Haji Abdul Malik Karim Amrullah (HAMKA)

Sultan Agung Tirtayasa (1651-1692)

Setelah Sultan Abu’l Mafakhir mangkat (1640), naiklah puteranya Sultan Abu’l Ahmad Rahmatullah. Meskipun baginda ini memerintah 11 tahun lamanya, tidaklah ada perubahan bagi Bantam karena lemah pemerintahannya, maka setelah dia mangkat pada tahun 1651, naiklah putranya Abu’l Fath Abdu’l Fattah. Bagindalah yang terkenal dengan gelar Sultan Ageng Tirtayasa.

Hati Sultan Ageng ini sangat keras, dia bercita-cita hendak membangun Bantam dan mengembalikan kebesarannya. Dua musuh besar yang selama ini mengancam, yaitu Kompeni Belanda dan Kerajaan Mataram. Kebetulan untung baik baginya karena belum lama dia memerintah, terjadilah permusuhan yang mendalam di antara Kompeni dan Mataram, sehingga di bagian Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kompeni senantiasa diikat oleh berbagai kesukaran. Maka diaturnyalah suatu kumpulan orang-orang yang setia, berganti-ganti pergi mengacau dan merampok ke Jakarta. Dan disuruhnya pula orang merusakkan kebun-kebun tebu kepunyaan Kompeni di Ciangke.

Amat ramailah perdagangan Bantam di zaman pemerintahan beliau. Kapal-kapal dagang dari Persia, India, Tanah Arab, Hindia Belakang, Manila, Cina dan Jepang memunggah dagangan di pelabuhan Bantam. Lantaran itu maka pandangan beliau ke luar negeri menjadi luas. Perhatian beliau dalam hal ini memajukan Agama Islam pun amat besar. Ulama -ulama dari Mekkah atau dari India, banyak datang ke Bantam, dan disuruhnya pula orang belajar ke luar negeri.

Perhubungan ahli-ahli Agama Islam di Bantam dengan Aceh amat rapat. Nama Baginda begitu amat masyhur di tanah Arab, terutama di negeri Mekkah, sehingga bagi ahli-ahli Agama Islam itu timbullah kerinduan hendak berlayar ke Bantam dan ke Aceh, hendak menebarkan Agama Islam. Itulah sebabnya maka di kedua negeri itu terdapat banyak keturunan kaum Said dari tanah Arab. Sebab kaum Said dihormati, di samping mereka dipandang bangsawan agama karena keturunan Nabi Muhammad, merekapun memang menjadi penyiar Agama Islam. Mereka kawin dengan puteri-puteri bangsawan.

Besarlah pengharapan baginda, semoga Putera Mahkotanya, Abu’n Nashar ‘Abdu’l Kahhar, jika dia telah tua atau mangkat kelak, akan dapat meneruskan siasat baginda, mengatur Bantam, memajukan negeri, melawan Kompeni dan menegakkan Agama Islam. Sebab itu, walaupun beliau masih kuat memerintah, telah dipercayakannya memberikan beberapa kekuasaan kepada Putera Mahkota itu. Kepada puteranya yang dicintainya itu diserahkannyalah memegang kekuasaan dalam negeri, dan diberinya pula gelar sultan. Dibuatnya istana baru di Tirtayasa, dan puteranya disuruhnya tinggal di istana yang lama (1671).

Besar hati baginda melihat perkembangan pribadi puteranya, sehingga pada tahun 1674 disuruhnya puteranya itu naik haji ke Mekkah. Dan dari Mekkah disuruhnya pula melawat sampai ke Mesir dan Turki. Negeri Istambul pada waktu itu adalah pusat kekuasaan Kerajaan Usmani. Beliau ke Istambul di zaman Sultan Muhammad IV, dan yang menjadi Perdana Menteri (Ash ahadr’ul A’zam) ialah Ahmad Pasya Kuperli. Turki sedang berperang hebat dengan Kerajaan Oosstenryk. Sepeninggal anaknya pergi, Sultan Agung meneruskan pemerintahan dengan semangat yang berkobar-kobar hendak melawan Kompeni. Dan besarlah harapannya bila anaknya pulang akan mendapat tambahan kekuatan yang besar, sebab anaknya telah menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri. Kerajaan-kerajaan Islam terutama Turki.

