Maulana Muhammad Asri Yusoff

Persamaan Antara Syi‘ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah dengan Rafidhah

Hafizh Ibnu Hajar Al ’Asqalani (wafat 852 H) berkata:

“Tasyayu’ (berpemahaman Syi’ah) ialah menyintai Ali dan mengutamakannya dari Shahabat-Shahabat yang lain. Orang yang mengutamakan Ali dari Abu Bakar dan Umar Radhiyallahu ‘Anh adalah Syi’ah yang ekstrim di dalam pemahamannya. Syi’ah yang ekstrim ini dipanggil juga Rafidhi atau Rafidhah. Jika ia tidak mengutamakan Sayidina Ali dari Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar, maka ia hanya seorang Syi’ah. Jika di samping mengutamakan Sayidina Ali dari Sayidina Abu Bakar dan Umar, ia juga memaki atau menyatakan juga dengan jelas kebenciannya terhadap mereka berdua maka ia adalah ekstrim dalam rafdhnya. Jika ia mempercayai raj’ah juga maka ia adalah orang yang terlalu ekstrim dalam rafdhnya.” (Al ‘Asqalani, Al Hadyu As Sari Muqaddimah Fathu Al Baari, jilid 2, halaman 213)

Hafizh Ibnu Hajar Al ’Asqalani juga menulis di dalam kitabnya Tahzibu At Tahzib; “Syi’ah di dalam istilah ulama mutaqaddimin ialah mempercayai keutamaan Ali lebih dari keutamaan Utsman, dan Ali berada di pihak benar dalam semua peperangannya. Orang-orang yang menentangnya adalah salah. Di samping itu mereka (Syi’ah itu) mengutamakan Abu Bakar dan Umar dari Ali sendiri… Syi’ah di dalam istilah ulama mutaakhirin ialah “Rafidhah Tulen”. Riwayat seorang Rafidhah yang ekstrim dalam pemahamannya tidak bisa diterima sama sekali dan tidak ada kehormatan sama sekali bagi mereka.” (Hafizh Ibnu Hajar Al ’Asqalani, Tahzibu At Tahzib, jilid 1, halaman 94, Maulana Zafar Ahmad Utsmani, Inhaa’u As Sakan, halaman 59, Hakim Mahmod Ahmad Zafar, Sayidina Mu’awiyah – Syakhsiat Aur Kirdar jilid 2 halaman 25)

Dari keterangan yang disebutkan di atas, jelaslah kepada kita bahwa bukan semua Syi’ah itu Rafidhah. Sebagaimana yang telah dikatakan oleh Hafizh Zahabi sebelum ini, banyak di antara tabi’in dan tab’i at-tabi’in, malah ada juga beberapa orang dari kalangan Shahabat yang mengutamakan Sayidina Ali dari Sayidina Utsman Radhiyallahu ‘Anh sedangkan mereka adalah orang-orang yang kuat beragama, wara’ dan benar. Adz Dzahabi menyatakan: “Jika riwayat orang yang seperti ini ditolak, tentulah akan kehilangan sejumlah besar dari aatsar nabawiyah dan ini adalah satu kerusakan yang nyata.”

Berdasarkan perbedaan inilah maka kita dapati banyak perawi-perawi Syi’ah di dalam sanad-sanad hadits Imam-Imam Ahlus Sunnah Wal Jama’ah seperti Bukhari, Muslim, Nasa’i dan lain-lain karena perawi-perawi Syi’ah ini ialah Syi’ah Mufadhdhilah (Syi’ah yang mengutamakan Sayidina Ali dari Sayidina Utsman) seperti yang telah disebutkan oleh Ibnu Hajar, Hafizhh Adz Dzahabi dan lain-lain mengenai ta‘rif Syi’ah di sisi ulama mutaqaddimin. Syi’ah ini tidak sampai ke peringkat Syi’ah Rafidhah.

