Yusuf Al Qaradhawi

Pernyataan Pengunduran Syaikh Al Qaradhawi dari Hai’ah Kibar Ulama Al Azhar

Sesungguhnya Al Azhar semenjak dikuasai oleh Salahuddin Al Ayubi dan mereka yang selepasnya pada kurun-kurun yang lampau, Al Azhar telah menjadi pemimpin ummah dalam urusan agama, pengetahuan, pengajian dan perubahan. Dia (Al Azhar) berkata dengan kalamnya, menyanjungi ulama-ulamanya. Maka ia dicintai oleh hati-hati, ia dihormati oleh tua dan muda, berlalu rakyat dengan kalam-kalam ini di belakang pembesar mereka, mengagungkan kalimah Allah dan meninggikan panji Islam.

Al Azhar dalam sejarahnya telah menerima anak-anak dari dunia Islam untuk dididiknya. Dari Timur dan Barat, Selatan dan Utara. Dari mazhab Ahlu Sunnah yang terkenal: Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hanbali. Lalu mereka keluar menjadi ulama ummah, menyeru kepada Islam dengan ajaran yang jelas, memberikan kefahaman kepada manusia dan mereka berkata kepada pemerintah dan pembesar: “Takutlah kalian kepada Allah, peliharalah agamaNya.”

Al Azhar berdiri teguh dengan risalahnya, memelihara janjinya, menasihati karena Allah, RasulNya, kitabNya dan seluruh umat Islam pada zaman Mamalik, Turki dan raja-raja selepasnya. Al Azhar juga memimpin kebangkitan menentang Perancis, menentang Inggris maka Al Azhar tetap kekal memimpin rakyat. Tatkala kita diuji dengan terdapat orang yang zalim dan maksiat maka tidak dapat tidak bagi ulama yang bebas perlu menyatakan pendirian ketika itu, tiada rujukan melainkan Al Quran dan Sunnah.

Oleh karena itu, saya Yusuf Abdullah Al Qaradhawi menyatakan peletakan jabatan saya dari “Haiah Kibar Ulama” kepada rakyat Mesir, karena mereka merupakan “pemilik Al Azhar”, bukannya Syaikh Al Azhar. Saya mengira jabatan Syaikh Al Azhar dan beberapa jabatan yang dekat dengannya telah ‘dirampas’ dengan kekuatan senjata dengan perkiraan kudeta militer seperti yang dilakukan kepada jabatan Presiden Mesir, sama saja.

Sewajarnya dikembalikan hak memilih Presiden itu kepada rakyatnya maka begitu juga ulama-ulama yang berhak memilih ketua (Syaikh) mereka, yaitu “Haiah Kibar Ulama” dengan pemilihan yang bebas dan tidak dicampuri oleh pihak manapun agar mewakili semua golongan ulama, bukannya mewakili dirinya sendiri.

Sukacita saya katakan kepada rakyat Mesir: “Saya sesungguhnya, Alhamdulillah, pada usia 88 tahun yang saya sudah tidak berhajat kepada jabatan apapun. Allah telah memuliakan saya dengan keridhaan dan penerimaan rakyat-rakyat serta pemerintah-pemerintah umat Islam. Saya tidak inginkan kecuali umat ini kembali ke kedudukannya yang tinggi dan menjadi kewajiban kepada Al Azhar untuk menjadi “tiang seri” kepada umat ini.”

