Sikap Ahlus Sunnah Terhadap Asma’ul Husna dan Shifat Al ‘Ulya (1)

Farid Nu'man Hasan

Secara umum, sikap Ahlus Sunnah wal Jama’ah terhadap nama-nama Allah dan sifat-saifatNya, terbagi atas tiga bagian, yakni tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash), tafwidh (menyerahkan maknanya kepada Allah Ta’ala), dan ta’wil (memberikan maknanya). Bukan tahrif (menyimpangkan/merubah), ta’thil (menafikan/mengingkari), dan tasybih (menyerupakan dengan makhluk).

Dalam Fathul BariAl Imam Ibnu Hajar mengutip ucapan Ibnul Munayyar sebagai berikut:

وَلِأَهْلِ الْكَلَام فِي هَذِهِ الصِّفَات كَالْعَيْنِ وَالْوَجْه وَالْيَد ثَلَاثَة أَقْوَال : أَحَدهَا أَنَّهَا صِفَات ذَات أَثْبَتَهَا السَّمْع وَلَا يَهْتَدِي إِلَيْهَا الْعَقْل ، وَالثَّانِي أَنَّ الْعَيْن كِنَايَة عَنْ صِفَة الْبَصَر ، وَالْيَد كِنَايَة عَنْ صِفَة الْقُدْرَة ، وَالْوَجْه كِنَايَة عَنْ صِفَة الْوُجُود ، وَالثَّالِث إِمْرَارهَا عَلَى مَا جَاءَتْ مُفَوَّضًا مَعْنَاهَا إِلَى اللَّه تَعَالَى

Bagi Ahli kalam, tentang sifat-sifat ini seperti ‘mata’, ‘wajah’, ‘tangan’, terdapat tiga pendapat:

Pertama, sifat-sifat Allah adalah dzat yang ditetapkan oleh pendengaran (wahyu) dan tidak mampu bagi akal untuk mengetahuinya.

Kedua, bahwa ‘mata’ adalah kinayah (kiasan) bagi penglihatan, ‘tangan’ adalah kinayah dari kekuatan, dan ‘wajah’ adalah kinayah dari sifat wujud.

Ketiga, melewatinya sebagaimana datangnya, dan menyerahkan (mufawwadha) maknanya kepada Allah Ta’ala.[1]

Apa yang dikatakan Al Hafizh Ibnu Hajar ini, menunjukkan bahwa pada masa lalu, para ulama memaknai sifat-sifat Allah Ta’ala menjadi tiga metode: Pertamatatsbit.  Kedua, ta’wil.  Ketigatafwidh. Namun, di antara tiga metode ini, ta’wil adalah metode yang paling jarang mereka lakukan, karena kehati-hatian kaum salaf pada saat itu.

Namun, sebagian kalangan mengklaim bahwa sikap Ahlus Sunnah yakni Salafus Shalih hanya satu yakni tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash). Ada pula yang mengatakan bahwa salaf itu melakukan tafwidh, dan ini masyhur kata mereka. Ada pula yang mengatakan kaum salaf itu melakukan ta’wil, dan mereka punya bukti dan contoh dari para sahabat untuk itu. Dan masing-masing mereka membela pemahamannya, sambil menyerang yang lainnya, bahkan sampai taraf  tafsiq (saling memfasikan) dan takfir  (saling mengkafirkan). Mereka saling mengeluarkan yang lain telah keluar dari madzhab Ahlus Sunnah.

Kelompok tatsbit, menganggap para pelaku ta’wil telah melakukan bid’ah, dan mereka menjulukinya dengan kaum Asy’ariyah. Sementara, para pelaku ta’wil menganggap bahwa pihak tatsbit telah  menganggap Allah Ta’ala serupa dengan makhluk (tasybih) dan memiliki jasad (tajsim) karena menetapkan (itsbat) bahwa Allah Ta’ala memiliki kaki, tangan, wajah, dan bersemayam. Sebab, ini semua layak disandarkan kepada makhluk, bukan khaliq. Lalu –lucunya- keduanya sama-sama mengklaim memiliki sandaran dari para  salaf.

Padahal apa yang mereka pahami semua, sama-sama memiliki dasar dari para salafush shalih, serta memiliki tujuan mulia, yakni menghindari dan melindungi kesucian sifat-sifatNya dari  pemahaman menyimpang  orang-orang awam, setelah Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia yang tidak berbahasa Arab. Perbedaan mereka seharusnya  tidaklah mencolok, tidak dibenarkan untuk saling mengkafirkan,  sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah, Imam As Syathibi, Imam Al Laqqani dan Imam Hasan Al Banna Rahimahumullah.

