Tag Archives: Pernak-pernik Rumah Tangga Islami

Cahyadi Takariawan

Mempersiapkan Rumah Tangga Islami (2)

5.       Persiapan Sosial

Persiapan sosial yang dimaksudkan adalah sebentuk kemampuan berinteraksi dengan masyarakat secara wajar dan optimal. Persiapan ini tidak bisa ditinggalkan, lantaran dalam kehidupan rumah tangga senantiasa dituntut interaksi sosial di tengah masyarakat yang luas. Tatkala status seorang laki-laki masih bujang, ia menjadi anggota sebuah keluarga, beban sosial biasanya tidak bertumpu padanya, tetapi masih kepada orangtuanya. Demikian juga dengan wanita tatkala berstatus gadis, nyaris ia tidak memilki beban sosial yang berarti.

Bahkan pada kalangan pelajar dan mahasiswa yang tinggal di kos (pondokan), kehidupan mereka di tengah masyarakat sekitar kos seakan-akan hanya menumpang tinggal saja. Interkasi sosial tidak terjadi secara utuh layaknya warga masyarakat. Mereka teralienasi dari kehidupan masyarakat, lantaran dipersepsi sebagai kelompok menara gading yang jauh dari jangkauan masyarakat. Mereka tidak diikutsertakan dalam rapat warga RT atau RW, mereka tidak mendapat jatah ronda malam, mereka tidak dilibatkan dalam kerja bakti, pertemuan Dasa Wisma, ariasn ibu-ibu PKK, dan seterusnya. Padahal mahasiswa tinggal di daerah tersebut (tempat kos) bisa bertahu-tahun lamanya.

Kehidupan rumah tangga “memaksa” adanya interkasi sosial, sebagai lembaga keluarga membuat adanya mishdaqiyah ijtima’iyah (pengakuan sosial). Kredibilitas sosial amat diperlukan bagi setiap rumah tangga islami, bukan saja untuk kebaikan suasana interaksi dan kesehatan sosial mereka,lebih dari itu lantaran ada proyek dakwah dalam setiap interaksi sosial tersebut. Apabila tidak ada kesiapan sosial dari calonsuami maupun calon istri sebelum memasuki jenjang rumah tangga, niscaya mereka akan mengalami peristiwa “gagap sosial”,yaitu adanya kecanggungan dalam berinteraksi dengan masyarakat luas.

Untuk itulah pembiasan diri dalam kegiatan sosial amat diperlukan setiap anggota keluarga, baik laki-laki maupun wanita, agar mereka memiliki kemampuan beinteraksi secara sehat dan wajar dengan masyarakat.

6.       Melaksanakan Pernikahan Sesuai Tuntunan Islam

Setelah menentukan pilihan dan melaksanakan khitbah (meminang), maka segera dilaksanakan pernikahan sesuai dengan tata cara dan etika yang telah diatur dalam Islam. Lantaran yang dibangun adalah rumah tangga Islami, mustahil memulainya dengan cara-cara yang tidak Islami. Tujuan yang mulia harus ditempuh dengan cara-cara yang mulia pula.

Rentang waktu antara masa perkenalan hingga menetapkan pilihan dan memproses khitbah janganlah terlalu lama sebab hal itu akan mendatangkan fitnah dan mafsadah (keburukan). Mengenal calon suami atau calon istri amat diperlukan untuk bisa memahami dan mengetahui berbagai hal yang diperlukan untuk kebaikan rumah tangga nantinya. Akan tetapi jangan berpikir bahwa harus mengetahui segala sesuatu dari calon suami atau istri, sebab hal itu: (1) tidak mungkin terjadi; (2) memakan waktu yang lama; (3) memudahkan jatuh dalam perbuatan dosa (pacaran)

Setelah mengenal dan akhirnya mantap dalam pilihan melalui istikharah, segera dilaksanakan peminangan resmi. Jarak antara meminang dan aqad nikah jug jangan terlalu lama, karena dikhawatirkan muncul fitnah pada kedua belah pihak. Ketidakmampuan kedua belah pihak untuk mengendalikan diri selama masa menunggu dari khitbah hingga aqad nikah akan berdampak terturutkannya hawa nafsu, sehingga berbagai larangan Islam digampangkan untuk dilanggar. Hal inilah yang harus dijaga agar tidak sampai terjadi.

Banyak dijumpai dalam masyarakat kita, prosesi pernikahan yang cenderung merupakan peristiwa sosial semata-mata, lepas dari kerangka ritual. Tidak mengherankan jika kemudian yang digelar adalah acara-acara yang membawa nilai kemaksiatan di dalamnya, bahkan tak jarang menjurus kepada syirik. Belum lagi nilai pesta yang berlebih-lebihan dan banyak membawa kemubaziran.

Pernikahan hendaknya berlangsung sesuai tuntuanan syariat, sejak dari terpenuhinya rukun dan syarat pernikahan, pelaksanaan khitbah (meminang) yang islami, pelaksanaan aqad nikah yang syar’i, sampai upacara walimah yang islami. Berbagai hiburan yang diadakan pada saat resepsi walimah hendaknya tak ada yang melanggar aturan agama. Rias pengantin wanita juga tidak sampai menjurus kepada pelanggaran larangan dandanan bagi wanita muslimah.

