Manna' Khalil Al Qaththan

Syubhat Para Penentang Wahyu

Orang-orang Jahiliyah baik yang klasik ataupun yang modern selalu berusaha menimbulkan keraguan (syubhat) terhadap wahyu dengan sikap keras kepala dan sombong. Tetapi syubhat itu lemah dan tidak dapat diterima.

  1. Mereka mengatakan bahwa Al-Qur’an bukan wahyu, tetapi dari pribadi Muhammad. Dialah yang menciptakan maknanya, dan menyusun “bentuk gaya dan bahasanya”.

Ini adalah asumsi bathil. Apabila Nabi menghendaki kekuasaan untuk dirinya sendiri dan menantang manusia dengan mukjizat-mukjizat untuk mendukung kekuasaannya, tidak perlu beliau menisbahkan semua itu kepada pihak lain. Dapat saja menisbahkan Al-Qur’an kepada dirinya langsung, karena hal itu cukup mengangkat kedudukannya dan menjadikan manusia tunduk kepada kekuasaannya. Sebab, kenyataannya semua orang Arab dengan segala kefasihan bahasanya, tidak mampu menjawab tantangan itu. Bahkan ini mungkin lebih mendorong mereka untuk menerima kekuasaannya, karena dia juga salah seorang dari mereka yang dapat mendatangkan apa yang mereka sanggupi.

Tidak pula dapat dikatakan bahwa dengan menisbatkan Al-Qur’an kepada Allah, beliau ingin menjadikan kata-katanya terhormat sehingga dengan itu dapat memperoleh sambutan manusia untuk menaati dan menuruti perintah-perintahnya. Sebab, beliau juga mengeluarkan kata-kata yang dinisbahkan kepadanya secara pribadi, yaitu yang dinamakan hadits nabawi, yang juga wajib ditaati. Seandainya benar apa yang mereka tuduhkan, tentu kata-katanya akan dijadikan kalam Allah Ta’ala.

Asumsi syubhat di atas menggambarkan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, termasuk pemimpin yang berperilaku suka berdusta, curang dalam mencapai tujuan. Syubhat itu kontradiktif dengan fakta sejarah tentang perilaku Rasulullah yang jujur dan amanah. Baik musuh maupun kawannya sendiri telah menyaksikan bagaimana ketinggian moralnya.

Orang-orang munafik menuduh istrinya, Aisyah dengan tuduhan palsu, dialah istri yang sangat dicintainya. Tuduhan itu telah menyinggung kehormatan dan kemuliannya. Wahyu pun tidak segera meresponnya (datang terlambat), Rasulullah dan para sahabat merasa sangat sedih. Beliau berusaha keras untuk meneliti dan mencari kebenarannya. Satu bulan telah berlalu, namun belum ada jawaban, sehingga beliau menyatakan kepada Aisyah, “Telah sampai kepadaku berita yang begini dan begitu. Apabila engkau benar-benar bersih, maka Allah akan membersihkanmu. Dan apabila engkau telah membuat dosa, mohon ampunlah engkau kepada-Nya.”[1]

Keadaan berlangsung demikian hingga turun wahyu yang menyatakan kebersihan istrinya itu. Maka, apakah yang menghalanginya untuk mengatakan suatu kata yang dapat mematahkan para penuduh itu dan melindungi kehormatannya, seandainya Al-Qur’an itu beliau yang membuatnya. Tetapi Rasulullah adalah manusia yang jujur, tidak mau berdusta kepada manusia dan kepada Allah.

