Musthafa As Siba'i

Sekolah dan Lembaga Keilmuan yang Dibangun Peradaban Islam

Sekolah-sekolah yang berdiri di atas tanah-tanah wakaf yang didermakan oleh orang-orang kaya dari kalangan panglima, ulama, pedagang, raja dan kaum wanita telah mencapai jumlah yang sangat besar. Tak sebuah kota atau desa pun di seluruh dunia Islam yang sepi dari sekolah-sekolah yang beraneka macam, tempat puluhan guru dan pengajar mengajarkan ilmu. Masjid adalah tempat pertama untuk sekolah dalam peradaban kita. Masjid bukan hanya tempat ibadah semata tetapi jga merupakan sekolah. Di situ kaum muslimin mempelajari baca-tulis, Qur’an, ilmu-ilmu syariat, bahasa dan berbagai cabang ilmu lainnya. Di samping mesjid didirikan kuttab yang khusus di pakai sebagai tempat untuk mengajarkan baca-tulis, Al Qur`an dan sedikit ilmu bahasa serta olah raga. Kuttab ini serupa dengan sekolah dasar di jaman kita sekarang. Jumlahnya sangat banyak. Menurut Ibnu Haukal, di satu kota saja dari kota-kota Sicilia ada 300 kuttab bahkan ada beberapa kuttab yang luas sehingga satu kuttab bisa menampung ratusan bahkan ribuan siswa. Dalam sejarah disebutkan bahwa Abul Qasim al Balkhi memiliki sebuah kuttab yang ditempati oleh 3000 siswa. Kuttab Abul asim ini laus sekali sehingga untuk menginspeksi siswa-siswanya dan mengawasi keadaan mereka perlu dengan perlu dengan menunggang keledai karena bila dengan berjalan akan memakan waktu lama.

Di samping kuttab dan masjid juga berdiri madrasah yang pelajarannya serupa dengan pelajaran Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah di jaman kita sekarang ini. Pengajaran di situ gratis dan untuk berbagai lapisan. Para siswa tidak membayar SPP seperti yang dibayar oleh siswa-siswa kita sekarang, baik yang Tsanawiyah maupun Aliyah. Pengajaran di situ tidak terbatas hanya pada suatu kelompok masyarakat, tetapi kesempatan belajar itu tersedia bagi seluruh bangsa . Putera si miskin duduk di samping putera si kaya. Putera pedagang duduk di samping putera petani atau tukang.

Pelajaran di madrasah ini ada dua bagian. Pertama, bagian intern untuk siswa-siswa asing dan siswa-siswa yang kondisi materialnya (nafkah orang tuanya) pas-pasan. Kedua, bagian ektern untuk siswa-siswa yang ingin pulang sore hari ke rumah keluarga mereka. Bagian intern juga gratis. Di situ siswa disediakan makan, tempat tidur, belajar dan ibadah. Dengan begitu setiap madrasah mempunyai masjid, ruang belajar, kamar tidur siswa, perpustakaan, dapur dan kamar mandi. Sebagian madrasah mempunyai lapangan-lapangan olahraga di udara bebas dan nyaman. Sampai sekarang pun kita masih mempunyai model-model madrasah semacam ini yang memenuhi dunia Islam seluruhnya.

Di Damaskus masih ada madrasah Nuriyah yang didirikan oleh pahlawan besar, Nuruddin asy Syahid. Madrasah ini sekarang terletak di pasar Al Khayyatin dan masih tegak menampilkan contoh hidup arsitektur madrasah-madrasah pada masa-masa peradaban Islam. Pernah seorang pemgembara, Ibnu Jubair mengunjunginya pada awal abad ke-7 Hijriah. Ia takjub dan menulis tentang madrasah ini. Inilah cuplikan hasil tulisannya:

