Syaikh Muhammad Al Ghazali

Muhammad Al Ghazali

(Dai dan Pembaharu, 1335-1416 H/1917-1996 M)

Biografi Syaikh Muhammad Al Ghazali ini saya tulis berdasarkan pengenalanku dengannya dari dekat, kebersamaanku dengannya, dan proses belajarku kepadanya. Biografi ini sebagian haknya yang harus saya tunaikan, bukti kesetiaan orang yang pernah berguru kepadanya dan kenangan yang sebagiannya sudah berlalu hampir setengah abad.

Penulisan biografi Syaikh Muhammad Al Ghazali telah banyak digarap orang-orang yang mengenal kemuliaan dan kedudukannya, baik ketika ia masih hidup ataupun setelah wafat. Antara lain, Syaikh Yusuf Al Qardhawi yang lebih dekat dan lebih lama menyertainya daripada saya.

Syaikh Muhammad Al Ghazali yang Saya Kenal

Saya mulai kenal beliau dari membaca makalah-makalahnya di majalah Al Ikhwanul Muslimin, Az-Zubair, tahun 1946.

Ketika saya datang di Mesir untuk melanjutkan studi di universitas tahun 1949, saya mengenal Syaikh Muhammad Al Ghazali melalui saudara-saudaraku yang mulia, antara lain Manna’ Qathan, Muhammad Bakri, Yusuf Al Qardhawi, Ya’qub Abdul Wahab, Ahmad ‘Assal, Muhammad Shafthawi, Muhammad Damirdasy, dan Haji Wahban Hasan Wahbah.

Kami memiliki jadwal pertemuan rutin dengan Syaikh Muhammad Al Ghazali. Di pertemuan itu beliau membekali kami ilmu yang bermanfaat, memberi semangat kepada kami untuk berjuang di jalan Allah Ta’ala dan membela kaum lemah, menyadarkan kami perihal konspirasi musuh-musuh Islam di dalam dan di luar negeri, mengungkap rencana-rencana busuk mereka untuk memrangi Islam dan kaum Muslimin, membongkar kebusukan Komunisme, Sekulerisme, Freemasonary, Atheisme, Eksistensisme, Salibisme, dan Zionisme. Ia senantiasa mengingatkan kami tentang persekongkolan kekuatan-kekuatan jahat untuk melawan Islam dan dainya, serta menjelaskan kepada kami cara melawan serangan kekuatan kufur.

Ustadz Muhammad Al Ghazali dai brilian, memiliki semangat menggelora, keimanan mendalam, perasaan lembut, tekad membaja, lincah, ungkapan-ungkapan mensastra, terkesan, mengesankan, supel dan pemurah. Ini semua diketahui setiap orang yang pernah hidup bersamanya, menyertai dan bertemu dengannya.

Ia tidak suka memaksakan diri (takalluf), benci kesombongan dan sikap sok tahu, aktif mengikuti perkembangan sosial dengan segala persoalannya, ikut menyelesaikan problematika umat, mengungkap hakikat, dan mengingatkan umat tentang bencana yang ditimbulkan syaitan syaitan manusia dan jin; baik dari Barat maupun dari Timur.

“Syaikh Muhammad Al Ghazali merupakan salah satu tokoh Islam abad modern. Ia adalah dai yang sulit ditemukan tandingannya di dunia Islam saat ini. Ia jenius dan keindahan katanya menawan hati, hingga saya dapat menghafal beberapa ungkapan, bahkan beberapa lembar tulisannya, lalu mengulang sesuai teks aslinya di beberapa ceramah”. Demikian komentar DR. Yusuf Al Qardhawi di bukunya As Syaikh Al Ghazali “Kama ‘Araftuhu” (Syaikh Al Ghazali yang saya kenal).