Saya meletakkan tangan saya di tangan Syaikh Al Azhar di tangga kantor Syaikh Al Azhar (dalam satu lawatan beliau melawat Syaikh Al Azhar selepas Revolusi 25 Januari 2011) bahwa saya ingin menjadi sandaran bagi beliau bersama-sama rekan yang ikhlas. Beliau melupakan atau pura-pura lupa apa yang dilakukannya sebelum itu, ketika beliau (Dr. Ahmad Thayyib) menjadi Rektor Al Azhar, beliau telah menghantam anak-anak muridnya untuk kepentingan kerajaan Mubarak, beliau juga merupakan anggota sebuah partai pemerintahan, berada dalam Biro Politik (National Demokratic Party), kami katakan: “Semoga Allah ampunkan apa yang telah berlalu, kita buka lembaran hidup baru.” Akan tetapi, malangnya kita mendapati pendiriannya cenderung ke arah rampasan kuasa yang melenyapkan Revolusi 25 Januari yang telah mengembalikan kebebasan, kemuliaan, demokrasi, musyawarah, dan sistem baru yang memberikan kepada rakyat kuasa sepenuhnya, ini semua dimusnahkan oleh kudeta.

Sewaktu di Mesir, saya diundang oleh sebagian saudara-saudara (dalam Ikhwanul Muslimin) untuk menyampaikan ucapan di atas pentas dataran Raba’ah tetapi saya ingin berucap kepada rakyat melalui ‘pentas khusus’ melalui layar televisi. Saya berucap menyeru agar berhadapan dengan mereka yang melampau, mengobati kesilafan dan bukannya melalui rampasan kuasa.

Kemudian, kita dan rakyat Mesir begitu terkejut dengan penyertaan Syaikh Al Azhar pada malam rampasan kuasa, diberikan kepadanya peluang berucap yang beliau nyatakan menggunakan kaedah “akhaffu dhararain” atau “mengambil mudharat yang lebih ringan” yaitu menyokong rampasan kuasa. Apakah mudharat yang lebih besar dan lebih berat melainkan membatalkan hak demokrasi serta mengembalikan negara kepada pemerintahan tentera?

Syaikh Al Azhar telah mengumumkan sejurus selepas beliau dilantik ke jabatan itu dalam satu pertemuan dengan katanya, “Al Azhar akan merujuk semula selepas campurtangan di zaman Jamal Abdul Nasser. Maka sejak itu Al Azhar telah kehilangan kuasa kebebasan akibat campurtangan politik dalam urusannya.” Maka ditunggu-tunggu berdasarkan pandangan beliau ini akan kekal Al Azhar sebagai pembantu rakyat, tetapi beliau tidak lakukannya.

Saya ternanti-nanti juga sewaktu saya berada di Mesir sebelum saya mengumumkan pandangan saya secara eribadi, jikalau Syaikh Al Azhar akan menjemput untuk diadakan pertemuan Haiah Kibar Ulama Al Azhar bagi mengambil pandangan terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi dalam negara, tetapi tiada undangan dibuat. Maka tiada jalan lain melainkan bagi saya mengeluarkan fatwa berseberangan untuk menyatakan pandangan saya agar dibantu kebenaran yang menjadi akidah saya. Demikian juga dibuat oleh Dr.Hasan Syafi’i dan pemikir Islam Dr. Muhammad ‘Imarah karena mereka berdua juga seperti saya merupakan anggota Haiah Kibar Ulama.

Seharusnya, bagi Syaikh Al Azhar setelah terjadi banyak pandangan di kalangan ulama untuk beliau himpunkan anggota Haiah untuk dikeluarkan pandangan yang satu atau pandangan majoriti dan diumumkan kepada rakyat Mesir pandangan yang disepakati ini, yang akan membenarkan kebenaran dan membatalkan kebatilan walaupun dibenci oleh golongan yang berdosa.

Malangnya tiada perjumpaan atau musyarawah diadakan selepas tragedi demi tragedi dalam sejarah: Pembunuhan di hadapan Bangunan Pengawal Republik, di Tugu Peringatan, pembunuhan di Mansurah, Iskandariah, wilayah-wilayah lain, operasi membubarkan Raba’ah dan Nahdhah yang merenggut ribuan nyawa hingga penangkapan ribuan yang lain. Penyerangan polis, tentera yang dibantu oleh milisi premanke atas masjid Qaid Ibrahim, Masjid Fath dan selainnya, penyerangan di universitas-universitas di seluruh Mesir dan utamanya ialah Universitas Al Azhar, dipaksakannya undang-undang rimba menentang penuntut Al Azhar dengan hukuman penjara 17 tahun setiap seorang, ke atas 14 orang wanita Iskandariah dipenjara 11 tahun seorang yang tidak pernah terjadi dalam sejarah Mesir, dipecat 710 orang pelajar Al Azhar dari universitas, penangkapan para ulama, penutupan stasiun-stasiun TV agama Islam, menghalang jalan-jalan raya dengan kereta perisai dan anti peluru, juga serangan ke atas rakyat dengan gas pemedih mata dan peluru hidup.

