Hasan Al Banna

Tafsir Surat Ar Ra’du Ayat 1

المر . تِلْكَ آيَاتُ الْكِتَابِ وَالَّذِي أُنْزِلَ إِلَيْكَ مِنْ رَبِّكَ الْحَقُّ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

Alif laam miim raa. Ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Quran). Dan Kitab yang diturunkan kepadamu daripada Tuhanmu itu adalah benar; akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya).” (QS Ar Ra’du [13]: 1)

Pembahasan tentang pembukaan surat dengan huruf-huruf yang mulia ini disajikan dengan panjang lebar. Menurut pengarang Al Manâr, bahwa huruf-huruf tersebut merupakan nama-nama surat. Pendapat ini dibantah; bahwasanya penamaan itu mungkin dapat dibenarkan jika belum terdapat nama bagi surat-surat Al Qur’an. Sedangkan jika surat sudah diberi nama sebelumnya, lantas apa manfaat nama ini?!

Imam Ibnu Katsîr berpendapat bahwa setiap surat yang dimulai dengan huruf-huruf ini secara implisit mengandung arti tentang kemenangan Al Qur’an, dan untuk menerangkan tentang kebenaran isinya. Artinya, yang dimaksud dengan huruf-huruf tersebut adalah agar dipahami bahwa Al Qur’an itu suatu mukjizat. Sebab, ia tersusun dari sejenis huruf-huruf tersebut di dalam pembukaannya. Dan itu adalah suatu hal yang jarang. Ada kutipan dari beberapa ulama bahwa jumlah huruf-huruf pembuka di dalam Al Qur’an ada 14 yang tergabung dalam ungkapan نص حكيم قا طع له سر

Untuk menguatkan makna pertama (bahwa huruf-huruf di dalam pembukaan surat mengisyaratkan adanya mukjizat), jika Anda melihat huruf-huruf di dalam setiap surat yang dimulai dengan huruf-huruf yang terputus-putus, Anda akan mendapatkan bahwa huruf-huruf pembuka ini lebih banyak diulang-ulang. Dengan pendapat ini, kita dapat memahami hikmah perbedaan dalam pembukaan surat ini. Kadang-kadang surat dibuka dengan ا لم  saja. kadang-kadang ا لمص, kadang-kadang ا لمر   dan kadang-kadang ا لر .

Untuk memperjelas masalah ini, terdapat hikmah atas penambahan huruf mim di dalam pembukaan Surat Ar Ra’du yang membedakan surat ini dengan surat sebelumnya dan surat sesudahnya.[1] Di antaranya hikmah yang dikutip dari ucapan Ibnu Abbas bahwa “Hikmah tambahan mim di dalam pembukaan ini adalah makna pembukaan dan sebelumnya di dalam alif lâm râ saja. Saya melihat Allah, sedangkan di dalam alif lâm mîm râ berarti saya melihat dan mengetahui Allah.” Berdasarkan apa yang telah dinukil dari Ibnu Abbas ini dapat disimpulkan bahwa huruf-huruf tersebut adalah bagian dari kata atau singkatan kata. Pendapat yang pertama lebih jelas.

Saya tertarik dengan apa yang diucapkan oleh Al Hafidz Ibnu Katsîr dalam menyoroti hikmah pembukaan surat dengan huruf.[2] Beliau berpendapat bahwa yang dimaksud adalah tantangan tentang huruf-huruf ini. Artinya, sebagaimana yang telah dimaklumi oleh orang-orang Quraisy dan Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa ia adalah ummî (tidak bisa membaca dan menulis). Seketika mereka dikejutkan oleh pembukaan seperti ini pada saat mulai membaca Al Qur’an. Maka, tidak diragukan lagi perhatian mereka tertuju pada apa yang dibaca Nabi. Pada sisi lain, ini akan membawa mereka untuk memikirkan sumber ilmu baru ini. Berpikir adalah tangga menuju hidayah, dan langkah pertama menuju keimanan yang benar. Kemudian setelah ini kami berkata: “Allah lebih mengetahui maksudnya, sebagaimana ulama salaf kita mengucapkan dahulu kala.”