Tetapi alangkah kecewa baginda setelah putera yang dicintai itu pulang, sikapnya kian lama kian nyata berubah. Perjalanannya ke luar negeri, terutama ke Mekkah dan ke Turki bukan memperteguh hatinya, tetapi menggoyahkan keyakinan selama ini. Seketika ayahnya bersemayam di istana Tirtayasa, si putera, yang sejak itu terkenal dengan gelaran Sultan Haji telah lebih suka berbaik-baik dengan Belanda, bahkan lebih suka berdamai.

Perubahan sikap Sultan Haji ini belumlah diselidiki dengan mendalam. Apakah agaknya karena dia merasa bahwa ayahnya telah terlalu kolot dan fanatik? Atau mungkinkah setelah melihat bahwa negeri Turki yang dibangga-banggakan dan dijadikan ideal selama ini tidaklah lebih baik keadaannya dari tanah airnya? Atau adakah karena putus asa melihat bahwa bangunan penjajahan bangsa -bangsa Barat itu bukan terhadap Bantam saja, tetapi telah merata juga di negeri-negeri atas angin! Atau mungkin juga dia seorang yang sombong yang suka dipuji-puji dan diadu domba dengan ayahnya, yang dicap sebagai “orang tua nyinyir”.

Dengan tidak seizin ayahnya Sultan Haji membuat perdamaian dengan Kompeni, dan perdamaian itu amat merugi dan memalukan Bantam. Sultan Agung sangat murka, sehingga baginda mengumpulkan kekuatan hendak menyerang puteranya yang telah mengkhianati perjuangan negara itu. Beberapa orang pahlawan dari Lampung menyatakan diri membantu sultan. Dan datang pula seorang Ulama Besar dari Makassar, Syekh Yusuf Taju’l Khalwati dengan para pengikutnya berdiri di pihak Sultan Agung.

Pecahlan Bantam menjadi dua, ayah menyerang putera. Rakyat umum, dan kaum Ulama berpihak kepada ayah. Sultan Haji terdesak, karena boleh dikatakan tidak ada rakyat yang membantunya. Maka untuk menjaga kemegahan dunia yang tidak berarti itu, tidaklah dia pergi tunduk dan meminta ampun kepada ayahnya, tetapi dengan segera dia meminta bantu kepada Kompeni. Maka pada saat itulah yang paling baik bagi Kompeni memasukkan pengaruhnya.

Dia sudi membantu Sultan Haji, tetapi dengan syarat-syarat yang berat. Di antaranya ialah supaya dia sendiri yang mengusir segala bangsa asing yang berniaga di Bantam, terutama orang-orang Inggris, Denmark, Prancis dan Portugis. Dan hak monopoli perniagaan terserah kepada Kompeni Belanda belaka. Sultan Haji tidak berfikir panjang lagi, segala syarat itu dipenuhinya.

Dikurbankannyalah kekuasaannya untuk kemegahan. Dan lantaran itu diakuilah oleh Kompeni Sultan Haji menjadi Sultan Bantam (1681). Setelah Sultan Haji menyerahkan kekuasaan sedemikian rupa kepada Kompeni, barulah Kompeni mengirimkan bala bantuan yang besar ke Bantam. Maka seketika lasykar Bantam di bawah pimpinan Sultan Agung sendiri datang mengepung kota Bantam, dengan sorak sorai Allahu Akbar, hendak menghukum putera yang mendurhakai perjuangan bangsa, mendurhakai ayah dan mendurhakai agama, kandaslah penyerangan itu, karena kota Bantam telah dijaga oleh tentara Kompeni, dan pimpinan perang pun di tangan Kompeni, dan pahlawan perang Kompeni pun seorang Kapten Ambon Islam, bernama Yonker.