Di kesempatan lain DR Yusuf Al Qardhawi berkata,”saya teringat saudaraku, Abdullah ‘Al Aqil, yang belajar di Fakultas Syariah Al Azhar, Mesir, pada awal tahun lima puluhan. Ia hafal mukadimah buku karya Al Ghazali, Al Islam wa Audla’ul Iqtishadi, cetakan kedua yang teks awalnya berbunyi, “Tiada bangsa yang menghinakan diri seperti bangsa Timut, tiada yang hak-haknya dirampas sebagaimana dirampasnya hak-hak agama, dan seterusnya…”

Pertemuan Syaikh Muhammad Al Ghazali dengan An-Nadwi

Syaikh Abdul Hasan Ali An-Nadwi di bukunya Mudzakkirat Sa-ihin Fisy Syarqil ‘Arabi berkata, “ Saya ingin sekali bertemu dengan Syaikh Muhammad Al Ghazali. Karena seorang mahasiswa bernama Abdullah Al ‘Aqil banyak berecerita dan memujinya. Syaikh Muhammad Al Ghazali salah satu tokoh Ikhwanul Muslimin terkemuka dan penulis kebangkitan keagamaan di Mesir.

Akhirnya, saya dapat bertemu penulis Al Islam wa Audla’ul Iqtishadi, Al Islam wal Manhujjul Isytirakiyah, Al Islam Al Mutafara’Alaih dan Min Huna Na’lam ini. Saya beretemu dengan lelaki yang menyajikan makanan pemikiran, ruhani, dan adab Islam yang murni. Saya sangat berbahagia karena bertemu orang shalih, intelek, dinamis, hatinya hidup, otaknya brilian, dan wajahnya memancarkan kegembiraan.

Menurutku, setiap kita dapat mengenalnya melalu buku-buku dan risalah-risalahnya. Sebab, buku-bukunya merupakan gambaran pemikiran dan prinsip yang ia yakini..”

Tempat, tanggal lahir, dan masa kecil Muhammad Al Ghazali

Syaikh Muhammad Al Ghazali lahir pada tanggal 22 September 1917, di kampung Naklal Inab, Ital Al barud, Buhairah, Mesir. Di dibesarkan di keluarga agamis yang sibuk di dunia perdagangan. Ayahnya hafizh Al Qur’an. Lalu sang anak tumbuh mengikuti jejak ayahandanya dan hafal Al Qur’an semenjak usia sepuluh tahun.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menerima ilmu dari guru-guru di kampungnya. Ia masuk sekolah agama di Iskandariah dan menamatkan tingkat dasar hingga menengah atas (SMU). Kemudian pindah ke Kairo untuk melanjutkan kuliah di Fakultas Ushuluddin dan mendapat ijazah pada tahun 1361/1943 M. ia mengambil spesialisasi dakwah wal Irsyad dan mendapat gelar Megister tahun 1362/1943. Para guru yang paling berpengaruh padanya saat studi ialah Syaikh Abdul Aziz Bilal, Syaikh Ibrahim Al Gharbawi, Syaikh Abdul Azhim Az-Zarqani dan lain-lain.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menikah saat masih kuliah di fakultas Ushuluddin dan dikaruniai sembilan orang anak.

Aktivitas Syaikh Muhammad Al Ghazali

Setelah menyelesaikan studi, Syaikh Muhammad Al Ghazali menjadi imam dan khatib di masjid Al Atabah Al Khadra. Setelah itu ia mendapat banyak jabatan yang secara berurutan sebagai berikut; dewan pengawas masjid, dewan penasihat Al Azhar, wakil dewan urusan masjid, direktur urusan masjid, direktur pelatihan, direktur dakwah wal irsyad (Dakwah dan Penyuluhan).

Tahun 1949 syaikh Muhammad Al Ghazali mendekam di penjara Ath Thur selama satu tahun dan penjara Tharah tahun 1965 selama beberapa waktu.

Syaikh Muhammad Al Ghazali menjadi dosen tamu di universitas Ummul Qura, Mekah Al Mukarramah tahun 1971. Tahun 1981 ia ditunjuk sebagai wakil menteri, kemudian memegang jabatan ketua dewan keilmuan universitas Al Amir Abdul Qadir Al Jazairi Al Islamiyah di Aljazair selama lima tahun.

