Tag Archives: Syarah Ushul ‘Isyrin

Abdullah bin Qasim Al Wasyli

Islam Adalah Kekayaan

Al ghina (kekayaan) adalah lawan dari kemiskinan yaitu yang memenuhi kecukupan. Dalam hadits dikatakan, “Sebaik-baik sedekah adalah yang dikeluarkan dari kecukupan.” (HR. Bukhari)

Sunatullah menitahkan hamba-hamba-Nya bahwa Ia Subhanahu wa Ta’ala tidak menjadikan mereka sama dalam hal rezeki, untuk suatu hikmah yang dikehendaki-Nya dan kemaslahatan yang telah diketahui-Nya bagi hamba-hamba-Nya, hal ini demi tegaknya sendi-sendi kehidupan untuk mewujudkan rahmat dan kesediaan. Allah berfirman, “Apakah mereka yang membagi-bagi rahmat Tuhanmu? Kami telah menentukan di antara mereka penghidupan mereka dalam kehidupan dunia, dan Kami telah meninggikan sebagian mereka atas sebagian yang lain beberapa derajat, agar sebagian mereka dapat memberdayakan sebagian yang lain. Dan rahmat Tuhanmu lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan.” (Az-Zukhruf: 32)

Allah menjelaskan bahwa manusia diciptakan secara fitri mencintai harta dan sangat menginginkan kekayaan, “Dan kamu mencintai harta benda dengan cinta yang berlebihan.” (Al- Farj: 20), dan firman-Nya, “Sesungguhnya manusia sangat mencintai harta.” (Al-‘Adiyat: 8)

Meskipun demikian, Allah membimbingnya agar bersikap sedang, tidak kikir dan tidak terlalu pemurah dalam membelanjakan harta, “Dan janganlah kamu jadikan tanganmu terbelenggu pada lehermu dan janganlah kamu terlalu mengulurkannya, karena itu kamu menjadi tercela dan menyesal.” (Al-Isra’; 29)

Ia memuji orang-orang yang menyambut seruan itu dengan firman-Nya, “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebih-lebihan dan tidak pula kikir, tetapi pembelanjaan itu di tengah-tengah keduanya.” (Al-Furqan: 67)

Di samping itu, Allah mencela orang-orang yang memubazirkan sesuatu, dengan firman-Nya,”Dan berikanlah kepada kerabat-kerabat yang dekat akan haknya dan kepada orang miskin dan ibnu sabil. Dan janganlah kamu memubazirkan harta. Sesungguhnya orang-orang yang mubazir adalah saudara-saudaranya setan dan setan itu sangat ingkar kepada Tuhannya.” (Al-Isra’: 26-27)

Salah satu bentuk tabzir itu adalah membuang-buang harta secara percuma. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sesungguhnya Allah melarangmu banyak bicara (tanpa dasar yang benar), banyak bertanya, dan membuang-buang harta.” (HR. Bukhari)

Batas kewajaran dalam membelanjakan harta adalah mengeluarkannya sesuai dengan perintah Allah secara wajib, sunah, maupun mubah tanpa berlebihan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakan (hai Muhammad), “Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (mengharamkan) rezeki yang baik?” Katakanlah, “Semua itu disediakan bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat. Demikianlah Kami jelaskan ayat-ayat itu agar mereka mengetahui.” (Al-A’raf: 32)

“Makan dan minumlah tapi jangan berlebihan, sesungguhnya Allah tidak mencintai orang-orang yang berlebihan.(Al-A’raf: 31)

Dalam waktu yang sama, batas kewajaran dalam Islam menentukan agar tidak sampai tingkat kekikiran dan menghalangi hak yang wajib serta dianjurkan.

