Sa'id Hawwa

Pintu-pintu Masuk Setan dan Cara Menutupnya

[Sesungguhnya syetan punya andil dalam mempengaruhi jiwa —kecuali orang yang dipelihara Allah— dan ia datang kedalam jiwa melalui celah- celah instink dan syahwat inderawi dan maknawi manusia. Ia juga sangat mengetahui titik-titik lemah manusia. Oleh sebab itu, di antara sarana untuk membentengi jiwa dan sekaligus sebagai sarana tazkiyatun-nafs adalah mengetahui pintu-pintu masuk syetan kedalam diri manusia. Karena alasan ini pula kami cantumkan pasal ini di sini.]

Rincian tentang Pintu-pintu Masuk Syetan ke dalam Jiwa

Ketahuilah bahwa perumpamaan hati tak ubahnya seperti benteng sedangkan syetan adalah musuh yang ingin memasuki benteng untuk menguasainya. Sementara itu, manusia tidak akan dapat menjaga benteng dari serangan musuh kecuali dengan penjagaan benteng, pintu-pintu masuknya dan celah-celahnya. Tidak ada yang mampu menjaga pintu-pintunya kecuali orang yang mengetahui pintu-pintunya. Dalam pada itu, melindungi hati dari was-was syetan adalah wajib bahkan fardhu ‘ain atas setiap hamba yang mukallaf. Suatu kewajiban yang tidak dapat dicapai kecuali dengan sesuatu maka sesuatu itu adalah wajib. Sementara itu, mengusir syetan tidak dapat dilakukan kecuali dengan mengetahui pintu-pintu masuknya. Karena itu, mengetahui pintu-pintu masuk syetan ke dalam hati manusia adalah wajib.

Pintu-pintu masuk syetan adalah sifat-sifat hamba dan banyak jumlahnya, tetapi cukuplah kami sebutkan pintu-pintu besar yang merupakan jalan utama yang tidak pernah menjadi sempit karena banyaknya tentara syetan. Di antara pintu-pintunya yang besar ialah:

1. Marah dan Syahwat

Marah adalah bius akal. Apabila tentara akal lemah maka tentara syetan maju menyerang. Apabila manusia marah maka syetan mempermainkannya seperti anak kecil mempermainkan bola.

2. Dengki dan Tamak

Apabila seseorang tamak terhadap segala sesuatu maka ketamakannya itu akan membuatnya buta dan tuli. Sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Cintamupada sesuatu membuat buta dan tuli.”

Sementara itu cahaya bashirah akan memberitahukan pintu-pintu syetan, apabila tertutupi oleh kedengkian dan ketamakan maka ia tidak dapat melihat. Pada saat itulah syetan mendapatkan kesempatan untuk menumbuhkan kesan bagus pada orang yang tamak terhadap segala sesuatu yang dapat melampiaskan syahwatnya sekalipun munkar dan keji.

3. Kenyang dengan Makanan sekalipun Halal dan Bersih, karena Rasa Kenyang dapat Memperkuat Syahwat, sedangkan Syahwat adalah Senjata Syetan

Dikatakan bahwa dalam banyak makan terdapat enam sifat tercela:

Pertama, menghilangkan rasa takut kepada Allah dari dalam hatinya.

Kedua, menghilangkan kasih sayang kepada makhluk dari dalam hatinya, karena ia mengira mereka semua kenyang.

Ketiga, menghambat keta’atan.

Keempat, apabila mendengarkan ucapan hikmah ia tidak tanggap.

Kelima, apabila menyampaikan nasehat dan hikmah tidak menyentuh hati orang.

Keenam, menimbulkan banyak penyakit.

4. Suka Berhias dengan Perabotan, Pakaian dan Rumah

Apabila melihat hal tersebut telah mendominasi hati manusia, syetan bertelur dan menetas di dalamnya sehingga terus mengajaknya untuk membangun rumah, menghiasi atap dan dindingnya, memperluas bangunannya, menghiasi pakaian dan lemari dan membenamkannya ke dalam hal tersebut sepanjang hidupnya. Apabila telah berhasil menjerumuskannya ke dalam hal tersebut maka syetan tidak perlu mengulanginya lagi karena sebagian hal :=rsebut akan menariknya kepada sebagian yang lain, dan ia akan senantiasa -emperturutkannya satu demi satu sampai tiba ajalnya dan ia mati di jalan syetan dan mengikuti hawa nafsu, bahkan sangat dikhawatirkan akibat buruknya yaitu kekafiran. Kita berlindung kepada Allah dari hal tersebut.

