Hasan Al Banna

Risalah Musa ‘Alaihis Salam

“Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah yang paling bertaqwa.” (Al Hujurat: 13)

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.

Amma ba’du. Kita membuka acara kita dengan pembukaan yang paling baik. Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah yang diberkahi: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda,

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah, membaca dan mempelajari kitab Allah secara bersama-sama, kecuali mereka akan diliputi oleh rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan disebut oleh Allah di hadapan para malaikat yang ada di sisinya. Barangsiapa lambat dalam beramal, nasabnya tidak dapat menyempurnakannya.”

Wahai Akhi, sedap kaum yang berkumpul di tempat mulia, membaca dan mempelajari kitab Allah bersama-sama, niscaya rahmat Allah Subhanahu wa Ta’ala meliputi mereka, ketenangan dari sisi Allah turun kepada mereka, para malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan para malaikat yang ada di sisi-Nya.

Ikhwan sekalian, saya ingin memberitahu Anda tentang perasaan yang saya rasakan dan tentang apa yang seharusnya dilakukan, karena tujuan kajian ini bukan sekedar untuk mendapatkan informasi ilmiah atau ruhiyah semata. Ikhwan sekalian, dari pertemuan ini saya tidak bermaksud mengemukakan banyak hakikat ilmiah kepada Anda semua agar bisa Anda mengerti dan tidak bermaksud mempengaruhi jiwa Anda semua, karena pada akhirnya pengaruh itu pasti muncul pada siapa saja yang mendengarkan dan merenungkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. Saya tidak bermaksud mewujudkan kedua hal ini semata, tetapi saya bermaksud mendapatkan manfaat nyata yaitu agar perjumpaan kita dalam kajian ini bisa kita jadikan sebagai sarana untuk saling mengenal, menjalin hubungan, agar sebagian kita akrab dengan sebagian lain dan sebagian kita berbahagia berjumpa dengan sebagian lain, sehingga jiwa kita saling akrab, hati kita saling bertaut, pikiran kita saling mengasah, dan agar dalam kajian dan pertemuan ini kita bisa terus-menerus mengkaji banyak atau sedikit dari aspek-aspek ilmiah yang berkaitan dengan diri kita.

Ikhwan tercinta, dengan pertemuan ini saya ingin membuka kesempatan untuk saling memahami dan mengenal, maka hendaklah Anda semua berusaha mewujudkannya. Percayalah kepada saya, bahwa saya merindukan kajian ini, sekalipun kadang-kadang saya tidak mempunyai hasrat untuk berbicara, tetapi mungkin saat berlangsungnya acara kajian ini adalah saat jiwa ini bersih. Barangkali jiwa ini bisa berpaling dan mengendur, tetapi percayalah kepada saya, Ikhwan sekalian, bahwa saya merindukan saat ini, di hari ini, dengan kerinduan yang luar biasa. Saya menunggu-nunggu saatnya tiba. Bertanya dan saling memahami adalah perbuatan yang pahalanya lebih besar di sisiAllah daripada belajar. Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda, “Kalian tidak akan masuk surga sehingga kalian beriman, dan kailan tidak akan beriman sehingga saling mencintai.”

Seorang mukmin adalah orang yang berhati nurani, berperasaan, dan hidup. Hatinya kaya raya.

Wahai Akhi, seorang mukmin adalah seorang yang lemah lembut dan ramah di mana pun ia berada.

Ke manakah curahan hati orang-orang beriman ini diarahkan?

Allah Subhanahu wa Ta’ala. telah menjadikan sasaran dari curahan hati ini untuk pertama kali menuju dzat-Nya, kemudian kepada Rasul-Nya, lalu kepada kebaikan, dan kemudian kepada orang-orang beriman. Inilah tempat-tempat yang harus dijadikan sasaran curahan hati seorang mukmin. Kita harus senantiasa mengupayakan tegaknya cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. dan cinta kepada rasul-Nya, mengupayakan kebaikan, serta mencari kawan, saudara, dan orang yang dicintai karena Allah.