“Diantara madrasah dunia yang paling indah bentuknya adalah madrasah Nuruddin Rahimahullah. Madrasah ini adalah salah satu istana yang elok. Di situ air tertuang dalam pancuran di tengah sungai yang besar, kemudian mengalir di sebuah saluran panjang hingga jatuh di kolom besar di tengah gedung itu sehingga pandangan mata takjub oleh pemandangan yang indah itu. Meskipun bencana-bencana masa telah menimpa madrasah ini dan telah menghilangkan beberapa bagiannya tetapi hingga sekarang di situ masih ada ruang kuliah, masjid, ruang guru serta ruang untuk peristirahatan mereka. Masih ada sebuah ruangan yang berfungsi sebagai ruang dosen pada fakultas-fakultas perguruan tinggi, juga rumah khusus yang dihuni oleh kepala madrasah bersama keluarganya, tempat-tempat tinggal para siswa dan pelayan madrasah. Sedangkan yang sudah hilang adalah ruang makan, dapur dan tempat penyimpanan sayur-mayur dan berbagai barang lainnya.”

Itulah adalah contoh hidup madrasah pada masa lampau. Kita dapati padanannya di Haleb di madrasah-madrasah Sya`baniyah, Ustmaniyah dan Khusruwiyah. Di situ masih ada kamar-kamar untuk tempat tinggal para siswa, juga ruang-ruang untuk belajar. Contoh hidup yang paling nyata dari madrasah-madrasah ini ialah Universitas Al Azhar. Universitas ini adalah masjid yang ruang depannya dijadikan tempat halaqah-halaqah belajar. Masjid ini dikelilingi (dari berbagai penjuru) kamar-kamar yang di sebut asrama sebagai tempat tinggal para mahasiswa dari setiap negeri. Ada asrama mahasiswa Syria, asrama mahasiswa Maroko, asrama Turki, asrama mahasiswa sudan, dan lain sebaginya. Mahasiswa Al Azhar sampai sekarang masih memperoleh beasiswa bulanan di samping pelajaran mereka yang gratis.

Layak pula kita bicarakan para pengajar serta ihwal dan gaji mereka. Kepala-kepala madrasah adalah ulama-ulama pilihan dan paling tersohor. Dalam sejarah tokoh-tokoh ulama (ilmuwan) dapat kita jumpai madrasah-madrasah yang diasuh mereka. Imam Nawawi, Ibnu Shalah, Abu Syama, Taqiyuddin as Subki, Imaduddin bin Katsir, dan lain-lain adalah tokoh-tokoh ulama yang mengajar di Darul Hadits di Damaskus. Sedangkan Al Ghazali, As Syirazi, Imam Haramain, As Syasi, Al Khatib At Tibrizi, Al Qaswaini, Al Fairuz Abadi dan lain-lain adalah tokoh-tokoh ulama yang mengajar di Madrasah Nizhamiyah di Baghdad.

Pada permulaan Islam para pengajar tidak memperoleh gaji atas pekerjaannya. Namun ketika zaman berkembang, peradaban meluas, madrasah-madrasah dibangun dan badan-badan wakaf dibentuk maka pera pengajar di situ mulai mempunyai gaji bulanan. Anehnya, ulama-ulama negeri seberang, ketika Nizhamul Mulk membangun madrasah-madrasahnya yang terkenal dan memberikan gaji tertentu kepada pengajar-pengajar di situ, mereka berkumpul untuk mengadakan forum kelabu bagi ilmu. Di situ mereka memprihatinkan lenyapnya ilmu dan barokahnya. Mereka berkata, “Yang sibuk dengan ilmu adalah para pemilik cita-cita tinggi dan jiwa yang suci, yaitu orang-orang yang menggeluti ilmu karena kemuliaan dan kesempurnaannya. Jika sekarang ada bayaran (gaji) bagi pengajarnya maka ia akan didekati oleh orang-orang hina dan pemalas. Hal itu akan menyebabkan kehinaan dan kelemahannya.”