5. Tamak kepada Manusia

Karena apabila ketamakan telah mendominasi hati maka syetan akan senantiasa menumbuhkan rasa senang mencari muka dan berhias untuk or¬ang yang dipamrihinya dengan berbagai macam riya’ sehingga orang yang dipamrihi itu seolah-olah sesembahannya. Ia selalu berfikir mencari cara untuk menyenangkannya, bahkan ia memasuki setiap pintu untuk mencapainya. Minimal apa yang dilakukannya adalah menyanjungnya dengan sanjungan yang udak sesuai dengan kenyataan dan berpura-pura kepadanya dengan tidak memerintahkan yang ma’ruf dan tidak melarang yang munkar.

6. Terburu-buru dan tidak Mengkonfirmasi Persoalan

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Terburu-buru adalah dari syetan dan berhati-hati adalah dari Allah.” (Diriwayatkan oleh Tirmudzi, dan ia berkata: Hasan)

Allah berfirman:

“Manusia telah diciptakan (bertabiat) tergesa-gesa.” (al-Anbiya’: 37)

“Dan adalah manusia bersifat tergesa-gesa.” (al-Isra’: 11)

Allah berfirman kepada Nabi-Nya Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam:

“Dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca al-Qur’an sebelum disempurnakanpewahyuannya kepadamu.” (Thaha: 114)

Hal ini karena amal perbuatan harus dilakukan setelah difahami dan dimengerti, sedangkan untuk bisa memahami diperlukan perenungan dan waktu. Terburu-buru di samping menghalangi tercapainya kematangan berfikir juga menjadi kesempatan syetan untuk memasukkan kejahatannya kepada manusia secara tidak disadari.

7. Dirham, Dinar dan Segala Macam Harta Kekayaan

Karena setiap hal yang melebihi takaran makanan dan kebutuhan pokok maka ia merupakan tempat bertenggernya syetan; sebab orang yang sudah memiliki makanan pokoknya maka hatinya akan kosong. Seandainya menemukan uang seratus dinar di jalanan misalnya maka akan bangkit dari hatinya berbagai syahwat yang setiap syahwat memerlukan seratus dinar lainnya; apa yang ditemunya itu tidak mencukupinya, tetapi memerlukan sembilan ratus dinar lainnya. Padahal sebelum adanya seratus dinar itu ia merasa cukup, tetapi sekarang setelah menemukan seratus dinar ia mengira telah menjadi kaya sehingga ia memerlukan sembilan ratus dinar lagi untuk membeli rumah, perabot, dan pakaian yang megah. Setiap sesuatu dari hal tersebut mengundang sesuatu yang lainnya dan begitu seterusnya hingga ia terjerumus ke dalam lembah yang lapisan terbawahnya adalah jahannam.

8. Bakhil dan Takut Miskin

Karena hal inilah yang mencegah berintaq dan bershadaqah, sebaliknya mengajak untuk menimbun, menyimpan. dan siksa pedih yang dijanjikan kepada orang-orang yang menumpuk-numpuk harta sebagaimana diungkapkan al-Qur’an.

Sufyan berkata: Syetan tidak punya senjata seampuh rasa takut miskin. Dengan senjata ini ia mulai melakukan kebatilan, mencegah kebenaran, berbicara dengan hawa nafsu dan berprasangka buruk kepada Tuhannya.

Di antara keburukan sifat bakhil adalah keinginan untuk selalu berada di pasar guna mengumpulkan harta, padahal pasar merupakan tempat berkumpulnya syetan.

