All posts tagged Al Intima’

Hilmi Aminuddin

Soliditas Jama’ah

Ikhwan dan akhwat fillah, untuk sebuah soliditas jamaah, kita memerlukan suatu kondisi, yang sering disebut denganistiqrar, ketenangan atau kestabilan. Sudah barang tentu kondisi ini pertama-tama dituntut dari setiap aktivis dari jamaah ini, dari setiap kader, dari ikhwan atau akhwat yang […]

Continue Reading...
Hilmi Aminuddin

Menumbuhkan Kemampuan Menguasai Masyarakat

Penguasaan masyarakat akan sangat tergantung pada tumbuhnya lima  jenis kader dakwah sebagai berikut,

Pertama, al khatib al jamahiriy, tumbuhnya para khutaba yang bersemangat, yaitu mereka

Hilmi Aminuddin

Dari Imsak Menuju Salamatush Shadr

Kita sudah banyak mendengar  wejangan tentang hikmah dan fawaid (keutamaan) Ramadhan. Diantara keistimewaan-keistimewaan Ramadhan yang demikian banyak, yang paling menjadi kalimat jami’ah (kalimat umum), yang biasa

Hilmi Aminuddin

Ahdaful Musyarakah

Sejak awal, musyarakah kitaketerlibatan kita dalam pemerintahan—sama sekali bukan ditujukan untuk kemenangan zhahir saja yang cenderung diisi dengan al kibr dan al kibriya’, merasa besar dan sombong. Kita bermusyarakah

Hilmi Aminuddin

Imtidad Ad Da`wah

Agar al-imtidadud da’awi (penyebaran pertumbuhan da’wah) semakin berpengaruh dalam perubahan, pembinaan, dan siyaghatu al-binaai al-ijtima’i (penataan struktur kemasyarakatan), tidak cukup hanya kita respon dengan al imtidad

Hilmi Aminuddin

Menjaga Karamah Basyariyah

“Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak-anak Adam, Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rizqi dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka

Hilmi Aminuddin

Ri’ayah Dakwah

Untuk menjamin nishabul baqa (angka atau quota yang aman bagi eksistensi gerakan dakwah), qudratu ‘ala tahammul (kemampuan memikul beban/tanggung jawab), dan hayawiyatul harakah (dinamika gerakan); perlu

Hilmi Aminuddin

Ad Da’watu Waludatun

Puluhan tahun yang lalu, langkah-langkah harakah di sini, di Indonesia, sunyi sepi, illa ma’allah, kecuali bersama Allah. Mengayunkan kaki seorang diri. Beberapa waktu kemudian dilakukan ta’sis