Tag Archives: Daud Rasyid Sitorus

Daud Rasyid Sitorus

Syarah Hadits Arba’in Ke-11: Tinggalkanlah Keragu-raguan

 عن أبي محمد الحسن بن علي بن أبي طالب سبط رسول الله صلى الله عليه وسلم وريحانته ، رضي الله عنهما قال : حفظت من رسول الله صلى الله عليه وسلم : ( دع ما يريبك إلى ما لا يريبك ) رواه الترمذي والنسائي ، وقال الترمذي : حديث حسن صحيح .

 Artinya

Dari al-Hasan ibn ‘Aly ibn Abu Thalib, cucu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata : Aku menghafal dari (ucapan) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam: “Tinggalkan apa yang membuatmu ragu dan ambillah apa yang engkau tidak ragukan.”

Dilaporkan oleh at-Tirmizy, Nasa’i. At-Tirmizy berkata : “Hadits ini Hasan Shahih”.

Tema Sentral

Tema sentral dari Hadits ini ialah seruan meninggalkan hal-hal yang diragukan kehalalan atau kebenarannya, dan mengambil apa yang diyakini kehalalannya.

Penjelasan

1. Singkatnya hadits ini. Bila kita perhatikan ucapan-ucapan Nabi, sebagian ada yang sangat singkat, tetapi mengandung makna yang sangat dalam. Kalau kita mau menjabarkannya, bisa disusun berjilid-jilid buku untuk menjabarkannya. Inilah keistimewaan ucapan Nabi. Jenis ucapan yang singkat seperti ini biasa disebut “Jawami’ al-Kalim” (ucapan yang sangat komprihensif).

2. Bila Anda perhatikan, hadits ini berisi panduan umum dalam hidup, dimana Nabi Saw menganjurkan umatnya agar menjauhi apa saja yang diragukan kehalalannya dalam semua aspek, baik dalam soal ibadah, mu’amalah, nikah dan lainnya. Yang dimaksud dengan hal yang meragukan adalah persoalan syubhat. Pada hadits yang lalu mengenai syubhat, juga sudah disinggung hal serupa.

Kita dapat merasakan bahwa sesuatu yang kita kerjakan atas dasar keyakinan, membuat kita menjadi tenang dalam melaksanakannya. Sebaliknya apabila suatu pekerjaan dilakukan berawal dengan keraguan, maka hati senantiasa ragu dan gelisah dalam melakukan pekerjaan itu, apakah ia salah, sehingga pada akhirnya berakibat buruk pada diri si pelaku.

Umpamanya seseorang bekerja di suatu bidang atau professi, di mana ia dari awal sudah merasa ragu akan pekerjaan itu. Keraguannya bisa jadi berasal dari jenis pekerjaan tersebut yang banyak bersinggungan dengan hal-hal yang dilarang di dalam Islam. Bisa juga karena lingkungan tempat bekerja itu sangat jauh dari nilai dan norma-norma Islam. Hal-hal ini bagi orang yang menjaga kebersihan diennya, akan merasa gelisah. Maka berdasarkan anjuran hadits di atas, orang tersebut hendaknya mencari alternative pekerjaan lain jika memungkinkan. Sebab bila ia pertahankan, maka besar kemungkinan akan menyeretnya kepada pelanggaran norma-norma Syari’at.

Demikian pula halnya dengan faham, aliran atau ajaran yang banyak mengandung hal-hal yang diragukan kebenarannya, maka faham seperti itu berdasarkan hadits ini hendaknya ditinggalkan. Seorang Muslim pada dasarnya memiliki daya penangkal dalam dadanya yaitu Iman. Apabila ia berhadapan dengan sebuah ajaran, faham, atau aliran yang tidak benar, Imannya akan bersuara, meragukan faham itu. Hatinya mengatakan, faham ini tidak benar, sekalipun ia belum mendalaminya atau belum bertanya kepada yang ahli di bidang Islam.

Umpamanya, kalau ia mendengar ada suara sumbang yang meragukan kebenaran al-Qur’an, meragukan keabsahan hadits Nabi, meragukan kesolehan sahabat Nabi, maka sesungguhnya ada penolakan awal dari dalam hatinya. Dan ini adalah fitrah sebagai Muslim. Namun fitrah ini harus senantiasa dipupuk dan dipelihara. Sebab jika ia sering dibantah dan disalahi, maka suara iman itu tidak lagi muncul dan lenyap. Na’uzu billah. Orang seperti ini sudah terjerumus dalam kesesatan.