… ini adalah ayat-ayat Al Kitab (Al Qur’an) dan Kitab yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu adalah benar…”

Itu adalah isyarat kepada ayat-ayat Al Qur’an dan menguatkan arti kebenaran dan turunnya dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala. Dan tidak diragukan lagi bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengisyaratkan di dalam surat Yûsuf kepada Al Qur’an dan menjelaskan bahwa Dia akan menceritakan kepada nabi-Nya dengan sebaik-baik cerita. Kemudian Dia menutup surat ini bahwa di dalam kisah-kisah Al Qur’an terdapat ibrah (pelajaran) bagi orang-orang yang berpikir dan untuk membuktikan tentang kebenaran kitab-kitab samawi dan syariat-syariat Allah sebelumnya. Kitab-kitab samawi ini menjelaskan semua yang bermanfaat bagi agama dan dunia manusia serta menjadi petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman.

Terkait dengan apa yang telah dijelaskan di dalam pembukaan dan penutup surat Yûsuf, di sini di dalam Surat Ar Ra’du, Allah subhanahu wa ta’ala menguatkan dan lebih menjelaskan makna kandungan surat Yûsuf di dalam pembukaan surat ini. Allah berfirman: “Itu adalah ayat-ayat Al Kitab…”, dengan karakteristik, keindahan dan sifat-sifatnya yang bermanfaat lagi mulia. Ini benar-benar dari sisi Allah subhanahu wa ta’ala, tanpa diragukan lagi.

وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

“…akan tetapi kebanyakan manusia tidak beriman (kepadanya)” (QS Ar Ra’du [13] : 1)

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan sifat-sifat tanda-tanda ini di dalam ayat terdahulu –bahwa ia adalah ibrah, pembenar, penjelas, hidayah, dan rahmat –maka Dia menutupnya dengan kalimat bahwa yang dapat mengambil manfaat dari semua itu adalah orang-orang mukmin yang percaya. Telah diceritakan bahwa orang yang dibacakan Al Quran antara bertambah atau berkurang, jika ia beriman, akan bertambah keimanannya dan petunjuknya, namun jika tidak, akan berkurang. Allah berfirman:[3]

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْقُرْآنِ مَا هُوَ شِفَاءٌ وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ وَلا يَزِيدُ الظَّالِمِينَ إِلا خَسَارًا

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman. Dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zhalim selain kerugian” (QS Al Isrâ’ [17] : 82)

Ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala menyebutkan hikmah-hikmah diturunkannya Al Qur’an, Dia memutuskan di dalam ayat ini hukum atau sunnah sosial, yaitu kebanyakan manusia tidak beriman. Makna ayat ini banyak dikemukakan dalam Al Quran. Setiap menyebutkan tanggapan mayoritas manusia, yang muncul adalah kesesatan dan pengingkaran. Sebaliknya, apabila respons minoritas yang diungkap, yang tampak adalah hidayah, cahaya, dan keberhasilan. Coba renungkan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala berikut ini:

وَمَا أَكْثَرُ النَّاسِ وَلَوْ حَرَصْتَ بِمُؤْمِنِينَ

“Dan sebahagian besar manusia tidak akan beriman – walaupun kamu sangat menginginkannya” (QS Yusuf [12] : 103)

وَإِنْ تُطِعْ أَكْثَرَ مَنْ فِي الأرْضِ يُضِلُّوكَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ إِنْ يَتَّبِعُونَ إِلا الظَّنَّ وَإِنْ هُمْ إِلا يَخْرُصُونَ

“Dan jika kamu menuruti kebanyakan orang-orang yang di muka bumi ini, niscaya mereka akan menyesatkanmu di jalan Allah. Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan belaka, dan mereka tidak lain hanyalah berdusta (terhadap Allah)” (QS Al An’am [6] : 116)

ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ

“Kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakan mereka, dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (taat)” (QS Al A’raf [7] : 17)

وَاتَّبَعْتُ مِلَّةَ آبَائِي إِبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ مَا كَانَ لَنَا أَنْ نُشْرِكَ بِاللَّهِ مِنْ شَيْءٍ ذَلِكَ مِنْ فَضْلِ اللَّهِ عَلَيْنَا وَعَلَى النَّاسِ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يَشْكُرُونَ

