Tag Archives: Ma’alim fi Ath Thariq

Sayyid Quthb

Hukum Kosmos (2)

Syariat Allah yang ditetapkan-Nya untuk mengatur kehidupan manusia, dengan demikian, merupakan hukum kosmis (syariah kauniyyah). Artinya, hukum ini bertautan erat -dan bergerak harmonis- dengan undang-undang semesta yang bersifat universal. Dari sini maka komitmen pada syariat-Nya timbul karena tiga hal: 1) Pentingnya merealisasikan keharmonisan antara kehidupan manusia di satu sisi dan pergerakan kosmos -yang mejadi tempat hidup manusia- di sisi lain; 2) Pentingnya realisasi keserasian antara hukum yang mengatur fitrah tersembunyi manusia dan hukum yang mengatur kehidupan mereka yang kasat mata; dan 3) Pentingnya keharmonisan antara kepribadian manusia yang tersembunyi dan kepribadiannya yang tampak.

Manusia tidak mampu memahami semua aktivitas kosmos (as-sunan al-kauniyyah), dan tidak dapat mengetahui limit-limit undang-undang yang universal. Bahkan mereka tidak mampu mengetahui hukum yang mengatur -sekaligus menundukkan mereka kepada- fitrah mereka yang hakiki. Oleh sebab itu, diakui atau tidak, manusia tidak akan mampu menetapkan, bagi kehidupan mereka, undang-undang yang bisa mendorong terjadinya keseimbangan mutlak antara kehidupan manusia dan pergerakan kosmos; bahkan meski hanya keserasian antara fitrah tersembunyi manusia dan kehidupan nyata mereka. Karena, yang mampu melakukannya hanyalah Pencipta kosmos dan Pencipta manusia, yang sekaligus Pengatur kepentingan kosmos dan manusia sesuai dengan satu undang-undang yang ditentukan dan diridhai-Nya.

Demikian halnya mengamalkan syariat Allah merupakan suatu kewajiban demi merealisasikan keteraturan tersebut, melampaui kewajiban untuk menancapkan Islam secara keyakinan. Karena, Islam tidak akan memiliki wujud dalam kehidupan individu dan komunal kecuali dengan memurnikan penghambaan kepada Allah semata dan menerima tata cara penghambaan ini hanya dari Rasulullah, demi merealisasikan tujuan rukun Islam yang pertama, yakni syahadat laa ilaaha illallaah wa anna Muhammadan rasulullah.

Apabila terjadi keseimbangan mutlak antara kehidupan manusia dan hukum kosmis maka manusia akan emmperoleh manfaat dalam segala hal. Di samping itu, dalam kondisi ini, kehidupan akan terjaga dari kehancuran. Dan hanya dalam kondisi inilah, manusia akan hidup dalam suasana damai bersama jiwa mereka. Kedamaian bersama alam timbul karena aktivitas manusia selaras dengan aktivitas alam semesta, juga karena orientasi manusia sesuai dengan orientasi alam semesta. Sedangkan kedamaian bersama jiwa timbul dari kesesuaian aktivitas mereka dengan dorongan intuisi yang benar, sehingga tidak terjadi perkelahian antara (kepentingan) diri dan fitrah mereka. Karena, syariat Allah menyelaraskan antara aktivitas nyata dan fitrah yang tersembunyi dalam kemudahan dan ketenangan.

Dari penyelarasan ini kemudian timbul penyelarasan lain dalam hal relasi kemanusiaan dan aktivitas mereka secara umum, karena ketika itu semua manusia berperilaku sesuai dengan manhaj satu-satunya, yang merupakan salah satu komponen dari hukum kosmis yang universal.

Bila demikian, akan nyatalah segala manfaat bagi dunia manusia disebabkan mereka mendapatkan petunjuk dan mampu mengenali dengan mudah rahasia-rahasia alam semesta, juga energi-energi yang terselubung dan harta benda yang tersimpan di dalamnya. Dan memanfaatkan semua ini sesuai dengan syariat Allah bertujuan agar segala hal yang berguna bagi manusia dapat terealisasi tanpa kendala dan benturan.

