Tag Archives: Ibnu Luthfie At Tamaniy

hasanalbanna.com

Al Ikhwan Al Muslimun Komitmen dengan Salafisme

Dalam sebuah kajian halaqah tarbawiyah saya pernah mengatakan bahwa Al Ikhwan Al Muslimin sebenarnya termasuk gerakan yang bercorak salafisme (salafiyah). Karena salafisme adalah sebuah paham yang komitmen mengikuti tiga pokok sumber Islam yang maksum: Al-Qur`an, As-Sunnah, dan ijma’ salaf dan imam-imam. Orang yang komitmen mengikuti tiga pokok sumber tersebut maka dia termasuk pemeluk Islam yang murni dan merefleksikan Ahlus Sunnah wal Jama’ah.

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata: “Maka agama kaum Muslimin dibangun di atas ittiba’ kepada kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan apa-apa yang menjadi kesepakatan umat. Tiga hal itu merupakan dasar-dasar (agama) yang maksum.” (Majmu’ Al Fatawa: 20/164)

Syaikh Hasan Al-Banna pada banyak kesempatan di risalah-risalahnya menjelaskan corak salafisme Al Ikhwan Al Muslimin. Bahwa sumber agama (mash-dhar at talaqqi), tempat pengambilan aqidah (istimdad al ‘aqidah), rujukan penetapan hukum (marji’ al ahkam), dan parameter prinsip-prinsip dakwah (ashl ad da’wah) harus kepada Al-Qur`an, As-Sunnah, dan sirah salaf.

Dalam risalah Da’watuna halaman 16 beliau rahimahullah berkata: “Dakwah kami adalah dakwah “Islamiyah” dengan segala makna yang terkandung dalam kalimat tersebut. Maka, pahamilah ia sesukamu sesudah itu. Sedangkan kamu dalam pemahamanmu terikat dengan kitabullah, sunnah rasul-Nya, dan sirah generasi salaf yang shalih dari kaum Muslimin. Adapun kitabullah adalah dasar dan pilar agama Islam. Sedangkan sunnah merupakan penjelas dan pensyarah Al-Qur`an. Sementara sirah generasi salaf yang shalih karena mereka ridhwaanullah ‘alaihim merupakan pelaksana-pelaksana perintahnya dan orang-orang yang mengambil ajaran-ajarannya; mereka merupakan contoh operasional (matsal ‘amaliyah) dan potret praktis (shurah matsilah) dari perintah-perintah dan ajaran-ajaran (Islam).”

Dalam risalah Ilaa Asy-Syabaab halaman 84, ketika menjelaskan sumber-sumber pengambilan dakwah Imam Al-Banna rahimahullah berkata: “Dan, sandaran kami dalam semua itu adalah kitabullah yang tidak ada padanya kebathilan baik di depan maupun di belakang, sunnah shahihah dan tsabitah (valid) yang berasal dari Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam, serta sirah yang suci dari generasi salaf umat ini.”

Karena itu, seorang pimpinan dan kader Al Ikhwan Al Muslimun sangat mengagungkan nash-nash agama dan syariah serta memuliakan dan menghormati generasi salaf dan imam-imam. Juga semangat dalam mengikuti dan melaksanakan petunjuk-petunjuk dan ajaran-ajaran Islam baik dalam aqidah, syariah, muamalah, dan dakwah. Dan, hal tersebut dijadikan barometer keistiqamahan dan kebengkokkan, kebaikan dan kerusakan, serta keterpimpinan dan kesesatan.

Dalam Risalah At-Ta’alim halaman 268 Al-Banna rahimahullah berkata: “Al-Qur`an dan sunnah yang suci adalah rujukan setiap Muslim dalam mengenal hukum-hukum Islam. Al-Qur`an harus dipahami sesuai kaedah-kaedah bahasa Arab tanpa dipaksa-paksakan (takalluf) dan dipas-paskan (ta’assuf). Dan, dalam memahami sunnah yang suci harus merujuk kepada ulama-ulama hadits yang kredibel (atsbaat).”