Imam Ibnu Taimiyah Rahimahullah mengomentari fenomena saling mengkafirkan dan memfasikkan ini dengan mengatakan:

هَذَا مَعَ أَنِّي دَائِمًا وَمَنْ جَالَسَنِي يَعْلَمُ ذَلِكَ مِنِّي : أَنِّي مِنْ أَعْظَمِ النَّاسِ نَهْيًا عَنْ أَنْ يُنْسَبَ مُعَيَّنٌ إلَى تَكْفِيرٍ وَتَفْسِيقٍ وَمَعْصِيَةٍ ، إلَّا إذَا عُلِمَ أَنَّهُ قَدْ قَامَتْ عَلَيْهِ الْحُجَّةُ الرسالية الَّتِي مَنْ خَالَفَهَا كَانَ كَافِرًا تَارَةً وَفَاسِقًا أُخْرَى وَعَاصِيًا أُخْرَى وَإِنِّي أُقَرِّرُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ خَطَأَهَا : وَذَلِكَ يَعُمُّ الْخَطَأَ فِي الْمَسَائِلِ الْخَبَرِيَّةِ الْقَوْلِيَّةِ وَالْمَسَائِلِ الْعَمَلِيَّةِ . وَمَا زَالَ السَّلَفُ يَتَنَازَعُونَ فِي كَثِيرٍ مِنْ هَذِهِ الْمَسَائِلِ وَلَمْ يَشْهَدْ أَحَدٌ مِنْهُمْ عَلَى أَحَدٍ لَا بِكُفْرِ وَلَا بِفِسْقِ وَلَا مَعْصِيَةٍ

“Ini adalah selalu menjadi pendapat saya, dan orang yang bermajelis dengan saya pasti tahu itu: Sesungguhnya saya adalah termasuk manusia yang paling keras melarang untuk menyandarkan seseorang secara spesifik kepada hukum kafir, fasik, dan maksiat, kecuali jika telah diketahui bahwa dia telah diberikan hujjah Islam yang siapa pun berselisih dengannya maka dia kafir, fasik, dan telah bermaksiat. Aku tekankan, sesungguhnya Allah telah mengampuni kesalahan umat ini: yang demikian itu kesalahan secara umum, baik itu permasalahan khabariyah (sifat-sifat Allah, pen), ucapan, atau perbuatan. Para salaf senantiasa berselisih dalam banyak permasalahan ini. Namun tidaklah menyaksikan mereka terhadap yang lainnya saling mengkafirkan, memfasikan dan menyebut telah berbuat maksiat.”[2]

Imam Al Laqqani Rahimahullah mengatakan, sebagaimana dikutip oleh Imam Al Alusi:

قال اللقاني : أجمع الخلف ويعبر عنهم بالمؤولة والسلف ويعبر عنهم بالمفوضة على تنزيهه تعالى عن المعنى المحال الذي دل عليه الظاهر وعلى تأويله وإخراجه عن ظاهره المحال وعلى الإيمان به بأنه من عند الله تعالى جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم وإنما اختلفوا في تعيين محمل له معنى صحيح وعدم تعيينه بنا

Al Laqqani berkata, “Kaum khalaf -sering disebut orang-orang yang melakukan takwil- dan kaum salaf- sering disebut sebagai orang yang melakukantafwidh- telah sepakat untuk mensucikan  Allah dari lafaz literal (tekstual) yang mustahil bagi Allah, menakwil dan mengeluarkan dari lafaz literal yang mustahil, serta mengimani bahwa hal itu adalah dari Allah yang diturunkan kepada Rasulullah. Mereka hanya berbeda dalam menentukan atau tidak menentukan mana yang benar.”[3]

Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah juga mengatakan seperti yang dikatakan Imam Ibnu Taimiyah, sebagai berikut:

ونعتقد إلى جانب هذا أن تأويلات الخلف لا توجب الحكم عليهم بكفر ولا فسوق ، ولا تستدعي هذا النزاع الطويل بينهم وبين غيرهم قديما وحديثا ، وصدر الإسلام أوسع من هذا كله .