Hal ini penting untuk dikemukakan mengingat pernikahan islami adalah gerbang memasuki rumah tangga islami. Jika dibuat pemahaman balik, pernikahan yang tidak islami cenderung mengantarkan pelakunya menuju rumah tangga yang juga tidak islami.

7.       Ketundukan terhadap Ketentuan Allah

Ketundukan pada wilayah syariat menjadi kata kunci berikutnya dari cara menumbuhkan kecintaan dan kebahagiaan dalam rumah tangga islami. Ketiadaan sikap tunduk pada ketentuan Allah akan memunculkan dominasi hawa nafsu, yang justru akan menjauhkan rasa cinta dari manusia, dan pada akhirnya menjauhkan pula rumah tangga dari ketenteraman.

Sejak awal memasuki kehidupan rumah tangga, suami-istri harus memiliki kesiapan untuk tunduk pada ketentuanAllah. Dengan bekal ini, maka akan mudah memecahkan semua permasalahan yang akan muncul dalam kehidupan rumah tangga, sekaligus memudahkan kedua belah pihak untuk menyamakan visi sehingga arah bahtera kehidupan tak menyimpang, apalagi sampai tersesat.

Bukti ketundukan kepada ketentuan Allah ini misalnya dalam pola interaksi sebelum terjadinya pernikahan. Ada batasan-batasan yang jelas dalam Islam bagi laki-laki dan wanita sebelum menikah, seperti tuntunan ghadhul bashar (menjaga pandangan) agar tidak mengarah pada terjadinya fitnah, larangan berkhalwat (berdua-duaan laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya), dan larangan melakukan perbuatan-perbuatan yang mendekati zina secara umum.

Apabila seorang laki-laki membujuk rayu wanita untuk melakukan sesuatu yang tidak sesuai dengan tuntunan syariat, maka wajib bagi wanita untuk menolaknya secara tegas. Demikian pula berlaku sebaliknya. Apabila kedua belah pihak, baik laki-laki maupun wanita, sama-sama tidak memiliki sikap tunduk terhadap aturan Allah, yang terjadi hanyalah pelanggaran demi pelanggaran, dosa demi dosa, maksiat dan terus maksiat. Rumah tangga macam apakah kiranya yang akan terbentuk dari pola hubungan semacam itu?

Pada saat keluarga menghadapi berbagai macam permasalahan kehidupan, ketundukan pada ketentuan Allah merupakan jaminan terselesaikannya masalah tersebut dengan baik. Banyak permasalahan keluarga yang tatkala diselesaikan ternyata malah membawa permasalahan baru yang lebih besar. Dominasi nafsu manusia atas problematikanya sendiri ternyata tidak mampu menemukan solusi terbaik. Hanya Islam yang akan senantiasa memberikan solusi terbaik atas setiap masalah.

Namun, tidak boleh terjatuh dalam hal-hal yang berlebih-lebihan dalam memahami sesuatu yang diatasnamakan syariat. Pada konteks muamalah, yang harus diperhatikan adalah batas-batas larangan, artinya selama tidak ditemukan larangannya maka hal tersebut dibolehkan. Tentu saja dengan mempertimbangkan aspek kemanfaatan dan kemudharatan lainnya.

Sebagai contoh dalam hal ini adalah hubungan lawan jenis antara laki-laki dan wanita yang bukan mahramnya. Seakan-akan antara laki-laki dan wanita sama sekali tidak ada peluang untuk berinteraksi dalam bentuk apapun menurut syariat. Seakan-akan pernikahan islami itu harus terjadi tanpa saling kenal-mengenal, tanpa proses, tanpa kecenderungan hati, dan tanpa kecintaan. Seakan-akan Islam telah mengharamkan segala bentuk titik temu laki-laki dengan wanita dalam muamalah. Seakan-akan hokum dari segala interaksi laki-laki dan wanita adalah haram. Seakan-akan syariat Islam telah menolak selera kemanusiaan untuk menentukan calon istri atau calon suami. Benarkah kesan-kesan seperti ini?

Seringkali, pemahaman yang ekstrem semacam itu merupakan perlawanan dari kenyataan bebasnya pergaulan laki-laki dan wanita pada saat ini. Antitesis (pertentangan secara frontal) semacam ini terkesan kaku dan berorientasi hitam putih, karena keadaan yang dilawan memang terlampau ekstrem dalam penyimpangannya. Akan tetapi tentu saja tidak bisa ekstremitas dilawan dengan ekstremitas pada sisi yang berlawanan diametral, sebab Islam memang agama yang mengajarkan prinsip keadilan, keseimbangan, serta pertengahan.

Sesungguhnyalah Islam itu agama fitrah yang tidak pernah membunuh fitrah kemanusiaan. Bahwa laki-laki punya kecenderungan dan ketertarikan kepada wanita, dan sebaliknya wanita punya kecenderungan kepada laki-laki, adalah bagian fitrah manusia yang tidak diingkari Islam. Untuk itulah Islam tidak pernah membunuh perasaan seperti ini, tetapi menyalurkannya sesuai dengan syariat yang suci. Islam membuat rambu-rambu agar tak dilanggar, dengan patokan-patokan yang jelas.