“Jika dikatakan kepada mereka, “Nafkahkanlah sebagian rezeki yang telah Allah berikan kepadamu,” maka berkatalah orang-orang kafir kepada orang-orang yang beriman, “Haruskah kami member makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki, tentu Dia akan member makan kepadanya, tiadalah kamu kecuali dalam kesesatan yang nyata. (Yasin: 47)

“Barangsiapa yang dipelihara dari sifat kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.(Al-Hasyr: 9)

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Waspadalah terhadap kezaliman karena kezaliman adalah kegelapan pada hari kiamat, dan jagalah dirimu dari kebakhilan karena kebakhilan itulah yang membinasakan orang-orang sebelum kamu, ia telah mendorong mereka untuk menumpahkan darah dan menghalalkan kehormatan mereka.” (HR. Muslim)

Di samping itu, batas kewajaran dalam usaha yang halal adalah dilakukannya suatu hal pada bidang dan cara yang legal. Dalam hadits dikatakan, “Akan dating kepada manusia suatu masa yang sesorang tidak peduli dari mana ia memperoleh harta, dari sumber yang halal atau haram.” (HR. Bukhari)

Dengan prinsip-prinsip ini jelaslah kemoderatan pandangan Islam terhadap harta dan tata cara mendapatkannya dengan meawjibkan berusaha, juga piawai dalam mengatur dan mengembangkannya. Ia memuji orang yang bersyukur lagi menggunakan hartanya untuk kemanfaatan umat manusia dan mencari ridha Allah.

Dalam Islam tidak ada satu pun ajaran yang mendorong manusia kepada kefakiran, kesengsaraan, dan memahamai zuhud dengan tidak sebagaimana mestinya. Ayat maupun hadits mencela dunia, harta, kecukupan, dan kekayaan yang hanya mengantarkan kepada sikap melampai batas, menimbulkan fitnah, berlebihan, digunakan untuk maksiat, dosa, dan mengingkari nikmat. Dalam hadits disebutkan bahwa Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Sebaik-baik harta yang baik adalah milik orang yang baik.” (HR. Ahmad)

“Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya, harta (mereka yang ada dalam kekuasanmu) yang dijadikan oleh Allah sebagai pokok kehidupan. (An-Nisa’: 5)

Bahkan kita mengetahui Islam mencela kemiskinan, menjelaskan berbagai akibat buruknya, membencinya, dan menyuruh kita berlindung darinya. Dalam hadits Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengajarkan doa, “Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepadamu dari kekafiran dan kefakiran.” (HR. Abu Dawud)

Dalam Islam, harta merupakan salah satu sarana kebaikan dalam kehidupan. Karena itu ia menyebutnya sebagai khair (kebaikan) dalam beberapa ayat. Di antaranya, “Diwajibkan atas kamu, apabila sesorang di antara kamu kedatangan (tanda-tanda) kematian, jika ia meninggalkan harta yang banyak (al-khair), berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabat secara ma’ruf.” (Al-Baqarah: 180)

“Dan sesungguhnya manusia sangat bakhil karena cintanya kepada harta (khair).” (Al-‘Adiyat: 8)

Firman-Nya melalui lisan nabi Musa ‘Alaihis Salam, “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku sangat memerlukan suatu kebaikan (khair) yang Engkau turunkan kepadaku.” (Al-Qashash: 24)

Menurut sebagian besar mufasirin, al-khair  pada ayat-ayat tersebut berarti harta. Karena itu banyak kewajiban dan kebajikan yang dikaitkan dengan harta. Islam mendorong  agar kita berlomba-lomba menginfakkan harta dalam amal kebajikan untuk memperoleh derajat tertinggi di dunia dan akhirat. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Orang-orang yang menafkahkan hartanya di malam maupun siang hari secara tersembunyi dan terang-terangan, maka mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Tidak ada kekhawatiran atas mereka dan tidak pula bersedih hati.” (Al-Baqarah: 274)

“Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir terdapat seratus biji. Allah melipatgandakan pahala bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (Al-Baqarah: 261)

Demikianlah, dari penjelasan di atas dapat kita simpulkan bahwa Islam adalah materi dan kekayaan, usaha dan kecukupan. Wallahu a’lam.

Abdullah bin Qasim Al Wasyli

Islam Adalah Dakwah

Dakwah secara bahasa berarti panggilan atau seruan. Dengan makna ini, ia dapat berarti upaya yang dilakukan dan bisa juga berarti kandungannya. Di antaranya Alah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Bagi Dia-lah seruan kebenaran,yaitu ketika kesaksian bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Termasuk dalam hal ini di’ayah (propaganda). Dalam sebuah hadits disebutkan, “Aku mengajarkanmu dengan propaganda Islam,yang dimaksud adalah dengan kalimat Syahadah.