“Dan aku pengikut agama bapak-bapakku, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, tiadalah patut bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apapun dengan Allah. Yang demikian itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (seluruhnya), tetapi kebanyakan manusia tidak mensyukuri-Nya” (QS Yûsuf [12] : 38)

لَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ فِي مَوَاطِنَ كَثِيرَةٍ وَيَوْمَ حُنَيْنٍ إِذْ أَعْجَبَتْكُمْ كَثْرَتُكُمْ فَلَمْ تُغْنِ عَنْكُمْ شَيْئًا وَضَاقَتْ عَلَيْكُمُ الأرْضُ بِمَا رَحُبَتْ ثُمَّ وَلَّيْتُمْ مُدْبِرِينَ

“Sesungguhnya Allah telah menolong kamu (hai para mukminin) di medan peperangan yang banyak, dan (ingatlah) peperangan Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlah(mu). Maka, jumlah yang bayak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikitpun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari ke belakang dengan bercerai-berai” (QS At Taubah [9] : 25)

Dan coba bandingkan dengan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala. Berikut ini:

يَعْمَلُونَ لَهُ مَا يَشَاءُ مِنْ مَحَارِيبَ وَتَمَاثِيلَ وَجِفَانٍ كَالْجَوَابِ وَقُدُورٍ رَاسِيَاتٍ اعْمَلُوا آلَ دَاوُدَ شُكْرًا وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ

“Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam dan periuk yang tetap (berada di atas tungku). Bekerjalah hai keluarga Daud untuk bersyukur (kepada Allah), dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang berterima kasih” (QS Saba’ [34] : 13)

قَالَ لَقَدْ ظَلَمَكَ بِسُؤَالِ نَعْجَتِكَ إِلَى نِعَاجِهِ وَإِنَّ كَثِيرًا مِنَ الْخُلَطَاءِ لَيَبْغِي بَعْضُهُمْ عَلَى بَعْضٍ إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَقَلِيلٌ مَا هُمْ وَظَنَّ دَاوُدُ أَنَّمَا فَتَنَّاهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهُ وَخَرَّ رَاكِعًا وَأَنَابَ

Daud berkata: “Sesungguhnya dia telah berbuat zalim kepadamu dengan meminta kambingmu itu untuk ditambahkan kepada kambingnya. Dan sesungguhnya kebanyakan dari orang-orang yang berserikat itu sebahagian mereka berbuat zalim kepada sebahagian yang lain, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh; dan amat sedikitlah mereka ini.” Dan Daud mengetahui bahwa Kami mengujinya; maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu menyungkur sujud dan bertaubat. (QS Shâd [38] : 24)

وَلَقَدْ نَصَرَكُمُ اللَّهُ بِبَدْرٍ وَأَنْتُمْ أَذِلَّةٌ فَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Sungguh Allah telah menolong kamu dalam peperangan Badar, padahal kamu adalah (ketika itu) orang-orang yang lemah. Karena itu bertakwalah kepada Allah, supaya kamu mensyukuri-Nya.” (QS Âli ‘Imrân) [3] : 123)

فَلَمَّا فَصَلَ طَالُوتُ بِالْجُنُودِ قَالَ إِنَّ اللَّهَ مُبْتَلِيكُمْ بِنَهَرٍ فَمَنْ شَرِبَ مِنْهُ فَلَيْسَ مِنِّي وَمَنْ لَمْ يَطْعَمْهُ فَإِنَّهُ مِنِّي إِلا مَنِ اغْتَرَفَ غُرْفَةً بِيَدِهِ فَشَرِبُوا مِنْهُ إِلا قَلِيلا مِنْهُمْ فَلَمَّا جَاوَزَهُ هُوَ وَالَّذِينَ آمَنُوا مَعَهُ قَالُوا لا طَاقَةَ لَنَا الْيَوْمَ بِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالَ الَّذِينَ يَظُنُّونَ أَنَّهُمْ مُلاقُو اللَّهِ كَمْ مِنْ فِئَةٍ قَلِيلَةٍ غَلَبَتْ فِئَةً كَثِيرَةً بِإِذْنِ اللَّهِ وَاللَّهُ مَعَ الصَّابِرِينَ

