Tag Archives: Saiyid Mahadhir

hasanalbanna.com

Memilih dan Menolak

Berbicara cinta tidak akan ada habisnya, pernikahan bukanlah menjadi akhir dari segalanya, justru disanalah mulanya panggung cinta itu ada, tempat yang sah bagi sepasang manusia untuk bercinta karena-Nya. Cinta jiwa memang meminta fisik bertemu. Namun hanya pertemuan fisik dalam ikatan pernikahan sajalah yang berpahala, sisanya berdosa.

Tidak ada pembujangan didalam Islam. Tidak juga ada kata membenci pernikahan. Perkara bahwa sebagian dari ulama kita banyak juga yang hidupnya membujang, itu beda lagi, tidak bisa disamakan. Begitu halnya dengan perempuan.

Selain perintah agama, menikah itu juga menjadi tabiat alam, ciri dari makhluk hidup. Bahwa proses pembuahan yang membuat kehidupan ini terus berlangsug ada disemua jenis kehidupan; tumbuhan, hewan, juga manusia.

Tapi karena manusia makhluk yang paling mulia, maka degan sengaja Penguasa alam semesta ini membuat aturan bagaimana cara manusia melestarikan kehidupannya agar terus beranak-pinak.

Dari sekian banyak alasan mengapa harus menikah, penulis pikir alasan agama adalah yang utama, bahwa agama yang suci ini menghalalkan pernikahan, dan mensyariatkannya, serta menganjurkan untuk dilakukan.

Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman:

فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ

“Maka nikahilah wanita-wanita yang kamu senangi” (QS. An-Nisa’ : 3)

Dan juga firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang lain :

وَأَنْكِحُوا الأَْيَامَى مِنْكُمْ

“Dan nikahilah wanita-wanita yang sendirian di antara kalian”  (QS. An-Nur : 32)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam menguatkan:

عَنْ عَبْدِ اَللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ t قَالَ لَنَا رَسُولُ اَللَّهِ r  يَا مَعْشَرَ اَلشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ اَلْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ  فَإِنَّهُ أَغَضُّ لِلْبَصَرِ وَأَحْصَنُ لِلْفَرْجِ وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وِجَاءٌ مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu berkata bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda kepada kami,”Hai para pemuda! Barangsiapa di antara kamu sudah mampu kawin, maka kawinlah. Karena dia itu dapat menundukkan pandangan dan menjaga kemaluan. Dan siapa yang belum mampu hendaklah dia berpuasa karena dapat menahan.” (HR. Bukhari Muslim)

اَلنّكَاحُ مِنْ سُنَّتِى فَمَنْ لَمْ يَعْمَلْ بِسُنَّتِى فَلَيْسَ مِنّي

“Menikah itu bagian dari sunnahku, maka siapa yang tidak beramal dengan sunnahku, bukanlah ia dari golonganku.” (HR. Ibnu Majah)

Memilih

Bukanlah seperti cintanya para ABG yang mirip dengan tingkah anak-anak yang memegang anak ayam, gemes tapi akhirnya malah ketakutan. Tapi disini kita sedang berbicara bagaimana caranya memilih tempat untuk melabuhkan cinta yang suci ini.

Seperti memilih pakaian, yang paling sulit itu adalah meyakinkan diri apakah pakaian yang sudah dipilih itu serasih atau tidak. Size, warna, corak, motif, dan harga, semuanya menjadi satu kesatuan yang akan melahirkan keserasian.

Mungkin pesan Rasulllah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam berikut sudah sangat akrab ditelinga, dalam kaitannya dengan memilih:

 تُنْكَحُ الْمَرْأَةُ لأِرْبَعٍ : لِمَالِهَا وَلِحَسَبِهَا وَلِجَمَالِهَا وَلِدِينِهَا فَاظْفَرْ بِذَاتِ الدِّينِ تَرِبَتْ يَدَاكَ

“Wanita itu dinikahi karena empat perkara: Karena hartanya, karena keturunannya, karena kecantikannya dan karena kualitas agamanya. Maka setidaknya pastikan wanita yang punya agama engkau akan beruntung.” (HR. Bukhari Muslim)

Tafsir Imam Ahmad bin Hanbal

Ada hal yang menarik dari seorang Imam besar yang satu ini, seperti yang dinukil dalam kitab Nihayah al-Muhtaj, jilid 6, hal. 182, Imam Ahmad sedikit memberikan pejelasan mengenai tafsir untuk hadits diatas.

“Mulanya tanyakanlah kecantikan perempuan yang hendak dilamar, jika sudah menerima kecantikannya, lalu tanyalah tentang akhlaknya, jika terpuji nikalilah, tapi jika agamanya tidak terpuji maka tolaklah. Dan janganlah sekiranya menanyakan agama terlebih dahulu, jika terpuji lalu ia menanyakan tentang kecantikannya, jika tidak bisa menerimana kecantikannya lalu ternyata ia menolaknya, karena yang terakhir ini menolaknya karena kecantikannya, bukan agamanya.”

Seperti itu kira-kira penafsirannya, itu mengapa nilai agama (akhlak) dalam hadits tersebut berada di tertib terakhir, karena penentunya ada disana, memilih dan menolak haruslah dengan alasan agama, karena memang godaan fisik biasanya muncul pertama, lalu seterusnya kebaikan akhlaklah yang akan terus ada. Fisik boleh tetap dan selalu cantik, tapi bak makan ayam goreng, jika sudah setiap hari hadir di meja makan kadang ikan asin yang malah dirindu.

Dalam memenangkan kebaikan akhlak, selalu saja teringat sajak (Anis Matta) berikut;

Suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita tidur saling memunggungi

tapi jiwa berpeluk-peluk

senyum mendekap senyum

 

suatu saat dalam sejarah cinta kita

raga tak lagi saling membutuhkan

hanya jiwa kita sudah melekat dan menyatukan

rindu mengelus rindu

 

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita hanya mengisi waktu dengan cerita

mengenang dan hanya itu

yang kita punya

 

suatu saat dalam sejarah cinta kita

kita mengenang masa depan kebersamaan

kemana cinta akan berakhir

di saat tak ada akhir.