Dengan demikian dakwah adalah member dorongan dan semangat dalam suatu urusan, atau dengan kata lain menyerukan dengan mencurahkan segala kemampuan berkomunikasi dan berpropaganda sehingga dapat dimengerti. Dengan definisi ini, dakwah adalah sinonim kata i’lan (promosi) dan di’ayah (propaganda).

Akan tetapi sebagian penulis kontemporer membedakan antara keduanya. Mereka berkata, “Dakwah adalah upaya yang dicurahkan untuk menyampaikan risalah, I’lan adalah upaya yang dicurahkan untuk membela risalah, sedangkan di’ayah adalah metode untuk mempropagandakan risalah itu dengan cara memberikan pengaruh yang kuat kepada individu atau kelompok orang dengan membujuk mereka dengan seluruh kemampuan yang dimiliki.

Namun, dakwah Islam sangat khas dengan tujuan akhirnya, yaitu Allah Subhanahu wa Ta’ala karena itu ia diungkapkan dalam bentuk kalimat ad-da’wah ilalah. Ungkapan ini memberikan batasan dan patokan yang jelas bahwa dakwah Islam adalah menyeru seluruh umat manusia dalam rangka merealisasi penghambaan manusia yang bersih hanya kepada Allah saja. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah dan aku bukan termasuk orang-orang yang musyrik.”” (Yusuf: 108).

Dalam Islam, dakwah mempunyai kedudukan yang sangat tinggi berdasarkan kesaksian Al-Quran. Ucapannya adalah sebaik-baik ucapan, amal para pelakunya direkomendasikan sebagai amal saleh, dan pernyataan berafiliasi kepada kandungannya menunjukkan akan kebanggaan dan kebesaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Siapakah yang lebih baik perkatannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata, “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri.” (Fushilat: 33)

Dakwah Islam mempunyai karakteristik yang membedakannya dengan dakwah yang lain. Di antaranya adalah:

  1. Rabbaniyah, karena ia bersumber dari Allah dan untuk Allah. Dia-lah pemiliknya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hanya bagi Allah-lah doa yang benar.” (Ar-Ra’d: 14)
  2. 2.          Menyeru kepada kebenaran, sementara dakwah lainnya menyeru kepada kebatilan. Allah Subhanahu wa Ta’ala Bberfirman, “Dan Allah menghukum dengan keadilan. Dan sembahan-sembahan yang mereka sembah selain dari Allah tidak dapat menghukum dengan suatu apa pun.” (Ghafir: 20)
  3. Menyeru kepada keselamatan, sedangkan dakwah selainnya mengajak ke neraka. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai kaumku, bagaimanakah kamu, aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyerukan ke neraka.” (Ghafir: 41)
  4. Bertujuan tetap, sifat ini tidak dimiliki dakwah selainnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata. Mahasuci Allah dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108)
  5. Mengajak kepada kehidupan, sedangkan dakwah yang lain mengajak kepada kematian. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada sesuatu yang menghidupkanmu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya, dan sesungguhnya kepada-Nya lah kamu akan dikumpulkan.” (Al-Anfal: 24)
  6. Kesemestaan, seruannya ditujukan kepada umat manusia seluruhnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfiman, “Dan tidaklah aku mengutusmu (Muhammad), kecuali untuk seluruh umat manusia sebagai pemberi kabar gembira dan pemberi peringatan.” (Saba’: 28)

Itulah karaketristik terpenting dakwah Islam. Masih banyak lagi karakteristiknya dalam Al-Quran dan Sunah yang tak pernah kering mata airnya dan tidak pernah habis kebaikannya.

Dakwah merupakan kewajiban bagi setiap Muslim dan Muslimah sesuai dengan kemampuan mereka masing-masing. Tidak ada yang dikecualikan dalam kewajiban ini, selain mereka yang tidak termasuk mukalaf, “Katakanlah, “Inilah jalan (agama)ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku….” (Yusuf: 108)

Yang mengikuti Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam adalah setiap mukmin.