Maka tatkala Thalut keluar membawa tentaranya, ia berkata: “Sesungguhnya Allah akan menguji kamu dengan suatu sungai. Maka siapa di antara kamu meminum airnya; bukanlah ia pengikutku. Dan barangsiapa tiada meminumnya, kecuali menceduk seceduk tangan, maka dia adalah pengikutku.” Kemudian mereka meminumnya kecuali beberapa orang di antara mereka. Maka tatkala Thalut dan orang-orang yang beriman bersama dia telah menyeberangi sungai itu, orang-orang yang telah minum berkata: “Tak ada kesanggupan kami pada hari ini untuk melawan Jalut dan tentaranya.” Orang-orang yang meyakini bahwa mereka akan menemui Allah, berkata: “Berapa banyak terjadi golongan yang sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah. Dan Allah beserta orang-orang yang sabar.” (QS Al Baqarah [2] : 249)

Apabila Anda menganalisis kenyataan ayat-ayat di atas di dalam kehidupan sosial, sebagai sebuah medan dakwah, niscaya Anda akan menemukan kebenaran fakta: tidak datang suatu dakwah yang mengajak kebenaran kecuali pengikutnya sedikit, dibandingkan pengikut kebatilan dan kesesatan. Namun, pada sisi lain, Anda akan melihat bahwa kemenangan selalu berada di pihak minoritas yang memegang kebenaran. Dengan demikian, cukup jelas segi penggabungan antara janji Allah kepada hamba-Nya (bahwa akan mengalahkan agama-agama lain) dengan penetapan bahwa kebanyakan manusia tidak beriman secara benar dan totalitas.

Dari sisi ini, Anda akan mengetahui bahwa ungkapan orang Arab “sesungguhnya kemuliaan milik mayoritas” tidak berlaku, kecuali jika perlengkapan perang kedua kelompok sama sedangkan yang lain lebih banyak jumlahnya. Adapun jika terdapat perbedaan antara Ahlu Al Haq dan Ahlu Al Bâthil, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala telah mencatat kemenangan di pihak orang yang benar, sekalipun jumlah musuhnya lebih banyak. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

وَلَقَدْ أَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ رُسُلا إِلَى قَوْمِهِمْ فَجَاءُوهُمْ بِالْبَيِّنَاتِ فَانْتَقَمْنَا مِنَ الَّذِينَ أَجْرَمُوا وَكَانَ حَقًّا عَلَيْنَا نَصْرُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan Sesungguhnya Kami telah mengutus sebelum kamu beberapa orang rasul kepada kaumnya, mereka datang kepadanya dengan membawa keterangan-keterangan (yang cukup), lalu Kami melakukan pembalasan terhadap orang-orang yang berdosa. Dan Kami selalu berkewajiban menolong orang-orang yang beriman” (QS Ar Rûm [30] : 47)

Penyebab berpalingnya kebanyakan manusia dari keimanan adalah bahwa manusia dipengaruhi oleh dua kekuatan yang berusaha mengalahkan satu sama lainnya. Kedua kekuatan ini adalah kekuatan kebaikan yang dikendalikan akal, diarahkan wahyu dan diperkuat oleh amal saleh. Sedangkan kekuaran yang lain adalah kekuatan keburukan yang bersumber dari nafsu syahwat, dibisikkan oleh setan dan dikendalikan oleh hawa nafsu, dibius oleh gemerlapnya materi dan kenikmatan dunia yang brsifat sementara, ditambah lagi kebiasaan dalam kemaksiatan dan kemungkaran.

Akal dan wahyu adalah jiwa yang mulia, sedangkan syahwat, hawa nafsu, keindahan dunia adalah alam perasaan. Manusia selama hidup di alam dunia, ia lebih dekat dengan perasaan ini. Oleh karena itu, ia tidak akan mampu menyalahkan doronga-dorongan keburukan kecuali dengan taufik rabbani. Keinginan yang kuat, mujahadah terus menerus dan tekad yang bulat –hal inilah yang sulit bagi kebanyakan jiwa.

