Sayyid Quthb

Rambu-rambu Petunjuk Jalan Ilahi

Ras manusia dewasa ini berada di ambang jurang kehancuran. Bukan disebabkan bayang-bayang kematian yang merisaukan pikirannya, karena semua itu hanya merupakan indikasi penyakit. Bukan penyakit itu sendiri, melainkan ini disebabkan kegagalannya dalam mengenali nilai-nilai yang mendorong kehidupan manusia berkembang alami dan mencapai kemajuan berarti dalam naungan nilai-nilai tersebut. Demikian ini telah jelas-jelas terjadi pada dunia barat yang tidak menyediakan cukup ruang untuk nilai-nilai kemanusiaan, bahkan tidak memberikan sesuatu yang memuaskan nuraninya dengan pengakuan eksistensi. Hal ini terjadi setelah propaganda demokrasi sampai pada sesuatu yang mengkhawatirkan, di mana demokrasi barat lambat laun mulai mengadopsi dan mempratikkan sistem-sistem blok timur, dan lebih-lebih sistem ekonomi di bawah bendera sosialisme.

Demikian pula yang terjadi pada blok timur sendiri. Teori-teori komunalis yang dipelopori Marxisme yang di awal kemunculannya sempat menarik simpati khalayak di dunia timur –juga di dunia barat- sebagai aliran yang mengusung watak keimanan, jelas-jelas mengalami kemunduran dalam hal pemikiran, sampai-sampai kini hampir sebatas berkenaan dengan negara dann perundang-undangannya saja. Tentunya, hal ini makin jauh dari ide-ide dasar paham tersebut.

Secara umun, paham Marxisme bertentangan dengan sifat alamiah watak dan kebutuhan-kebutuhan fitrah manusia (thabi’ah al fithrah al basyariyyah wa muqtadhayatuha). Paham ini hanya akan berkembang pada waktu chaos , atau dalam suasana yang mendukung sistem diktatorial dalam rentang waktu yang lama. Hingga akhirnya, dalam situasi semacam ini mulailah tampak kehancuran-kehancuran Eropa dalam segi material-ekonomis padahal bidang inilah yang selama ini mereka tonjolkan dan banggakan. Negara Rusia, yang selama ini menjaadi simbol sentral sistem ssosialis, produktivitasnya merosot drastis setelah sebelumnya mencapai kemakmuran sampai pada masa-masa kekaisaran. Rusia kini malah mengimpor gandum dan beberapa bahan makanan. Bahkan mereka sampai menjual emas yang mereka punyai untuk mendapatkan bahan makanan karena gagalnya lahan pertanian rakyat mereka, termasuk juga sebab gagalnya sistem yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan (human nature).

Atas dasar tersebut, mutlak diperlukan sistem kepemimpinan sosial yang baru bagi kemanusiaan!

Sesungguhnya kepemimpinan barat terhadap manusia telah mendekati titik kehancuran. Ini bukan disebabkan peradaban barat yang mengalami kerugian secara material maupun lemah dalam segi kekuatan ekonomi dan paramiliter, melainkan karena sistem abrat (yakni, peranannya) telah habis masanya, sebab tidak dianggap memiliki neraca nilai yang mendukungnya memegang tampuk kepemimpinan.

Mutlak diperlukan kepemimpinan sosial yang mamppu melestarikan dan mengembangkan peradaban materialistik yang telah dicapai manusia, yakni dengan mempertahankan kecemerlangan bangsa Eropa dalam penemuan-penemuan ilmiah (scientific inventions), plus memenuhi jiwa manusia dengan nilai-nilai yang benar-benar baru –dari yang pernah dikenal manusia-  dan dengan manhaj yang orisinal, progresif, dan realistis pada masa kini.

Hanya islamlah, satu-satunya agama yang memiliki nilai-nilai dan manhaj tersebut.

Kebangkitan ilmu pengetahuan telah berlalu masanya, masa yang trennya dimulai sejak masa renaissans pada abad ke-16 Masehi dan mencapai puncaknya selama dua abad berikutnya, abad ke-17 dan abad ke-18. Akan tetapi, kebangkitan ini tidak dianggap memiliki nilai yang up to date.

Demikian halnya patriotisme dan nasionalisme –keduanya cukup aktual pada masanya- serta beberapa paham etnis, secara umum, telah melewati masanya sepanjang abad tersebut. Akan tetapi paham-paham itu tidak juga dianggap memiliki neraca nilai yang up to date. Sehingga pada akhirnya paham-paham tersebut baik yang dianut secara individual maupun komunal, lambat laun mengalami kegagalan.