Syakh Najmuddin al Khubusyani adalah salah seorang yang diangkat Sultan Salahuddin untuk mengajar di sekolah As Shalahiyah. Sultan memberinya 40 dinar setiap hari dan dua kantong besar air setiap hari. Di antara gaji bulanan Syaikh Al Azhar adalah gaji yang diperolehnya untuk nafkah baginya sebab satu wakaf Al Azhar adalah wakaf yang khusus untuk baghal Syaikh dan nafkahnya. Gaji yang diperoleh atas nama bagal ini mencapai 100 junaih setiap bulan dalam tahun-tahun terakhir sehingga akhirnya digabungkan kepada gaji bulanannya. Yang bisa mengajar di situ hanyalah orang-orang yang sudah diketahui benar kualifikasinya oleh para Syaikh. Pada masa awal Islam; Syaikh mengijinkan muridnya memisahkan diri dari halaqahnya dan membentuk halaqah sendiri atau mengamanatkan kepadanya agar memimpin halaqahnya sesudah ia wafat. Jika ia menyimpang dari hal itu maka ia manjadi sasaran kritik dan dihujani pertanyaan-pertanyaan keras yang menyudutkan.

Dalam sejarah Abu Yusuf, raja hakim pada masa Harun ar Rasyid disebutkan bahwa ia pernah sakit ketika syaikh (guru)nya, Abu Hanifah masih hidup. Sang guru menjenguknya dan berkata kepadanya, “Aku harap engkau menjadi penggantiku kelak untuk kaum muslimin.” Setelah Abu Yusuf sembuh dari sakitnya, ia sangat bangga mendengar kesaksian gurunya tentang dirinya. Maka ia pun membentuk majelis sendiri yang terpisah dari gurunya, Abu Hanifah. Abu Hanifah mengirimkan kepadnya seseorang yang bertanya tentang lima masalah pelik yang jawabannya perlu penjelasan yang detail. Abu Yusuf salah menjawab dan ia menyadari kesalahannya lantaran berpisah dari gurunya. Maka kembali ke halaqah gurunya. Abu Hanifah berkata kepadanya, “Engkau mengisi sebelum dirimu penuh, engkau mengajar sebelum pandai. Barangsiapa merasa tidak perlu lagi belajar, maka hendaklah ia mengisi dirinya!”

Tatkala sekolah-sekolah didirikan, siswa-siswa yang menamatkan pelajarannya di situ mulai mendapatkan ijazah keilmuan yang diberikan oleh Syaikh sekolah (menyerupai ijazah-ijazah ilmiah pada jaman kita sekarang). Para dokter belum memperoleh ijazah ini dari dokter ahli di sekolah. Para pengajar biasanya punya lambang khusus yang membedakan mereka dari karyawan-karyawan. Lambang mereka pada masa Abu Yusuf adalah sorban hitam dan jubah hijau, sedang masa dinasti Fathimiyah adalah sorban hijau dan pakaian keemasan yang terbentuk dari enam potong, yng terpenting di antaranya adalah kopiah dan zailasan.

Jubah yang menjadi ciri khas ulama dan pengajar mulai muncul pada masa dinasti Umayyah. Pakaian mereka di Andalus sedikit berbeda dari pakaian para ulama dan pengajar di Masyriq. Ciri terpenting yang membedakan mereka adalah sorban yang kecil. Kadang-kadang seorang ulama tidak mengenakan sorban sehingga Abu Ali Al Qali, guru besar bahasa yang masyhur; ketika tiba di Andalus dari Masyriq dan akan disambut oleh para ulamanya, telah membuat orang banyak tercengang karena ia mengenakan sorban yang besar di kepalanya. Anak-anak kecil dan orang-orang bodoh malah melemparinya dengan kerikil untuk mengejek dan mencemoohnya. Orang-orang Barat meniru busana guru dan pengajar di Andalus. Busana ini merupakan asal busana ilmiah yang sekarang dikenal di peguruan-peguruan tinggi Eropa.