Awal perkenalan Syaikh Muhammad Al Ghazali dengan imam Hasan Al Banna

Awal interaksi Syaikh Muhammad Al Ghazali dengan imam Syahid Hasan Al Banna dikisahkan oleh ustadz Muhammad Majdzub di bukunya ulama wa mufakkirun araftuhum. Ustadz madzub mengutip ucapan Al Ghazali: “…perkenalan itu bermula saat saya belajar di sekolah menengah (SMU) Iskandariah. Saat itu, saya punya kebiasaan menetap di Masjid Abdurrahman bin Harmuz, daerah Ra’sut Tin selepas shalat Maghrib, untuk mengulang pelajaran. Pada suatu sore, imam Al Banna menyampaikan nasihat singkat tentang penjelasan: “Bertaqwalah kepada Allah dimana saja ikutilah setiap perbuatan buruk dengan perbuatan baik, tentu yang baik akan menghapusnya..” kata-katanya sangat berkesan dan langsung menembus ke hati yang paling dalam. Setelah mendengar nasihat itu, hatiku tertambat kepadanya. Saya tertarik kepada sosok dan pribadinya. Sejak itu, hubunganku dengannya terjalin erat. Saya senantiasa bersamanya selepas shalat Isya, di majelis yang terdiri dari tokoh-tokoh dakwah. Selanjutnya, saya meneruskan aktivitas dalam perjuangan Islam bersama dai besar ini, hingga ia syahid tahun 1949.

Pada mukadimah buku Dusturul Wihdah Ats-Tsaqafiyah Lil Muslimin, Muhammad Al Ghazali berkata, ”Inspirasi dan tema buku ini berasal dari Imam Hasan Al Banna, pembaharu abad XIV hijriyah. Ia telah meletakkan prinsip yang dapat menyatukan umat, memperjelas tujuan yang samar, mengembalikan kaum muslimin kepada Al Qur’an dan As sunnah, serta menyingkirkan penyimpangan dan sikap santai, dengan halus dan cermat, sehingga kelemahan dan kemalasan tidak terjadi”.

Tentang Mursyid ‘Am kedua Ikhwanul Muslimin, ustadz Hasan Al Hudaibi, Muhammad Al Ghazali menyatakan: “..Sebenarnya ia tidak pernah berupaya untuk memimpin Ikhwanul Muslimi, tetapi ikhwanlah yang minta ia menjadi pimpinan. Ketegasan dan ketegarannya berhak untuk diketahui semua orang. Ia tidak pernah berkeluh kesah atau mundur karena musibah atau ujian. Sampai usia senja ia tetap memiliki keimanan mendalam dan optimisme tinggi. Tidaklah salah bila dikatakan bahwa kesabaran yang mengokohkan imannya itu menjadikannya lebih mulia dalam pandangan saya. Musibah yang menimpa diri dan keluarganya secara bertubi-tubi tidak mengikis sifat jujurnya dalam menghukumi masalah. Bahkan, tidak membuatnya surut dari manhaj jamaah Islamiyah, malah sebaliknya. Saya menemuinya setelah berbagai musibah berlalu untuk memperbaiki hubungan dengannya. Semoga Allah Ta’ala mengampuni kita semua”.

Tentang Mursyid ‘Am ketiga Ikhwanul Muslimin, Ustadz Umar Tilmisani, Al Ghazali menyatakan, “… Ketika saya bersama ribuan anggota Ikhwan di Penjara Ath Thur, setelah syahidnya Imam Hasan Al BAnna, tahun 1949, saya melihat langkah Ustadz Umar Tilmisani yang pelan dan pandangan yang mencerminkan ketenangan. Ia berjalan di atas hamparan pasir penjara dengan senyum optimis. Ia kokohkan kesabaran Ikhwan dalam menghadapi ujian keterasingan dan kerasnya pengungsian serta memompa harapan akan masa depan yang lebih baik. Saat itu saya merasa seolah-olah berada di hadapan lelaki istimewa yang digerakkan rasa cinta dan kedamaian. Ia benci pertengkaran, kemunafikan, akhlak buruk, mengutamakan uzlah, dan merasakan kemesraan dalam bermunajat kepada Allah Ta’ala, serta kehinaan riya’ dan ambisi kekuasaan tidak mendapat jalan untuk masuk ke dalam hatinya.