وقد لجأ أشد الناس تمسكا برأي السلف ، رضوان الله عليهم ، إلى التأويل في عدة مواطن ، وهو الإمام أحمد بن حنبل رضي الله عنه ، من ذلك تأويله لحديث : (الحجر الأسود يمين الله في أرضه) وقوله صلى الله عليه وسلم :(قلب المؤمن بين إصبعين من أصابع الرحمن) وقوله صلى الله عليه وسلم : (إني لأجد نفس الرحمن من جانب اليمن) .

“Bersamaan ini, kami juga meyakini bawah ta’wil – ta’wil kaum khalaf tidaklah mengharuskan jatuhnya hukum kafir dan fasik kepada mereka, dan jangan sampai terjadi pertentangan berkepanjangan di antara mereka dan selain mereka, baik yang terdahulu dan sekarang, dada Islam lebih luas dari itu semua.

Orang yang paling kuat dalam memegang pendapat salaf –semoga Allah meridhai mereka- pun telah melakukan ta’wil pada beberapa tempat, dia adalah Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu. DI antaranya adalah ta’wilnya terhadap hadts: “Hajar Aswad adalah Tangan Kanan Allah di muka bumi.” Dan hadits lainnya: “Hati seorang mu’min berada di antara dua jari dari jari-jari Ar Rahman.” Dan hadits: “Sesungguhnya saya mendapatkan Zat Ar Rahman dari arah Yaman.”[4]

Sikap Pertama: Tatsbit (Menetapkan Apa Adanya Sesuai Zhahir Nash)

Berkata Al Ustadz Hasan Al Banna Rahimahullah:

أما السلف رضوان الله عليهم فقالوا: نؤمن بهذه الآيات والأحاديث كما وردت ، ونترك بيان المقصود منها لله تبارك وتعالى , فهم يثبتون اليد والعين والأعين والاستواء والضحك والتعجب… الخ , وكل ذلك بمعانٍ لا ندركها , ونترك لله تبارك وتعالى الإحاطة بعلمها , ولاسيما و قد نهينا عن ذلك في قول النبي صلى الله عليه وسلم : (تفكروا في خلق الله , و لا تتفكروا في الله , فإنكم لن تقدروا قدره ) .

“Ada pun salaf –semoga Allah meridhai mereka semua – mengatakan: Kami mengimani ayat-ayat dan hadits-hadits ini sebagaimana datangnya, dan kami membiarkan maksud penjelasannya   kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala, mereka itsbat (menetapkan) tangan, mata, bersemayam , tertawa, dan takjub .. dan seterusnya, dan semua ini dengan makna-makan yang kami tidak mampu mencapainya, dan kami serahkan kepada  Allah Tabaraka wa Ta’ala tentang cakupkan pengertianNya, dan apalagi kami telah dilarang dalam hal ini sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: Berpikirlah tentang ciptaan Allah, jangan kalian berpikir tentang zat Allah, sesungguhnya kalian tidak akan mampu menjangkaunya.”[5]

Syaikh Hasan Al Banna memberikan informasi kepada kita bahwa sikap salaf terhadap ayat dan hadits-hadits yang berbicara sifat-sifat Allah Ta’ala, adalah tatsbit yakni menetapkan maknanya apa adanya sesuai sebagaimana datangnya ayat. Hal ini juga ditetapkan oleh Imam lainnya.

Imam Ibnu Taimiyah mengutip dari Imam Al Baihaqi Rahimahullah sebagai berikut:

أَمَّا الْمُتَقَدِّمُونَ مِنْ هَذِهِ الْأَمَةِ فَإِنَّهُمْ لَمْ يُفَسِّرُوا مَا كَتَبْنَا مِنْ الْآيَاتِ وَالْأَخْبَارِ فِي هَذَا الْبَابِ ؛ وَكَذَلِكَ قَالَ فِي ” الِاسْتِوَاءِ عَلَى الْعَرْشِ ” وَسَائِرِ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ ؛ مَعَ أَنَّهُ يَحْكِي قَوْلَ بَعْضِ الْمُتَأَخِّرِينَ . وَقَالَ الْقَاضِي أَبُو يَعْلَى فِي كِتَابِ ” إبْطَالِ التَّأْوِيلِ ” لَا يَجُوزُ رَدُّ هَذِهِ الْأَخْبَارِ وَلَا التَّشَاغُلُ بِتَأْوِيلِهَا وَالْوَاجِبُ حَمْلُهَا عَلَى ظَاهِرِهَا وَأَنَّهَا صِفَاتُ اللَّهِ لَا تُشْبِهُ صِفَاتِ سَائِرِ الْمَوْصُوفِينَ بِهَا مِنْ الْخَلْقِ ؛ وَلَا يَعْتَقِدُ التَّشْبِيهَ فِيهَا ؛ لَكِنْ عَلَى مَا رُوِيَ عَنْ الْإِمَامِ أَحْمَد وَسَائِرِ الْأَئِمَّةِ . وَذَكَرَ بَعْضَ كَلَامِ الزُّهْرِيِّ وَمَكْحُولٍ وَمَالِكٍ وَالثَّوْرِيِّ والأوزاعي وَاللَّيْثِ وَحَمَّادِ بْنِ زَيْدٍ وَحَمَّادِ بْنِ سَلَمَةَ وَسُفْيَانَ بْنِ عيينة والفضيل بْنِ عِيَاضٍ وَوَكِيعٍ وَعَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ مَهْدِيٍّ وَالْأُسُودِ بْنِ سَالِمٍ وَإِسْحَاقَ بْنِ راهويه وَأَبِي عُبَيْدٍ وَمُحَمَّدِ بْنِ جَرِيرٍ الطبري وَغَيْرِهِمْ فِي هَذَا الْبَابِ .

“Ada pun para pendahulu umat ini, mereka tidak menafsirkan apa yang kami tulis berupa ayat atau khabar (hadits) dalam masalah ini, begitu pula ayat tentang: “bersemayam di atas ‘arys” dan seluruh sifat khabariyah, “ beliau juga menceritakan ucapan sebagian ulama belakangan tentang masalah ini. Al Qadhi Abu Ya’ala mengatakan dalam kitab Ibthalul Ta’wil: “Tidak boleh menolak khabar (hadits) ini dan tidak disibukkan menta’wilnya dan wajib membawa (makna)nya kepada zhahirnyasesungguhnya sifat-sifat Allah Ta’ala tidaklah serupa dengan semua sifat-sifat yang disandarkan kepada makhluk, dan tidak boleh meyakini di dalamnya terdapat tasybih, tetapi seperti apa yang diriwayatkan dari Imam Ahmad dan semua Imam lainnya.”

Beliau (Al Baihaqi) juga menyebut sebagian ucapan dari Az Zuhair, Mak-hul, Malik, Ats Tsauri, Al Auza’i, Laits bin Sa’ad, Hammad bin Zaid, Hammad bin Salamah, Sufyan bin  ‘Uyainah, Al Fudhail,  Al Waki, Abdurrahman bin Mahdi,  Al Aswad bin Salim, Ishaq bin Rahawaih,  Abu ‘Ubaidah, Muhammad bin Jarir Ath Thabari, dan lain-lain, tentang permasalahan ini.”[6]

Al Hafizh Ibnu Hajar Al Asqalani mengutip dari Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi sebagai berikut:

أَخْبَرَ اللَّه فِي كِتَابه وَثَبَتَ عَنْ رَسُوله الِاسْتِوَاء وَالنُّزُول وَالنَّفْس وَالْيَد وَالْعَيْن ، فَلَا يُتَصَرَّف فِيهَا بِتَشْبِيهٍ وَلَا تَعْطِيل ، إِذْ لَوْلَا إِخْبَار اللَّه وَرَسُوله مَا تَجَاسَرَ عَقْل أَنْ يَحُوم حَوْل ذَلِكَ الْحِمَى ، قَالَ الطِّيبِيُّ : هَذَا هُوَ الْمَذْهَب الْمُعْتَمَد وَبِهِ يَقُول السَّلَف الصَّالِح

Berkata Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi dalam kitabnya ‘Al Aqidah’ : “Allah telah mengabarkan dalam Al Quran dan Rasul juga telah menetapkan tentang  bersemayam, turun, jiwa, tangan, dan mata. Itu semua tidak boleh disikapi dengan penyerupaan dan tidak pula pengingkaran. Jikalau tidak dikabarkan oleh Allah dan RasulNya, maka akal pun tidak boleh lancang untuk menerka-nerkanya.” Berkata Ath Thayyibi: “Inilah madzhab yang kuat, yang merupakan pendapat salafus shalih.”[7]

Apa yang dikatakan Syaikh Syihabuddin As Sahrawardi ini mirip dengan apa yang dikatakan oleh Al Ustadz Hasan Al Banna.