Ibnu Abbas pernah menceritakan bahwa suatu ketika Nabi saw mengirim satu pasukan. Saat kembali mereka mendapatkan rampasan perang, yang diantaranya terdapat seorang laki-laki. Laki-laki itu berkata, “Saya bukan termasuk golongan mereka. Aku hanya jatuh cinta kepada seorang wanita, lalu aku mengikutinya, kemudian silakan Anda lakukan apa yang Anda inginkan.”

Laki-laki ini datang kepada seorang wanita yang bertubuh tinggi berkulit coklat, sembari bersyair:

Menyerahlah engkau orang Hubaisy

sebelum hidupmu melayang

bagaimana pendapatmu

seandainya aku mengikutimu

dan kutemui engkau

di sebuah rumah kecil suatu kaum

atau kutemui engkau

di lembah sempit antara dua gunung

apakah tidak dibenarkan

telah tiba saatnya

orang yang jatuh cinta berjalan

pada awal malam, tengah malam, dan tengah hari?

Wanita itu menjawab, “Wahai, aku sambut. Aku tebus dirimu!”

Mereka mengajukan laki-laki itu dan menebas lehernya. Lalu datanglah si wanita, dan jatuh diatasnya. Ia menarik nafas sekali atau dua kali, kemudian meninggal dunia.

Setelah mereka bertemu Nabi saw dan menceritakan kejadian tersebut, beliau bersabda, “Apakah diantara kalian tidak ada orang yang penyayang?” (HR. Ath-Thabrani)

Abdul Halim Abu Syuqah berkomentar, “Hadits ini menunjukkan perasaaan cinta –jika tidak mendatangkan mafsadah- tidak berdosa. Perhatikan bagaimana antusiasme para sahabat untuk menginformasikan kepada Rasulullah saw tentang kisah dua sejoli yang dilanda cinta itu. Perhatikan pula bagaimana Rasulullah saw mendengarkan ceritanya dengan lengkap, kemudian beliau menampakkan belas kasihannya kepada dua sejoli itu, sembari menyalahkan perbuatan sahabat-sahabatnya, “Apakah di antara kalian tidak orang yang penyayang?”

Lebih lanjut tentang cinta lawan jenis ini Abu Syuqah menuliskan, “Sesungguhnya cinta laki-laki kepada wanita dan cinta wanita kepada laki-laki adalah perasaan yang manusiawi, yang bersumber dari asal fitrah yang diciptakan Allah di dalam jiwa manusia, yaitu kecenderungan kepada lawan jenisnya ketika telah mencapai kematangan pikiran dan fisiknya. Kecenderungan ini –beserta hal-hal yang mengikutinya, yang berupa cinta- pada dasarnya bukanlah sesuatu yang kotor, karena kekotoran atau kesucian itu tergantung pada bingkai tempat bertolaknya. Ada bingkai yang suci dan halal, ada bingkai yang kotor dan haram. Cinta itu adalah perasaan yang baik dengan kebaikan tujuannya, jika tujuannya adalah nikah. Satu pihak menjadikan pihak lainnya sebagai teman perjalanan dan teman hidupnya. Kalau begitu, maka alangkah bagusnya tujuan ini.”

Demikianlah fitrah Allah yang berlaku atas makhluk-Nya. Tidak untuk dibunuh, tidak untuk dimatikan, tidak untuk dinafikan, dan tidak untuk diingkari. Tetapi untuk dijaga, ditumbuhkan dalam wadah kebajikan dan kesucian nilai, bahkan untuk disebarluaskan.

Cahyadi Takariawan

Mempersiapkan Rumah Tangga Islami (1)

Rumah tangga Islami dibentuk melalui peristiwa pernikahan laki-laki muslim dengan wanita muslimah. Oleh karena itu, untuk memepersiapkan terbentuknya rumah tangga islami tersebut, tidak bisa tidak harus dimulai dengan berbagai macam persiapan menjelang pernikahan.

Persiapan amat penting dalam segala kegiatan, apapun kegiatan itu, termasuk di dalamnya berkeluarga. Agar bisa mencapai kriteria rumah tangga islami, beberapa persiapan berikut perlu dilakukan oleh calon suami maupun calon istri.

1. Persiapan Ruhiyah, Ilmiah, dan Jasadiyah

Persiapan secara mental (Ruhiyah), dimaksudkan sebagai usaha untuk memantapkan langkahmenuju kehidupan rumah tangga, agar tidak gamang menghadapi berbagai macam kondisi yang akan dilalui setelah menikah, Mereka yang akan memasuki gerbang pernikahan, harus siap dengan banyaknya beban, siap menghadapi cobaan kehidupan dansiap menyelesaikan masalah.Pada beberapa orang, pernikahan hanya dipersepsikan dari sisi-kesenangan-kesenanganyang akan diperoleh, tanpa mempertimbangkan berbagai masalah yang pasti akan muncul dalam kehidupan rumah tangga. Apabola memasuki kehidupan keluarga dengan cara pandang tersebut, maka dikhawatirkan tidak terjadi kesiapan menatal yang memadai untuk menghadapi berbagai gelombang masalah kehidupan.

