Mohammad Natsir

“Rasionalisme” dalam Islam dan Reaksi Atasnya (2)

II

Pembangunnya: Washil bin ‘Atha

Pembangun dari mazhab Mu’tazilah yang mula-mula dikenal orang, ialah Washil bin ‘Atha’, dilahirkan di Madinah dalam th. 80 H., salah seorang dari golongan Banu Makhzum, Washil bin ‘Atha’ adalah seorang ahli pidato yang tangkas dan lancar. Akan tetapi, ia tak pandai melafazkan huruf ta, yang selalu ia bunyikan seperti ghain. Yang semacam itu amat aib bagi orang Arab.

Akan tetapi aib ini dapat diputarnya menjadi satu kemasyhuran, yakni menukar perkataan-perkataan dengan yang tidak memakai ta, akan tetapi yang bersamaan ma’na, sehingga ber-jam-jam ia pandai berkhotbah, tak sekalipun menyebut perkataan yang pakai ta itu. Demikian kemahirannya dalam bahasa Arab, menurut kata riwayat. Malah ada seorang ahli syair yang membuat tamsil: “Engkau jadikan aku sebagai “ta” yang tak dibunyikan, engkau tindas aku se-olah-olah engkau „Washil bin ‘Atha’“.

“I’tazala ‘anna Washil!”

Tadinya Washil seorang murid dari seorang alim Ahlis Sunnah, Hasan Basri yang masyhur. Adapun yang menjadi pokok pertikaian paham antara murid dengan guru itu ialah pendapat yang- dikemukakan oleh Washil tentang tempatnya seseorang yang berdosa besar di akhirat kelaknya. Washil berpendirian, bahwa keadaan seorang berdosa besar di akhirat kelak, orang fasik itu, ialah antara seorang Muslim yang saleh dan seorang kafir dan akan ditempatkan pada satu tempat yang terkhusus antara surga dengan neraka. Dalam istilah mereka masalah ini dikenal dengan nama: tempat antara dua tempat.

Khabarnya konon, pada satu ketika duduklah Imam Hasan Basri dalam mesjid dikelilingi oleh murid-murid beliau yang sedang menunggu fatwa. Pada saat itu datanglah seorang bertanya kepada beliau: “Ya, Imamaddin! Adalah di zaman kita ini satu kaum yang mengafirkan orang-orang yang berdosa besar. Dosa besar pada sisi mereka jadi kufur, keluar dari agama. Kaum ini ialah kaum Wa’iediyatul-Khawarij. Ada pula satu jama’ah lagi yang berpendapat bahwa dosa besar tidak memberi mudharat bila beserta dengan iman. Adapun amal menurut mereka ini, bukanlah sebagian dari iman. Dan ma’siat tidak membahayakan bila beserta dengan iman, sebagaimana taat tidak memberi manfaat bila beserta dengan kufur. Golongan ini ialah yang bernama golongan Murjiyah. Maka bagaimanakah fatwa tuan Imam untuk kami terhadap dua i’tikad tersebut?”

Lalu berfikirlah Imam Hasan Basri sebentar. Akan tetapi sebelum beliau menjawab, Washil angkat suara, seraya berkata: “Aku berpendapat bahwa seseorang yang berdosa besar itu, bukan seorang mu’min yang mutlak, dan tidak pula seorang kafir yang mutlak, akan tetapi dia itu pada tempat diantara dua tempat: bukanmu’min dan bukan kafir.”

Kemudian bangunlah ia dan memisahkan dirinya dari pada majelis, pergi berdiri dekat salah satu tiang mesjid, dan ditegaskannya pendiriannya tentang masalah itu dihadapan pengikut dan murid-murid Imam Hasan. Kemudian berkatalah Imam Hasan dengan tenang ringkas: “Telah berpisahlah Washil dari kita”.

Maka semenjak itu lekatlah nama “Mu’tazilah” bagi semua yang sependirian dengan Washil bin ‘Atha’ dan kemudian bagi beberapa golongan-golongan yang paham mereka “berpisah” atau bersalahan dari paham Ahlissunnah yang dipandang rasmi dikala itu.

Adapun golongan Mu’tazilah itu tidak pula dapat dianggap sebagai satu golongan yang bulat keluar-kedalamnya; melainkan terpecah-pecah pula sampai tidak kurang dari 20 golongan yang kecil, masing-masing mempunyai nama yang diambil dari nama pemimpinnya, seumpama Washiliyah (pengikut-pengikut Washil). Lebih jauh:

