Tag Archives: Ahmad Isa ‘Asyur

Hasan Al Banna

Produk Amal: Ruh dan Jiwa

Akhi..

 Di sini kita hendak membahas satu aspek yang dipaparkan oleh Al-Qur’an secara khusus, yaitu aspek ruh manusia. Ruh itu, Akhi, sebenarnya merupakan substansi kemanusiaan. Karena itu, ia berkedudukan ibarat jantung di dalam pembahasan kita ini. Ia merupakan hasil praktis dari kajian ini. Anda mengetahui, wahai Ikhwanku, bahwa Anda mempunyai komposisi ruhani dan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala telah meniupkan ruh-Nya ke dalam diri Anda. Hakikat ruh ini sendiri tidak penting bagi Anda. Karena Allah subhanahu wa ta’ala telah memerintahkan Nabi-Nya agar menjawab pertanyaan orang-orang yang bertanya tentang ruh, dengan jawaban bahwa ruh adalah urusan Allah.

Tidak diragukan lagi bahwa ruh itu merupakan unsur yang agung dan mulia karena merupakan urusan Allah. Tidak diragukan lagi bahwa ruh berada di alam metafisik, yang berada di luar ruang lingkup hukum-hukum alam. Ia berada di alam yang seluruhnya berisi cahaya dan sinar terang, semuanya jernih, tetapi ketika Al-Qur’anul Karim menyebutkan tentang jiwa manusia, maka ia menyebutkan sifat-sifatnya.

“Dan Kami telah menunjukkan dua jalan kepadanya.” (QS. Al-Balad : 10)

“Dan demi jiwa serta penyempurnaannya, maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaan.” (QS. Asy-Syams : 7 – 8)

Jiwa manusia semata, Saudaraku, adalah jiwa yang diberi hak memilih. Ia dapat melakukan kebaikan maupun keburukan. Ia mampu berbuat baik sebagaimana pula mampu berbuat buruk. Allah subhanahu wa ta’ala telah membuat berbagai sarana yang dapat digunakan dan dimanfaatkan untuk kebaikan, jika ia berorientasi kepadanya. Namun ia dapat pula digunakan untuk tujuan kejahatan jika ia berorientasi kepadanya. Inilah rahasia Allah, Tuhan yang Mahakuasa dan Maha Mengatur.

Akhi..

Sesungguhnya Anda dapat melakukan perbuatan baik dan perbuatan buruk, dan Anda mampu membedakan antara keduanya. Rahasia pemberian Tuhan ini selalu siap untuk ditingkatkan keilmuannya sampai pada puncak batas kemungkinan.

Akhi..

Anda bukan seorang malaikat yang seluruh hidupnya sarat dengan kebaikan, namun Anda juga bukan setan yang seluruh hidup Anda penuh dengan keburukan. Dengan kebijaksanaan Allah itu, Anda dapat mengisi hidup Anda dengan keduanya. Jadi, jiwa kemanusiaan Anda memiliki batas-batas yang luas dan karakter yang elastis; yang dapat menerima kebaikan sebagaimana pula dapat menerima kejahatan.

Wahai Akhi…

Demikianlah… Meskipun jiwa manusia dinilai sangat tinggi oleh Al-Qur’anul Karim, sekalipun jiwa manusia mempunyai ilmu dan keutamaan, dan sekalipun ia bercahaya dan cemerlang, namun manusia tidak disebut di dalam Al-Qur’an kecuali dengan gambaran bahwa ia memiliki kecenderungan kepada keburukan.

“Dan dipikullah amanat itu oleh manusia. Sesungguhnya manusia itu amat zhalim dan amat bodoh.” (QS. Al-Ahzab : 72)

“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar dan tidak berterima kasih kepada Tuhan-nya.” (QS. Al-Aadiyaat : 6)

“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian.” (QS. Al-’Ashr : 1-2)

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Jika ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah, dan apabila mendapat kebaikan ia amat kikir.” (QS. Al-Ma’arij : 19-21)

Wahai Akhi….

Ini semua disebabkan oleh kenyataan bahwa jiwa manusia menempati badan, sedangkan dengan kedudukan yang diberikan oleh Tuhan itu, ia lupa dan bodoh, sehingga ia terpola dengan karakter bejana dan wadah yang ditempatinya. Ia terpola dengan kecenderungan materi dan karakteristik-karakteristiknya. Tidak ini saja, bahkan setan telah menguasainya. Setan akan terus menguasai dan memikatnya.

Jika jiwa manusia pernah ditipu oleh setan pada saat pertama kali ia diciptakan, maka bagaimana pula pendapatmu wahai Akhi, setelah ia turun ke tempat kediamannya yang kedua dan ke dalam kantong materinya, sekalipun asal-usul dan penciptaannya bernilai tinggi?

Sekarang, wahai Akhi, apakah obatnya? Bagaimana penyembuhannya? Apakah martabat manusia menjadi anjlok? Tidak, martabatnya sama sekali tak akan turun.

“Sesungguhnya manusia benar-benar rugi. Kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih.” (QS. Al-Ashr : 2-3)

“Sesungguhnya manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, ia berkeluh kesah. Dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir. Kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat. Yaitu mereka yang terus-menerus mengerjakan shalatnya.” (QS. Al-Ma’arij : 19-23)

Jadi, wahai Akhi…

Untuk mengatasi karat ini diperlukan pembersih noda. Di sana ada perjuangan yang harus dilakukan terus-menerus. Allah tidak akan membiarkan Anda sia-sia. Sebaliknya, Allah telah mengirimkan para rasul yang membawa kita, sehingga ruh dapat dijaga kesuciannya dan orientasi Anda kepada Allah terus lestari, berkat karunia dan petunjuk-Nya.

Al-Qur’anul Karim telah mengisyaratkan bahwa jiwa manusia dalam perjuangan ini menga-lami beberapa tahapan dan peringkat. Maka, rutinkanlah, wahai Akhi, hubungan Anda dengan Allah. Rutinkanlah dzikir Anda, ketaatan Anda, dan perhatian Anda kepada Allah. Inilah pelarut karat yang dapat mencemerlangkan jiwa Anda manakala ia jatuh ke kubangan materi.

“Dan aku tidak menganggap bahwa diriku terbebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan…” (QS. Yusuf : 53)

“Dan orang-orang yang berjihad untuk mencari keridhaan-Ku, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Ankabut : 69)

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya kepada junjungan kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga, dan sahabatnya.