9. Fanatik kepada Madzhab dan Hawa Nafsu, Mendengki Lawan dan Melecehkannya

Hal ini termasuk sesuatu yang membinasakan semua hamba dan orang- orang fasiq, karena mencaci orang dan sibuk menyebutkan kekurangan mereka merupakan sifat kebinatangan. Apabila syetan membangkitkan khayalan bahwa hal itu merupakan kebenaran dan sesuai dengan tabi’atnya makaterasa manis di hatinya sehingga semakin antusias melakukannya; merasa gembira dan senang bahkan dikiranya sebagai perjuangan untuk agama padahal merupakan tindakan mengikuti syetan. Kemudian syetan membangkitkan khayalan pada sebagian orang yang fanatik bahwa siapa yang mati karena mencintai seseorang maka neraka tidak akan menyentuhnya atau tidak akan tertimpa rasa takut. Padahal Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada anaknya, Fathimah: “Beramallah karena sesungguhnya aku tidak dapat berbuat apa-apa untukmu di hadapan Allah” (Bukhari dan Muslim).

Ini merupakan pintu masuk syetan yang sangat besar yang banyak menghancurkan para ulama’.

10. Mengajak orang Awam untuk Berfikir tentang Dzat Allah

Mengajak orang awam yang tidak mengenal tradisi keilmuan dan tidak mendalaminya untuk berfikir tentang dzat Allah dan sifat-sifat-Nya, atau tentang hal-hal yang tidak terjangkau oleh akal mereka sehingga menimbulkan keraguan terhadap dasar agama, atau menimbulkan berbagai khayalan yang ~dak benar tentang Allah sehingga mengakibatkan salah seorang mereka :=rjerumus kepada kekafiran atau bid’ah tetapi ia sendiri merasa senang iengan apa yang berkecamuk di dalam dadanya; ia mengiranya sebagai pengetahuan dan bashirah; dan bahwa hal itu terungkap berkat kecerdasan dan kehebatan akalnya. Padahal orang yang paling pandir adalah orang yang paling kuat keyakinannya terhadap akalnya sendiri, sedangkan orang yang pal¬ing berakal ialah orang yang paling keras tuduhannya terhadap dirinya dan paling banyak bertanya kepada para ulama’. Aisyah ra berkata, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya syetan mendatangi salah seorang di antara kamu seraya bertanya: “Siapakah yang menciptakanmu? Kemudian ia menjawab: “Al¬lah tabaraka wa ta ‘ala.” Syetan bertanya lagi: “Siapakah yang mencip¬takan Allah ?.” Jika salah seorang di antara kamu menghadapi hal tersebut maka katakanlah, Aku beriman kepada Allah dan Rasul-Nya’, karena sesungguhnya jawaban tersebut dapat mengusimya.”

11. Buruk Sangka Kepada Kaum Muslimin

Allah berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa.” (al-Hujurat: 12)

Diriwayatkan dari Ali bin Husain bahwa Shafiyah binti Huyai bin Akhthab memberitahukan kepadanya bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah beri’tikaf di dalam masjid. Shafiyah berkata: Kemudian aku mendatangi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan berbicara kepadanya. Setelah sore aku pun kembali lalu Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berjalan bersamaku. Di tengah jalan kami berpapasan dengan dua orang lelaki dari Anshar seraya mengucapkan salam, kemudian kedua orang itu terus melaju tetapi Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memanggil keduanya seraya berkata: “Sesungguhnya dia adalah Shafiyah binti Huyai.” Kedua orang itu berkata, ‘Wahai Rasulullah, kami tidak berprasangka kepadamu kecuali kebaikan’. Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Sesungguhnya syetan mengalirpada peredaran darah tuhuh anakAdam, dan sesungguhnya aku khawatir syetan akan masukpada kalian berdua.” (Bukhari dan Muslim)

Perhatikanlah bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan agama kedua orang tersebut lalu melindungi keduanya? Bagaimana Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengkhawatirkan ummatnya lalu mengajarkan kepada mereka jalan untuk menghindari tuduhan, agar orang yang ‘alim dan wira’i yang dikenal kuat beragama tidak berkata dengan penuh ujub, ‘Orang sepertiku tidak akan disangka kecuali yang baik- baik’. Karena orang yang paling wara’, paling bertaqwa dan paling “alim sekalipun tidak dipandang oleh manusia dengan pandangan yang sama, tetapi sebagian mereka memandangnya dengan pandangan ridha dan sebagian yang lain dengan pandangan kebencian. Oleh karena itu, seorang penyair berkata:

“Mata keridhaan buta terhadap setiap aib. Tetapi mata kebencian menampakkan segala keburukan.”