Imam Malik Radhiallahu ‘Anhu ditanya tentang hadits-hadits sifat, dia menjawab:

أمرها كما جاءت، بلا تفسير

“Biarkan saja sebagaimana datangnya, jangan tafsirkan.”[8]

Imam Malik juga berkata:

 مَنْ وَصَفَ شَيْئًا مِنْ ذَاتِ اللَّهِ مِثْلَ قَوْلِهِ { وَقَالَتْ الْيَهُودُ يَدُ اللَّهِ مَغْلُولَةٌ } فَأَشَارَ بِيَدِهِ إلَى عُنُقِهِ ، وَمِثْلُ قَوْلِهِ { وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ } فَأَشَارَ إلَى عَيْنِهِ وَأُذُنِهِ أَوْ شَيْئًا مِنْ يَدَيْهِ قُطِعَ ذَلِكَ مِنْهُ لِأَنَّهُ شَبَّهَ اللَّهَ بِنَفْسِهِ ، ثُمَّ قَالَ مَالِكٌ : أَمَا سَمِعْت قَوْلَ الْبَرَاءِ حِينَ حَدَّثَ { أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – لَا يُضَحِّي بِأَرْبَعٍ مِنْ الضَّحَايَا وَأَشَارَ الْبَرَاءُ بِيَدِهِ كَمَا أَشَارَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – قَالَ الْبَرَاءُ وَيَدَيَّ أَقْصَرُ مِنْ يَدِ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ } فَكَرِهَ الْبَرَاءُ أَنْ يَصِفَ يَدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – إجْلَالًا لَهُ وَهُوَ مَخْلُوقٌ فَكَيْفَ الْخَالِقُ الَّذِي لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ انْتَهَى .

“Barangsiapa yang mensifati Zat Allah Ta’ala dengan sesuatu, misal firmanNya: “Orang Yahudi berkata tangan Allah terbelenggu” lalu dia mengisyaratkan tangannya ke lehernya, menyilangkan tangannya, dan demikian msalnya kata ‘Mendengar’, ‘Melihat’,  dia mengisyaratkan tangannya ke telinga, mata, atau sebagian dari kedua tangannya, maka ia telah melakukan kesalahan, karena dia telah menyerupakan Allah Ta’ala dengan dirinya.”

Lalu Malik berkata: “Tidakkah kau dengan ucapan Al Barra’ ketika dia berkata: Sesungguhnya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidaklah berkurban dengan empat kurban, dia mengisyaratkan dengan  tangannya sebagaimana Nabi mengisyaratkan dengan tangannya. Al Barra berkata: Tanganku lebih pendek dari tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Maka, Al Barra tidak suka menyifati tangan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam sebagai penghormatan terhadapnya, padahal Nabi adalah makhluk. Maka, bagaimana dengan Al Khaliq yang tiada satu pun yang serupa denganNya?”[9]

Berkata Imam  Ash Shabuni, dalam kitab Aqidah As Salaf wa Ashab Al Hadits, sebagaimana yang dikutip dalam catatan kaki kitab I’tiqad Aimmah Al Hadits:

وجاء ربك والملك صفا صفا ونؤمن بذلك كله على ما جاء

“Dan Datanglah Rabmu dan Malaikat bershaf-shaf,”  dan kami mengimaninya semuanya sebagaimana datangnya.[10]

Ketika mengomentari surat Al A’raf ayat 54, “Tsummastawa ‘alal ‘arsy.” Imam Ibnu Katsir berkata:

وإنما يُسلك في هذا المقام مذهب السلف الصالح: مالك، والأوزاعي، والثوري،والليث بن سعد، والشافعي، وأحمد بن حنبل، وإسحاق بن راهويه وغيرهم، من أئمة المسلمين قديما وحديثا، وهو إمرارها كما جاءت من غير تكييف ولا تشبيه ولا تعطيل

Sesungguhnya cara yang ditempuh oleh madzhab salafus shalih dalam hal ini, seperti Malik, Al Auza’i, Ats Tsauri, Al Laits bin Sa’ad, Asy Syafi’i, Ahmad bin Hambal, Ishaq bin Rahawaih, dan lain-lain, dari kalangan Imam muslimin baik dahulu maupun sekarang. Mereka membiarkan  sebagaimana datangnya dengan tanpa bertanya bagaimana, tanpa menyerupakan, dan tanpa mengingkari.[11]

Imam Abul Hasan Al Asy’ari sendiri mengikuti madzhab tatsbit sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Taimiyah:

وَأَمَّا الْأَشْعَرِيُّ نَفْسُهُ وَأَئِمَّةُ أَصْحَابِهِ فَلَمْ يَخْتَلِفْ قَوْلُهُمْ فِي إثْبَاتِ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَفِي الرَّدِّ عَلَى مَنْ يَتَأَوَّلُهَا كَمَنْ يَقُولُ : اسْتَوَى بِمَعْنَى اسْتَوْلَى . وَهَذَا مَذْكُورٌ فِي كُتُبِهِ كُلِّهَا كَ ” الْمُوجَزِ الْكَبِيرِ ” وَ ” الْمَقَالَاتِ الصَّغِيرَةِ وَالْكَبِيرَةِ ” وَ ” الْإِبَانَةِ ” وَغَيْرِ ذَلِكَ . وَهَكَذَا نَقَلَ سَائِر النَّاسِ عَنْهُ حَتَّى الْمُتَأَخِّرُونَ كَالرَّازِيَّ وَالْآمِدِيَّ يَنْقُلُونَ عَنْهُ إثْبَاتَ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةِ وَلَا يَحْكُونَ عَنْهُ فِي ذَلِكَ قَوْلَيْنِ .

“Ada pun Al Asy’ari sendiri dan juga para imam yang mengikutinya, mereka tidaklah berbeda pendapat  dalam menetapkan (itsbat) sifat-sifat khabariyah dan dalam membantah orang-orang yang menta’wilkannya, seperti orang yang mengatakan: istawa (bersemayam) maknanya adalah istawla (menguasai). Ini disebutkan dalam semua kitabnya, seperti Al Mujazi Al KabirAl Maqallat Ash Shaghirah wal Kabirah, dan Al Ibanah,  dan yang lainnya. Dan seperti itulah semua manusia mengutip darinya, sampai generasi muta’akhirun (belakangan) seperti Ar Razi dan Al Amidi, mengutip  darinya tentang itsbat (penetapan) terhadap sifat-siifat khabariyah, dan tidak diceritakan darinya tentang hal ini adanya dua pendapat.”[12]

Sementara Imam Ibnu Furak, salah satu pengikut Imam Al Asy’ari,  juga melakukan tatsbit, sebagaimana yang dikatakan Syaikhul Islam.

فَصْلٌ هَذَا مَعَ أَنَّ ابْنَ فورك هُوَ مِمَّنْ يُثْبِتُ الصِّفَاتِ الْخَبَرِيَّةَ كَالْوَجْهِ وَالْيَدَيْنِ وَكَذَلِكَ الْمَجِيءُ وَالْإِتْيَانُ . مُوَافَقَةً لِأَبِي الْحَسَنِ فَإِنَّ هَذَا قَوْلُهُ وَقَوْلُ مُتَقَدِّمِي أَصْحَابِهِ

“Pembahasan ini tentang Ibnu Furak, dia termasuk diantara yang menetapkan sifat-sifat khabariyah seperti wajah, dua tangan, dan seperti itulah maknanya sebagaimana datangnya. Sesuai  dengan Abul Hasan, dan sesungguhnya ini adalah pendapatnya dan pendapat para pendahulu dari sahabat-sahabatnya.”[13]

Imam Muhammad bin Al Hasan Rahimahullah -beliau adalah murid Imam Abu Hanifah- mengatakan:

اتفق الفقهاء كلهم من المشرق إلى المغرب على الإيمان بالقرآن والأحاديث التي جاء بها الثقات في صفة الرب عز وجل من غير تفسير ولا وصف ولا تشبيه، فمن فسر اليوم شيئا من ذلك فقد خرج مما كان عليه النبي صلى الله عليه وسلم وفارق الجماعة، فإنهم لم يصفوا ولم يفسروا ولكن أفتوا بما في الكتاب والسنة ثم سكتوا

“Seluruh ahli fiqih sepakat, baik timur dan barat, tentang keimanan terhadap ayat-ayat dan hadits-hadits tentang sifat Allah ‘Azza wa Jalla yang telah diriwayatkan dari orang terpercaya, tanpa tafsir (interpretasi), washf (menyifati dengan sifat yang tidak layak), tasybih (merupai dengan makhluk), barang siapa yang hari ini melakukan penafsiran, maka dia telah keluar dari jalan yang tempuh oleh Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan berpisah dari jamaah. Demikian itu, karena mereka tidak pernah mensifati, tidak menafsirkan, tetapi mereka menerangkan dengan apa-apa yang ada dalam Al Quran dan As Sunnah, lalu diam.”[14]

Al Khalal berkata: telah mengabarkanku Ali bin ‘Isa bahwa Hambal berkata kepada mereka: “Aku bertanya kepada Abu Abdillah (Imam Ahmad bin Hambal) tentang hadits yang meriwayatkan bahwa ‘Allah Ta’ala turun ke langit dunia’, ‘Allah melihat’, ‘Allah meletakkan kakiNya’ , dan hadits-hadits semisalnya?

