Hasan Al Banna

Tafsir Surat Ar Ra’du

Majalah Al Manâr, Jilid 35 juz 5 hlm. 9-18, Awal Jumadil Akhirah 1358 H/18 Juli 1939 M.

Beberapa ulama berpendapat bahwa di antara penghormatan terhadap Al Qur’an adalah jangan mengatakan: “Surat An Nahl, Surat Ar Ra’du, surat Al Baqarah, … dan seterusnya; akan tetapi hendaklah mengatakan: surat yang isinya menyebut An Nahl, surat yang mengandung kata Ar Ra’du dan seterusnya.” Ahli tafsir yang menggunakan penamaan seperti ini adalah Syekh Al Mufassirîn, Ath Thabarî. Beliau memberi judul di dalam tafsirnya dengan surat pertama yang menyebut kata Ar Ra’du.[1]

Imam Al Qurthubî membantah pendapat di atas dengan mengatakan: pendapat tersebut bertentangan dengan hadist nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Dua ayat terakhir surat Al Baqarah, siapa membacanya setiap malam, akan mencukupinya.”[2] (HR. Bukhârî dan Muslim dari Abdullah bin Mas’ud). Ini adalah pendapat yang mendekati prinsip kemudahan Islam dan menjauhkan dari keterikatan bentuk. Jadi, secara bahasa dan majas, boleh memilih antara keduanya.

Tempat Turun

Ibnu Al Jawzî berkata: “Para mufassir berbeda pendapat tentang turunnya surat ini. “Pertama, ini adalah surat Makiyah, sebagaimana diriwayatkan oleh Abû Thalhah dari Ibnu ‘Abbas, dan didukung oleh Al Hasan, Sayd bin Zubair, Atha’ dan Qatadah. Abû Shalih telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwa surat ini Makiyah, kecuali dua ayat, yaitu 31 dan 43.

Kedua, bahwa surat ini adalah Madaniyah. Ini riwayat Atha’ Al Kharasani dari Ibnu Abbas. Pendapat ini juga diambil oleh Jabir bin Zaid. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas bahwasanya ia adalah Madaniyah kecuali dua ayat (QS. Ar Ra’du [13]: 31). Ahli tafsir lain berpendapat bahwa yang termasuk Madaniyah adalah ayat 12 sampai 14. Beberapa ulama menyatakan satu ayat diturunkan di Juhfah, yaitu ayat: 30. Namun, hampir semua cetakan di dalam mushaf sepakat bahwa Surat Ar Ra’du adalah Madaniyah, turun setelah surat Muhammad.

Dapat digarisbawahi di sini, ketidakjelasan riwayat dari Ibnu Abbas dalam menentukan apakah Surat Ar Ra’du Makkiyah atau Madaniyah, barangkali karena adanya kesamaan perkara ini bagi para periwayatnya.

Jika dilihat dari ciri-ciri surat, maka sebagian besar Surat Ar Ra’du dikategorikan sebagai surat Makiyah. Sebab, surat tersebut memiliki ciri-ciri yang sesuai dengan ciri-ciri surat Makiyah. Di antara ciri-ciri umum yang telah ditemukan oleh para ulama adalah banyak menyoroti masalah-masalah akidah dan dalil-dalilnya, merenungi alam, mengungkap misteri ciptaan Allah, janji dan ancaman, dan penjelasan balasan bagi orang kafir dan orang mukmin. Perkara-perkara ini sesuai dengan mukhâthabîn (yang diajak bicara), orang kafir dan orang musyrik. Sedangkan ciri-ciri Madaniyah, secara umum membahas persoalan-persoalan hukum terperinci, seperti ibadah, muamalah, dan lain-lain.

Dan ciri lain Makiyah adalah biasanya menggunakan khithâb dan ungkapan dan semisalnya, sedangkan surat Madaniyah ditandai dengan khîthab dan semisalnya.

Dengan demikian, orang yang memahami maksud Surat Ar Ra’du ini akan menemukan bahwa maksud surat tersebut sesuai dengan kondisi-kondisi kehidupan penduduk Mekah. Oleh karena itu, kami mentarjih pendapat yang menagatakan bahwa sebagain besar ayatnya adalah Makiyah. Wallahu a’lam.

Jumlah ayat yang terdapat di dalam surat ini adalah 43 ayat, menurut ulama Kufah, sedangkan menurut ulama-ulama Syam berjumlah 45 ayat. Sebab-sebab perbedaan ini lebih dikenal kepada soal ayat pertama. Apakah “Alif lâm mîm râ: ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar, akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)” sebagai satu ayat, ataukah “Alif lâm mîm raâ  ayat pertama; “Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an) …” sebagai ayat kedua dan seterusnya ayat ketiga?