Dua hari dua malam lamanya Sultan Agung mengepung kota tiada jaya. Setelah mengepung, karena kehabisan perbekalan baginda pun undur lalu dikejar oleh tentara Belanda dari dalam kota dan undur ke daerah Cipontang dan Cisadane.

Beberapa bulan kemudian, jatuhlah Tirtayasa ke tangan Kompeni, di bawah pimpinan Kapten Yonker. Setelah baginda menyuruh bakar habis istana baginda, bagindapun menyingkirkan diri bersama puteranya Pangeran Purbaya ke daerah Selatan (1682). Setahun kemudian, karena segenap perlawanan telah patah, baginda pun datang menyerahkan dirinya. Maka setelah ditawan di Bantam, beliaupun dipindahkan ke penjara Batavia. Dan dalam penjara Batavia itulah baginda bersedih hati, berputih mata mengenangkan nasib malang Bantam, dan mengeluh mengenang kesalahan besar yang telah diperbuat puteranya. Beberapa waktu lamanya masihlah terobat hati baginda, karena bersama dengan baginda ditawan pula gurunya dan Ulama besar yang membantunya, Syekh Yusuf Taju’l Khalwati. Tapi itu pun tidak lama, sebab beberapa waktu kemudian, Sye khYusuf dipisahkan dari beliau dan dibuang ke Sailan.

Adapun Sultan Haji sepeninggal ayahnya, kian hari kian t rasalah kesepian diri dalam keramaian. Lengkap dan rapi pengawal dan penjaga sekeliling diri dari istana. Tetapi terdiri daripada orang lain, Kompeni dan budak-budaknya. Rakyat Bantam sendiri tak ada yang mendekat. Rakyat tidak me ngakuinya sebagai sultan mereka, tetapi “Sultan Kompeni”. Dia tidak bebas. Karena ke luar istana harus diiringkan Belanda. Megah kelihatan pada lahir, namun batin meremuk. Dia kelihatan telah tua. Hanya lima tahun dia merasakan kemegahan fatamorgana itu.

Pada tahun 1687 dia pun mangkat, datanglah berita kepada sultan, bahwa puteranya itu telah mangkat. Lalu digantikan oleh cucunya, putera dari Sullan Haji, yaitu Abu’lfa dhl Muhammad Yahya. Tetapi belum cukup tiga tahun sultan ini memerintah, dia pun wafat pula (1690). Semua perkabaran ini sampai juga ke dalam penjara.

Cintanya kepa da rakyat Bantam masih belum padam-padamnya, puteranya dan dia mengharap moga-moga suatu waktu kelak nasib tanah air dan rakyatnya akan berubah ke pada yang baik. Maka untuk mengobat hati yang luka, dihabiskannya hari tuanya dengan beribadat kepada Tuhan, bersembahyang, bertahajjud dan membaca Al-Qur’an. Maka mangkatlah beliau pada tahun 1690. Sudah 280 tahun sampai sekarang beliau mangkat, namun kesannya masih tinggal dalam jiwa orang Bantam. Sultan Agung sangat cinta kepada rakyatnya, dan rakyatnya pun sangat cinta kepadanya.

Bagi baginda berpuluh-puluh tahun lamanya ada kepercayaan, bahwasanya Sultan Agung tidak mangkat. Beliau akan datang kembali membebaskan Bantam dari Kompeni. Dan berpuluh-puluh tahun pula lamanya orang Bantam mengobat hati mereka yang luka, dengan mendakwakan bahwa Sultan Haji yang mengkhianati Agama, Negeri dan Ayahnya itu bukan Sultan Abu’n Nashar Abdul Kahhar. Sultan Haji yang sebenarnya telah mangkat ketika mengerjakan Haji di Mekkah. Adapun Sultan Haji yang menyerahkan kekuasaan Bantam kepada Kompeni ini adalah orang lain.”Sultan Haji Palsu”, yang datang dari tempat lain, entah dari mana. Sejak itu muramlah Bantam. Dan itulah “Kesedihan besar kedua”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>