Tag Archives: Risalah Pergerakan Hasan Al Banna

Hasan Al Banna

Islam dan Kesehatan Secara Umum

Setelah kita sadari bahwa bangsa yang tengah bangkit sangat membutuhkan jiwa keprajuritan yang tinggi, maka ketahuilah bahwa salah satu dari pilar-pilar yang menyangga jiwa keprajuritan tersebut adalah sehat dan kuatnya jasmani.

Al-Qur’an telah memberi isyarat yang jelas menyangkut masalah ini tatkalamengisahkan suatu umat yang sedang berjihad, yang siap bangkit menanggung segenap beban, dan menghadang berbagai rintangan untuk merebut kemerdekaan, kebebasan, danmembangun bangsanya. Oleh karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala, memilih untuknya seorang pemimpin yang memiliki kekuatan pikir dan keperkasaan fisik.

Allah menjadikan kekuatan fisik sebagai salah satu pilar utama untuk menegakkan kebangkitan dengan segenap bebannya. Kisah tersebut merupakan kisah Bani Israel tatkala dianugerahi seorang pemimpin bernama Thalut, dalam firman-Nya, “Sesungguhnya Allah telah memilihnya menjadi rajamu dan menganugerahinya ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa…” (Al-Baqarah: 247)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam telah menjelaskan hal yang berkaitan dengan persoalan kesehatan fisik ini dalam beberapa haditsnya. Beliau menganjurkan kepada orang-orang beriman untuk menjaga kekuatan tubuhnya, sebagaimana mereka memelihara kekuatan ruhaninya.

Pada sebuah hadits shahih, beliau Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Mukmin yang kuat itu lebih baik daripada mukmin yang lemah”.

“Sesungguhnya, pada tubuhmu ada hak yang harus kamu penuhi.”

Beliau juga telah menjelaskan kepada umatnya mengenai banyak hal yang berkaitan dengan kesehatan secara umum, khususnya tentang sikap prepentif yang merupakan langkah paling utama dalam tinjauan medis.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Kami adalah kaum yang tidak makan kecuali jika telah merasa lapar, dan jika kami makan tidak sampai kekenyangan.”

Beliau juga menganjurkan supaya hati-hati jika minum air. Dalam sebuah hadits disebutkan, “Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam senantiasa memilih air yang baik untuk diminum.”

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang umatnya membuang air seni dan kotoran (tinja) di air yang diam (tidak mengalir). Beliau juga mengumumkan isolasi terhadap suatu daerah yang terserang wabah, agar penduduknya tidak meninggalkan tempat dan tidak pulamemasukkan orang luar ke dalamnya. Beliau juga mengingatkan kepada umatnya akanberbagai penyakit menular, dan meminta supaya menyingkir dari penyakit lepra oleh karena itu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menganjurkan kepada umatnya agar banyak berolah raga seperti melempar, berenang, jogging (lari-lari), maupun latihan perang.

Sungguh, perhatian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam terhadap persoalan ini amat besar sehingga beliau bersabda, “Barangsiapa yang telah memiliki keahlian melempar kemudian melupakannya, maka ia bukan golonganku.”

Oleh karena itu pula, beliau melarang dengan keras sikap berlebihan dalam urusan ibadah sampai menelantarkan kesehatan tubuhnya dengan alasan taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Beliau menganjurkan kepada umatnya agar memiliki sifat tawazun (proporsional). Semua ini menjadi bukti bagi kita bahwa Islam adalah ajaran yang memberikan perhatian besar terhadap kesehatan umat secara umum, mendorong mereka supaya menjaganya, dan melapangkan dada mereka agar siap bekerja bagi kebaikan dankebahagiaannya dalam masalah yang penting ini.

Hasan Al Banna

Islam dan Jiwa Keprajuritan

Umat yang tengah bangkit pasti membutuhkan kekuatan yang besar, dan jiwa keprajuritan putra-putranya.

Apalagi di masa sekarang, di mana tidak ada sesuatu pun yang dapat menjamin tegaknya perdamaian kecuali kesiapan untuk berperang. Bahkan, masyarakat telah begitu akrab dengan slogan “kekuatan adalah cara yang paling menjamin tegaknya kebenaran. “

Islam tidak mengabaikan hal ini, bahkan ia dijadikan sebagai sebuah kewajiban di antara kewajiban-kewajiban yang lain, Islam tidak memberi jarak sedikit pun antara kekuatan di satu sisi, dengan shalat dan puasa di sisi yang lain. Bahkan, di dunia ini tiada satu pun sistem ideologi yang memiliki perhatian demikian besar terhadap kekuatan –baik pada masa lalu maupun sekarang sebagaimana yang dimiliki oleh sistem Islam, yang tertuang dalam Al-Qur’an Al-Karim, Hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, dan sejarah kehidupannya.