Berdasarkan urutan pertama, maka jumlah ayat dalam Surat Ar Ra’du adalah 43 ayat. Sedangkan menurut bentuk yang kedua dapat dihitung bahwa ayat yang ada di dalam surat tersebut berjumlah 45 ayat. Hal ini terjadi jika kedua belah pihak sepakat akan bolehnya wakaf setelah alif lâm mîm râ, bahkan jika keduanya sepakat akan layaknya wakaf pada setiap ayat.

Maksud Umum Surat

Surat ini berisi tentang pengukuhan atas keagungan Sang Pencipta, penetapan tempat kembali dan bantahan terhadap orang-orang kafir yang memungkirinya yang disertai dengan argumentasi atau dalil berupa fenomena alam yang menakjubkan dan mengambil ibrah dari perumpamaan yang indah tentang kebenaran dan kebatilan.

Kemudian surat ini juga memaparkan tentang dua kelompok manusia, yaitu orang-orang mukmin dan orang-orang kafir, sifat-sifat keduanya, akhlak yang tumbuh dan berkembang dari akidah dan balasan bagi keduanya di dunia dan akhirat. Pengukuhan Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan penjelasan hari pemisahan (kiamat) sebagai tempat yang dinanti-nanti oleh orang-orang yang ingkar kepadanya.

Kita dapat menyimpulkan maksud-maksud surat ini dalam hal-hal yang terkait dengan penguatan tauhid dan hari tempat kembali, penjelasan tentang akhlak sebagai bagian dari keimanan terhadap Allah subhanahu wa ta’ala, serta Hari Akhir, balasan kebaikan dan kejahatan.

Hubungan dengan Surat Sebelumnya

Akh pembaca dapat merasakan munâsabah (hubungan) surat ini dengan surat sebelumnya (QS. Yûsuf). Pada surat sebelumnya, Yusuf ‘alaihissalam menyebutkan persoalan akidah tauhid secara global, yaitu pada firman Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا صَاحِبَيِ السِّجْنِ أَأَرْبَابٌ مُتَفَرِّقُونَ خَيْرٌ أَمِ اللَّهُ الْوَاحِدُ الْقَهَّارُ

“Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (QS. Yûsuf [12] : 39).

Sedangkan di dalam Surat Ar Ra’du ini, Yusuf berupaya menjelaskan akidah dengan dalil-dalil bukti dan contoh yang jelas.

Di dalam surat sebelumnya menjelaskan pribadi saudara-saudara Yusuf dan akhlak yang mendorong mereka untuk berbuat tak baik kepada Yusuf. Kemudian menceritakan tobat mereka dan kerelaan Yusuf untuk menerima mereka serta permohonan ampun sang ayah untuk mereka. Sedangkan di dalam surat ini, Allah subhanahu wa ta’ala mengulas secara panjang lebar tentang akhlak orang-orang mukmin, seolah-olah memperkuat apa yang telah disebutkan dan dijelaskan pada surat sebelumnya.

Isi surat Yusûf memberi isyarat global kepada ayat-ayat kauniyah yang menakjubkan, sekalipun banyak orang yang memungkirinya dan tidak mau memandangnya. Hal ini terdapat dalam ayat:

وَكَأَيِّنْ مِنْ آيَةٍ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ يَمُرُّونَ عَلَيْهَا وَهُمْ عَنْهَا مُعْرِضُونَ

Dan banyak sekali tanda-tanda (kekuasaan Allah) di langit dan di bumi yang mereka melaluinya, sedang mereka berpaling dari padanya” (QS. Yûsuf [12]: 105)

Sementara di dalam Surat Ar Ra’du ini Allah subhanahu wa ta’ala memperinci perkara yang global tersebut. Dia menyebutkan ayat-ayat-Nya di langit, di bumi, matahari, bulan, siang, malam, air, tumbuh-tumbuhan, halilintar, petir, dan lain-lain, sehingga penglihatan yang cerdas dapat memahaminya dengan baik dan hati yang lupa dapat tergugah untuk menganalisisnya.