Saya kembali ingin menegaskan, Ikhwan sekalian, bahwa kajian kita tentang kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala dimaksudkan agar hati seorang mukmin berorientasi kepadanya, agar terjadi hubungan sejati antara hati yangsatu dengan hati yang lain, dan antara hati orang-orang yang beriman.

Wahai Akhi, ketika hati berhasil mengetahui rahasia-rahasia kitab Allah yang sebelumnya tidak pernah disingkapnya dan berhasil mencapai ilmu yang bermanfaat, yang jauh dari sikap berlebihan orang-orang sufi atau perdebatan para ahli debat, maka ketika itu, wahai

Akhi, Allah mengaruniakan kepada Anda pemahaman yang paling mendalam, tasawuf yang paling bersih, serta tauhid yang paling luhur dan tinggi.

Tujuan pertemuan kita ini bukan untuk menyerap ilmu semata, tetapi juga untuk mengikatkan hati kita kepada kitab Allah. Yakinlah bahwa Nabi kita Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mendidik generasi yang sempurna ini tidak dengan banyaknya ilmu dan pengetahuan, tetapi dengan membersihkan hati dan menerangi jiwa mereka, sehingga mereka menjalin hubungan dengan Al Mala’ul A’la dan Allah memberikan hikmah kepada mereka.

“Dan barangsiapa dikaruniai hikmah, maka sungguh ia telah diberi banyak kebaikan.” (Al Baqarah: 269)

Ikhwan sekalian, Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak mempunyai kurikulum selain Al Qur’an, tidak mempunyai lembaga pendidikan selain masjid. Murid-murid beliau adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, dan para sahabat beliau yang lain, yang setara dengan mereka. Apakah Anda pernah melihat lembaga pendidikan yang lebih bersih dan lebih baik daripada madrasah beliau ini, yang di dalamnya para siswa duduk di atas hamparan kerikil; universitas mereka beratapkan pelepah kurma di mana hujan yang turun bisa membasahi tubuh mereka; kurikulum mereka adalah Al Qur’an dan mereka senantiasa menunggu datangnya dari langit?

Dari lembaga pendidikan ini, Ikhwan sekalian, telah diluluskan guru-guru paling sempurna yang pernah dikenal oleh dunia, dalam segala bidang keutamaan manusiawi. Penggemblengan dan pendidikanini hanya dilaksanakan berdasarkan kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala. yang tidak dapat disentuh oleh kebatilan, baik dari muka maupun dari belakangnya.

Ikhwan sekalian, alangkah perlunya kita kepada sebuah universitas semacam universitas beliau ini, mimbar sebagaimana mimbar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, yang di dalamnya rahmat turun, ayat-ayat dibacakan, cahaya Rabbul ‘Alamin dipancarkan. Dari situ dilahirkan para guru, bahkan mahaguru.

Betapa perlunya kita menjalin hubungan yang sungguh-sungguh dan terus-menerus dengan Al Qur’anul Karim. Betapa perlunya kita memahami metode yang dipahami oleh para sahabat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam ini.

Saya senang mengulang pernyataan ini, agar tidak dipahami bahwa kita bermaksud mengadakan perdebatan. Yang menjadi tujuan kita adalah agar kita mengerti bagaimana kita mengarahkan pandangan tentang kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Demikianlah Ikhwan sekalian, dan marilah kita bahas Risalah Musa ‘Alaihis Salam, sebagai tema kajian kita.

Ikhwan sekalian, pembicaraan kita pada malam ini adalah tentang Risalah Sayidina Musa —semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada beliau dan kepada nabi kita—. Jika kita ingin mengupas panjang lebar pembahasan tentang masalah ini, tentu akan menghabiskan waktu lebih dari tiga tahun, tetapi kita ingin mempersingkat kajian tersebut pada malam ini saja insya Allah. Risalah Sayidina Musa ‘Aaihis Salam telah dikemukakan oleh Al Qur’anul Karim dalam dua puluh surat, bahkan lebih dari itu, yaitu dalam Al Baqarah, An Nisa’, Al Ma’idah, Al A’raf, Yunus, Hud, Al Isra’, Al Kahfi, Maryam, Thaha, Al Mukminun, Al Furqan, Asy Syu’ara’, An Naml, Al Qashash, Ghafir, Az Zukhruf, Al Qamar, Adz Dzariyat, An Nazi’at.