Untuk lebih jelas lagi tentang Syi’ah yang diterima oleh Imam-Imam Ahlus Sunnah, perhatikanlah kata-kata Imam Adz Dzahabi ini yaitu, “Syi’ah yang ekstrim di zaman salaf dan menurut ‘uruf (istilah) mereka ialah orang-orang yang mempertikaikan dan memburuk-burukkan Sayidina Utsman, Zubair, Thalhah, Mu’awiyah, dan segolongan orang yang berperang dengan Sayidina Ali Radhiyallahu ‘Anh Tetapi Syi’ah yang ekstrim di zaman kita ini dan menurut ‘uruf kita hari ini ialah orang-orang yang mengkafirkan Shahabat yang tersebut itu serta berlepas diri dari Sayidina Abu Bakar dan Sayidina Umar. Syi’ah yang seperti ini jelas sesatnya dan kacaunya.” (Adz Dzahabi, Mizan Al I’tidal, jilid 1, halaman 6)

Berdasarkan keterangan-keterangan ini, maka hanya orang jahil saja akan berani menjadikan perawi-perawi yang dianggap sebagai Syi’ah, yang tersebut di dalam Shahih Bukhari, Muslim dan lain-lain, sebagai alasan untuk mengatakan bahwa Syi’ah bukan satu ajaran yang menyeleweng dari Islam. Mereka beranggapan bahwa jika perawi-perawi tersebut menyeleweng atau bukan Islam, tentulah tokoh-tokoh hadits Ahlus Sunnah Wal Jamaah tidak menerima periwayatan mereka. Orang-orang yang berpegang dengan alasan-alasan demikian jelaslah orang-orang yang jahil tentang kitab-kitab ulama Ahlus Sunnah atau pura-pura jahil tentang apa yang tersebut di dalam kitab-kitab Ahlus Sunnah Wal Jamaah. Jika mereka memerhatikan keterangan-keterangan yang telah penulis berikan tadi, niscaya akan jelaslah kepada mereka bahwa Syi’ah yang diterima periwayatannya oleh Ahlus Sunnah itu adalah lain dari Syi’ah Imamiyah yang berpegang dengan berbagai pemahaman yang sesat dan kacau

Perhatikanlah Imam Muslim di dalam Muqaddimah Shahih-nya meriwayatkan dari Abu Ghassan Muhammad bin Amar Ar Razi, katanya: “Aku mendengar Jarir berkata: “Aku bertemu Jabir bin Yazid Al Ju’fi tetapi tidak mencatatkan suatu hadits darinya (tidak menerima hadits periwayatannya) karena beliau percaya kepada ‘aqidah raj’ah.” (Shahih Muslim, jilid 1, halaman 101)

Dari sini nyatalah kepada kita bahwa tokoh-tokoh Ahlus Sunnah tidak menerima hadits dari Syi’ah yang berpemahaman seperti Itsna ‘Asyariyah tetapi mereka menerima periwayatan dari golongan Syi’ah Mufadhdhilah saja.

Kaki-tangan Syi’ah Imamiyah Itsna Asyariyah coba menafikan hubungannya dengan Rafidhah. Oleh karena pemahaman-pemahaman Rafidhah yang begitu jelek serta telah ditolak oleh ulama Islam dahulu, maka kita melihat pengembang-pengembang ajaran Syi’ah di mana-mana saja mengelak diri dari nama Rafidhah ini dengan mengatakan bahwa Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah sendiri telah menolak dan mengutuk golongan Rafidhah, dan Syi’ah Imamiyah tidak seperti ajaran Rafidhah yang menyeleweng itu. Mereka mengatakan bahwa Syi’ah yang ditolak oleh ulama dahulu ialah Syi’ah Rafidhah, bukan Syi’ah Imamiyah yang dianuti mayoritas penduduk Iran hari ini.