Para guru juga mempunyai serikat (seperti serikat mahasiswa, serikat bangsawan, serikat buruh pada masa itu). Sekelompok pengajar memilih sendiri ketuanya. Sultan tidak ikut campur dalam pemilihan ini kecuali jika terjadi perselisihan di antara para anggotanya (untuk mendamaikan).

Abu Syamah meriwayatkan dalam Ar Raudhatain dari Maqladad Daula’i. Katanya, Ketika Al Hafiz Al Muradi wafat, pada waktu itu kami adalah sekelompok fuqaha yang terbagi menjadi dua, Arab dan Kurdi. Di antara kami ada yang condong kepada mazhab dan ingin mengundang Syaikh Syarafuddin bin Abu Ashrun, dan ada pula yang condong kepada ilmu nalar dan perbedaan pendapat. Mereka ingin mengundang Quthbuddin dan An Naisaburi. Maka timbullah fitnah di kalangan fuqaha lantaran hal itu. Nuruddin, pemilik madrasah tersebut mendengar keributan itu. Maka ia mengundang kedua fuqaha tersebut. Majduddin bin Dayah sebagai wakil Nuruddin ke luar menghadapi mereka. Ia berkata, “Kami membangun sekolah-sekolah ini hanya dengan maksud ingin menyebarkan ilmu dan menolak bid`ah-bid`ah, sedang yang terjadi di antara kalian ini sengguh tidak baik dan tidak pantas.” Pemimpin kita (Nuruddin) menginginkan kedua kelompok ini berdamai dan mengundang Syaikhnya masing-masing. Maka kedua Syaikh itu pun di panggil. Syarafuddin memimpin madrasah yang diberi nama dengan namanya, sedang Qutbuddin memimpin madrasah An Nafari.

Madrasah-madrasah seperti ini, khususnya lembaga-lembaga tinggi, telah memenuhi kota-kota dunia Islam dari ujung ke ujung. Sejarah menuturkan dengan penuh pengagungan terhadap sejumlah pemimpin kaum muslimin yang berjasa dalam mendirikan sekolah-sekolah di berbagai kota, antara lain Salahuddin Al Ayyubi. Ia mendirikan sekolah-sekolah di seluruh kota yang berada di bawah kekuasaannya di Mesir, Damaskus, Mausil dan Baitul Maqdis. Kemudian Nuruddin As Syahid, di Suriah saja mendirikan empat belas lembaga pendidikan, antara lain enam di Damaskus, empat di Haleb, dua di Hamah, dua di Hams, dan satu di Ba’albak.

Nizhamul Mulk, Wazir Seljuk yang Agung, juga memenuhi negeri di setiap kota di Irak dan Khurasan ia memiliki satu sekolah. Nizhamul Mulk mendidirikan sekolah-sekolah kendati di tempat-tempat terpencil. Di jazirah Ibnu Amr ia mendirikan sebuah sekolah yang besar dan indah. Setiap kali menjumpai seorang alim yang piawai dan luas ilmunya si suatu megeri maka ia membangunkan sekolah untuk orang alim itu. Ia mewakafkan tanah untuk sekolah itu dan juga mendirikan perpustakaan di dalamnya.

Madrasah Nizhamiyah Baghdad adalah Madrasah Nizhamiyah yang paling utama dan penting. Tokoh-tokoh ulama kaum muslimin antara abad ke-5 dan ke-9 Hijriah banyak yang belajar di situ. Jumlah mahasiswanya mencapai 6,000 orang. Di antara mereka ada putera pembesar tertinggi kerajaan dan ada pula putera buruh paling miskin. Semua mahasiswa di situ belajar dengan gratis. Bagi siswa yang miskin bahkan lebih dari itu. Mereka mendapat tunjangan tertentu yang diambilkan dari dana khusus untuk keperluan tersebut.