Namun kalau hadits ini kita tarik ke zaman sekarang, kebanyakan orang sudah tak peduli dengan hal-hal yang meragukan, bahkan mereka tidak peduli dengan hal-hal yang jelas-jelas diharamkan. Begitulah jauhnya perbandingan masyarakat Islam di zaman sahabat dengan di zaman sekarang. Kalau para sahabat dulu sensitive dengan perkara-perkara yang meragukan, tetapi manusia di zaman ini tidak sensitive dengan persoalan yang diharamkan sekalipun. Wallahul Musta’an.

Menetapkan hukum dan menjalankan hukum atas dasar keyakinan bukan atas dasar keraguan.

Yang halal, benar, dan jujur akan mendapatkan kedamaian dan keridhaan. Sedangkan yang haram, batil dan dusta, akan melahirkan rasa gundah dan kebencian

Ada beberapa ungkapan Salafus Shaleh berkenaan dengan rasa ragu ini. Abu Zar al-Ghifari berkata : Kesempurnaan takwa seseorang adalah meninggalkan beberapa hal yang halal, karena takut hal itu haram.

Abu ‘Abdurrahman al-’Umry berkata : Jika seseorang memilih sikap wara’, maka ia akan meninggalkan sesuatu yang diragukan dan melakukan sesuatu yang tidak diargukan.”

Wudhu’

Ada kalanya keyakinan berbenturan dengan keraguan, maka yang dipilih adalah yakin. Hal ini dikatakan dalam kaidah Ilmu Fiqh “al-Yaqin La yazulu bisy-Syak” (sesuatu yang diyakini tidak bisa dihilangkan oleh keraguan).

Umpamanya, seseorang telah berwudhu’, kemudian muncul di dalam dirinya keraguan apakah wudhu’nya telah batal, karena buang angin atau sebab lain yang dapat membatalkan wudhu’.  Maka sikap yang harus diambil dalam hal ini adalah membuang keraguan itu dan ia kembali kepada keyakinan bahwa dirinya tetap dalam keadaan berwudhu’.

Berbeda halnya jika orang tersebut ragu apakah ia sudah berwudhu’ atau belum, maka sikap yang harus diambilnya adalah mengulangi berwudhu’, karena yang diyakini adalah belum berwudhu, tapi ragu apakah sudah berwudhu’.

Daud Rasyid Sitorus

Syarah Hadits Arba’in Ke-10: Makan dari Rizki yang Halal

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : إن الله طيب لا يقبل إلا طيبا ، وإن الله أمر المؤمنين بما أمر به المرسلين فقال تعالى : ( يا أيها الرسل كلوا من الطيبات واعملوا صالحا (المؤمنون 51) وقال تعالى : ( يا أيها الذين آمنوا كلوا من طيبات ما رزقناكم (البقرة 172) ثم ذكر الرجل يطيل السفر أشعث أغبر يمد يديه إلى السماء يا رب يا رب ، ومطعمه حرام ، ومشربه حرام ، وملبسه حرام ، وغذي بالحرام ، فأنى يستجاب له (رواه مسلم ).

Artinya :

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah r.a ia berkata, bahwa Rasulullah Saw bersabda : “Sesungguhnya Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik saja. Allah memerintahkan kepada orang-orang beriman seperti apa yang Dia perintahkan kepada Para Rasul. Allah berfirman : Hai Rasul-rasul! Makanlah sebagian dari yang baik-baik dan berbuatlah amal yang baik. (surat al-Mukminun : 51) dan Allah berfirman : “Hai orang-orang beriman. Makanlah makanan yang baik yang Kami berikan kepada kalian.” (al-Baqarah : 172) Lalu Rasulullah bercerita tentang seorang lelaki yang menempuh perjalanan jauh, hingga rambutnya kusut dan kotor, iapun menadahkan kedua tangannya ke langit (sambil berseru) ‘Ya Rob. Ya Rob’ sementara makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, dan ia kenyang dengan barang haram. Bagaimana mungkin doanya dikabulkan?” Dilaporkan oleh Muslim dalam “Shahih”nya.