Dari sini dapat dilihat bahwa mayoritas makhluk bernama manusia adalah materialistis, kecuali mereka yang berjumlah sedikit yang dapat mengendalikan nafsunya, mampu berinteraksi dengan alam rasa dan memohon dengan ketaatan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala:

إِنَّ الإنْسَانَ خُلِقَ هَلُوعًا (١٩) إِذَا مَسَّهُ الشَّرُّ جَزُوعًا (٢٠) وَإِذَا مَسَّهُ الْخَيْرُ مَنُوعًا (٢١) إِلا الْمُصَلِّينَ (٢٢) الَّذِينَ هُمْ عَلَى صَلاتِهِمْ دَائِمُونَ (٢٣)

Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, Dan apabia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shaatnya.”( QS Al Ma’arij [70] : 19-23)

Dan coba renungkan perputaran makna ini di dalam banyak ayat yang menyebut kata insân (manusia).

Lihatlah, bagaimana gejolak emosi, pengendai jiwa dan ketergantungan ruh dengan materi selalu berusaha memalingkan manusia dari keimanan pada sementara waktu, sampai akhirnya jauh dari akidah. Perhatikan konfirmasinya di dalam ayat Al Qur’an:

وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْا عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَهُمْ قَالُوا يَا مُوسَى اجْعَلْ لَنَا إِلَهًا كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ  . إِنَّ هَؤُلاءِ مُتَبَّرٌ مَا هُمْ فِيهِ وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: “Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala).” Musa menjawab: “Sesungguh-nya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan).” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.” (QS Al A’raf [7] : 138-139)

Renungkan juga peristiwa Perang Hunain. Ketika beberapa shahabat meewati Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam melewati poho milik orang-orang musyrik yang telah menggantungkan persenjataan mereka di atasnya. Pohon itu dinamai ‘pemilik medali.’ Kemudian mereka berkata,”Ya Rasulullah, beriah kepada kami pemilik medai sebagaimana mereka memilikinya.” Maka, Rasulullas Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Mahasuci Allah, ini adalah seperti apa yang dikatakan kaumnya Musa: ‘Berilah kami Tuhan sebagaimana mereka memiliki Tuhan.’ Demi Dzat yang jiwaku berada di dalam genggaman-Nya, kalian sungguh akan mengikuti sunnah sebelum kalian.”[4]

Renungkan semua itu agar Anda dapat memahami kebenaran syariat yang kekal ini. Sayangnya kebanyakan manusia tidak beriman,

أَفَمَنْ كَانَ عَلَى بَيِّنَةٍ مِنْ رَبِّهِ وَيَتْلُوهُ شَاهِدٌ مِنْهُ وَمِنْ قَبْلِهِ كِتَابُ مُوسَى إِمَامًا وَرَحْمَةً أُولَئِكَ يُؤْمِنُونَ بِهِ وَمَنْ يَكْفُرْ بِهِ مِنَ الأحْزَابِ فَالنَّارُ مَوْعِدُهُ فَلا تَكُ فِي مِرْيَةٍ مِنْهُ إِنَّهُ الْحَقُّ مِنْ رَبِّكَ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لا يُؤْمِنُونَ

“Apakah (orang-orang kafir itu sama dengan) orang-orang yang ada mempunyai bukti yang nyata (Al Quran) dari Tuhannya, dan diikuti pula oleh seorang saksi (Muhammad)  dari Allah dan sebelum Al Quran itu telah ada Kitab Musa yang menjadi pedoman dan rahmat? Mereka itu beriman kepada Al Quran. Dan barangsiapa di antara mereka (orang-orang Quraisy) dan sekutu-sekutunya yang kafir kepada Al Quran, maka nerakalah tempat yang diancamkan baginya, karena itu janganlah kamu ragu-ragu terhadap Al Quran itu. Sesungguhnya (Al Quran) itu benar-benar dari Tuhanmu, tetapi kebanyakan manusia tidak beriman.” (QS Hûd [11] : 17)

Maksud ayat di atas bukan berartibahwa mereka tidak beriman dalam arti mereka semua kafir. Bukan. Namun, yang dimaksud adalah di antara manusia ada yang tidak beriman lahir dan bathinnya. Mereka adalah orang orang kafir dari penyembah berhala, Ahli Kitab, ateis, zindik, dan lain-lain. Beberapa di antaranya orang yang lahiriyahnya beriman dan hatinya tidak, seperti orang-orang munafiq. Sebagian orang beriman secara lafadz namun tidak secara perbuatan, seperti orang Islam yang berbuat maksiat. Dan yang lainnya adalah orang tidak memenuhi sifat-sifat orang yang beriman di dalm hati namun mengamalkannya, maka orang semacam ini disebut orang yang kurang imannya. Orang yang tidak jelas pendiriannya –antara ragu-ragu atau beriman –adalah jenis lain dari tipe-tipe orang yang dimaksud dalaam ayat di atas.