Surat Yûsuf mengandung penjelasan dan perincian tentang apa yang telah diperbuat orang-orang Yahudi dan Nasrani –mereka adalah anak-anak Yakub-; kemudian menutup dengan ungkapan bahwa di dalam cerita mereka dan para nabi Allah terdapat ibrah yang baik bagi orang-orang yang berpikir. Pembuka Surat Ar Ra’du memperkuat semua ini, yaitu firman Allah subhanahu wa ta’ala:

سَوَاءٌ مِنْكُمْ مَنْ أَسَرَّ الْقَوْلَ وَمَنْ جَهَرَ بِهِ وَمَنْ هُوَ مُسْتَخْفٍ بِاللَّيْلِ وَسَارِبٌ بِالنَّهَارِ

Sama saja (bagi Tuhan), siapa diantaramu yang merahasiakan ucapannya, dan siapa yang berterus-terang dengan ucapan itu, dan siapa yang bersembunyi di malam hari dan yang berjalan (menampakkan diri) di siang hari” (QS. Ar Ra’du [13]: 10)

Dengan menjelaskan bahwa dakwah ini bukanlah bid’ah atau menyimpang dari manhaj dakwah para rasul, maka hubungannya dengan Surat Ar Ra’du adalah bahwa di ujung Surat Ar Ra’du terdapat penjelasan tentang dakwah yang mulia ini, yaitu di dalam firman-Nya,

وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَفْرَحُونَ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمِنَ الأحْزَابِ مَنْ يُنْكِرُ بَعْضَهُ قُلْ إِنَّمَا أُمِرْتُ أَنْ أَعْبُدَ اللَّهَ وَلا أُشْرِكَ بِهِ إِلَيْهِ أَدْعُو وَإِلَيْهِ مَآبِ

“Orang-orang yang telah Kami berikan kitab kepada merekabergembira dengan kitab yang diturunkan kepadamu, dan diantara golongan-golongan (Yahudi dan Nasrani) yang bersekutu, ada yang mengingkari sebahagiannya. Katakanlah “Sesungguhnya aku hanya diperintah untuk menyembah Allah dan tidak mempersekutukan sesuatupun dengan Dia. Hanya kepada-Nya aku seru (manusia) dan hanya kepada-Nya aku kembali.” (QS. Ar Ra’du [13] : 36)

Kemudian disebutkan setelahnya, sisi lain dari urusan-urusan para rasul sebelumnya. Hal ini untuk menjelaskan bahwa manhaj dakwah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam tidak berbeda dengan dakwah mereka. Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

قَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلا مِنْ قَبْلِكَ وَجَعَلْنَا لَهُمْ أَزْوَاجًا وَذُرِّيَّةً وَمَا كَانَ لِرَسُولٍ أَنْ يَأْتِيَ بِآيَةٍ إِلا بِإِذْنِ اللَّهِ لِكُلِّ أَجَلٍ كِتَابٌ

“Dan sesungguhnya Kami telah mengutus beberapa Rasul sebelum kamu dan Kami memberikan kepada mereka isteri-isteri dan keturunan. Dan tidak ada hak bagi seorang Rasul mendatangkan sesuatu ayat (mukjizat) melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap masa ada Kitab (yang tertentu).” (QS. Ar Ra’du [13]: 38)

Apabila kita melihat bahwa surat Yûsuf secara keseluruhan membicarakan tentang kehidupan keluarga Yakub ‘alaihissalam, maka kita dapat menyaksikan bahwa keberadaan ayat ini di dalam Surat Ar Ra’du sebagai ringkasan yang menunjukkan atas semua itu. Dengan demikian munâsabah antara kedua surat tersebut sangat kuat dan tidak dapat diragukan lagi.

Ada sisi munâsabah yang lain, namun pembahasannya memerlukan waktu yang cukup lama. Oleh karena itu, kami akan menyebutkan beberapa di antaranya di sela-sela tafsir ini, insya Allah.



[1] Lihat Jâmi’ Al Bayân fî Tafsîr Ayi Al Qur’an karya Ath Thabarî, Jilid 13 hlm. 91, Beirut: Dâr Al Fikr, tahun 1405 H

[2] Lihat Al Jâmi’ li Ahkâm Al Qur’an karya Al Qurthubî, Jilid 1 hlm. 29. Hadist ini diriwayatkan oleh Bukhârî dan Muslim dari Abî Mas’ud Al Ansharî. Bukharî secara khusus menjadikan bab yang diberi judul: Bab “Bolehnya mengatakan surat Al Baqarah, surat demikian, dan seterusnya.” Kemudian menyebutkan hadist ini di dalamnya (Jilid 4 hlm. 1923).

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>