Ia bukan khusus bagi para ulama atau ruhaniawan menurut sebagian orang, karena ia adalah kewajiban semua orang. Rasaulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, Sampaikanlah olehmu dariku walau satu ayat. Yang benar adalah bahwa bagi para ulama ada tambahan di samping kewajiban dakwah pada umumnya, yaitu menjelaskan perincian agama, hukum, dan nilai-nilainya sesuai dengan keluasan ilmu dan pengetahuan mereka tentang seluk beluknya. Hal ini sesuai dengan yang dilakukan oleh para sahabat dan generasin berikutnya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang telah Kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah Kami menerangkannya kepada manusia dalam Alkitab. Mereka itu dilaknati Allah dan dilaknati (pula) oleh semua (makhluk) yang dapat melaknati, kecuali mereka yang telah tobat, melakukan perbaiakan, dan menerangkan (kebneran), maka terhadap mereka itu Aku menrima tobatnya dan Aku-lah Yang Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (Al Baqarah: 159-160)

Dakwah secara individu dilakukan oleh orang Islam sebagai individu dalam jamaah yang menyeru kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (Ali ‘Imran: 104). Maksud dari ayat ini adalah agar ada segolongan dari umat ini yang menyambut kewajiban dakwah walaupun ia wajib atas setiap individu umat ini sesuai kemampuan masing-masing. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Barangsiapa di antara kalian melihat kemunkaran, hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman.” (HR. Muslim)

Dalam pandangan Islam, dakwah harus mendahului jihad, -apa pun bentuk jihad itu- sebab manusia tidak akan dihukum atas tugas-tugas yang diwajibkan kecuali setelah dakwah itu sampai kepadanya. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Kami tidak akan mengazab suatu kaum sebelum Kami mengutus seorang Rasul.” (Al-Isra’: 15)

Penyampaian tidak mungkin terlaksana dengan baik kecuali dengan dakwah. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak pernah menyerang suatu kaum dan tidak menghukum seorang pun atas perbuatan yang dilakukannya kecuali setelah hal itu disampaikan dan diberitahukan. Dalam hadits Muadz bin Jabal saat ia diutus Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ke Yaman, terdapat dalil yang sangat jelas tentang apa yang kami katakana ini.

Dakwah Islam ditegakkan di atas empat pilar:

  1. Dai, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dan orang-orang beriman yang mengikutinya hingga hari kiamat.
  2. Dakwah (kandungannya), yaitu kalimat syahadat dan konsekuensi yang harus dipenuhi. Inilah yang disebut jalan Allah
  3. Mad’u (objek dakwah) yaitu seluruh umat manusia, baik yang Arab maupun yang ‘ajam, yang berkulit putih maupun yang berkulit merah.
  4. Uslub (Metode), yaitu hikmah, mau’izhah hasanah, dan mujadalah (berdebat) dengan cara yang (paling) baik. Semua ini telah Allah himpun dalam satu ayat pada firman-Nya, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah, mau’izhah hasanah (pelajaran yang baik), dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu Dia-lah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia-lah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (An-Nahl: 125)

Dengan pemaparan singkat tentang definisi dakwah, urgensi, kedudukan, karakteristik, hukum, dan pilar-pilarnya di atas, menjadi jelaslah apa yang diisyaratkan oelh Imam Syahid Al-Banna bahwa Islam adalah dakwah sebagaimana ia adalah jihad dengan segala makna yang terkandung di dalamnya. Wallahu’alam.

Abdullah bin Qasim Al Wasyli

Islam Adalah Jihad

Jahada menurut bahasa berarti kemampuan, kekuatan, dan kesulitan, sebagaimana kata ini juga digunakan untuk menggambarkan pekerjaan yang melelahkan dan medan yang sulit. Karena itu, menurut bahasa, jihad didefinisikan dengan berlebih-lebihan, mengerahkan segala kemampuan dalam perang, atau apa pun yang dikerjakan dengan segenap kemampuan.

Sedangkan menurut istilah, jihad adalah menggunakan segala kekuatan dan sarana yang mungkin digunakan, untuk menciptakan perubahan umum dan menyeluruh yang dapat meniggikan kalimat Allah.