Tema Sentral hadits ini

Tema Hadits ke 10 ini menjelaskan dua hal; Pertama, amal yang dipersembahkan kepada Allah Swt haruslah amal terbaik dan terbersih. Kedua, Doa yang diperkenankan oleh Allah adalah doa yang dipanjatkan oleh orang yang relative bersih.

Penjelasan

Allah hanya menerima amal yang baik

Dari Hadits di atas, kita dapat fahami bahwa tak semua amal yang dilakukan oleh manusia, diterima oleh Allah Swt. Jadi setiap orang yang beramal seharusnya juga memperhatikan hal ini. Di dalam hadits di atas Rasulullah Saw menegaskan mana amal yang diterima Allah itu, yaitu hanya amal yang baik dan yang bersih saja. Sedangkan amal yang tidak baik dan bercampur dengan hal-hal yang haram dan kotor, dipastikan amal itu tidak akan diterima oleh Allah.

Lalu apakah amal yang baik? Amal yang baik bisa berupa ucapan atau perbuatan. Ucapan yang diterima oleh Allah ialah zikrullah, tilawatul Qur’an, nasehat dan ucapan yang mengajak orang ke jalan Allah. Bukan sebaliknya ucapan kotor, dan menyebarluaskan kesesatan dan pikiran-pikiran yang bertentangan dengan dien Islam. Bukankah banyak ucapan/perkataan orang, baik disampaikan melalui obrolan, ceramah, diskusi, orasi yang tidak sejalan dengan ajaran Islam? Maka ucapan semacam ini tidak akan diterima oleh Allah. Jadi pembicaraan itu akan menjadi sia-sia belaka dan orang Mukmin selalu menghaindar dari perilaku sia-sia, termasuk di dalamnya lawak lucu-lucu yang mengundang orang untuk tertawa. Perhatikan firman Allah Swt dalam Surat Fathir : “KepadaNya lah naik (disambut) perkataan-perkataan baik, dan amal yang saleh dinaikkanNya. (Fathir : 10).

Sedangkan amal perbuatan yang diterima oleh Allah adalah amal yang bersih dari segala yang mengotorinya seperti syirik, riya’ dan ‘ujub. Di samping amal itu tidak bercampur dengan benda lain yang haram.

Makanan yang Halal

Di dalam hadits di atas dengan jelas Rasulullah menekankan agar orang mukmin menghindari dan menjauhi makanan haram. Makanan haram, bisa jadi karena dua hal : 1. Benda yang dimakan itu sendiri adalah benda yang diharamkan seperti babi dan unsur-unsurnya, 2. Uang yang dikonsumsi adalah uang haram, karena diperolah dari sumber yang haram. Sungguh memprihatinkan keadaan sebagian umat Islam di negeri Muslim yang tidak peduli dengan mata pencahariannya dan uang yang diperolehnya. Mereka hidup dari yang haram. Sebagian dari merampas dan memeras uang rakyat. Sebagian hidup dari mempertontonkan aurat dan tubuhnya di depan public, bahkan menjual kehormatannya asal mendapatkan imbalan uang yang banyak. Sebagian dari transaksi bisnis yang tidak halal karena menggunakan uang riba, hasil tipuan, curang dan lainnya. Dari sumber itulah mereka hidup dan menghidupi keluarganya, bagaimana mungkin doa mereka dikabulkan oleh Allah ?

Di dalam Islam tidak ada money laundrey

Ada sebagian orang berprasangka, bahwa uang haram yang dia peroleh selama ini, untuk membersihkannya, ia infaqkan ke jalan Allah, atau ia pakai untuk biaya umroh dan haji. Pandangan seperti ini jelas keliru dan ditolak oleh hadits di atas. Harta yang diperoleh dari sumber yang kotor atau tidak halal, tidak akan bisa dibersihkan dengan cara apapun. Ia tidak akan menjadi bersih dengan dibawa haji atau umroh, atau disedekahkan sebagian kepada anak yatim. Harta yang tidak halal satu-satunya jalan, adalah dengan mengembalikannya kepada sumber aslinya. Jika ia berasal dari uang Negara atau uang rakyat, maka dikembalikan kepada Negara atau rakyat. Bila ia berasal dari uang milik pribadi seseorang, maka harus dikembalikan kepada pemiliknya yang sah. Jadi tidak ada system cuci uang dalam Islam. Yang haram, tetap haram, dan ia tidak dipandang oleh Allah Swt.