Tibalah gilirannya masa islam dan komunitas ‘umat’ (al ummah) mengambil alih di tengah-tengah situasi yang sulit, centang perenang, dan tak karuan. Islam hadir dengan konsepsi yang bersahabat dengan penemuan-penemuan ilmiah di muka bumi, karena islam memang memberikan ruang bagi kretifitas ilmiah sebagai bagian dari ‘tugas’ pokok manusia semenjak Allah mengambil janjinya memegang kendali pengelolaan (khilafah) atas bumi. Dan atas semua itu, Allah menghargainya –dengan syarat-syarat tertentu- sebagai bagian dari pengabdian kepada-Nya dan sebagai bentuk implementasi tujuan eksistensi manusia. Allah SWT berfirman:

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat: ‘Sesungguhnya aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi.’” (QS Al Baqarah [2] : 30)

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku” (QS. adz-Dzariyat [51] : 56)

Sementara itu konsep ‘umat yang taat’ (ummah muslimah) hadir untuk merealisasikan tujuan yang dikehendaki Allah atas ditampilkannya mereka di hadapan rasa manusia, sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, kalian menyuruh kepada yang ma’ruf, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (QS. Ali Imran [3] : 110)

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kalian (umat Islam) umat yang adil dan pilihan, agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia, dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kalian” (QS Al Baqarah [2] : 143)

Akan tetapi, Islam tidak akan mampu menunaikan perannya kecuali apabila ia tampil dalam sebuah masyarakat, yakni tampil dalam suatu umat (ummah; komunitas pemeluk agama). Manusia tidak akan mau mengindahkan –lebih-lebih pada masa sekarang- seruan akidah semata; mereka enggan memandang bukti nyata dalam kehidupan kekinian.

Eksistensi umat Islam terbilang telah tercerai-berai sejak beberapa abad yang lalu. Umat Islam bukanlah “tanah air” di mana islam hidup di sana, bukan pula suatu kaum yang para leluhurnya hidup di suatu zaman sejarah dengan tatanan Islam. Namun, umat Islam adalah sekelompok manusia yang kehidupan, konsepsi, sikap, tatanan, nilai-nilai dan pertimbangannya, terpancar dari manhaj islam. Dan umat ini –dengan karakteristik yang demikian- terseok-seok eksistensinya sejak terjadinya diskontinuitas implementasi hukum syariat Allah di segala penjuru bumi.

Mau tak mau, harus dilakukan review terhadap eksistensi umat ini, agar Islam mampu menunaikan perannya dalam kepemimpinan manusia yang ditunggu-tunggu sekali lagi.

Harus ada suatu stimulan bagi umat ini, umat yang selama ini terkubur di tengah generasi-generasi, di baawah tumpukan beragam konsepsi, aturan main dan sistem, yang semuanya tak ada kaitannya dengan Islam dan manhaj Islami, sekalipun semua itu diklaim masih berada dalam apa yang disebut “Dunia Islam” (al alam al islami).

Kami menyadari bahwasanya perjalanan yang ditempuh mulai dari upaya stimulasi umat hingga realisasi kepemimpinan adalah sangat berat. Bahkan umat Islam sempat kehilangan eksistensi dan perannya dalam jangka waktu yang lama. Dalam masa yang lama itu, berbagai umat, juga beragam pemikiran, konsepsi dan aturan main, silih berganti menghagemoni tatanan sosial manusia. Kecermelangan bangsa Eropa ketika itu menciptakan kekayaan yang besar berupa sains, kebudayaan, isme-isme, dan produktivitas materi. Ini merupakan kekayaan besar yang dicapai manusia dalam kejayaannya, manusia tidak akan melupakannya begitu saja, dan tidak pula melupakan orang-orang yang merintisnya dengan mudah. Lebih-lebih bahwasanya apa yang disebut dunia Islam hampir mengalami disfungsi sosial dalam kegemerlapan tersebut.

Bertolak dari semua pengalaman di atas, maka harus ada kebangkitan Islam, meski perjalanan dari upaya stimulasi umat menuju realisasi tatanan sosial sangatlah jauh. Usaha keras stimulasi umat islam inilah langkah awal yang tak mungkin diabaikan.