Sudah merupakan Sunatullah bahwa kehidupan ini tidak akan lurus dan baik kecuali jika ada pembelaan dan manusia melaksanakannya.

“Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang diberikan) atas alam semesta.” (Al-Baqarah: 251)

Agama Allah tidak akan unggul kecuali jika para pemeluknya mempertaruhkan hidup demi agama itu.

“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadah orang Yahudi, dan mesjid-mesjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa.” (Al-Haj: 40)

Karena itu Allah Subhanahu wa Ta’ala menyariatkan jihad dan menjadikannya sebagai kewajiban yang melekat atas seluruh hamba-Nya, tidak ada seorang pun yang dapat menghindar darinya.

Diwajibkan atas kamu berperang, padahal perang merupakan sesuatu yang kamu benci.(Al-Baqarah: 216)

Kutiba pada ayat ini berarti diwajibkan sebagaimana firman-Nya,

“Diwajibkan atas kamu berperang.” (Al-Baqarah:216)

Allah Subhanahu wa Ta’ala telah menjadikan hukum jihad ini tetap berlaku hingga hari kiamat. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Jihad tetap berlaku sejak Allah mengutusku hingga akhir dari umatku memerangi dajjal. Tidak dapat dibatalkan oleh kedurhakaan orang yang durhaka, maupun keadilan orang yang adil. Demikian pula keimanan kepada takdir.” (HR Abu Daud)

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjadikannya sebagai amal yang paling utama setelah iman kepada Allah dan Rasul-Nya. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam ditanya, “Amal apakah yang paling utama?” Beliau menjawab, “Iman kepada Allah dan Rasul” Kemudian ditanya lagi, “Kemudian amal apa lagi?” Beliau menjawab, “Jihad fi sabilillah.” Lalu ditanya lagi, “Kemudian amal apa lagi?” Beliau menjawab, “Haji yang mabrur.” (HR. Mutafaq alaih)

Kedudukan para mujahid di sisi Allah Subhanahu wa Ta’ala lebih utama dan lebih agung daripada mereka yang duduk berpangku tangan. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman,

“Tidaklah sama antara Mukmin yang duduk (tidak turut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengna harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk satu derajat. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar (yaitu) beberapa derajat daripada-Nya, ampunan, dan rahmat. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa: 95-96)

Jihad dalam Islam tidak hanya terbatas pada perang sebagaiamana dipahami sebagian orang. Ia lebih luas daripada itu karena ia bermacam jenisnya, di antaranya adalah:

  1. Jihad melawan hawa nafsu; mendidik dan mengarahkannya kepada kebenaran dan komitmen dengannya. Tentang hal ini Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang berbuat.” (Al-‘Ankabut: 69) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Mujahid adalah orang yang berjihad melawan hawa nafsunya.” (HR. Tirmidzi)
  2. Jihad pendidikan dan pengajaran. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan di antara mereka beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka tentang agama dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya, supaya mereka dapat menjaga dirinya (At-Taubah: 122) Kata nafara pada ayat di atas adalah ungkapan yang biasa digunakan dalam perang. Karena itu, tafaquh fid din (pendalaman agama) merupakan salah satu bentuk jihad.
  3. Jihad lisan. Didasarkan pada firman Allah Subhanahu wa Ta’ala yang disampaikan kepada Nabi-Nya, “Maka janganlah kamu mengikuti orang-orang kafir, dan berjihadlah terhadap mereka dengan Al-Quran dengan jihad yang besar.” (Al-Furqan: 52) Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Berjihadlah melawan orang-orang musyrik dengan harta, jiwa, dan lisanmu.” (HR. Abu Dawud)
  4. Jihad politik. Didasarkan pada sabda Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, “Jihad yang paling utama adalah berkata benar di hadapan pemimpin yang durjana.” (HR. Abu Dawud)
  5. Jihad harta. Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Berangkatlah baik dalam keadaan merasa ringan atau berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah. Yang demikian itu adalah lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (At-Taubah: 41)
  6. Jihad qital (perang). Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampau batas, karena sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampau batas.” (Al-Baqarah: 190) Jika kamu tidak berangkat untuk berperang, niscaya Allah menyiksa kamu dengan siksa yang pedih dan digantinya (kamu) dengan kaum yang lain, dan kamu tidak akan dapat member kemuduratan kepada-Nya sedikit pun. Allah Mahakuasa atas segala sesuatu. (At-Taubah: 39)