Wahai Akhi, setiap surat ini berbicara tentang kisah Musa ‘Aaihis Salam. Pembicaraan tentang kisah Musa menggunakan berbagai jenis gaya balaghah, ada yang panjang lebar, ada yang ringkas, ada pula yang sedang. Di surat Al Baqarah mulai dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmat-Ku yang telah Aku anugerahkan kepada kalian dan penuhilah janji kalian kepada-Ku, niscaya Aku penuhi janji-Ku kepada kalian; dan hanya kepada-Kulah kalian harus takut (tunduk),” (Al Baqarah: 40) hingga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. “Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kalian (dalam membuat) kebaikan. Di mana saja kalian berada pasti Allah akan mengumpulkan kalian (pada hari kiamat). SesungguhnyaAllah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (Al Baqarah: 148)

Semua berjumlah seratus delapan ayat. Dua puluh tujuh ayat di antaranya berbicara tentang kisah Musa ‘Aaihis Salam Demikian pula, tiga perempat surat Thaha, mulai dari firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Apakah telah sampai kepadamu kisah Musa? Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia kepada keluarganya, ‘Tinggallah kalian (di sini), sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawasedikit daripadanya kepadaku atau aku akan mendapat petunjuk di tempat api itu,” (Thaha: 9-10) sampai pada firman-Nya, “Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Qur’an).” (Thaha: 99)

Dalam surat Al Qashash dari awal surat hingga firman-Nya, “Dantiadalah kamu berada di dekat gunung Thur ketika Kami menyeru(Musa), tetapi (Kami beri tahukan itu kepadamu) sebagai rahmat dari Tuhanmu.” (Al Qashash: 46)

Dalam surat Ad Dukhan firman Allah menyatakan, “Sesungguhnya sebelum mereka telah Kami uji kaum Firaun dan telah datang kepada mereka seorang rasul yang mulia,” (Ad Dukhan: 17) sampai firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah Kami pilih mereka dengan pengetahuan(Kami) atas bangsa-bangsa.” (Ad Dukhan: 32)

Dalam surat Al Qamar, kitab Allah mengisyaratkan kisah ini dalam firman-Nya, “Dan sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir’aun ancaman-ancaman. Mereka mendustakan mukjizat-mukjizat Kamikesemuanya, lalu Kami adzab mereka sebagai adzab dari Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa.” (Al Qamar: 41-42)

Dalam surat-surat lain, kisah ini disebutkan tidak terlalu panjang tetapi juga tidak terlalu ringkas.

Di surat Hud ada sekitar seperempat surat, dalam surat Az Zukhruf ada sekitar seperempat pula, dan demikian seterusnya.

Ikhwan sekalian, tujuan pemaparan kisah dengan metode semacam ini ada dua: pertama, menunjukkan kemukjizatan dengan menampilkan seni balaghah (sastra). Dalam setiap kali pemaparan, ia menunjukkan tipe balaghah yang sempurna. Ia menyebutkan situasi, memaparkan kisah, kemudian mengemukakan kesimpulan berdasarkan kisah-kisah itu. Dari sini wahai Akhi, Anda tahu bahwa Al Qur’an mempunyai perhatian yang besar terhadap aspek kisah. Ini merupakan isyarat untuk memikat perhatian umat Islam sebelum ia menjelaskan kepada mereka pengaruh kisah-kisah tersebut dari aspek sejarah, pengajaran, dan pendidikan. Tidak ada gaya yang lebih kuat dan lebih mantap dalam menanamkan informasi, khususnya pada tahap-tahap awal, selain kisah.