Dalam rangka membuktikan hipotesa di atas, untuk mengidentifikasi permasalahan, kita semestinya memahami spesialisasi umat ini dalam hal kepemimpinan manusia. Agar, jangan sampai kita keliru merumuskan komponen-komponen yang dibutuhkan untuk upaya awal stimulasi tersebut.

Sejatinya, sekarang ini umat Islam tak mampu mempersembahkan kehebatan yang gemilang bagi manusia dalam hal penemuan ilmiah. Sangat disayangkan, kepemimpinannya yang mendunia dalam bidang ini telah berlalu. Kini, kecemerlangan bangsa Eropa telah jauh mendahului mereka mencapai garis finish. Namun, paling tidak, yang dinantikan –sepanjang beberapa abad- bukanlah superioritas secara materi di atas Barat!

Ini bukan berarti kita menganggap sebelah mata penemuan ilmiah. Kita tetap wajib mencurahkan segenap tenaga dan fikiran untuk itu, akan tetapi tidak dengan label “spesialis” yang hendak kita dedikasikan bagi kepemimpinan manusia sepanjang masa. Tetapi, hal tersebut kita masukkan dalam kategori kebutuhan personal bagi kelangsungan hidup kita.

Begitu pula, kita menganggapnya sebagai kepentingan yang harus kita pikirkan konsepnya secara Islami sehingga bisa menjadi spirit bagi manusia dalam pengelolaan bumi (khilafatul ardh), dan ditempatkan manusia –dengan syarat-syarat tertentu- sebagai bagian dari pengabdian kepada Allah dan sebagai bentuk implementasi tujuan eksistensi manusia.

Bagi kepemimpinan manusia, jika demikian, mau tak mau dibutuhkan spesialisasi lain, selain penemuan ilmiah. Spesialisasi itu, tidak bisa tidak, adalah bidang akidah dan manhaj. Yakni, spesialisasi yang kondusif bagi manusia agar melestarikan hasil-hasil kemajuan materi di bawah arahan konsepsi Islam yang mampu memenuhi kebutuhan dasar manusia sebagaimana peranan yang dijalankan oleh penemuan ilmiah; serta agar akidah dan manhaj Islam mengejawantah dalam suatu komunitas manusia, yakni masyarakat Muslim.

Sejatinya, semua manusia sekarang ini hidup dalam suatu masa jahiliyah, dilihat dari sudut pandang sumber yang merasuki berbagai sendi kehidupan dan tatanannya. Yakni, suatu jahiliyah di mana berbagai kemajuan fasilitas fisik – materi dan kegemilangan penemuan ilmiah tidak mengurangi kejahiliyahan sedikitpun.

Jahiliyah tampil di atas prinsip menentang intervensi kekuasaan Allah swt di muka bumi, terutama berkaitan dengan karakteristik ketuhanan (uluhiyah), yakni jahiliyah dalam sistem kekuasaan. Dalam hal ini, ia menyerahkan sistem kekuasaan kepada manusia. Sebagian mereka menjadikan sebagian yang lain sebagai penguasa. Bukan dalam struktur primordial nan polos yang dikenal pada fase jahiliyah primitif, melainkan dalam bentuk pengakuan kebenaran atas pelbagai konsepsi dan nilai yang mereka anut, juga pelbagai hukum dan undang-undang, serta tata aturan dan tradisi yang berlaku. Semuanya berlawanan dengan manhaj Allah tentang kehidupan, dan berada dalam kondisi yang tidak diridhai-Nya.

Kemudian, penentangan terhadap intervensi kekuasaan Allah berkembang menjadi penentangan terhadap hamba-hamba-Nya. Bukankah kehancuran manusia  secara masif terjadi dalam tata aturan sosialis?! Bukankah kesengsaraan berbagai individu dan bangsa-bangsa disebabkan perbudakan kapital dan imperialisme dalam sistem kapitalis?! Semua itu tiada lain merupakan salah satu dampak penentangan terhadap intervensi kekuasaan Allah dan penafian hak asasi yang telah ditetapkan Allah bagi manusia.

Atas dasar semua itulah, manhaj islam menjadi manhaj satu-satunya (yang layak). Dengan tata aturan apapun selain aturan Islam, sebagian manusia memperbudak sebagian yang lain dalam bentuk perbudakan tertentu; sementara hanya dalam manhaj Islamlah, manusia terbebas dari segala bentuk perbudakan sesama manusia. Dalam manhaj ini, manusia hanya menghambakan diri kepada Allah, menerima sesuatu dari Allah semata, dan tunduk hanya kepada-Nya.