Persiapan Ilmiyah, dimaksudkan untuk mengetahui berbagai seluk-beluk hukum, etika dan berbagai aturan berumah tangga. Dalam masyarakat kita, ternyata banyak terjadi pasangan suami istri yang memasuki kehidupan berumah tangga tanpa berbekal pengetahuan memadai tentang hukum-hukum kerumah tangga-an. Sebagai contoh, masih banyak yang belum mengetahui tatacara mandi janabat, tidak mengetahui etika berhubungan suami istri dan tata cara membersihkan najis dan sebagainya.

Yang lebih prinsip dari itu, persiapan ilmiyah dimaksudkan sebagai langkah penting untuk mendapatkan tashawur (gambaran ), yang jelas dan benar menegani pernik-pernik rumah tangga islami. Dengan pemahaman yang baik, segala sisi yang akan menjaga danmenguatkan karakter keislaman rumah tangga lebih bisa didapatkan.

Persiapan Jasadiyah, dimaksudkan agar memiliki kesehatan yang memadai sehingga mampu melaksanakan fungsi diri sebagai suami atau istri secara optimal. Penjagaankesehatan memang amat penting bagi kaum muslimin, karena harga kesehatan amatlahmahal dan tidak akan dapat dinilai dengan materi. Kesehatan reproduksi merupakan salahsatu sisi yang senantiasa harus mendapatkan porsi perhatian bagi suami maupun istri,selain tentu saja kesehatan dalam arti umum dan luas.

Olahraga, konsumsi halal dan thayib, istirahat teratur, pola makan teratur dan penjagaankebersihan badan merupakan upaya menuju kebaikan dan kebugaran fisik. Banyaknya penyakit fisik -apabila ada dalam kehidupan rumah tangga- otomatis akan menggangguketenangan dan kebahagiaan hidup.

2. Memilih Istri atau Suami Sesuai Kriteria Agama

Islam mengajarkan kepada kaum laki-laki, agar dalam memilih istri mempertimbangkan empat fakltor: kekayaan, kecantikan, keturunan, dan agama. Hanya saja faktor agama wajib menjadi landasan pemilihan, sebelum mempertimbangkan tiga faktor lainnya. Ketika agama telah menjadi ukuran, maka kecantikan , kekayaan, dan keturunan adalah factor tambah yang akan turut andil dalam memunculkan dan mengekalkan kecintaan suami-istri dalam rumah tangga.

Islam amat memperhatikan sisi-sisi fitrah kemanusiaan umatnya. Ungkapan Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam mengenai alas an dinikahiya wanita, “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannnya, karena kecantikannya, dan karena agamanya. Maka beruntunglah yang memilih wanita karena agamanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ungkapan beliau “Lijamaliha, limaliha, atau lihasabiha” merupakan buktui perhatian tersebut.Kecantikan, kekayaan, dan keturunan merupakan daya pikat yang menjadikan kaum laki-laki tertarik pada wanita. Bukan termasuk haram apabila laki-laki muslim memilih wanita muslimah yang cantik. Seandainya memilih wanita cantik itu dilarang tentu telah ada dalil pelarangannya, dan tak akan ada tiga alasan lain dinikahinya wanita di luar alasan agama.

Hanya saja, kecantikan fisik itu tidak ada standarnya. Adalah amat abstrak dan relatif penggambaran tentang kata cantik. Di setiap Negara atau etnis, penggambaran tentang cantik akan senantiasa berbeda. Bahkan, setiap laki-laki memiliki persepsi yang berbeda tentang kecantikan. Oleh karena itulah, tidak tepat menjadikan kecantikan sebagai satu-satunya tolak ukur memilih istri.

Sebagaimana memilih istri, maka bagi wanita pertimbangan memilih atau menerima pinangan calon suami landasan utamanya juga harus factor agama.Laki-laki yang bertaqwa lebih layak untuk menjadi pendamping wanita bertaqwa. Adapun ketampanan, kekayaan, dan keturunan akan menjadi faktor tambah yang akan dapat memperkuat kecintaan.

Wanita memililki kebebasan untuk memilih calon suami, dan tidak diperbolehkannya adanya paksaan dalam masalah pernikahan. Abu hurairah menceritakan bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,

“Tidak boleh dinikahkan seorang janda hingga dia diajak musyawarah, dan tidak boleh dinikahkan seorang gadis hingga ia diminta izinnya.”Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana izinnya?”Jawab beliau, “Yaitu jika ia diam saja.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Aisyah berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya wanita itu pemalu.”Beliau menjawab, “Kerelaannya ialah kalau ia diam saja.” (HR. Bukhari)

Ibnu Abbas juga pernah menceritakan bahwa seorang wanita perawan datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu memberitahukan bahwa ayahnya telah mengawinkannya padahal ia tidak suka, maka Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam memberikan hk kepadanya untuk memilih. (HR. Abu Daud)

Ibnu Abbas bercerita bahwa seorang laki-laki datang kepada Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, lalu berkata, “Kami memelihara seorang anak perempuan yatim, lalu ia dilamar oleh seorang laki-laki miski dan seorang laki-laki kaya. Ternyata anak itu suka pada yang miskinm padahal kami suka yang kaya.” Maka Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidak terlihat diantara dua orang yang saling mencintai seperti perkawinan.” (HR. Ibnu Majah)

Hadits ini menunjukkan dua hal. Pertama kecenderungan hati dua orang laki-laki tersebut kepada seorang wanita sehingga mereka datang untuk meminangnya. Kedua, gadis tersebut lebih memiliki kecenderungan mencintai laki-laki yang miskin, sebagai hak dia untuk menentukan pilihan atas dua lamaran yang datang. Kecenderungan hati dan perasaan cinta yang ada pada mereka bukanlah yang tertolak syariat, karena mereka melaksanakan tata cara yang islami dalam menempuhnya.