Jadi uang hasil korupsi atau hasil tipuan, perasan, dan sejenisnya bila dipakai untuk biaya haji atau ibadah lainnya, maka ibadah itu tidak akan diterima oleh Allah Swt.

Doa-doa yang diijabah oleh Allah

Dalam hadits di atas disinggung juga soal doa. Pada dasarnya setiap hamba Allah wajib memanjatkan doa kepada Allah agar ia senantiasa berada dalam lindungan dan pemeliharaan Allah Swt. Demikian juga untuk menutup segala kebutuhannya. Namun untuk berdoa seharusnya diperhatikan pula berbagai persoalan yang terkait dengan doa, seperti apa saja yang membuat doa agar diijabah oleh Allah Swt.

Di dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurayrah, disebutkan sabda Rasul Saw bahwa ada tiga doa yang dikabulkan oleh Allah Swt yaitu : 1. do’a orang yang sedang musafir. 2. Doa orang yang terzalimi. 3. Doa orang tua terhadap anaknya.

Begitu juga sebaliknya, ada hal-hal yang membuat doa seseorang terhalang dan tidak terkabul. Doa siapakah itu? Yaitu doa orang yang disebutkan di dalam hadits di atas.; do’a orang yang sumber kehidupannya berasal dari yang haram. Sabda Nabi : “Makanannya haram, minumannya haram, pakaiannya haram, perutnya kenyang dari yang haram. Bagaimana mungkin do’anya terkabul?” Kenapa demikian? Karena pekerjaan yang memberikan hasil kepadanya adalah pekerjaan haram. Di sinilah setiap orang harus melakukan introspeksi, apakah pekerjaannya sekarang termasuk yang halal atau justru yang haram. Semua ini memerlukan kejujuran. Dan semua harus diukur dengan timbangan syari’at Islam dan ditanyakan kepada yang ahlinya.yang jujur. Apabila ternyata pekerjaan itu tergolong pekerjaan yang diharamkan, maka seharusnya seorang Muslim tidak ragu-ragu melepaskannya dan mencari pekerjaan lain yang halal, kendatipun hasilnya lebih kecil dari yang ada sebelumnya. Yang harus dijadikan standar adalah kualitas pencaharian (HALAL HARAM), bukan jumlah yang dihasilkan (besar).

Daud Rasyid Sitorus

Syarah Hadits Arba’in Ke-9: Melaksanakan Perintah Sesuai Kemampuan

عن أبي هريرة عبد الرحمن بن صخر رضي الله عنه قال : سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول : ( ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم ، فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلافهم على أنبيائهم ) رواه البخاري ومسلم

Artinya :

Diriwayatkan dari Abu Hurayrah R.a, ia berkata, aku mendengar Rasulullah Saw bersabda : “Apa yang kularang pada kalian, maka jauhilah perbuatan itu , dan apa kuperintahkan kepada kamu, laksanakanlah sesuai kemampuanmu. Sungguh kehancuran orang-orang sebelum kamu dahulu, adalah disebabkan karena banyaknya pertanyaan mereka dan menyalahi (membantah) Nabi-nabi mereka.” Dilaporkan oleh Imam al-Bukhary dan Muslim.

Tema Sentral Hadits ini :

Tema sentral Hadits ini adalah mendudukkan posisi “perintah” dan “larangan” di dalam ajaran Islam dan konsekuensinya. Antara perintah dan larangan terdapat sedikit perbedaan dalam titik tekannya. Kendatipun kedua-duanya harus ditaati.

Begitu juga mengenai pertanyaan, hadits di atas menjadikan masalah pertanyaan sebagai salah satu bahasan.. Umat terdahulu sebelum umat Islam, menjadi sesat gara-gara banyak bertanya tetapi tidak melaksanakan jawaban dari pertanyaan itu.