Anda dapat melihat hal ini demikian jelas dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala, “Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu…” (Al-Anfal: 60)

“Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu. Boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu padahal ia amat buruk bagimu…” (Al-Baqarah: 216)

Bahkan Anda dapat melihat semangat juang yang tertuang dalam sebuah kitab suci, yang dibaca di kala shalat, berdzikir, beribadah, dan bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Karena itu hendaklah orang-orang yang menukar kehidupan dunia dengan kehidupan akhirat berperang di jalan Allah…” (An-Nisa': 74)

Allah kemudian menjelaskan pahalanya dengan penjelasan sebagai berikut, “Barangsiapa yang berperang di jalan Allah, lalu gugur atau memperoleh kemenangan maka kelak akan Kami berikan kepadanya pahala yang besar.” (An-Nisa: 74)

Pada ayat selanjutnya terdapat seruan yang amat menyentuh kalbu dan jiwa kita untuk turut menyelamatkan bangsa dan tanah air.

“Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan membela orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita maupun anak-anak yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekkah) yang zhalim penduduknya dan berilah kami pelindung dan penolong dari sisi-Mu.”‘ (An-Nisa': 75)

Setelah itu, Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan kepada putra-putra Islam tentang keagungan tujuan hidup mereka dan kehinaan tujuan hidup musuh-musuhnya. Hal itu sebagai penegasan kepada mereka bahwa untuk memperoleh barang yang mahal nilainya –yakni ridha Allah- mereka harus membayar dengan harga yang mahal pula berupa kehidupan itu sendiri. Sementara musuh-musuh mereka berperang tanpa memiliki tujuan yang jelas.

Mereka orang-orang yang berjiwa sangat kerdil dan bernurani sangat rapuh. Hal ini ditegaskan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam firman-Nya, “Orang-orang yang beriman berperang di jalan Allah, dan orang-orang yang kafirberperang di jalan thaghut. Oleh karena itu, perangilah kawan-kawan syetan itu, karena sesunggahnya tipu daya syetan adalah lemah.” (An-Nisa': 76)

Allah Subhanahu wa Ta’ala kemudian mencela orang-orang yang menghindar dari kewajiban dan lebih suka mengerjakan tugas-tugas ringan dengan meninggalkan tugas-tugas yang: memerlukan jiwa kepahlawanan. Allah menjelaskan kekeliruan sikap mereka dan menegaskan bahwa terjun di medan laga itu tidak akan merugikan dirinya sedikit pun.

Bahkan, sikap mundur itu tidak menguntungkan mereka sama sekali, karena kematian selalu mengintai di belakang mereka kapan pun dan di mana pun.

Pada ayat berikutnya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Tidakkah kamu perhatikan orang-orang yang dikatakan kepada mereka, ‘Tahan lah tanganmu (dari berperang), dirikanlah shalat. Dan tunaikan zakat.’Setelah diwajibkankepada mereka berperang, tiba-tiba sebagian dari mereka (golongan munafik) takut kepada manusia (musuh), seperti takutnya kepada Allah, bahkan lebih dari itu, Mereka berkata, Ya Tuhan kami, mengapa tidak Engkau tangguhkan (kewajiban berperang) kepada kami sampai beberapa waktu lagi? ‘Katakanlah, ‘Kesenangan di dunia ini hanya sebentar dan akhirat itu lebih baik untuk orang-orang yang bertaqwa, dan kamu tidak akan dianiaya sedikit pun. Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, walaupun kamu berada di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh…” (An-Nisa: 77-78)

Demi Allah, tiada doktrin kemiliteran macam apa pun yang dapat menandingi kekuatan dan kejelasannya, yang sesuai dengan impian setiap panglima di medan perang,baik menyangkut keyakinan, tekad, maupun harga dirinya.