Wanita juga diperbolehkan untuk menawarkan dirinya kepada laki-laki sholih untuk dinikahi, sebagaimanaseorang wanita yang datang pada Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam dan berkata, “Wahai Rasululllah, apakah engkau berhasrat kepadaku?” Dalam riwayat yang lain, wanita itu berkata, “Wahai Rasulullah, aku datang untuk memberikan diriku kepadamu.” (HR. Bukhari)

Mengenai wanita yang menawarkan diri tersebut, Al-Hafizh Ibnu Hajar berkta, “Wanita yang menginginkan kawin dengan laki-laki yang lebih tinggi kedudukan dari dirinya tidak tercela sama sekali.Lebih-lebih jika terdapattujuan yang benar dan niat yang baik, mungkin karena kelebihan agama laki-laki yang dipinangnya atau karena ia cinta kepadanya yang kalau didiamkan dikhawatirkan akan terjatuh ke dalam hal-hal yang terlarang.”

Adalah hal yang wajar bahwa seorang wanita muslimah memilih calon suami yang tampan, kaya, dan dari keturunan yang baik, sebab memang tidak ada larangannya dalam Islam. Hanya saja akan menjadi salah, apabila kekayaan atau ketampanan menjadi tolak ukur utama untuk menentukanm calon suami. Sebagaimana kecantikan, maka ketampanan tidak ada tolak ukurnya, dan bersifat amat relatif.Kekayaan juga amat relatif.

Akhlak calon suami lebih layak untuk menjadi pertimbangan utama. Jika ketaqwaan telah dijadikan standar pertama, maka hal-hal lain di luar itu adalah tambahan yang diharapkan bisa menambah kebaikan keluarga yang nantinya akan terbentuk.

3. Memahami Hakikat Pernikahan dalam Islam

Abu Bakar Jabir Al Jazairy dalam kitab Minhajul Muslimin menyebutkan bahwa pernikahan adalah aqad yang menghalalkan kedua belah pihak laki-laki dan perempuan untuk bersenang-senang satu dengan lainnya. Dengan demikian, pernikahan bisa dipahami sebagai: aqad untuk beribadah kepada Allah, aqad untuk menegakkan syariat Allah, aqad untuk membangun rumah tangga sakinah mawaddah warahmah.

Pernikahan juga aqad untuk meninggalkan kemaksiatan, aqad untuk saling mencintai karena Allah, aqad untuk saling menghormati dan menghargai, aqad untuk saling menerima apa adanya, aqad untuk saling menguatkan keimanan, akad untuk saling membantu dan meringankan beban, aqad untuk saling menasehati, aqad untuk setia kepada pasangannya dalam suka dan duka, dalam kefakiran dan kekayaan, dalam sakit dan sehat.

Pernikahan berarti aqad meniti hari-hari dalam kebersamaan, aqad untuk saling melindungi, aqad untuk saling memberikan rasa aman, aqad untuk saling mempercayai, aqad untuk saling menutup aib, aqad untuk saling mencurahkan perasaan, aqad untuk saling berlomba menunaikan kewajiban, aqad untuk saling memaafkan kesalahan, aqad untuk tidak menyimpan dendam dan kemarahan, aqad untuk tidak mengungkit-ungkit kelemahan, kekurangan, dan kesalahan.

Pernikahan adalah aqad untuk tidak melakukan pelanggaran, aqad untuk tidak saling menyakiti hati dan perasaan, aqad untuk tidak saling menyakiti badan, aqad untuk lembut dalam perkataan, aqad untuk santum dalam pergaulan, aqad untuk indah dalam penampilan, aqad untuk mesra dalam mengungkapkan keinginan, untuk saling mengembangkan potensi diri, aqad untuk saling keterbukaan yang melegakan, aqad untuk saling menumpahkan kasih sayang, aqad untuk saling merindukan, aqad untuk tidak adanya pemaksaan kehendak, aqad untuk tidak saling membiarkan, aqad untuk tidak saling meninggalkan.

Pernikahan juga bermakna aqad untuk menebarkan kebajikan, aqad untuk mencetak generasi berkualitas, aqad untuk siap menjadi bapak dan ibu bagi anak-anak, aqad untuk membangun peradaban, aqad untuk segala yang bernama kebaikan.