Maka sangat asing dalam ‘urf (tradisi) Al Ikhwan Al Muslimun ketika ditemukan orang-orang yang mengaku anggotanya ternyata malas dalam thalabul ‘ilmi dan tafaqquh fiddiin serta menelaah kitab-kitab para ulama.

Bagaimana bisa memahami Al-Qur`an dengan benar dan tepat kalau tidak paham bahasa aArab yang merupakan bahasa Al-Qur`an?! Selama hampir tiga puluh tahun banyak murabbi-murabbi yang mendidik generasi tanpa paham bahasa arab. Lalu apakah yang mereka ajarkan dari Al-Qur`an kepada generasi Muslim?! Lumrah kalau hasilnya sekarang adalah generasi yang salah kaprah dalam memahami Al Ikhwan Al Muslimun. Disangkanya bahwa dakwah Al Ikhwan Al Muslimun adalah dakwah yang bertumpu pada demokrasi; berorientasi kursi dan jabatan; dan membolehkan inhiraf dan kemungkaran sebagai alat meraih kemenangan.

Dan, bagaimana bisa memahami sunnah kalau mereka tidak paham tentang ilmu-ilmu yang menjadi syarat untuk memahaminya seperti ilmu hadits dan ushul fiqh?. Aneh sekali ketika ada kadernya yang dalam memahami sunnah merujuk kepada Fazlurrahman yang sudah dikafirkan ulama-ulama Pakistan. Atau merujuk kepada pendapat-pendapat ahli kalam seperti Mu’tazilah dan sejenisnya. Padahal Imam Al-Banna telah menegaskan agar kembali kepada ulama-ulama dan imam-imam hadits yang lurus aqidahnya, mulia sejarah hidupnya, dan keimamannya diakui para ahli hadits.

Sebagai penutup saya nukilkan ucapan Imam Al-Banna yang menegaskan salafismenya Al Ikhwan Al Muslimun serta keterusterangannya untuk mewujudkan ajaran-ajaran Islam, petunjuk-petunjuk, dan hukum-hukumnya dalam kehidupan, sekalipun dipahami secara salah kaprah oleh anak-anak muda di negeri ini.

Pada risalah Ilaa Ayi Syai-`in Nad’u An-Nas halaman 35 Imam Syahid rahimahullah berkata: “Dan, kaum yang lain berkata, “Sesungguhnya Al Ikhwan Al Muslimun adalah kaum politisi dan dakwah mereka adalah dakwah politik. Serta mereka punya agenda-agenda terselubung.” Kami tidak tahu sampai kapan umat ini saling menuduh, saling melempar prasangka, dan memberi gelaran-gelaran, serta meninggalkan hal yang sudah pasti yang didukung realitas dalam rangka mewujudkan prasangka yang banyak diliputi keraguan-keraguan? Wahai kaum kami, sesungguhnya kami menyeru kalian sementara Al-Qur`an ada di tangan kanan kami, sunnah ada di tangan kiri kami, dan amal generasi salaf yang shalih dari putera-putera umat ini menjadi teladan kami. Dan, kami mengajak kalian kepada Islam, ajaran-ajaran Islam, hukum-hukum Islam, dan petunjuk Islam. Kalau semua itu termasuk politik dalam pandangan kalian, maka inilah politik kami. Dan, bila orang-orang yang mengajak kepada prinsip-prinsip tersebut dianggap seorang politisi, maka kami, alhamdulillah, adalah orang yang antusias dalam politik. Dan, jika kalian senang menyebut yang demikian itu sebagai politik maka silahkan saja menyebutnya sesuka kalian. Karena tidak akan membahayakan kami nama-nama tersebut selama subtansi-subtansinya jelas dan tujuan-tujuannya juga terang.”