Untuk melindungi hakikat Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang sebenarnya, mereka terlupa kepada dalil yang selalu mereka gunakan untuk membuktikan kebenaran Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah, yaitu dengan mengemukakan kononnya pengisytiharan Imam Syafi’i mengenai dirinya sebagai Syi’ah Rafidhah di dalam syairnya:

“Kiranya faham ‘rafdh’ itu berarti cintakan keluarga Muhammad, maka biarlah jin dan manusia mengetahui bahwa aku seorang Rafidhi.”

Golongan Syi’ah Imamiyah mengemukakan dalil ini untuk menunjukkan bahwa Rafidhah itu bukanlah suatu pemahaman yang jelek dan ditolak, malah ia suatu pemahaman yang dibanggakan karena pemahamannya yang begitu nyata dalam mencintai Ahlul Bait, sehingga ulama seperti Imam Syafi’i pun berterus-terang mendeklarasikan dirinya sebagai seorang Rafidhah. Padahal sebenarnya Imam Syafi’i adalah seorang yang sangat benci golongan Rafidhah, sebagaimana nyata dari kata-kata beliau yang telah kita kemukakan sebelum ini, yaitu, “Tidak pernah aku lihat satu golongan yang lebih pembohong dari golongan Rafidhah.”

Jika syair ini kita terima, tentulah akan berlaku pertentangan di antara dua pendapat beliau itu, dan syair ini juga akan membuka tabir yang menutupi hakikat Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah yang sebenarnya, yaitu Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah ialah Rafidhah, dan kata-kata mereka bahwa Syi’ah Imamiyah bukan Rafidhah tidak lebih dari tabir yang dihulurkan semata-mata untuk mengabui mata orang-orang yang tiada mengetahui hakikat mereka.

Kita tidak memerlukan kepada syair yang seperti itu untuk membuktikan Syi’ah Imamiyah Ithhna ‘Asyariyah sebagai Rafidhah, tetapi kita akan membuktikannya berdasarkan kitab-kitab Syi’ah sendiri;

1. Diriwayatkan dari Uyainah penjual tebu dan Abi Abdillah (Ja’far Sadiq). Kata beliau: “Demi Allah! Sesungguhnya sangat baik nama yang telah dikurniakan oleh Allah kepadamu itu selama kamu berpegang dengan kata-kata kami dan tidak membohongi kami.” Abu Abdillah berkata demikian kepadaku ketika aku berkata kepadanya bahwa ada seorang berkata kepadaku: “Jagalah dirimu dari menjadi Rafidhi (seorang Rafidhah).” (Al Barqi, Kitab Al Mahasin, Bab Rafidhah, halaman 157, Syaikh Abbas Al Qummi, Safinatu Al Bihar, jilid 1, halaman 531)

2. Diriwayatkan dari Abi Al Jarud katanya: “Biarlah Allah menulikan kedua telinganya sebagaimana Allah telah membutakan kedua matanya jika ia tidak mendengar Abu Ja’far (Muhammad Al Baqir) berkata: “Sesungguhnya si fulan menamakan kita dengan satu nama.” Beliau berkata: “Apakah nama itu?” Katanya: “la menamakan kita Rafidhah.” Abu Ja’far lalu berkata sambil menunjukkan ke dadanya: “Aku salah seorang Rafidhah dan dia adalah dariku (Rafidhah juga).” Beliau berkata demikian sebanyak tiga kali. (Ibid)

3. Diriwayatkan dari Abi Basir katanya: “Aku berkata kepada Abu Ja’far ‘Alaihis Salam: “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu. Satu nama yang menyebabkan penguasa-penguasa menghalalkan darah kita, harta-harta benda kita dan penyeksaan terhadap kita.” Abu Ja’far berkata: “Apakah nama itu?” Berkata Abu Basir: “Ar Rafidhah.” Langsung Abu Ja’far ‘Alaihis Salam berkata: “Sesungguhnya 70 orang dari tentera Fir’aun telah menolak dan meninggalkan Fir’aun dan bergabung dengan Musa ‘Alaihis Salam. Tidak ada seorang pun dari kaum Musa yang lebih bersungguh (kuat beribadat) dan lebih mencintai Harun dari mereka, karena itu kaum Musa menamakan mereka Rafidhah. Maka Allah mewahyukan kepada Musa supaya mencatitkan nama itu ke dalam Taurat karena Aku (Allah) telah mengurniakan nama itu kepada mereka. (Kata Abu Ja’far) Itulah nama yang Allah telah kurniakan kepada kamu.” (Ibid)

