dan sebagian mereka ini tidak tertandingi dalam Al Jarh wa At Ta’dil karena ketelitian mereka yang sempurna, dan terutama Yahya bin Ma’in, Ali bin Al Madini, dan Yahya bin Sa’id Al Qatthan, hal ini dapat dilihat bagi orang yang menelaah kitab-kitab Al Jarh wa At Ta’dil.


[1] Muqaddimah Al Jarh wa At Ta’dil