Jika dua pilar besar dalam sistem militer adalah nizham (aturan) dan ketaatan, maka Allah Subhanahu wa Ta’ala (pada dua ayat di atas) telah memadukannya secara serasi. Kemudian Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang teratur.” (Ash-Shaf: 4)

“Taat dan mengucapkan perkataan yang baik (adalah lebih baik bagi mereka) apabila telah tetap perintah perang.” (Muhammad: 21)

Jika Anda membaca dalam ajaran Islam mengenai anjuran menyiapkan bekal, meningkatkan kekuatan, berlatih menunggang kuda dan melempar, menjunjung tinggi para syuhada, melipat gandakan pahala jihad dan pahala orang yang mendanainya, pahala orang yang menanggung keluarga mujahid, dan sebagainya, maka akan anda dapatkan penjelasan yang tak terhitung banyaknya, baik pada ayat-ayat Al-Qur’an, hadits-hadits, dan sirah Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, serta penjelasan para fuqaha dalam kitab-kitab fiqih.

“Rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu.” (Al-Mu’min: 7)

Bangsa-bangsa modern di zaman ini memiliki perhatian yang besar terhadap persoalan ini, bahkan mereka pun membangun rezimnya di atas pondasi ini. Kita lihat bahwa akar-akar Fasisme Musolini, Nazi Hitler, maupun Komunisme Stalin adalah militer murni. Akan tetapi terdapat perbedaan yang menyolok antara militer mereka dengan militer Islam.

Islam adalah ajaran yang mengagungkan kekuatan. Namun demikian ia lebih cenderung kepada perdamaian. Allah pun berfirman setelah berbicara mengenai kekuatan, “Dan jika mereka cenderung kepada perdamaian, maka cenderunglah kamu kepadanya dan bertawakallah kepada Allah…” (Al-Anfal: 61)

Ia pulalah yang memberikan batasan nilai kemenangan dan fenomena riilnya dalam firman-Nya, “…Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong agama-Nya. Sesungguhnya, Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Yaitu) orang-orang yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma’ruf, dan mencegah dari perbuatan yang mungkar; dan kepada Allahlah kembali segala sesuatu.” (Al-Hajj: 41)

Bahkan, Allah juga meletakkan dasar undang-undang darurat perang sebagaimana dalam firman-Nya, “Dan jika kamu mengetahui penghianatan dari suatu golongan, maka kembalikanlah perjanjian itu kepada mereka dengan cara yang jujur. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat khianat.” (Al-Anfal: 58)

Di samping itu, kita juga mendapatkan sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan ucapan para khalifah setelah beliau, tatkala mengirim pasukan selalu disertai dengan wasiat yang saratdengan pesan kasih sayang dan perdamaian. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Janganlah engkau melanggar janji, melampaui batas, mencincang musuh, membunuh perempuan, anak-anak, membunuh orang-orang yang sudah tua, memotong pohon yang sedang berbuah, dan menyengsarakan orang yang terluka. Di medan perang engkau akan menjumpai para rahib yang sedang beribadah di rumah-rumah ibadah mereka, maka tinggalkanlah mereka itu dan biarkanlah mereka dengan kesibukannya.”

Di samping itu, kedudukan militer di dalam Islam adalah sebagai polisi keadilan serta penegak undang-undang dan hukum. Adapun militer Eropa yang ada sekarang, semua orang mengetahuinya, dia adalah pasukan bar-bar yang zhalim dan tentara yang hanya berpikir untuk keselamatan dirinya. Kalian dapat membandingkan, mana yang lebih utama di antara keduanya?

Hasan Al Banna

Islam dan Kebangsaan

Umat yang tengah bangkit membutuhkan rasa bangga terhadap bangsanya; bangga sebagai umat yang utama dan mulia, yang memiliki berbagai keistimewaan dan perjalanan sejarah nan indah, sehingga kebanggaan ini akan tertanam pula dalam jiwa generasi penerusnya. Dengan kebanggan itu, mereka siap mempertahankan kehormatan bangsanya serta siap menebusnya meski dengan mengalirkan darah dan mengorbankan nyawa. Mereka siap berkarya nyata demi kejayaan tanah airnya, mempertahankan kehormatannya, serta menciptakan kebahagiaan masyarakatnya.

Doktrin “rasa bangga” terhadap bangsa yang seperti ini -dengan keadilan, keutamaan, dan kelembutan perasaannya tidak kita dapatkan pada ideologi mana pun kecuali dalam Islam yang hanif ini. Kita (umat Islam) adalah bangsa yang mengetahui secara persis bahwa kehormatan dan kemuliaan kita disakralkan Allah melalui ilmu-Nya dan diabadikan dalam Al-Qur’an dengan firman-Nya,

“Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’rut, mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah” (Ali Imran:110)

“Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar rasul (Muhammad) menjadi saksi (perbuatan) kamu.” (Al-Baqarah: 143)

“Dan bagi Allah-lah kehormatan, bagi rasul-Nya dan bagi orang-orang yang beriman.” (Al-Munafiqun: 8)

Oleh karena itu, mestinya kita pula yang paling pantas untuk mempersembahkan pengorbanan -dengan dunia dan seisinya dalam rangka mempertahankan kehormatan yang Rabani ini.