Saat saya menemuinya untuk bekerja sama dalam member pelayanan pada Islam, ia berkata kepadaku, “Kamu tahu pekerjaan ini (memimpin Jama’ah Ikhwan,–pent) beban berat yang terpaksa kupikul dan kuterima?” Saya menjawab, “Aku tahu hal itu. Sebab Anda tidak berambisi tampil di depan dan tidak menginginkan jabatan. Orang seperti Anda sangat berhak mendapat perlindungan dan bimbingan Allah Ta’ala..”

Komentar Al Ghazali tentang Imam Albanna, Al Hudaibi, dan Umar Tilmisani ini mengungkapkan ketulusan dan kemuliaan pribadi Syaikh Al Ghazali.

Komentar orang tentang Syaikh Muhammad Al Ghazali

Satu hal yang membanggakan Syaikh Muhammad Al Ghazali ialah saat menerima surat dari Imam Al Banna, padahal ia masih muda belia tahun 1945. Surat Imam Al Banna berbunyi:

“Saudaraku yang mulia, Syaikh Muhammad Al Ghazali…

Assalamu’alaiku warahmatullahi wabarakatuh.

Saya sudah membaca makalah Anda yang bertema Al Ikhwanul Muslimin wal Ahzab di edisi akhir majalah Ikhwanul muslimin. Saya sangat kagum dengan ungkapan makalah tersebut yang ringkas, maknanya yang cermat, dan adabnya yang sopan. Seperti inilah hendaknya kalian menulis, wahai Ikhwan! Menulislah dengan dukungan hati yang tulus. Semoga Allah Ta’ala selalu bersamamu.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Hasan Al Banna.

DR. Abdus Shabur Syahin berkata: “Yang saya tulis ini adalah penghormatan bagiku, sebelum menjadi pengantar buku. Sebab, buku yang disampulnya tertulis nama ustadz Muhammad Al Ghazali tidak lagi membutuhkan pengantar. Menurutku, ia meraih mahkota ilmu yang melimpah. Dunia telah membaca bukunya tentang Islam dan dakwah. Juga menerima karya yang belum pernah diterima dari seorangpun yang sezaman dengannya. Kita dapat mengatakan, zaman kita sekarang ini milik ustadz Muhammad Al Ghazali.

Ustadz Umar Ubaid Hasanah, pemimpin redaksi majalah Al Ummah Al Quthriyah mengatakan, “Tulisan-tulisan Syaikh Al Ghazali mengandung buaian kasih seorang ibu kepada anaknya yang sakit dan takut meninggal dunia karena penyakitnya. Juga mengandung ketajaman dokter yang memberikan pengobatan dan terkadang proses pengobatan memerlukan pembedahan. Buku-buku karya Al Ghazali mengundang banyak reaksi, baik dari dalam maupun dari luar negeri. Ia berada di garis depan, karena memahami celah dapat dirasuki musuh-musuh Islam.”

Ustadz Quthb Abdul Hamid Quthd berkata, “Saya salah seorang dari berpuluh-puluh ribu orang yang sangat rindu dai besar Syaikh Muhammad Al Ghazali. Saya bersaksi kecintaanku kepada ulama besar dan dai terkenal ini melebihi kecintaanku kepada diriku sendiri. Ia sekelompok kecil orang-orang istimewa yang ilmu dan keutamaannya mengkader generasi, baik di Mesir maupun negeri-negeri Islam lainnya.Hal ini tidak mengherankan, karena ia sendiri terkader dalam buaian dakwah dan berguru pada pakar-pakar limu, para pemikir, dan tokoh-tokoh dakwah, antara lain Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna.”