1. Washiliyah pengikut Washil bin ‘Atha’.

2. Umariiyah pengikut ‘Umar bin ‘Ubaid.

3. Hudzailiyah pengikut Abul-Hudzail Al-‘Allaf.

4. Aswariyah pengikut Al-Aswari.

5. Askafiah pengikut Abu Ja’far Al-Askafi.

6. Ja’fariyah pengikut Ja’far bin Mubsyir Al-Harb.

7. Basyariyah pengikut Basyar bin Al-Mu’tamar.

8. Mazdariyah pengikut Abu Musa ‘Isa bin Shabieh Al-Mazdar.

9. Hisyamiyah pengikut Hisyam bin ‘Umar Al-Ghuthy.

10. Shalihiyah pengikut As-Shalihy.

11. Haithiyah pengikut Ahmad bin Ha-ith.

12. Hudabiyah pengikut Hudaby.

13. Mu’ammariyah pengikut Mu’ammar bin ‘Ibadis-silm.

14. Tsamamiyah pengikut Tsamamah bin Asyaras.

15. Khaiyathiyah pengikut Abu Husein bin Abu ‘Umar Al-Khaiyath.

16. Ka’biyah pengikut Muhammad Al-Ka’by.

17. Jubbaiyah pengikut Abu ‘Ali Al-Jubbai.

18. Bahasymiyah pengikut Abu Hasyim.

19. Jahiziyah pengikut ‘Umar bin Bahi’ Al Jahiz.

20. Nadzamiyah pengikut Ibrahim bin Saiyar An-Nadzam.

Bilamana ada sedikit saja mereka berselisih paham timbullah satu mazhab, ada yang tinggal kecil dan ada yang bertambah besar. Pun pemimpinnya ada alim yang kenamaan, ada yang kurang terdengar sebutannya. Masing-masing-nya mempunyai salah satu pendirian yang terkhusus, satu sama lain berhadapan sebagai aksi dengan reaksi, kesemuanya dihadapi dan ditantang pula oleh “Ahlis Sunnah”.

Kalau kita perhatikan pokok-pokok pertikaian paham mereka itu, terkadang kita akan ta’jub melihat ketajaman fikiran mereka yang mukhtara’ (orisinil); terkadang bertanya dalam hati kita, apakah   masalah-masalah yang mereka perbincangkan itu tidak terlampau ber-lebih-lebih-

an, yakni diperbesar-besarkan, sehingga seperti gunung, padahal soalnya, — pada pandangan kita sekarang —, tidak begitu sulit. Tempo-tempo kita akan berkata dalam hati: “Bukankah soal yang diperkatakan itu soal diluar urusan kita sebagai manusia;” di lain kali kita akan merasa sedikit kesal dan berkata: “Ah, ini soal tetek-bengek saja, kenapakah diributkan sampai begitu!”

Akan tetapi hendaklah kita ingat bahwa mereka itu semua adalah manusia sebagaimana kita juga. Manusia yang tidak ma’sum dari kesalahan; mungkin terdorong, mungkin terkhilaf, mungkin terbawa oleh hawa-nafsu, walaupun mereka itu ber-sungguh-sungguh berniat mencari kebenaran dengan hati yang suci dan ikhlas juga.

Dari zaman mereka sampai sekarang, sudah berbilang abad yang silam. Dan dalam masa yang panjang itu, masyarakat kaum Muslimin terus-menerus melahirkan putera-putera-nya yang cukup mempunyai ilmu dan persediaan akal untuk memecahkan, walaupun dengan ber-angsur-angsur setengah dari pada masalah-masalah yang pada zaman mereka masih belum terkupas sampai memuaskan.

Dan…, seringkah kita memandang suatu hal sebagai tidak berarti, sebagai “tetek-bengek”, pada hal sebenarnya dia itu satu ranting yang tidak kecil artinya. Kemajuan ijtihad kaum Muslimin di negeri kita sekarang ini belum tentu akan sampai ketingkat yang sekarang ini, sekiranya tidak ada pengupasan masalah “ushalli” kira-kira 20 tahun yang lalu.

Dalam pada itu jangan kita lupakan bahwa kita berhadapan dengan satu riwayat yang menggambarkan satu pertempuran ruhani (zielsconflicten) dari satu kaum yang sedang hendak meningkat kepada satu tingkatan ruhani yang lebih luhur, satu kaum yang kebatinannya berada dalam zaman pancaroba (“Sturm und Drangperiode”) menunggu datangnya masa yang lebih tenang dan aman.

Dalam uraian yang lalu telah kita kemukakan, bahwa dalam perjuanganruhani yang amat sengit itu tidak kurang pula kurban yang jatuh. Tak kurang paham yang tertolak lantaran nyata kekeliruannya.

Tak kurang pula yang tetap berdiri teguh dari masa kemasa lantaran kebenarannya yang tahan uji. Sebab dalam alam ruhani berlaku juga sunnatullah yang dikenal dengan nama: “baqa-ulamtsal”, yang kokoh berdiri tegak, yang lemah jatuh hancur (“ survival of the fittest”).

Boleh jadi kaum kita Muslimin sekarang ini sudah lama sampai dipelabuhan yang aman dan sentosa. Kalau begitu, syukurlah! Akan tetapi, tidak mustahil, perjalanan (proses) yang seperti itu dating pula. Maka apabila memang hendak datang keadaan yang seperti itu, tak ada satu kekuatan yang akan sanggup menahannya. Riwayat membuktikan, bahwa pertempuran ruhani itu tidak dapat dipadamkan dengan senjata, tidak akan berhenti dengan meniwaskan jiwa mereka yang bersangkut. Juga tidak dapat ditutup dengan larangan-larangan dari pemerintah negeri.

Maka ada baiknya bila seseorang mengambil pelajaran akan kesulitan-kesulitan dan kepayahan yang telah diderita oleh kaum-kaum yang telah lalu itu, dan memperhatikan bagaimanakah ikhtiar mereka menyelesaikan tiap-tiap kesulitan itu, baik berhasil ataupun tidak. Dengan demikian kita akan lebih tenang berhadapan dengan ber-macam-macam keadaan yang ada dikeliling kita. Dan akan lebih teguh pendirian kita, bilamana pada satu masa berjumpa dengan gelombang pertempuran batin yang mungkin datang menjelma pula pada tiap-tiap bangsa yang mendapat giliran dari Ilahi.