Penentang syariat Allah sebenarnya adalah hawa nafsu manusia, sebagaimana firman-Nya:

”Andaikan kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya…” (QS. Al-Mukminun [23] : 71)

Dari sini kemudian perspektif Islam berupaya memadukan antara kebenaran yang menjadi dasar agama ini di satu sisi, dan di sisi lain kebenaran yang menjadi dasar adanya langit dan bumi, yang dengannya menjadi baiklah urusan dunia dan akhirat, dan dengannya Allah mempertimbangkan dan memberikan hukuman kepada orang yang melanggarnya. Hanya ada satu kebenaran, tidak lebih. Yaitu hukum kosmis yang universal, yang diperuntukkan oleh Allah bagi alam semesta ini dalam segala kondisi. Segala apa yang ada di alam semesta –baik jenis kehidupan, benda mati ataupun benda hidup- ditundukkan kepada –dan dihukum berdasarkan- hukum ini.

Alam semesta ini bukannya tak beraturan. Orbit-orbitnya tidak berserakan, peredarannya selalu ajeg, dan unit-unitnya tidak saling berbenturan. Unit-unit semesta tidaklah beroperasi atas dasar kebetulan yang tak tentu ataupun kekeliruan yang tak sengaja, dan tidak pula beroperasi menurut hawa nafsu yang selalu berubah dan keinginan yang tak terkendali.

“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kalian sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagi kalian. Maka apakah kalian tiada memahaminya? Dan berapa banyaknya (penduduk) negeri yang zalim yang telah Kami binasakan, dan Kami adakan sesudah mereka itu kaum yang lain (sebagai penggantinya). Maka, tatkala mereka merasakan azab Kami, tiba-tiba mereka melarikan diri dari negerinya. Janganlah kalian lari tergesa-gesa; kembalilah kalian kepada (nikmat) yang telah kalian rasakan dan ke tempat-tempat kediaman kalian (yang baik), supaya kalian ditanya.[22] Mereka berkata, ‘Aduhai, celaka kami! Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang zalim.’ Maka, tetaplah demikian keluhan mereka, sehingga Kami jadikan mereka tanaman yang telah dipanen, yang tidak dapat hidup lagi. Dan tidaklah Kami ciptakan langit dan bumi dan segala yang ada diantara keduanya dengan bermain-main. Sekiranya Kami hendak membuat suatu permainan, tentulah Kami membuatnya dari sisi Kami. Jika Kami menghendaki berbuat demikian, (tentulah Kami telah melakukannya). Sebenarnya Kami lemparkan yang haq kepada yang bathil, lalu yang haq itu menghancurkannya; dengan serta merta yang bathil itu lenyap. Dan kecelakaanlah bagi kalian disebabkan kalian menyifati (Allah dengan sifat-sifat yang tidak layak bagi-Nya). Dan kepunyaan-Nya-lah segala yang di langit dan di bumi. Dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tiada (pula) merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang hari dengan tiada henti-hentinya.” (QS. Al-Anbiya’ [21] : 10-20)

Fitrah manusia mengetahui kebenaran ini dalam nuraninya yang terdalam. Proses alamiah kejadian dirinya dan semua alam yang disekelilingnya menginspirasi fitrahnya untuk meyakini bahwa alam semesta (kosmos) ini ada (being) di atas kebenaran; bahwa kebenaran itu inheren di dalamnya; dan bahwa alam semesta berlangsung berdasarkan hukum Allah. Alam semesta ini bukannya tak beraturan. Orbit-orbitnya tidak berserakan, peredarannya selalu ajeg, dan unit-unitnya tidak saling berbenturan. Unit-unit semesta tidaklah beroperasi atas dasar kebetulan yang tak tentu ataupun kekeliruan yang tak sengaja, dan tidak pula beroperasi menurut hawa nafsu yang selalu berubah dan keinginan yang tak terkendali. Akan tetapi, alam semesta berlangsung di dalam koridor tatanan yang akurat, terpadu, dan penuh perhitungan. Dari sini dipahami bahwa konflik internal antara manusia dan fitrahnya terjadi –terutama- ketika manusia melanggar kebenaran yang tertanam dalam lubuk nuraninya; yakni ketika ia di bawah pengaruh hawa nafsunya. Itu semua terjadi ketika ia menjalankan pedoman hidup yang menuruti hawa nafsunya, bukannya bersumber dari syariat Allah, dan ketika ia tidak berserah diri kepada Allah sebagaimana alam semesta berserah diri dan tunduk kepada Tuhannya.

Konflik seperti ini terjadi pula diantara berbagai individu, kelompok, bangsa, dan generasi, sebagaimana yang terjadi antara manusia dan lingkungan sekitarnya. Dalam kondisi ini, sumber energi dan kekayaan alam berubah menjadi alat-alat dan motif-motif kehancuran, padahal semestinya menjadi sarana kemakmuran dan motif-motif kesejahteraan umat manusia.