DR Abdus Sattar Fathullah Said berkata, “…. Sejarah Islam tidak akan melupakan upaya para pemimpin dalam menghalau serangan Jahiliyah dan menghimpun umat di sekeliling ajaran Islam yang syamil (tidak parsial). Gelombang upaya membela kebenaran silih berganti. Di Madrasah rabbaniyah yang didirikan Imam Asy-Syahid Hasan Al Banna, syaikh kita, Muhammad Al Ghazali, terkader dan ikut memikul amanah dakwah bersama tokoh-tokohnya. Dengan karunia Allah Ta’ala, ia menjadi salah seorang tokoh terkemuka, yang tiada henti meninggikan bendera dakwah di hadapan kesewenang-wenangan dan keingkaran. Dengan pena dan lisannya, ia membela kemuliaan Islam, mengungkapkan hakikat wahyu yang luhur, dan memerangi jahiliyah, pada saat para penguasa zalim menjebloiskan umat kita ke dalam kelamnya kegelapan.

Syaikh Al Azhar Abdul Halim Mahmud mengakui kemuliaan dan membanggakan Syaikh Muhammad Al Ghazali dengan mengatakan: “Kita punya Muhammad Al Ghazali yang masih hidup dan Muhammad Al Ghazali penyusun kitab Al Ihya”. (Yakni Muhammad Al Ghazali dan Imam Al Ghazali penyusun kitab Ihya Ulumuddin).

Aktivis muda Islam memperoleh manfaat dari ilmu, keberanian, keterusterangan, kejujuran dan kejelasan sikap Syaikh Muhammad Al Ghazali.

Ia punya kader di Al Azhar Mesir, Ummul Qura di Mekah Al Mukarramah, Fakultas syariah di Qatar, Universitas Al Amir Abdul Qadir lil ulum Al Islamiyah Al Jazair, dan kader lain yang terbina melalui khutbah, kajian, ceramah, seminar, buku, makalah, pertemuan dan muktamar.

Kader Syaikh Muhammad Al Ghazali yang mencapai ribuan di penjuru dunia Islam setia pada dakwah Islam, mengibarkan bendera Islam bersama Syaikh mereka dan menyebar ke berbagai penjuru untuk menyampaikan ajaran Islam, menuntun umat kepada kebaikan, keberuntungan dan kemenangan.

Di antara murid Muhammad Al Ghazali ada yang menjadi ulama besar, antara lain Prof. DR. Yusuf Al Qardhawi, Syaikh Manna Al Qattan, DR. Ahmad Assal dan lain-lainnya.

Karya-karya ilmiah Syaikh Muhammad Al Ghazali 

Syaikh Muhammad Al Ghazali mewariskan enam puluh buku lebih dalam berbagai tema, plus ceramah, seminar, khutbah, nasihat, kajian dan dialog yang disampaikan di Mesir maupun di luar Mesir. Khutbah yang ia sampaikan di jami’ Al Azhar, Amr bin Al Ash, dan khutbah Ied di lapangan Abidin serta jami’ Mahmud punya arti dan pengaruh sangat besar, sebab dihadiri ribuan pendengar.

Buku-buku Syaikh Muhammad Al Ghazali yang terbit lebih dari sekali, baik di Mesir maupun di luar Mesir sangat banyak. Antara Lain :

