Hasan Al Banna

Sejauh Mana Akal Dapat Mencapai Ilmu Pengetahuan Alam?

Alangkah baiknya setelah pembahasan ini kita menjawab pertanyaan ini, agar para ilmuwan yang mengultuskan penemuan-penemuan ilmu pengetahuan memahami sejauh mana akal manusia dapat memecahkan kebuntuan-kebuntuan alam raya dan membuka tabir misteri keajaibannya.  Dan kami akan menambahkan pendapat-pendapat ahli non-Muslim sebagai dalil atau bukti otentik. Kami minta maaf sebelumnya, bukan maksud kami menguatkan dan membela Al-Qur’an dengan dalil atau bukti yang tidak ada di dalamnya. Akan tetapi, yang kami maksudkan adalah dua hal. Pertama: mengadopsi dalil dari orang-orang yang tidak percaya dengan Al-Qur’an, agar Al-Qur’an lebih mengena pada sasaran dan lebih kuat dalam memberikan argumentasi. Ada konsep yang menyatakan bahwa dalil yang paling baik adalah apa yang disaksikan oleh lawan-lawan. Kedua: agar ilmuwan-ilmuan Eropa yang mendewa-dewakan ilmu pengetahuan –sebagai  kunci atas kemajuan negara-negara Eropa—menyadari bahwa guru-guru mereka telah mengakui kelemahan dan keterbatasan mereka, dan menghacurkan fanatisme terhadap sesuatu yang tidak mereka ketahui. Dan hanya Allah subhanahu wa ta’ala yang menunjuki manusia ke jalan yang lurus.

Dahulu pernah muncul zaman kejayaan ilmu pengetahuan dengan penemuan-penemuan materialismenya, dan manusia pun dapat merasakan pengaruhnya dalam kehidupan mereka. Dengan ini para ilmuwan mengira bahwa mereka telah sampai pada puncak eksistensi ilmu pengetahuan. Mereka menciptakan teori-teori dan konsep-konsep yang dapat digunakan untuk menjelaskan semua fenomena alam raya. Kemudian mengumumkan kejenuhan dan kebosanan mereka terhadap agama dan pengikutnya serta akidah dan penganutnya. Ateisme telah meracuni otak dan pikiran mereka. Kemudian gelombang ateisme ini surut ketika para ilmuan merasa telah mampu mengalahkan kebesaran alam raya, serta tidak berkutik di depan aturan dan teori yang telah mereka temukan sebelumnya, yang sudah menghancurkan ketenangan dan keyakinan mereka akan kebenarannya. Akhirnya, mereka menarik ucapannya dan mengakui akan keterbatasannya serta mengumumkan keterbatasannya dan terus melakukan penelitian dengan rendah hati dan beradab.

Hal ini sudah menjadi kebiasaan: akal yang sedang melakukan perenungan terhadap kerajaan Allah subhanahu wa ta’ala tidak akan mampu menemukan keajaiban sekaligus dan tidak akan sampai kepada eksistensinya secara seketika. Dia harus melewati masa-masa yang telah ditentukan oleh Allah subhanahu wa ta’ala dengan melakukan penelitian kritis. Akal juga akan berhasil menguak misteri jagad raya dengan berangsur-angsur. Keduanya harus menemukan kesimpulan yang salah dan kadang-kadang benar. Dia menerima kesalahan sebagai pelajaran agar dapat menemukan hakikatnya dengan kesimpulan yang benar. Demikianlah akal manusia, sekalipun ia sudah mencapai puncak kesempurnaan namun tidak akan sampai pada hakikat sesuatu (eksistensi). Ia hanya dapat menemukan sifat-sifat yang bermanfaat bagi manusia. Sedangkan hakikat sesuatu tidak akan dapat diraih oleh akal manusia. Hal itu mungkin sudah menjadi rahasia ilmu Allah subhanahu wa ta’ala dan bukan tugas tujuan dalam perenungan yang dilakukan oleh akal manusia.