Kedua, dengan metode itu, wahai Akhi, juga terkandung pengabadian masa lalu dan pengambilan manfaat darinya. Karena itulah para pendahulu kita, kaum salaf, memperhatikan masalah ini. Telahdiriwayatkan bahwa Sa’d bin Abi Waqqash Radhiyallahu ‘Anh berkata,

“Sungguh, kami menceritakan kisah-kisah peperangan Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam kepada anak-anak kami, sebagaimana kami mengajari mereka untuk menghafalkan Al Qur’an. “

Ikhwan sekalian, jika Anda membaca sejarah lama kita, niscaya Anda mendapatinya didasarkan kepada riwayat. Ini mengandung isyarat mengenai besarnya perhatian terhadap kisah. Dan meskipun begitu besar perhatian ini, namun umat Islam di zaman sekarang —yang mereka sebut sebagai zaman kebangkitan— melupakan dan mengabaikansejarah ini, lantas menerima sejarah bangsa lain dalam gambaran sebagaimanayang disampaikan kepadanya, bukan dalam gambaran yang sesuai dengan kebenaran sejarah itu sendiri.

Ikhwan sekalian, ada seorang akh yang bertanya kepada saya tentangkurikulum pengajaran agama di sekolah-sekolah. Saya katakan kepadanya,”Semua kurikulum pengajaran agama di sekolah-sekolah itu salah,yang benar hendaklah kita bercerita kepada para murid tentang sejarah hidup Nabi Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam Kita ceritakan kepada mereka riwayat hidup beliau di Makkah, di Madinah, bagaimana beliau mengajar, beribadah, berakhlak, dan berperang. Kita ceritakan kepada mereka kisah tentara gajah, kemudian kita suruh mereka menghafal surat Al Fil; kita ceritakan kepada mereka kisah wafatnya kedua orang tua beliau, kemudian kita suruh mereka menghafal surat Adh Dhuha, dan demikianlah seterusnya.”

Orang-orangjerman menganggap kisah sebagai fondasi pendidikan dalam sistem pengajaran mereka. Dalam kisah tersebut seorang murid bisa mempelajari berbagai macam ilmu pengetahuan, baik itu Geografi, Sejarah, maupun Geologi. Andaikata kaum Muslimin mau menggunakan sistem dan cara semacam ini sebagaimana yang terdapat dalam kitab Allah Subhanahu wa Ta’ala, mereka mau menjadikan kisah sebagai landasan dalam kurikulum pendidikan agama dan sejarah; andaikan mereka menjadikannyasebagai kurikulum pendidikan bagi umat, tentu mereka memperoleh sukses dan meraih kemajuan melebihi umat-umat lain.

Barangkali ada orang yang mengatakan, “Mengapa sebagian besar kisah yang dikemukakan oleh Al Qur’an adalah kisah Bani Israil?Mengapa kisah Bani Israil menghabiskan porsi paling besar dalam Al Qur’anul Karim?”

Sebenarnya, wahai Akhi, hal ini disebabkan oleh faktor:

Pertama, kemuliaan ras bangsa ini dan curahan spiritualisme yang kuat yang tertanam dalam dirinya, sebab ras ini telah diturunkan dari asal-usul yang mulia. Oleh sebab itu, ia mewarisi dinamika yang menakjubkan, sekalipun ia telah berbuat buruk terhadap dirinya sendiri dan bangsa lain dengan mengarahkan dinamika ini kepada hal-hal yang tidak bermanfaat.

Ras bangsa ini diturunkan dari Yakub ‘Aaihis Salam, putra Ishaq bin Ibrahim. Ia mewarisi spiritualisme dari seorang tokoh besar, yang secara beruntun juga mewarisinya dari tokoh besar yang lain. Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda,

“Orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia, putra orang mulia adalah Yusuf, putra Ya ‘kub, putra lshaq, putra Ibrahim.”