Imam Ahmad bin Hambal Radhiallahu ‘Anhu menjawab:

نؤمن بها ونصدق بها، ولا نَرُدُّ منها شيئاً، ونعلم أن ما جاء به رسول الله صلى الله عليه وسلم حق إذا كانت أسانيد صحاح، ولا نرد على الله قوله، ولا يوصف بأكثر مما وصف به نفسه بلا حد ولا غاية ” لَيْسَ كَمِثْلِهِ شيءٌ وَهُوَ السّمِيع البَصيرُ

“Kami mengimaninya dan membenarkannya, kami tidak membantahnya sama sekali, dan kami mengetahui bahwa apa-apa yang datang dari RasulullahShallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah benar, jika sanadnya shahih, dan kami tidaklah membantah firmanNya, dan kami tidaklah mensifatiNya lebih banyak dari Dia sifatkan terhadap diriNya, dengan tanpa batas, dan tanpa ujung. “Tidak ada yang serupa denganNya, dan Dia Maha Mendengar dan Maha Melihat.”[15]

Apa yang dikatakan oleh Iman Ahmad bin Hambal ini mirip dengan yang dikatakan oleh Imam Hasan Al Banna, berikut:

ومعرفة الله تبارك وتعالى وتوحيده وتنزيهه أسمى عقائد الإسلام ، وآيات الصفات وأحاديثها الصحيحة وما يليق بذلك من التشابه , نؤمن بها كما جاءت من غير تأويل ولا تعطيل , ولا نتعرض لما جاء فيها من خلاف بين العلماء , ويسعنا ما وسع رسول الله صلى الله عليه وسلم وأصحابه (وَالرَّاسِخُونَ فِي الْعِلْمِ يَقُولُونَ آمَنَّا بِهِ كُلٌّ مِنْ عِنْدِ رَبِّنَا) (آل عمران:7)

“Ma’rifah kepada Allah Tabaraka wa Ta’ala dan mengesakanNya, serta mensucikan zatNya merupakan setinggi-tingginya aqidah Islam. dan Ayat-ayat sifat serta hadits-hadits shahih tentangnya, serta berbagai keterangan mutasyabihat tentangnya, kita mengimaninya sebagaimana datangnya tanpa ta’wil dan tanpa ta’thil (mengingkari), serta tidak mempertajam perselsihan yang terdapat pada ulama, kita telah melapangkan diri sebagaimana   Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Salam dan sahabatnya telah melapangkan.

“Dia-lah yang menurunkan Al kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur’an dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyabihat daripadanya untuk menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta’wilnya, Padahal tidak ada yang mengetahui ta’wilnya melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: “Kami beriman kepada ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami.” (QS. Ali Imran (3): 7)[16]

Oleh karena itu, jalan yang mereka tempuh adalah jalan yang benar, sebagaimana yang dikatakan oleh Imam Ibnu Katsir berikut:

فمن أثبت لله تعالى ما وردت به الآيات الصريحة والأخبار الصحيحة، على الوجه الذي يليق بجلال الله تعالى، ونفى عن الله تعالى النقائص، فقد سلك سبيل الهدى.

“Maka, siapa saja yang menetapkan Allah Ta’ala sebagaimana  yang dijelaskan oleh ayat-ayat yang terang dan hadits-hadits yang shahih, sesuai dengan hal yang  pantas bagi keagungan Allah Ta’ala, dan meniadakan kekurangan bagiNya, maka dia telah menumpuh jalan pentunjuk.”[17]

Abdul Aziz bin Abdullah bin Abi Salamah Al Majisyun mengatakan – sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Bakar Al Atsram, Abu Amr Ath Thalmanki, Abu Abdillah bin Baththah, dengan pembahasan yang cukup panjang, hingga akhirnya dia berkata:

فَمَا وَصَفَ اللَّهُ مِنْ نَفْسِهِ فَسَمَّاهُ عَلَى لِسَانِ رَسُولِهِ سَمَّيْنَاهُ كَمَا سَمَّاهُ وَلَمْ نَتَكَلَّفْ مِنْهُ صِفَةَ مَا سِوَاهُ لَا هَذَا وَلَا هَذَا لَا نَجْحَدُ مَا وَصَفَ وَلَا نَتَكَلَّفُ مَعْرِفَةَ مَا لَمْ يَصِفْ .