Inilah yang menjadi titik perbedaan, dan inilah konsepsi terbaru –berikut segala konsekuensi besar yang diakibatkannya- yang dapat kita persembahkan bagi kemanusiaan dalam kelangsungan kehidupannya. Semua ini merupakan kekayaan besar yang tidak dimiliki oleh ras manusia, karena ia bukanlah buah karya peradaban Barat, bukan pula merupakan output dari kecemerlangan Bangsa Eropa, baik Eropa Timur maupun Eropa Barat.

Tak diragukan lagi, kita sejatinya memiliki sesuatu yang benar-benar baru; yakni sesuatu yang tidak dikenal, dan tidak mampu dihasilkan, oleh ras manusia. Namun, sesuatu yang baru ini –sebagaimana kami katakan sebelumnya- harus terejawantahkan dalam pengamalan nyata yang senantiasa dipedomani oleh suatu umat. Untuk itu, ia memerlukan suatu proses stimulasi dalam internal Dunia Islam. Stimulasi inilah yang akan diikuti –entah dalam waktu dekat atau jauh- dengan implementasi dalam tatanan sosial.

Lantas, bagaimanakah proses stimulasi Islam akan dimulai?

Harus ada sekelompok pionir yang membulatkan tekad ini, kemudian menindaklanjutinya dengan pengamalan. Mereka terjun ke dalam lautan kejahiliyahan yang memiliki network di seluruh penjuru bumi. Di sana, mereka mempraktikkan perbuatan yang asing dalam suatu bidang, dan juga mempraktikkan perbuatan yang erat kaitannya –dalam bidang lain- dengan praktik jahiliyah.

Dalam hal ini, sang pionir yang telah membulatkan tekad harus memiliki sebuah “petunjuk jalan” (ma’alim fi ath-thariq), yakni petunjuk yang memaparkan karakteristik perannya, hakikat fungsinya, tujuan idealnya, dan tahapan-tahapannya, dalam perjalanan yang panjang. Dari petunjuk tersebut, juga dikenalkan karakter posisinya di hadapan jahiliyah yang memiliki network di seluruh dunia.

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah: di manakah sang pionir harus sejalan, dan di mana pula ia harus berbeda, dengan dunia jahiliyah? Apa keistimewaan sang pionir dan apa pula kelebihan jaringan jahiliyah? Bagaimana, dan dalam hal apa, sang pionir bergumul –dengan bahasa islam- dengan para ahli jahiliyah? Kemudian dari mana, dan bagaimanakah sang pionir mengetahui semua hal tersebut?

Petunjuk jalan tersebut haruslah diluruskan dengan berpangkal dari referensi utama akidah ini: al-Quran. Kemudian, barulah diluruskan sejalan dengan tuntunan-tuntunan pokok al-Quran, dan konsepsi yang ditanamkannya dalam jiwa-jiwa yang jernih nan terpilih. Jiwa-jiwa inilah yang diciptakan Allah swt di bumi ini sesuai dengan kehendak-Nya, dan yang akan mengubah catatan perjalanan sejarah –sekali lagi- sesuai dengan jalan yang dikehendaki Allah swt.

Untuk sang pionir yang diharap-harap nan ditunggu-tunggu inilah kami menulis kitab (buku) Ma’alim fi Ath Thariq. Empat bab dalam karya ini disarikan dari kitab Fi Zhilal Al Quran disertai dengan beberapa modifikasi dan tambahan yang sesuai dengan tema kitab Ma’alim. Dan delapan bab lainnya –di luar prolog- terpublikasi secara terpisah, seiring inspirasi berkesinambungan yang mengilhaminya menuju manhaj Rabbani yang terjabarkan dalam al-Quranul Karim. Semua tulisan –yang berserakan- tersebut dihimpun agar menjadi “rambu-rambu petunjuk jalan” (ma’alim fi ath thariq), karena ia merupakan sesuatu yang inheren dengan petunjuk di setiap perjalanan. Kolektivitas petunjuk tersebut telah memunculkan prototipe berupa generasi pertama dari para pendahulu kita. Allah telah membimbing mereka mengikuti rambu-rambu petunjuk dalam meniti perjalanan ini.

Semoga Allah berkenan melimpahkan taufik-Nya. Amin.