  1. Al Islam wal Audla’ul Iqtishadiyah
  2. Al Islam wal Manhujjul Isytirakiyah
  3. Minhuna Na’lam
  4. Al Islam wal Istibdadus Siyasi
  5. Aqidatul Muslim
  6. Fiqhus Sirah
  7. Zhalamun minal Gharb
  8. Qadza-iful Haq
  9. Hashadul Ghurur
  10. Jaddid Hayatak
  11. Al Haqqul Murr
  12. Raka-izul Iman bainal ‘Aqli wal Qalb
  13. At-Ta’ashub wat Tasamuh bainal Masihiyah Wal Islam
  14. Ma’allah
  15. Jihadud Da’wah baina ‘Ajzid Fakhil wa Kaidil Kharij
  16. Ath Thariqu min Huna
  17. Al Mahawirul Khamsah lil Qur’anil Karim
  18. Ad-Da’watul Islamiyah Tastaqbilu Qarnahal Khamis ‘Asyar
  19. Dusturul Wihdadits Tsaqafiyah lil Muslimin
  20. Al Janibul ‘Athifi minal Islam
  21. Qadloyal Mar’ah bainat Taqalidir Rakidah wal Wafidah
  22. As Sunnatun Nabawiyah baina Ahlil Fiqhi wa Ahlil Hadits
  23. Musykilatun fi Thariqil Hayatil Islamiyah
  24. Sirru Ta’akhirul ‘Arabi Wal Muslimin
  25. Kifahud Din
  26. Hadza Dinuna
  27. Al Islam fi Wajhiz Zahwil Ahmar
  28. ‘Ilalun wa Adwiyah
  29. Shaihatu Tahdzirin min Du’atit Tanshir
  30. Ma’rakatul Mushaf fil ‘Alamil Islami
  31. Humumu Da’iyah
  32. Miatu Sulain ‘anil Islam
  33. Khuthabun fi Syu’unid Din wal Hayah (5 Jilid)
  34. Al Ghazwul Fikri Yamtaddu fi Faraghina
  35. Kaifa Nata’amal ma’al Qur’anil Karim
  36. Mustaqbalul Islam Khariju Ardlihi, Kaifa Nufakkir Fihi?
  37. Nahwa Tafsirin Maudlu’il Suwaril Qur’anul Karim
  38. Min Khunuzis Sunnah
  39. Taamulat fi Din wal Hayah
  40. Al Islam Al Muftara ‘Alaihi bainasy Syuyu’iyin war Ra’simaliyin
  41. Kaifa Nafhamul Islam?
  42. Turatsunal Fikri fi Mizanisy Syar’I wal ‘Aqli
  43. Qishshatu Hayah
  44. Waqi’ul ‘Alamil Islami fi Mathla’il Qarnil Khamis ‘Asyar
  45. Fannuda Dzikri wad Du’a ‘Inda Khatimil Anbiyaa
  46. Haqiqatul Qaumiyatil ‘Arabiyah wa Usthuratil Ba’Tsil ‘Arabi
  47. Difa’un ‘anil ‘Aqidati way Syari’ah Dliddu Matha’inil Mustasyriqin
  48. Al Islam wath Thaqatul Mu’aththalah
  49. Al Isti’mar Ahqadun wa Athma’
  50. Huququl Insan baina Ta’alamil Islam wa I’lanil Umamil Muttahidah
  51. Nadlaratun fil Qur’an
  52. Laisa minal Islam
  53. Fi Maukibid Dakwah
  54. Khuluqul Muslim
  55. Dan lain sebagainya

Sebagian besar buku-buku beliau telah diterjemahkan ke beberapa bahasa, antara lain: bahasa Inggris, Turki, Perancis, Urdu, Indonesia dan lain sebagainya.

Mayoritas penerjemah adalah murid-murid Syaikh Muhammad Al Ghazali, pengagum dan orang-orang yang mendapat manfaat dari curahan ilmunya.

Sifat-sifat Syaikh Muhammad Al Ghazali 

DR. Yusuf Al Qardhawi berkata: “Mungkin Anda berbeda pandangan dengan Al Ghazali, atau ia berbeda pendapat dengan Anda dalam masalah-masalah kecil maupun besar, sedikit atau banyak masalah. Tapi, apabila Anda mengenalnya dengan baik, Anda pasti mencintai dan menghormatinya. Karena Anda tahu keikhlasan dan ketundukannya kepada kebenaran, keistiqamahan orientasi dan ghirah nya yang murni untuk Islam.