Sesungguhnya kita masih menantikan Syaikh Al Azhar kembali kepada kebenaran, dia mengumumkan dirinya bebas dan tiada kaitan lagi dengan pemerintah zalim hari ini yang telah mengubah beberapa hari dan dalam masa beberapa minggu apa yang tidak pernah dilakukan oleh rejim-rejim sebelum ini pada era Abdul Naser, Sadat dan Mubarak 60 tahun, membunuh ribuan dan memenjarakan rakyat berkali-kali ganda. Maka Syaikh Al Azhar perlu mengadakan pertemuan “Haiah”. Kami telah nasihati beliau agar beliau kembali kepada kebenaran. Kembali kepada kebenaran lebih baik dari berada terlalu jauh dalam kebatilan. Kami telah menjawab hujah beliau dengan ilmiah dan kami sebarkan kepada awam, akan tetapi lelaki ini lebih suka duduk bersama-sama “jenderal-jeneral” pejabat beliau dari duduk bersama-sama saudaranya dari kalangan ulama. Dan demikianlah Allah telah ciptakan manusia ini dengan kecenderungannya.

Saya menyeru kepada mereka yang berjiwa merdeka yang ikhlas dari kalangan ulama dan anak-anak Al Azhar: Agar mengumumkan penentangan mereka apa yang terjadi di Mesir hari ini dengan berani, agar mereka meletakkan jabatan dari “Haiah” ini yang telah ‘mati’ (yaitu gagal berfungsi dengan baik), tinggalkannya kepada Syaikh Al Azhar dan pengikut-pengikutnya.

Maka saya memperkirakan setelah peletakan jabatan saya ini akan semakin kuat serangan orang-orang bayaran kepada saya melalui media-media. Saya tidak takut kepada manusia dan hanya takut kepada Allah.

Sesungguhnya saya menantikan detik-detik kejatuhan penzalim-penzalim ini sebentar lagi. Dan mereka ini telah jatuh dari pandangan (rahmat) Allah, kemudian jatuh dari pandangan mata rakyat, kemudian akan jatuh lagi dari mata Arab dan orang Islam. Semakin hari bertambah kerusakan dan penyelewengan dalam negara, negara yang baik berubah kepada buruk, menjadikan negara buruk berubah ke arah lebih buruk.

Sesungguhnya ‘sunnatullah’ tidak akan berubah bertukar ganti yaitu akan dibantu kebenaran atas kebatilan, keadilan atas kezaliman, akan menang rakyat ke atas taghut.

Ya Allah, Ya Hayyu ,Ya Qayyum.. kami memohon kepadaMu agar Kau rahmati syuhada’ kami di Mesir, di Syria, Iraq, Palestina, Somalia dan seluruh bumi Islam. Ya Allah, Kau sembuhkanlah mereka yang cedera dan sakit. Ya Allah, bebaskan tahanan-tahanan di dalam penjara, angkatkatlah bala dari mereka yang ditimpa bala, satukan kalimah orang-orang beriman, timpakan kepada orang-orang zalim itu azab yang pedih, turunkan kepada mereka kemurkaanMu yang tidak mampu ditolak oleh mereka. Bantulah ummat kami dengan bantuanMu.

Al Faqir Ilaihi Ta’ala
Yusuf Al Qaradhawi
29 Muharram 1435/2 Desember 2013