Di samping para pembesar, para amir, hartawan dan saudagar juga berlomba-lomba membangun sekolah-sekolah. Mereka menyerahkan wakaf untuk keperluan tersebut sehingga terjamin kelanngsungan sekolah dan kecondongan siswa untuk belajar di situ. Di antara mereka banyak sekali yang menjadikan rumah-rumahnya sebagai sekolah. Buku-buku dan harta benda mereka juga di wakafkan untuk para siswa yang belajar di situ. Dengan begitu, banyak sekali sekolah, terutama di Masyriq. Jumlahnya sangat mencengangkan. Ibnu Jabir, seorang pengembara Andalus sangat tercengang dengan fenomena yang dilihatnya di Masyriq. Begitu banyak sekolah dan berbagai hasil bumi yang dihasilkan oleh badan-badan wakaf di situ. Maka  ia mengajak orang-orang Magrib mengembara ke Masyrq untuk menuntut ilmu.

Ia berkata, “Telah banyak wakaf-wakaf yang disediakan untuk para penuntut ilmu di negeri-negeri Masyriq, terutama di Damaskus. Barangsiapa di antara putera-putera Magrib menginginkan keberuntungan maka peergilah ke negeri-negeri ini. Ia pasti memperoleh hal-hal yang membantunya untuk menuntut ilmu, antara lain yang pertama adalah tidak perlu memikirkan soal penghidupan.”

Kesaksian Ibnu Jabir ini berharga sekali. Ia pengembara yang dicirikan oleh kebenaran dan kejujuran dalam perkataannya. Ibnu Jabir mengkhususkan Damaskus dengan banyaknya sekolah dan wakaf, dan memang begitulah kenyataan sejarah kita dalam kurun waktu yang panjang. Di Damaskus ada lebih dari 400 buah sekolah yang ramai didatangi para pelajar. Jika datang ke Damaskus, siswa asing dapat tinggal setahun di situ. Di setiap sekolah ia tidak tidur kecuali hanya malam. Bahkan Imam Nawawi (Wafat 676 H) tidak pernah makan buah-buahan Damaskus sudah merupakan wakaf-wakaf untuk pembangunan sekolah dan masjid.Sekolah-sekolah mempunyai banyak spesialisasi. Ada sekolah-sekolah yang khusus mengajarkan Al Qur`an, tafsir, penghafalan dan qiraat-nya. Ada sekolah-sekolah yang khusus mempelajari hadits. Juga ada sekolah yang khusus memperdalam fiqh (ini yang paling banyak). Bahkan di setiap mazhab mempunyai sekolah sendiri-sendiri. Ada sekolah-sekolah untuk pengobatan (kedoteran), dan sekolah untuk anak-anak yatim.

An Nuaimi, ulama abad ke-10 Hijriah menyebutkan sebuah bukti tentang nama sekolah-sekolah Damaskus dan wakaf-wakafnya. Dari Nuaimi kita dapat mengetahui bahwa di Damaskus saja ada 7 sekolah Ilmu Al Qur`an, 16 sekolah Hadits, 3 sekolah Qur`an dan Hadits, 63 sekolah fiqh Syafi`i, 52 sekolah fiqh Hanafi, 4 sekolah fiqh Maliki, dan 11 sekolah fiqh Hanbali. Selain itu ada sekolah-sekolah kedokteran, asrama, langgar dan masjid. Semua menjadi tempat menuntut ilmu. Pada masa-masa itu kondisi orang-orang Barat diliputi kebodohan. Buta huruf merajalela sehingga tidak ada tempat bagi ilmu kecuali biara-biara para pendeta yang hanya terbatas bagi mereka semata. Maka kita bisa memahami sejauh mana keagungan yang dicapai umat kita pada puncak kejayaannya. Betapa cemerlang peradaban kita dalam sejarah badan-badan sosial dan lembaga-lembaga keilmuan. Juga betapa besar jasa Islam dalam menyebarkan ilmu, dalam mengangkat martabat kebudayaan umum dan dalam meluruskan jalan-jalannya bagi seluruh putera bangsa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>