“Maka, apa saja yang Allah Ta’ala sifatkan untuk diriNya dan yang disifatkan oleh RasulNya, maka kami menamakannya sebagaimana Allah dan RasulNya telah namakan. Kami tidaklah membebani diri mensifatiNya dengan sifat-sifat lain, tidak yang ini tidak pula yang itu. Kami tidak menolak kata yang dipakai untuk menyifati  dan tidak pula mencari-cari pengertian yang tidak dituturkan.”[18]

Demikianlaih madzhab tatsbit. Sikap mereka terhadap ayat dan hadits-hadits sifat adalah, mereka diam, tidak membahas, membiarkan apa adanya, memahami sebagaimana datangnya, tanpa tafsir, ta’wil, tasybih, dan tahrif.

Namun, ada pula ulama yang menganggap apa yang mereka lakukan ini bukanlah tatsbit (menetapkan apa adanya sesuai zhahir nash), tetapi tafwidh (menyerahkan makna dan pengetahuannya kepada Allah Ta’ala). Oleh karena itu, jangan kaget jika sebagian Imam Ahlus Sunnah justru mengatakan tafwidh adalah madzhab salaf yang sesungguhnya. Walau  Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah mencela tafwidh dengan celaan yang sangat keras. Wallahu A’lam.

Catatan: Risalah ini merupakan bagian pertama dari seri kedua Pengantar Memahami Aqidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah karya Ustadz Farid Nu’man Hasan.


[1] Fathul Bari, 20/484

[2] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 1/258

[3] Ruhul Ma’ani, 12/103

[4] Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 368. Al Maktabah At Tafiqiyah

[5] Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 362. Al Maktabah At Taufiqiyah

[6] Imam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 1/426

[7] Imam Ibnu Hajar, Fathul Bari, 20/484

[8] Imam Adz Dzahabi, Siyar A’lam an Nubala, 8/105

[9] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 10/122. Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 11/256. Imam Abu Hayyan Muhamamd bin Yusuf bin Ali bin Yusuf bin Hayyan, Al Bahr Al Muhith, 8/128

[10] Syaikh Abu Bakar Al Isma’ili, I’tiqad Aimmah Al Hadits, Hal. 13

[11] Imam Ibnu Katsir, Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/427

[12] Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Majmu’ Fatawa, 3/94

[13] Ibid, 3/409

[14] Imam Ibnul Qayyim, Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Hal. 64. Syaikh Dr Abdullah ‘Azzam, Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ Al Jiil, Hal. 56. Al Hafizh Ibnu Hajar, Fathul Bari, 20/494. Imam Abu Thayyb Syamsul Haq Al ‘Azhim, ‘Aunul Ma’bud, 10/245

[15] Imam Ibnul Qayyim, Ijtima’ Al Juyusy Al Islamiyah, Hal. 61. Syaikh Dr. Abdullah ‘Azzam, Aqidah wa Atsaruha fi Bina’ Al Jiil, Hal. 57

[16] Al Imam Asy Syahid Hasan Al Banna, Majmu’ah Ar Rasail, Hal. 306. Al Maktabah At Taufiqiyah

[17] Tafsir Al Quran Al ‘Azhim, 3/427

[18] Imam Ibnu Taimiyah, Al Fatawa Al Kubra, 10/122

  • DHANI WU

    saya setuju pd pendapat bahwa tafwidh adl pendapat ulama salaf yg sesungguhnya termasuk generasi sahabat. krn sependek pengetahuan saya, sepertinya itsbat maupun takwil muncul sesudah masa generasi salaf, bgmn menurut admin, mohon penjelasan?

    • http://www.facebook.com/redaksi.hasanalbanna Redaksi Hasanalbanna

      Nanti kita bandingkan saat bagian kedua risalah ini dipublish, insya Allah.

  • DHANI WU

    mungkin tafwidh yg dicela ibnu taimiyah bukan yg ini