Latar Belakang Munculnya Hadits :

Hadits ini mempunyai latar belakang kemunculannya. Dalam beberapa versi riwayat, seperti riwayat Muhammad Ibn Ziyad dari Abu Hurayrah, radhiyallahu ‘anhu, disebutkan, bahwa Rasul pernah berkhotbah yang isinya menerangkan bahwa Allah Swt mewajibkan haji kepada orang-orang Mukmin, oleh karenanya kewajiban ini harus dilaksanakan. Tiba-tiba seseorang bertanya, apakah haji dilaksanakan setiap tahun? Namun Nabi diam, tidak menjawab. Hingga orang tersebut mengulangi pertanyaannya tiga kali. Kemudian Rasul menjawab: “Kalau saya katakana ‘ya’, niscaya ia akan menjadi (setiap tahun) dan kalian tidak akan sanggup. Kemudian Rasul melanjutkan ucapannya: “Cukupkan apa yang saya tinggalkan untuk kalian. Sesungguhnya kehancuran orang sebelum kamu dahulu, adalah karena banyak bertanya dan menyalahi (petunjuk) Nabi-nabi mereka. Bila kuperintahkan kalian untuk melakukan sesuatu, maka laksanakanlah menurut kadar kemampuanmu. Tetapi bila kularang dari suatu perbuatan, maka tinggalkanlah sepenuhnya.”

Dalam suatu riwayat dikatakan, maka turunlah ayat al-Qur’an dalam surat al-Ma’idah 101:

“Hai orang-orang beriman! Jangan kamu bertanya tentang berbagai masalah, karena jika dinyatakan (jawabannya) kepada kamu, niscaya akan menyusahkan kamu.”

Penjelasan Hadits:

Hadits ini mengandung beberapa pengajaran, di antaranya:

1. Sikap seorang Muslim terhadap perintah dan larangan dien/syari’at (agama). Ada perbedaan sikap antara perintah dan larangan. Bila ada perintah dari Allah atau RasulNya, yang bersifat umum, tanpa penjelasan rincian, maka sikap Muslim adalah menjalankan perintah itu sesuai kemampuannya. Umpamanya, ada perintah melaksanakan Haji. Perintah itu tidak menentukan agar dilaksanakan setiap tahun atau berapa tahun sekali, maka seharusnya perintah itu tidak perlu ditanyakan rinciannya. Apabila dipenuhi pelaksanaannya menurut kemampuan seseorang (walau sekali), berarti perintah itu sudah dilaksanakan.

Berbeda halnya dengan larangan. Bila dien/syari’at melarang sesuatu, maka perbuatan itu harus ditinggalkan sepenuhnya, bahkan harus dijauhi. Umpamanya zina diharamkan. Maka perbuatan zina harus dijauhi dalam segala bentuknya, seperti berduaan tanpa mahram, mengunjungi tempat-tempat maksiyat, menonton film yang dapat merangsang nafsu, berpacaran, dan sejenisnya.

Akan tetapi bila sebuah kewajiban itu diterangkan dengan rinci, maka tidak dapat dilaksanakan sebatas kemampuan, melainkan harus dipenuhi standar yang diminta. Umpamanya kewajiban Shalat lima waktu. Kewajiban ini tidak dapat ditawar menjadi tiga kali shalat saja. Begitu juga kewajiban berpuasa Ramadhan sebulan penuh, tidak bisa ditawar menjadi setengah bulan, atau seminggu saja, dengan alasan sebatas kemampuan. Akan tetapi ia harus dilaksanakan sesuai dengan standar aturannya. Begitu juga lama (durasi)nya, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari, tidak dapat ditawar agar kurang dari waktu itu, karena alasan kemampuan, padahal orang tersebut normal.

Kondisi tidak normal:

Memang ada kalanya dalam pelaksanaan Ibadah, batas kemampuan sangat diperhatikan, yaitu bila terjadi keadaan tidak normal, seperti kesehatan, atau keadaan sulit dalam perjalanan. Hal ini didasarkan pada kaidah umum dalam Syari’at Islam yaitu ‘mudah’ dan ‘ringan’. Kaidah ini bersumber dari ayat al-Qur’an :

“Allah tidak membuat kamu menjadi sulit dalam (melaksanakan) dien.(agama)”.(al-Hajj 78).