“Sesungguhnya jika dia (Muhammad) mengada-adakan sebagian perkataan atas Kami, tentulah Kami pegang dia pada tangan kanannya. Kemudian Kami potong urat tali jantungnya. Maka sekali-kali tidak ada seorang pun dari kamu yang dapat menghalangi dari memotong urat nadi itu.” (QS. Al-Haaqqah : 44-47)

Ada segolongan orang yang meminta izin untuk tidak ikut berperang di Tabuk. Mereka mengajukan alasan. Diantara mereka terdapat orang-orang munafik yang sengaja mencari-cari alasan. Nabi mengizinkan mereka. Maka turunlah wahyu Al-Qur’an yang mencela dan mempermasalahkan tindakannya itu, “Semoga Allah memaafkanmu. Mengapa engkau memberi izin kepada mereka (untuk tidak pergi berperang, sebelum jelas bagimu alasan mereka) dan sebelum kamu ketahui yang benar dan mana yang berdusta?” (QS. At-Taubah : 43)

Seandainya teguran keras ini datang dari perasannya sendiri dengan menyatakan penyesalannya ketika pendapatnya itu salah, tentulah teguran yang begitu keras itu tidak akan diungkapkannya.

Demikian juga dalam kasus penerimaan tebusan tawanan perang Badar, “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum dia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kamu menghendaki harta benda duniawi, sedangkan Allah menghendaki pahala akhirat untukmu. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, tentulah kamu akan ditimpa siksa yang besar karena tebusan yang kamu ambil.” (QS. Al-Anfal : 67-68)

Juga adanya teguran yang berpaling dari Abdullah bin Ummi Maktum seorang shahabat yang buta, karena terlalu berhasrat agar salah seorang pembesar Quraisy masuk Islam, “Dia (Muhammad) bermuka masam dan berpaling. Karena telah datang seorang buta kepadanya. Tahukah kamu barangkali dia ingin membersihkan dirinya dari dosa, atau dia ingin mendapatkan pengajaran, lalu pengajaran itu memberi manfaat kepadanya? Adapun orang yang merasa dirinya serba cukup, maka kamu melayaninya. Padahal tidak ada celaan atasmu kalau dia tidak membersihkan diri (beriman). Dan adapun orang yang datang kepadamu dengan bersungguh-sungguh untuk mendapatkan pengajaran, sedang dia takut kepada Allah, maka kamu mengabaikannya. Sekali-kali jangan demikian! Sesungguhnya ajaran-ajaran Tuhanmu itu adalah suatu peringatan.” (QS. ‘Abasa : 1-11)

Dalam sejarah hidup Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam, dapat diketahui bahwa beliau sejak kecil merupakan teladan yang baik dan terpercaya. Masyarakatnya sendiri telah mengakuinya. Ketika Nabi mengajak mereka pada awal dakwahnya, beliau berkata kepada mereka “Bagaimana pendapat kalian sekiranya aku memberitahukan kepada kalian bahwa ada pasukan berkuda di balik lembah ini akan menyerang kalian; apakah kalian percaya padaku?” Mereka menjawab, “Ya, kami tidak pernah melihat engkau berdusta.”

Perjalanan hidupnya yang suci itu menjadi daya tarik bagi manusia untuk masuk Islam. Abdullah bin Salam radhiyallahu ‘anhu mengisahkan, “Ketika Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam datang ke Madinah, orang-orang mengerumuninya. Mereka mengatakan, “Rasulullah sudah datang!’ Lalu aku datang ke dalam kerumunan orang banyak itu untuk melihatnya. Ketika aku melihat wajah beliau, tahulah aku bahwa wajahnya itu bukanlah wajah pendusta.”[2]

Orang yang memiliki sifat-sifat agung yang dihiasi dengan tanda-tanda kejujuran tidak pantas diragukan ucapannya ketika dia menyatakan tentang dirinya bahwa bukan dialah yang membuat Al-Qur’an, “Katakanlah. Tidaklah patut bagiku untuk menggantikannya dari pihak diriku sendiri. Aku tidak mengikuti kecuali wahyu yang diwahyukan kepadaku.” (QS. Yunus : 15)


[1] Lihat kasus berita bohong (haditsul ifki) ini dalam Al-Bukhari dan Muslim, hadits-hadits lain, juga kisah tersebut dalam tafsir surat An-Nur.

[2] HR. At-Tirmidzi, dengan sanad yang shahih.