4. Persiapan Material

Tidak bisa dipungkiri bahwa persiapan meniti rumah tangga islami adalah berbentuk materi, dalam upaya menggapai kebaikan keluarga salah satu factor bantu yang tidak bisa ditinggalkan adalah materi. Contoh yang paling mudah adalah jika kita hendak menunaikan shalat, maka harus menutup aurat. Cara menutup aurat tentu dengan berpakaian, sedangkan cara mendapatkan pakaian tentu saja dengan membeli. Dengan demikian untuk bisa menunaikan shalat memerlukan harta. Shalat kita juga tidak khusyu’ apabila dalam keadaan perut yang amat lapar karena beberapa hari tidak makan. Untuk mengenyangkan perut perlu makanan, dan untuk mendapatkan makanan perlu usaha, yang ujung-ujungnya juga memerlukan sejumlah harta untuk mendapatkannya.

Islam telah meletakkan berbagai kewajiban material kepada laki-laki. Untuk itulah kaum laki-laki harus emiliki kesiapan menanggung beban materi dalam kehidupan rumah tangga nantinya. Persiapan materi tidaklah harus dipersepsi menumpuknya sejumlah kekayaan dalam bilangan yang amat banyak. Bukan berarti harus sudah memilikiberbagai macam kelengkapan hidup, seperti rumah sendiri, sepeda motor atau mobil, dan lain sebagainya.

Lebih penting dariitu semuanya adalah kesiapan kaum laki-laki untuk menanggung segala beban ekonomi keluarga. Tolak ukur yang amat materialistis telah membuat sejumlah laki-laki muslim takut menikah lantaran merasa belum memiliki harta yang memadai. Mereka berpikir terlampau jauh, sehingga terbayanglah berbagai beban ekonomi yang nantinya ditanggung tatkala telah berumah tangga. Mereka menunda-nunda pernikahan dengan alas an belum mampu secara ekonomi.

Pada sisi yang lain juga ditemukan sejumlah laki-laki muslim yang asal dapat menikah, tanpa sedikit pun mempertimbangkan factor ekonomi. Dampak yang muncul adalah tidak adanya kesiapan untuk menhadapi beban ekonomi setelah berumah tangga. Akhirnya mereka tetap menggantungkan hidupnya kepada orang lain (orang tua), tanpa ada kesanggupan untuk menyelesaikan sendiri beban-beban ekonomi rumah tangga.

Jalan tengah yang bijak adalah kaum laki-laki menanyakan kepada diri sendiri, “Sudah sanggupkah untuk bekerja dan terus berusaha mendapatkan rezeki Allah yang halal dan thayib?” Selama mereka memiliki kesanggupan bekerja dan berusaha,maka tajk perlu khawatir akan rezeki Allah. Namun jika mereka termasuk pemalas, tak memiliki etos kerja, suka menggantungkan diri pada orang lain, berarti memang belum memilki kesanggupan dan kesiapan dari segi materi.

Demikian juga wanita muslimah harus menanyakan kepada diri sendiri, “Sudah sanggupkah untuk mengelolaharta yang diberikan oleh suami, sebesar atau sekecil apa pun harta itu?” Jika memang telah ada kesanggupan, maka dianggap telah cukup persiapan secara material. Namun apabila mereka tidak sanggup menerima pemberian yang sedikit –atau bahkan jauhdari cukup- dari suami, maunya hanya menerima uang dalam jumlah yang banyak bahkan berlebih, berarti memang belum memiliki kesiapan mengelola dari segi materi.

Cahyadi Takariawan

Pengertian dan Konsekuensi Rumah Tangga Islami

Akhir-akhir ini kian banyak buku yang membicarakan rumah tangga islami. Seminar dan diskusi tentang hal ini di berbagai kota pun tak pernah sepi dari peserta. Alhamdulilah, hal ini menunjukkan bahwa kesadaran akan kebutuhan membentuk rumah tangga islami itu semakin luas di tengah masyarakat.

Di sisi lain, kita melihat kenyataan masyarakat, betapa banyak keluarga muslim tidak menampakkan kehidupan yang islami. Berbagai sarana kemaksiatan dibiarkan bebas digunakan tanpa kendali. Berbagai perhiasan mubazir dipajang sebagai pelengkap keindahan rumah. Lebih parah lagi, masing-masing anggota keluarga tidak menetapi adab islami, lantaran ketidaktahuan atau lebih tepatnya ketidakmautahuan dengan hal itu.

Wajar jika kemudian timbul pertanyaan kritis, “Apa sebenarnya yang dimaksud dengan rumah tangga islami itu? Bagaimana indikasinya? Apakah tolak ukurnya? Apakah rumah tangga yang disebut islami itu hanya apabila di dalamnya bersemayam anggota keluarga yang semua beragama Islam? Apakah lantaran rumahnya berhiaskan stiker dan gambar-gambar yang bernuansa Islam? Atau karena sang suami berkopiah dan istrinya berkerudung?”

Pengertian Rumah Tangga Islami

Menurut Ensiklopedia Nasional jilid ke-14, yang dimaksud dengan “rumah” adalah tempat tinggal atau bangunan untuk tinggal manusia. Kata ini melingkup segala bentuk tempat tinggal manusia dari istana sampai pondok yang paling sederhana. Sementara rumah tangga memiliki pengertian tempat tinggal beserta penghuninya dan apa-apa yang ada di dalamnya.