Al Kulaini mengemukakan satu riwayat yang panjang lebar berkenaan hubungan Syi’ah dengan Rafidhah. Saya akan mengemukakan sebagian saja dari isi riwayat tersebut yang berkaitan dengan maksud yang sedang kita bicarakan karena khuatir akan menjadi terlalu besar pula buku ini. Riwayat itu bermaksud;

…Abu Basir berkata: “Semoga diriku dijadikan tebusan untukmu. Sesungguhnya kita digelarkan dengan satu gelaran yang karenanya belakang-belakang kita patah dan hati kita kecut. Penguasa-penguasa pula menghalalkan darah kita karena satu hadits yang diriwayatkan kepada mereka oleh ulama-ulama mereka.” Abu Abdillah berkata: “Rafidhah?” Berkata Abu Basir: “Ya.” Abu Abdillah pun berkata: “Tidak! Demi Allah! Bukan mereka yang menggelarkan kamu begitu tetapi Allah-lah yang menggelarkan kamu begitu. Tidakkah engkau tahu, wahai Abu Muhammad, bahwa 70 orang dari Bani Isra’il telah menolak Fir’aun dan kaki-tangannya apabila jelas kepada mereka kesesatannya, lalu mereka menggabungkan diri dengan Musa ‘Alaihis Salam setelah nyata kepada mereka petunjuk yang dibawanya. Di dalam tentara Musa mereka dinamakan Ar Rafidhah karena mereka telah menolak Fir’aun. Mereka golongan yang paling kuat beribadat dari tentera Nabi Musa dan paling kasih kepada Musa dan Harun dan anak cucu keduanya. Maka Allahlah yang mewahyukan kepada Nabi Musa supaya mencatatkan gelaran (nama) ini untuk mereka, “Bahwa Aku telah menamakan mereka demikian dan mengurniakan nama itu kepada mereka.” (Al Kulaini, Ar Raudhah Min Al Kafi, jilid 8, halaman 34)

Dari petikan-petikan ini jelaslah kepada pembaca sekalian bahwa Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah menganggap nama Rafidhah sebagai satu kebanggaan kepada mereka karena kononnya nama itu diberikan oleh Allah dan telah tercatat di dalam kitab Taurat. Apakah golongan yang telah menafikan hubungan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah dengan Rafidhah jahil tentang hakikat ini? Atau jika mereka mengetahuinya kenapakah mereka berusaha memisahkan Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah dari Rafidhah? Siapakah yang lebih tahu tentang Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah? Al Barqi, Al Qummi, Al Kulaini, atau mereka?

Golongan yang coba memisahkan antara Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah ini termasuk juga golongan yang dianggap sebagai ulama yang telah terpengaruh dengan tipu daya Syi’ah yang mengatakan tidak ada hubungan di antara Syi’ah Imamiyah dengan Rafidhah. Apakah pendapat dan fatwa ulama yang jahil seperti ini bisa diterima? Bisakah kita mengatakan ulama-ulama yang telah menganggap Syi’ah Imamiyah sebagai salah satu cabang Islam telah membaca dengan teliti kitab-kitab Syi’ah yang terpenting yang menjadi rujukan Syi’ah dahulu dan sekarang? Selain dari itu apakah bedanya ‘aqidah Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah dengan ‘aqidah Rafidhah? Jika Rafidhah menganggap Al Qur’an yang ada hari ini tidak terpelihara sebagaimana asalnya diturunkan, tidakkah Syi’ah Imamiyah Itsna ‘Asyariyah juga menganggap demikian? Kita akan mengemukakan di sini beberapa rujukan Syi’ah berhubung dengan perkara ini.