Maka kita wajib menghindari prasangka buruk dan menuduh orang-orang jahat, karena orang yang jahat tidak berprasangka kepada semua orang kecuali dengan prasangka buruk. Apabila kamu melihat seseorang berprasangka buruk kepada orang lain karena mencari-cari kekurangan maka ketahuilah sesungguhnya dia adalah orang yang buruk batinnya. Prasangka buruk itu adalah titisan dari dirinya, sehingga ia melihat orang lain dengan gambaran dirinya.

Sesungguhnya orang Mu’min akan mencarikan berbagai alasan, sedang¬kan orang munafiq akan mencari-cari kekurangan. Orang Mu’min berlapang dada terhadap hak semua makhluk.

Itulah sebagian pintu masuk syetan kedalam hati, dan masih banyak lagi yang lainnya yang tidak terhitung banyaknya. Tetapi apa yang telah kami paparkan di atas cukup untuk mengingatkan yang lainnya. Tidak ada sifat tercela pada diri manusia kecuali menjadi senjata syetan dan salah satu pintu masuknya.

Apabila Anda bertanya, ‘Apa terapi untuk menolak syetan’? Apakah cukup dengan dzikrullah dan bacaan laa haula walaa qwwwata illaa billah’l

Ketahuilah bahwa terapi hati dalam masalah ini adalah menutup pintu- pintu tersebut dengan membersihkan hati dari sifat-silat yang tercela. Penjelasan hal ini sangat panjng.

Apabila sifat-sifat tersebut telah Anda bersihkan dari hati maka syetan masih tetap memiliki berbagai lintasan di dalam hati, tetapi tidak bisa menetap di dalamnya. Berbagai lintasan tersebut dapat dicegah dengan dzikrullah, karena hakikat dzikir tidak dapat merasuk ke dalam hati kecuali setelah disuburkan dengan taqwa dan dibersihkan dari sifat-sifat yang tercela. Jika tidak demikian, maka dzikir tersebut semata-mata menjadi bacaan yang tidak punya kekuatan di dalam hati sehingga tidak mampu mengusir kekuatan syetan.

Oleh sebab itu Allah berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa bila mereka ditimpa was-was dari syetan, mereka ingat kepada Allah, maka ketika itu juga mereka melihat kesalahan-kesalahannya.” (al-A’raf: 201)

Hal itu dikhususkan untuk orang yang bertaqwa. Pertimpamaan syetan adalah seperti anjing lapar yang mendekati Anda, jika tangan Anda tidak membawa sepotong roti atau daging maka dia akan segera pergi demi semata- mata mendengar hardikan Anda, ‘Enyahlah’. Jadi, semata-mata suara tersebut dapat menghalaunya. Tetapi jika tangan Anda membawa daging sementara dia lapar maka dia akan menyerang daging tersebut dan tidak dapat diusir dengan hardikan semata-mata. Demikian pula hati yang sunyi dari makanan syetan maka syetan akan menjauh darinya dengan semata-mata dzikir.

Apabila syahwat mendominasi hati maka akan mendesak hakikat dzikir ke pinggiran hati sehingga tidak dapat merasuk ke dalam lubuknya, lalu syetan bersemayam di dalamnya. Adapun hati orang-orang yang bertaqwa yang sunyi dari hawa nafsu dan sifat-sifat yang tercela maka jika syetan menjamahnya bukan karena syahwat tetapi karena kesunyiannya akibat lalai dari dzikir; dan apabila kembali kepada dzikir maka syetan pun menarik diri. Dalil hal tersebut adalah firman Allah: “Maka hendaklah kamu memintaperlindungan kepada Allah dari syetan yang terkutuk.” (an-Nahl: 98) Demikian pula semua ayat yang berbicara tentang dzikir.