Memang, Muhammad Al Ghazali temperamental. Kemarahannya meluap seperti ombak lautan yang menghanyutkan, atau seperti letusan gunung berapi yang meluluhlantakkan. Ia seperti itu karena benci kezhaliman dan kehinaan, baik pada dirinya atau orang lain, tidak suka berlaku zhalim atau dizhalimi, anti merendahkan kehormatan siapa pun dan direndahkan siapa pun, serta tidak menyukai penyimpangan, terutama bila berkedok agama. Ia akan memerangi itu semua dengan sembunyi maupun terang-terangan. Ia berani saat menyerang hAl hal yang diyakininya keliru dan pemberani saat mengakui kekeliruannya.

Banyak orang mengkritik sebagian pendapat dan fatwa Syaikh Muhammad Al Ghazali yang tidak sejalan dengan pemahaman mereka. Tapi sepengetahuanku, fatwanya fatwanya tidak pernah menyimpang dari ijma’ umat. Syaikh Ibnu Taimiyah juga pernah dituduh fatwanya menyimpang dari ijma’ umat dalam masalah thalaq dan masalah-masalah yang terkait dengannya. Kasus seperti ini dikomentari salah seorang murid Ibnu Taimiyah, Imam Adz Dzahabi, “Ibnu Taimiyah mengeluarkan fatwa yang mencoreng kehormatannya, tapi fatwa itu tertutupi oleh lautan ilmunya.”

Muhammad Al Ghazali mengakui kemuliaan dan keutaman saudara-saudaranya, semisal Syaih Sayyid Sabiq, Syaikh Zakaria Az Zaukah, Syaikh Ismail Hamdi, dan lain-lain. Saya sangat malu saat ia berkata di depan publik, “Bertanyalah kepada Yusuf Al Qardhawi, karena ia lebih utama dariku. Dulu ia muridku, tapi sekarang aku muridnya”. Sikap seperti ini tidak dimiliki kecuali oleh orang-orang yang benar tulus.

Pertemuan penulis dengan Syaikh Muhammad Al Ghazali sering terjadi. Peretemuan itu berlangsung berulang-ulang semenjak pertama kali di Mesir Tahun 1949, hingga beliau pulang ke rahmatullah.

Syaikh Muhammad Al Ghazali berkunjung ke Kuwait dan menyampaikan ceramah serta khutbah lebih dari sekali. Kami sangat berbahagia dapat mengikuti seminar pekanan yang diselenggarakan setiap hari Jumat sore. Seminar terakhir yang saya ikuti seminar yang beliau hadiri bersama Syaikh Abdul Aziz Al Muthawwi’ dan DR Isham Al Basyir. Saya juga sering mengunjunginya di Kairo. Kunjungan terakhir terjadi menjelang wafatnya.

Allah Ta’ala menghendaki Syaikh Muhammad Al Ghazali menghadiri seminar tentang Islam dan Barat. Saat itu saya sedang berkunjung ke Damaskus. Tiba-tiba tersiar berita yang mengguncangkan tubuhku karena sedih berpisah dengannya. Ia guru dan pembimbingku. Aku banyak berhutang budi padanya.

Ustadz Abdul Aziz Abdullah Salim bekata di surat kabar Ar Riyadl, “Al Ghazali ulama terkemuka, dai pembaharu, mujahid tangguh, pejuang yang sangat berani, penulis yang memiliki ruh sastra dan gaya bahasa yang sulit dicari tandingannya.”

Pulang ke Rahmatullah

Syaikh Muhammad Al Ghazali wafat di Riyadh, Arab Saudi, tanggal 9 Maret 1996. Jenazahnya dipindah ke Madinah Al Munawarah untuk di makamkan di Al Baqi’. Yang mulia Amir Abdullah bin Abdul Aziz Ali Sa’ud memiliki peran penting dalam memberikan penghargaan kepada Al Ghazali, baik saat masih hidup maupun setelah meninggal. Juga memberikan bantuan kepada keluarganya.

Semoga Allah ta’ala merahmati Syaikh Muhammad Al Ghazali, memberi balasan yang baik karena jasa-jasanya kepada kaum muslimin. Semoga Allah mengumpulkan kita dan dia bersama para nabi, shiddiqin dan para syuhada dan shalihin. Mereka adalah sebaik-baik teman.

Comments are closed.