Secara bahasa, kata rumah (al bait) dalam Al Qamus Al Muhith bermakna kemuliaan; istana; keluarga seseorang; kasur untuk tidur, bisa pula bermakna menikahkan, atau bermakna orang yang mulia. Dari makna bahasa tersebut, rumah memiliki konotasi tempat kemuliaan, sebuah istana, adanya suasana kekeluargaan, kasur untuk tidur, dan aktivitas pernikahan. Sehingga rumah tidak hanya bermakna tempat tinggal, tetapi juga bermakna penghuni dan suasana.

Rumah tangga islami bukan sekedar berdiri di atas kenyataan kemusliman seluruh anggota keluarga. Bukan juga karena seringnya terdengar lantunan ayat-ayat Al Qur’an dari rumah itu, bukan pula sekedar karena anak-anaknya disekolahkan ke masjid waktu sore hari.

Rumah tangga islami adalah rumah tangga yang di dalamnya ditegakkan adab-adab islami, baik yang menyangkut individu maupun keseluruhan anggota rumah tangga. Rumah tangga islami adalah sebuah rumah tangga yang didirikan di atas landasan ibadah. Mereka bertemu dan berkumpul karena Allah, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, serta saling menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, karena kecintaan mereka kepada Allah.

Rumah tangga islami adalah rumah tangga teladan yang menjadi teladan yang menjadi panutan dan dambaan umat. Mereka betah tinggal di dalamnya karena kesejukan iman dan kekayaan ruhani. Mereka berkhimat kepada Allah Swt. Dalam suka maupun duka, dalam keadaan senggang maupun sempit.

Rumah tangga islami adalah rumah yang di dalamnya terdapat sakinah, mawadah, dan rahmah (perasaan tenang, cinta dan kasih sayang). Perasaan itu senantiasa melingkupi suasana rumah setiap harinya. Seluruh anggota keluarga merasakan suasana “surga” di dalamnya. Baiti jannati, demikian slogan mereka sebagaimana diajarkan oleh Rasulullah saw. Subhanalah!

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (Ar Ruum: 21)

Hal itu terjadi karena Islam telah mengatur berbagai aspek kehidupan manusia, baik yang berskala individu maupun kelompok, hubungan antarindividu, antarkelompok masyarakat, bahkan antarnegara. Demikian pula, dalam keluarga terdapat peraturan-peraturan, baik yang rinci maupun global, yang mengatur hubungan individu maupun keseluruhannya sebagai satu kesatuan.

Inilah ciri khas rumah tangga islami. Mereka berserikat dalam rumah tangga itu untuk berkhidmat pada aturan Allah swt. Mereka bergaul dan bekerja sama di dalamnya untuk saling menguatkan dalam beribadah kepada-Nya.

Konsekuensi- konsekuensi Rumah Tangga Islami

Dari pengertian di atas, rumah tangga islami ternyata memiliki banyak konsekuensi. Paling tidak, ada sepuluh konsekuensi dasar yang menjadi landasan bagi tegaknya rumah tangga islami, yakni

1. Didirikan di atas landasan ibadah

Rumah tangga islami harus didirIkan dalam rangka beribadah kepada Allah semata. Artinya, sejak proses memilih jodoh, landasannya haruslah benar. Memilih pasangan hidup haruslah karena kebaikan agamanya, bukan sekedar karena kecantikan, harta, maupun keturunannya.

Prosesi pernikahannya pun sejak akad nikah hingga walimah tetap dalam rangka ibadah, dan jauh dari kemaksiatan. Sampai akhirnya, mereka menempuh bahtera kehidupan dalam suasana ta’abudiyah (peribadahan) yang jauh dari dominasi hawa nafsu. ”Dan Aku tidak menciptkan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku” (Adz Dzariyat: 56)

Ketundukan sejak langkah-langkah awal mendirikan rumah tangga setidaknya menjadi pemacu untuk tetap tunduk dalam langkah-langkah selanjutnya. Kelak, jika terjadi permasalahan dalam rumah tangga, mereka akan mudah menyelesaikan, karena semua telah tunduk kepada peraturan Allah dan Rasul-Nya

2. Terjadi internalisasi nilai-nilai islam secara kaffah

Internalisasi nilai-nilai Islam secara kaffah (menyeluruh) harus terjadi dalam diri setiap anggota keluarga, sehingga mereka senantiasa komit terhadap adab-adab islami. Di sinilah peran keluarga sebagai benteng terkuat dan filter terbaik di era globalisasi yang mau tak mau harus dihadapi kaum muslimin.

“Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam keseluruhannya, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (Al Baqarah: 208)

Untuk itu, rumah tangga islami dituntut untuk menyediakan sarana-sarana tarbiyah islamiyah yang memadai, agar proses belajar, menyerap nilai dan ilmu, sampai akhirnya aplikasi dalam kehidupan sehari-sehari bisa diwujudkan. Internalisasi nilai-nilai Islam ini harus berjalan secara terus-menerus, bertahap dan berkesinambungan. Tanpa hal ini, adab-adab Islam tak akan ditegakkan.

3. Terdapat qudwah yang nyata

Diperlukan qudwah (keteladanan) yang nyata dari sekumpulan adab Islam yang hendak diterapkan. Orang tua memiliki posisi dan peran yang sangat penting dalam hal ini. Sebelum memerintahkan kebaikan atau melarang kemungkaran kepada anggota keluarga yang lain, pertama kali orang tua memberikan keteladanan.