Muhammad bin Wasi’ setiap selesai shalat shubuh membaca do’a: “Ya Allah sesungguhnya Engkau menguasakan kepada kami musuh yang sangat jeli terhadap aib-aib kami, dia dan kawannya melihat kami sedangkan kami tidak melihat mereka. Ya Allah, kecewakanlah dia dari kami sebagaimana Engkau telah mengecewakannya dari rahmat-Mu, buatlah dia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya putus asa dari ampunan- Mu, dan jauhkanlah antara kami dan dia sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara dia dan rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:

“Umar tidak menempuh suatu lorong kecuali syetan menempuh lorong yang lain yang tidak dilewati Umar.” (Bukhari dan Muslim)

Hal ini karena hati telah tersucikan dari tempat gembalaan syetan dan makanannya yaitu syahwat. Jika Anda menginginkan agar syetan menjauh dari diri Anda dengan dzikir semata-mata sebagaimana dia lari dari Umar ra, maka Anda seperti orang yang ingin minum obat sebelum berpantang makanan sedangkan perutnya masih sibuk mengunyah makanan-makanan keras, sementara itu ia berharap agar obat itu bermanfaat sebagaimana bermanlaat bagi orang yang meminumnya setelah berpantang makanan dan mengosongkanperut. Dzikir adalah obat sedangkan taqwa adalah berpantang yaitu meniber- sihkan hati dari berbagai syahwat. Apabila dzikir turun di hati yang kosong dari selain dzikir maka syetan akan pergi sebagaimana penyakit hilang dengan1 datangnya obat ke dalam perut yang kosong dari berbagai makanan. Allah berfirman:

“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai hati atau yang menggunakan pendengarannya, sedang dia menyaksikannya.” (Qaaf: 37)

“Telah ditetapkan terhadap syetan itu, bahwa barangsiapayang berkawan dengan dia, tentu dia akan menyesatkannya, dan membawanya ke siksa neraka.” (al-Hajj: 4)

Barangsiapa membantu syetan dengan amal perbuatannya maka dia adalah kawannva sekalipun dia berdzikir kepada Allah dengan lisannya. Jika Anda mengatakan bahwa hadits Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menyebutkan secara mutlak bahwa dzikir dapat mengusir syetan, tetapi Anda tidak memahami bahwa mayoritas keumuman syari’at telah dikhususkan dengan beberapa syarat yang telah dinukilkan para ulama’ agama, maka perhatikanlah diri Anda, karena khabar berita tidak sama dengan kenyataan. Renungkanlah bahwa puncak dzikir dan ibadah Anda adalah shalat; maka perhatikanlah hati Anda apabila Anda sedang shalat bagaimana syetan menyeretnya ke pasar-pasar, bagaimana dia membawa Anda berkeliling ke lembah-lembah dunia dan jurang-jurang kehancurannya, sampai Anda tidak ingat berbagai keindahan dunia yang telah Anda lupakan kecuali di dalam shalat; dan syetan tidak berdesakan di dalam hati Anda kecuali jika Anda sedang shalat? Shalat adalah batu penguji hati, dengan shalat akan nampak berbagai kebaikan dan keburukan hati. Oleh sebab itu, shalat yang dilakukan oleh hati yang sarat dengan syahwat dunia tidak diterima, sehingga tidak heran jika syetan tidak lari dari Anda bahkan malah semakin menambah was-was pada Anda.

Ditanyakan kepada Ibrahim bin Adham, ‘Mengapa do’a kami tidak dikabulkan, padahal Allah telah berfirman: “Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Aku perkenankan bagimu.” (al-Mu’min: 60)?

Ibrahim bin Adham menjawab: “Karena hati kalian telah mati.” Ditanyakan lagi kepadanya: “Apa yang bisa mematikannya? Ibrahim bin Adham menjawab: “Delapan hal:

“Kalian mengetahui hak Allah tetapi kalian tidak melaksanakan hak- Nya, kalian membaca al-Qur’an tetapi kalian tidak mengamalkan hukum- hukumnya, kalian mengatakan cinta Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tetapi kalian tidak mengamalkan sunnahnya, kalian mengatakan takut mati tetapi kalian tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya, Allah berfirman: “Sesungguhnya syetan itu adalah musuh bagimu, maka jadikanlah ia musuh(mu)” (Fathir: 6) tetapi kalian mendukungnya dalam bermaksiat, kalian mengatakan takut api neraka tetapi kalian mencampakkan jasad kalian ke dalamnya, kalian mengatakan cinta sorga tetapi kalian tidak berusaha untuk mendapatkannya, dan apabila kalian berdiri dari hamparan kalian maka kalian melemparkan aib-aib kalian di belakang pungngung kalian dan kalian gelar aib-aib orang lain di hadapan kalian lalu dengan demikian kalian membuat Tuhan kalian murka, maka bagaimana mungkin Dia mengabulkan do’a kalian?”