Sebenarnya, bangsa-bangsa modern zaman ini telah pula berhasil menanamkan doktrin semacam ini kepada jiwa para pemuda, para tokoh, dan anggota masyarakatnya. Kita telah mendengar kumandang slogan,

“Jerman di atas segalanya”, atau “Italia di atas semua”, atau “Wahai Inggris, pimpinlah kami.”

Namun ada perbedaan yang menyolok antara masyarakat yang terpola oleh nilainilai Islam dengan masyarakat yang didoktrin oleh slogan-slogan seperti ini, yakni rasa kebangsaan orang muslim merupakan perasaan yang melambung tinggi sehingga menyatu dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala Akan halnya rasa kebangsaan mereka, dia hanya sampai pada batas doktrin tersebut. Lebih dari itu Islam memberikan batasan bagi tujuan diciptakannya perasaan ini, sehingga mendorong kuatnya komitmen padanya dan menjelaskan bahwa ia bukan fanatisme buta atau kebanggaan yang semu. Ia adalah rasa bangga sebagai pemimpin dan pemandu dunia menuju kehidupan yang baik dan sejahtera.

Karenanya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Kalian menegakkan amar ma’ruf, mencegah kemunkaran, dan beriman kepada Allah.” (Ali Imran: 110)

Ayat ini mengandung maksud: dukungan kita terhadap keutamaan, pernyataan perang terhadap setiap kehinaan, penghormatan terhadap nilai-nilai yang luhur, serta komitmen untuk selalu melakukan kontrol atas setiap aktivitas.

Karena itu, jiwa kepemimpinan bangsa muslim terdahulu berhasil menciptakan sikap adil dan kasih sayang yang sempurna dan paling ideal, yang pernah dilahirkan oleh sebuah umat.

Adapun prinsip-prinsip kepemimpinan yang tertanam di jiwa bangsa-bangsa Barat, ia tidak memiliki batasan tujuan yang jelas kecuali fanatisme yang rancu. Oleh karenanya, kebanggaan mereka justru membangkitkan sikap permusuhan dari bangsabangsa lain yang lemah.

Islam telah menggariskan hal terbaik dalam urusan ini. Ia ingin menanamkan nilai luhur di dada putra-putranya dan menjauhkan mereka dari doktrin-doktrin negatif yang melampaui batas.

Islam telah memperluas batasan “tanah air lslam”, dan mewasiatkan kepada putraputranya agar berkarya demi kebaikannya serta siap berkorban demi mempertahankan kemerdekaan dan kehormatannya.

Tanah air dalam pengertian Islam menyangkut hal-hal sebagai berikut:

Pertama, wilayah geografis secara khusus.

Kedua, meluas ke berbagai negeri Islam, karena bagi setiap muslim negeri-negeri itu adalah tanah air dan kampung halamannya.

Ketiga, melebar ke berbagai bekas wilayah daulah Islamiyah, yang pernah diperjuangkan dengan darah dan nyawa para pendahulu sehingga berhasil menegakkan panjipanji ilahiyah di sana. Peninggalan sejarah masih mencatat kejayaan dan kegemilangan yang pernah mereka raih pada masa lalu, sehingga setiap muslim akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan mahkamah ilahi tentang wilayah-wilayah ini, mengapa tidak ada perjuangan untuk mengembalikannya.

Keempat, meluas ke berbagai negeri kaum muslimin sehingga mencakup dunia seluruhnya. Tidakkah kalian dengar ketika Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan perangilah mereka, supaya jangan ada fitnah dan supaya agama itu sematamata bagi Allah. Jika mereka berhenti (dari kekafiran) maka sesungguhnya Allah Maha Melihat apa yang mereka kerjakan.” (Al-Anfal: 39)

Dengan demikian, Islam memadukan antara perasaan cinta tanah air secara khusus dan cinta tanah air secara umum, dengan segala puncak kebaikannya demi mewujudkan kesejahteraan umat manusia.

“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling mengenal.” (Al-Hujurat: 13)