Empat kakek mereka, masing-masing adalah seorang rasul. Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman, “Dan ingatlah ketika Musa berkata kepada kaumnya, ‘Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atas kalian ketika Dia mengangkat nabi-nabi di antara kalian, dan dijadikanNya kalian orang-orang yang merdeka, dan diberikanNya kepada kalian apa yang belum pernah diberikanNya kepada seorang pun di antara umat-umat yang lain.” (Al Maidah: 20)

Allah juga berfirman mengenai kelebihan yang diberikan-Nya  kepada mereka di atas bangsa-bangsa lain pada zaman mereka. “Dan Aku telah melebihkan kalian di atas segala umat.” (Al Baqarah: 122)

Kedua, ras bangsa ini mengalami dinamika yang tidak pernah terjadi pada ras bangsa lain. Sebagaimana bersumber dari tindakan menyucikandiri, dinamika ini juga bersumber dari perasaan bangga terhadap diri,dan tindakan melupakan makna kemanusiaan secara umum yang disebutkan dalam firman Allah, “Hai manusia, sesungguhnya Kamimenciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan danmeniadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kalian di sisi Allah adalah orang yang paling bertaqwa.” (Al Hufurat: 13)

Ketiga, mereka mewarisi kitab samawi paling tua yang sedikit dikenal oleh manusia, yaitu Taurat. Mereka juga merupakan bangsa yangpaling dekat dengan bangsa Arab di masa itu.

Terakhir, mereka berkembang dari keadaan sebagai bangsa Badui yang berpindah-pindah, kemudian membentuk suatu bangsa, kemudian ditindas oleh musuh, kemudian membebaskan diri, kemudian berkuasa, dan kemudian mereka berubah lagi. Jadi mereka merupakan contoh yang baik untuk menampilkan fase-fase perkembangan ini.

Wahai Akhi, ketika Anda membaca Al Qur’an, Anda menemukan hakikat ini secara jelas di dalamnya.

Risalah Musa ‘Alaihis Salam berlaku di Mesir. Dan saya ingin mengemukakan hubungan antara risalah beliau dengan umat ini, agar kita bisa menyingkap beberapa rahasia kitab Allah ini setiap kali kita membacanya. Bangsa Israil banyak terdapat di Mesir, sekalipun tanah air asal mereka adalah Palestina. Orang pertama yang mengakui eksistensi mereka adalah Yusuf ‘Aaihis Salam, “Pergilah kalian dengan membawa baju gamisku ini, lalu letakkan dia ke wajah ayahku, nanti ia akan melihat kembali;dan bawalah keluarga kalian semuanya kepadaku,” (Yusuf: 93) hingga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan ia berkata, ‘Masuklah kalian ke negeri Mesir, insya Allah dalam keadaan aman.’” (Yusuf: 99)

Yusuf ‘Alaihis Salam memberikan tanah di wilayah Mesir Timur kepada mereka. Sebelumnya wilayah tersebut merupakan gurun pasir. Beliau menyerahkan tanah tersebut kepada mereka, karena mereka dahulu datang dari daerah Badui dan beliau tidak ingin membaurkan mereka dengan bangsa Mesir yang lain yang pada masa itu masih menganut pahampaganisme, sedangkan Yakub dan anak turunnya menganut paham tauhid murni. Beliau tidak menginginkan timbulnya alasan untuk terjadinya konflik agama antara mereka dan orang-orang Mesir pribumi.

Allah Subhanahu wa Ta’ala. berfirman mengisahkan hal itu, “Sesungguhnya aku telah meninggalkan agama orang-orang yang tidak beriman kepada Allah, sedang mereka ingkar kepada hari kemudian.Dan aku mengikuti agama bapak-bapakku yaitu Ibrahim, Ishak dan Ya’kub. Tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karuniaAllah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya); tetapi kebanyakan manusia itu tidak mensyukuri (Nya),” hingga “Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” (Yusuf: 37-40)

Beliau mengakui bahwa aqidah beliau dan aqidah bapak-bapaknyaadalah hanifiab sambah (lurus dan fleksibel) yang tidak menerima kesyirikan dan tidak satu debu kotoran syirik pun yang menempel padanya. Beliau ingin memisahkan antara para penganut tauhid dan para penganut paham paganisme.

Sampai di sini dulu perjumpaan kita pada malam ini. Saya cukupkan di sini ceramah saya. Saya memohon ampunan kepada Allah untuk diri saya dan untuk Anda semua. Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada Sayidina Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>