Tampak sekali penerapan kaidah tersebut dalam pelaksanaan ibadah. Seperti keharusan berwudhu’ ketika hendak shalat. Apabila seseorang kesulitan mendapatkan air, atau air tersedia tetapi tidak dapat dipakai karena factor kesehatan, maka berdasarkan hukum syari’at, boleh menggunakan tanah atau debu (tayammum) sebagai pengganti wudhu’, Setelah bertayammum, seseorang melaksanakan shalat seperti biasa.

Begitu juga dalam pelaksanaan shalat itu sendiri. Bila seseorang tidak dapat berdiri, karena sakit, maka ia boleh sahalat dalam posisi duduk, bahkan kalau tidak mampu duduk, boleh berbaring. Bukankah ini keringanan syari’at karena mempertimbangkan keadaan pribadi seseorang.

Demikian pula dalam hal puasa. Bila seseorang berada dalam perjalanan ke luar kota (musafir), maka ia memperoleh keringanan untuk tidak berpuasa, tetapi wajib mengulanginya pada hari-hari lain setelah Ramadhan sebanyak hari yang ditinggalkannya.

Masalah pertanyaan

2. Masalah pertanyaan termasuk tema sentral yang diterangkan di dalam hadits di atas. Tidak bisa dipungkiri, bahwa dien ini (Islam) adalah dien yang sarat dengan ilmu pengetahuan. Sedangkan salah satu kunci untuk memperoleh ilmu adalah dengan bertanya. Sementara isi hadits di atas, larangan untuk banyak bertanya. Apakah di sana terdapat pertentangan? Jawabannya: “tidak”.

Bila kita perhatikan watak (karakter) sebuah pertanyaan, terdapat berbagai jenis pertanyaan. Ada pertanyaan yang wajar dan bahkan harus dimunculkan. Seseorang tidak boleh membiarkan dirinya dalam keadaan tidak tahu (jahil) terhadap dien ini. Ia harus bertanya kepada ahlinya, jika ada yang tidak diketahuinya. Tetapi ada sebagian pertanyaan yang masih jauh kemungkinan terjadinya, atau dalam kondisi normal tidak terjadi. Umpamanya bagaimana cara shalat di bulan, ke arah mana menghadap? Atau seekor kambing melahirkan babi dalam kandungannya, apakah halal atau haram? Pertanyaan ini tak perlu ditanyakan, karena tidak ada perlunya.

Ada lagi sebagian orang bertanya dalam masalah hukum, tujuannya bukan ingin mengetahui kebenaran, tetapi mencari jawaban yang sesuai dengan seleranya. Contohnya, ada orang yang tidak merasa puas dengan fatwa bahwa bunga bank itu riba. Lalu ia bertanya terus pada setiap pengajian, atau pada sejumlah ustaz. Dan belum berhenti bertanya sebelum bertemu dengan orang yang berfatwa bahwa bunga bank tidak riba. Jadi orang ini bertanya bukan karena ingin mengetahui kebenaran, tetapi mencari jawaban yang enak pada dirinya. Begitu juga orang yang bertanya mengenai hukum berjilbab bagi perempuan. Pertanyaan itu berulang kali ia tanyakan kepada sejumlah ahli, namun semua ahli mengatakan, berjilbab hukumnya wajib. Ketika ia berjumpa dengan orang yang mengatakan berjilbab hukumnya tidak wajib, iapun merasa senang dan mendukung, karena ia mendapatkan jawaban yang sesuai menurut seleranya, bukan menurut kebenaran.

Jadi seorang Muslim ketika bertanya, hendaknya menyiapkan dirinya menerima jawaban atas pertanyaannya selama jawaban itu didukung oleh dalil.

Abu Hurayrah berkata, Rasulullah Saw bersabda : “Allah Swt menyukai kamu tiga perkara dan membenci dari kamu tiga perkara pula; Allah suka kalau kamu menyembahNya dan tidak menyekutukan Dia dengan sesuatupun, dan berpegang teguh dengan tali Allah seluruhnya serta tidak berpecah belah. Dia benci dari kamu kata si A, kata si B, banyak bertanya dan menyia-nyiakan harta.” Riwayat Imam Muslim.