“Hai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan sesuatu yang tidak kalian perbuat? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kalian mengatakan apa-apa yang tiada kalian kerjakan.” (Ash-Shaff: 3-4)

Keteladanan semacam ini amat diperlukan, sebab proses interaksi anak-anak dengan orang tuanya dalam keluarga amat dekat. Anak-anak akan langsung mengetahui kondisi ideal yang diharapkan. Di sisi lain, pada saat anak-anak masih belum dewasa, proses penyerapan nilai lebih tertekankan pada apa yang mereka lihat dan dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tak banyak manfaatnya orang tua menyuruh anak-anak rajin menegakkan sholat tepat waktunya, sementara ia sendiri selalu asyik melihat acara televisi saat adzan maghrib atau isya’.

4. Penempatan posisi masing-masing anggota keluarga harus sesuai dengan syari’at

Islam telah memberikan hak dan kewajiban bagi masing-masing anggota keluarga secara tepat dan manusiawi. Apabila hal ini ditepati, akan mengantarkan mereka pada kebaikan dunia dan akhirat.

”Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikarunikan Allah kepada sebagian kamu, lebih banyak dari yang lain. (Karena) bagi orang laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan bagi wanita (pun) ada bagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah Allah sebagian dari karunia-Nya.” (An Nisa’:32)

Masih banyak keluarga muslim yang belum bisa berbuat sesuai dengan tuntutan Islam. Betapa sering kita dengar keluhan keguncangan di sebuah rumah tangga muslim bermula dari tak terpenuhinya hak dan kewajiban masing-masing. Suami hanya menuntut haknya dari istri dan anak-anak tanpa mau memenuhi kewajibannya. Demikian juga dengan istri. Maka bisa diduga, yang terjadi kemudian adalah ketidakharmonisan suasana.

Masih banyak pula kita dengar kasus penyimpangan seksual yang dilakukan orang tua maupun remaja. Sumber bencana itu banyak yang berawal dari ketidakharmonisan dalam rumah tangga. Fungsi-fungsi tidak berjalan dengan normal, karena katub-katub curahan perasaan yang tersumbat, dan akhirnya meledak dalam bentuk penyimpangan-penyimpangan.

5. Terbiasa tolong-menolong dalam menegakkan adab-adab Islam

Berkhidmat dalam kebaikan tidaklah mudah, amat banyak gangguan dan godaannya. Jika semua anggota keluarga telah bisa menempatkan diri secara tepat, maka ta’awun (tolong-menolong) dalam kebaikan ini akan lebih mungkin terjadi.

“Dan tolong-menolonglah kalian dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan janganlah tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan.” (Al Maidah: 2)

Bisa dibayangkan, betapa sulitnya membentuk suasana islami apabila suasana kerjasama ini tak terwujud. Salah seorang memiliki kesenangan menonton televisi, hingga semua acara dilihatnya. Seorang lagi hobi main musik di rumah. Yang lain lagi lebih banyak keluyuran dan begadang hingga larut malam. Tak ada suasana tausiyah (saling menasehati) di antara mereka. Lalu bagaimana mereka bisa merasa sebagai sebuah keluarga muslim?

6. Rumah harus kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam

Rumah tangga islami adalah rumah yang secara fisik kondusif bagi terlaksananya peraturan Islam. Adab-adab islam dalam kehidupan rumah tangga akan sulit diaplikasikan jika struktur bangunan rumah yang dimiliki tiada mendukung. Di sisi inilah pembahasan tentang rumah tangga islami banyak dilupakan.

Dalam budaya masyarakat daerah tertentu lantaran permasalahan ekonomi, rumah mereka hanyalah bangunan segi empat tanpa sekat ruang di dalamnya. Ruang tidur tak bersekat dengan ruang tamu, dapur, bahkan di desa-desa terpencil dengan kandang sapi. Tempat tidur mereka hanya berupa ranjang bambu yang panjang dan luas. Mereka sekeluarga tidur berjajar di atasnya. Tidak ada tempat tidur khusus bagi kedua orang tua yang terpisah dari anak-anak dan ruang tamu. Tidak ada ruang khusus bagi anak-anak perempuan yang terpisah dengan anak-anak laki-laki. Berbagai penyakit ruhani akan mudah didapatkan dalam kondisi semacam itu.

Kenyataan lain dalam masyarakat modern sekarang, problem perumahan merupakan suatu hal yang mendesak bagi tiap keluarga. Selain harga tanah yang terus-menerus bertambah tinggi dari waktu ke waktu, juga kemampuan ekonomi bagi kalangan menengah ke bawah yang makin tak bisa menjangkau harga perumahan yang bisa dianggap layak huni. Akibatnya, berbagai kompleks perumahan sederhana, rumah susun bahkan rumah sangat sederhana, dibangun untuk membantu mengatasi probelm itu. Ruang-ruang yang amat terbatas dan sempit serta jarak antarrumah yang hanya berbatas satu tembok merupakan pemandangan yang sudah dianggap biasa. Berbagai penyakit sosial merupakan ancaman serius dalam kompleks perumahan semacam itu.