Dan hikmah penetapan syariat ini di dalam Al-Qur’an adalah sebagai berikut:

  1. Bahwa kebenaran tidak megenal orang, tetapi kebenaran adalah kebenaran itu sendiri, sekaipun pengikutnya sedikit dan penentangnya banyak. Oleh karena itu, semua orang harus memegang kebenaran dengan proses pengkajian yang mendalam, pemikiran yang benar, dalil yang kuat dan bukti yang memuaskan tanpa memandang banyak atau sedikit pendukung.
  2. Melihat keberadaan para pembaru Islam yang telah mengisi waktu yang lama dengan jihad fî sabîlillâh, kemudian setelah itu menarik kesimpulan bahwa mereka tidak memperoleh kemenangan kecuali dengan jumlah orang-orang mukmin yang sedikit. Takziyah  ini mengarahkan kepada pelaku-pelaku dakwah agar pertanyaan yang diajukan dalam membentuk umat adalah bagaimana, bukan berapa. Dimulai dengan iman dan akidah, bukan dengan jumlah yang besar. Oleh karena itu, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam menghabiskan separuh masa dakwahnya di Mekah untuk memilih kader yang berkompeten sampai beliau memperoleh sebanuak empat puluh shahabat yang siap menjadi pemimpin masa depan.
  3. Memberi petunjuk kepada orang-orang mukmin agar menyempurnakan keimanan mereka dengan amal saleh, mujahadah terhadap jiwa dan mencegah yang buruk. Di samping itu, menjauhkan diri dari syubhat dan mengikuti jalan Allah Subhanahu wa Ta’ala agar mereka tidak kembali kepada martabat yang rendah setelah mencapai martabat yang tinggi, keimanan yang sempurna. Martabat yang rendah itu kebanyakan diakibatkan oleh taklid kepada umat terdahulu, umat yang tidak beragama dan tidak berakidah. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman. Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan Rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? Barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, maka sesungguhnya ia telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.s. ‘Âli ‘Imrân [3] : 100-101)

Di dalam ayat di atas, diisyaratkan bahwa iman tidak akan sempurna jika seorang mukmin tidak memercayai bahwa Al-Qur’an adalah haq (benar) diturunkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, kemudian berusaha mengamalkannya dan menjadikan hukum bagi dirinya. Allahu a’lam.


[1] Ini menjadi pendapat Al Qurthubî, ‘Azza, dan lain-lain. Lihat Al Jâmi’ li Ahkâm Al Qur’an karya Al Qurthubî Jilid 1 hal. 173.

[2] Lihat Tafsir Al Qur’an Al ‘Azhim, karya Ibnu Katsîr, Jilid 1 hlm. I 73-77, tahqiq Dr. ‘Ali Kamâl ‘Ali Jamal, Kairo: Dâr at-Tawzî’ wa an-Nasyr Al Islâmiyah, cetakan pertama, tahun 1419 H/ 1998 M.

[3] Ini ucapan Qatâdah Rahimahullah. lihat Al Jâmi’ Li Ahkâm Al Qur’an, karya Al Qurthubî, Jilid 10 hlm. 327, dan Tafsîr Al Qur’an al-Azhîm karya Ibnu Katsîr Jilid 3 hlm. 74.

[4]Lihat Sunan Tirmidzî, Jilid 4 hlm. 475 Kitab “Firnah-fitnah terhadap Rasulullah Saw.” Bab hadis “Kalian akan mengikuti sunnah kaum sebelum kalian”, dari hadis Abû Maqid Al Laitsi. Abû Isa berkata: “Ini adalah hadis sahih. Dan Abû Maqid Al Laitsi namanya adalah Al Harits bin ‘Awf. Dan hadis dari Abî Sa’îd dan Abû Hurairah.