Islam tidak menganggap jihad yang terakhir ini sebagai profesi bagi golongan tertentu sebagaimana dipahami sebagian orang, ia adalah kewajiban harta dan jiwa yang dibebankan kepada setiap orang yang mampu dalam umat ini. Pada saat diperlukan, keseluruhan umat harus siap menjadi prajurit yang berjihad fi sabilillah. Setiap individu harus bersiap siaga di setiap sisi negerinya. Persiapan militer ini tidak boleh hanya dengan kesadaran nurani (iman), baru kemudian dengan kekuasaan hukum dan undang-undang.

Jihad dengan maknanya yang luas, dalam Islam mencakup sejumlah prinsip yang diringkas oleh Ibnul Qayyim menjadi empat macam, yaitu jihad melawan hawa nafsu, jihad melawan setan, jihad melawan golongan yang menyimpang, yang terdiri dari orang-orang zalim, penganut bid’ah dan kemungkaran dalam masyarakat Islam, dan jihad melawan orang-orang kafir dan munafik.

Islam telah menggariskan system jihad, etika kemiliteran, rahmat kemanusiaan, dan kekuatan mulia yang tidak tertandingi oleh syariat dan system mana pun yang ada di dunia ini. Demikian itu karena Islam berasal dari Yang Mahaperkasa, Mahabijaksana, dan Maha Pengasih lagi Penyayang.

Nash-nash yang berkenaan dengan manhaj jihad dalam Islam sebagai berikut:

  1. Apabila Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam memberangkatkan pasukan maka beliau berpesan, “Berangkatlah dengan nama Allah, di jalan Allah, dan perangilah orang-orang yang kafir terhadap Allah. Berperanglah, jangan berkhianat, jangan berlebih-lebihan, jangan mencincang orang yang terbunuh, dan jangan membunuh anak yang baru dilahirkan. (HR. Abu Daud dari Buraidah) Dalam riwayat Abu Daud yang lain, dari Anas bin Malik disebutkan dengan lafadz sebagai berikut: “Berangkatlah dengan nama Allah dan dengan pertolongan Allah. Jangan membunuh bayi yang baru lahir, jangan membunuh perempuan, jangan membunuh orang tua, jangan membunuh anak-anak, jangan membunuh anak kecil, dan jangan berlebih-lebihan. Kumpulkan harta rampasan kalian, damailah, dan berbuat baiklah, sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat baik.
  2. Agar kami tidak meminta pertolongan kepada orang musyrik untuk melawan orang musyrik (HR. Ahmad)
  3. Barangsiapa yang keluar dari ketaatan (durhaka) pada pimpinan dan memisahkan diri dari jamaah, lalu ia mati, maka ia mati seperti matinya orang jahiliah. Dan barangsiapa yang berperang di bawah bendera kesombongan, menyeru kepada fanatisme atau marah karena fanatisme, lalu ia terbunuh, maka matinya adalah mati jahiliah (HR. Nasa’i)
  4. Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam melarang melempar racun di negeri musuh (HR. Thahawi)
  5. Barangsiapa yang mempersempit tempat tinggal atau memutus jalan, maka tidak ada jihad baginya (HR. Abu Daud)
  6. Terbunuh di jalan Allah dapat menghapus segala dosa selain hutang.

Itulah tinjauan singkat tentang konsep jihad dalam Islam yang menerangkan tentang kedudukan jihad dalam Islam, perhatian yang besar terhadapnya, dan gambaran jelas tentang prinsip-prinsip, etika, dan kasih saying untuk alam semesta yang terkandung di dalamnya. Untuk penjelasan yang lebih luas dan terperinci, hendaklah mencermati Al-Quran, Sunah, fiqih Islam, dan kitab-kitab tentang jihad, yang disusun oleh para ulama sekarang ini.