Jadi, target nyata dari penegakan syariat Allah di bumi bukan semata berorientasi pada akhirat. Karena, kehidupan dunia dan akhirat merupakan dua fase hidup yag sama-sama saling melengkapi. Dan syariat Allah-lah yang menyelaraskan antara kedua fase tersebut dalam kehidupan manusia. Syariat-Nya menyelaraskan semua kehidupan sesuai undang-undang Ilahi yang universal.

Kesesuaian dengan undang-undang Ilahi tidak berarti  menangguhkan kebahagiaan manusia sampai di kehidupan akhirat. Akan tetapi, hal ini mendorong kebahagiaan itu tampak nyata dan dapat diraih pada fase kehidupan dunia juga, kemudian mencapai puncak kesempurnannya di dalam kehidupan akhirat.

***

Inilah intisari konsepsi Islam tentang alam semesta (kosmos) dan tentang dunia manusia yang menjadi bagian integral dari semesta yang maha luas ini. Konsepsi ini secara fundamental sangat berbeda dengan konsepsi-konsepsi lain yang dikenal manusia. Dari konsepsi ini muncullah kewajiban-kewajiban yang tidak pernah dijumpai dalam setiap konsepsi lain yang include dalam sistem-sistem dan teori-teori yang lain.

Komitmen terhadap syariat Allah, menurut konsepsi ini, merupakan hal yang sejalan dengan korelasi yang sempurna antara kehidupan manusia dan keberlangsungan alam semesta, dan antara hukum yang mengatur fitrah manusia dan yang mengatur semesta ini. Di sisi lain, komitmen ini sangat dibutuhkan demi memadukan antara hukum universal dan syariat yang mengatur kehidupan umat manusia. Dengan komitmen ini, akan terlaksanalah penghambaan manusia kepada Allah semata, sebagaimana ketundukan alam semesta secara penuh kepada Allah – yang tak pernah digugat oleh seorang pun manusia.

Pentingnya keterpaduan dan keserasian ini diisyaratkan oleh dialog yang terjadi antara Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam –moyang umat Islam- dan raja Namrud yang arogan, yang mengklaim berkuasa atas manusia di bumi, akan tetapi ia (Namrud) tidak berani –ketika itu- mengklaim berkuasa atas bintang-bintang dan benda-benda angkasa di jagad raya. Namrud tercengang di hadapan Ibrahim tatkala Ibrahim berkata kepadanya: Bahwa yang memiliki kekuasaan terhadap jagad raya sesungguhnya hanya Dia-lah satu-satunya yang berhak berkuasa atas kehidupan manusia. Dan Namrud pun tak dapat melontarkan sanggahan atas kenyataan tersebut.

“Apakah kamu tidak memperhatikan orang[23] yang mendebat Ibrahim tentang tuhannya (Allah) karena Allah telah memberikan kepada orang itu pemerintahan (kekuasaan). Ketika Ibrahim mengatakan, ‘Tuhanku ialah yang menghidupkan dan mematikan.’ Orang itu berkata, ‘Aku dapat menghidupkan dan mematikan.’[24] Ibrahim berkata, ‘Sesungguhnya Allah menerbitkan matahari dari timur, maka terbitkanlah ia dari barat.’ Lalu terdiamlah orang kafir itu, dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim” (QS. Al-Baqarah [20] : 258)

Mahabenar Allah dengan firman-Nya:

“Maka apakah mereka mencari agama yang lain dari agama Allah, padahal hanya kepada-Nya-lah berserah diri segala apa yang di langit dan di bumi, baik dengan suka maupun terpaksa. Dan hanya kepada Allah-lah mereka dikembalikan.” (QS. Ali-Imran [3] : 83)

***



[22] Maksudnya: orang yang zalim itu di waktu merasakan azab Allah melarikan diri, lalu orang-orang yang beriman mengatakan kepada mereka dengan sindiran agar mereka tetap ditempat semula dengan menikmati kenikmatan hidup sebagaimana biasa untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang akan dihadapkan kepada mereka.

[23] Yaitu Raja Namrud dari Babilonia

[24] Maksud Namrud dengan ‘menghidupkan’ ialah membiarkan hidup, dan ‘mematikan’ ialah membunuh. Perkataan itu untuk mengejek Nabi Ibrahim ‘alayhissalaam.