Tag Archives: Tarbiyah Jihadiyah

Abdullah 'Azzam

Pembinaan Generasi Muslim Berdasarkan Konsep Nabawi

Sesungguhnya segala puji itu milik Allah.  Kami memuji-Nya, meminta pertolongan kepada-Nya, dan meminta ampunan-Nya.  Dan kami minta perlindungan kepada Allah dari kejahatan diri kami dan keburukan amal-amal kami.  Barangsiapa yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menyesatkannya.  Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorangpun yang dapat menunjukinya.  Kami bersaksi tiada ilah yang berhak disembah kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya.  Dan kami bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya yang telah menunaikan amanah, menyampaikan risalah serta memberikan nasihat kepada umat.  Shalawat dan salam semoga senantiasa dicurahkan atasmu wahai junjuganku, wahai Rasulullah.  Wahai engkau yang telah membina generasi Islam pertama, dan senantiasa generasi umat itu terbina berdasarkan petunjukmu.  Dan mudah-mudahan Allah meridlai semua sahabatmu serta para pengikutnya dan para pengikut-pengikutnya dengan baik sampai hari kiamat, ….

‘Amma ba’du :

“Ya Allah tidak ada kemudahan kecuali apa yang telah Engkau jadikan mudah.  Dan Engkau jadikan kesedihan itu mudah manakala Engkau menghendakinya”

Tarbiyah Nabi Terhadap Generasi Islam Yang Pertama.

Yang kami maksud dengan “Generasi Pertama” adalah para sahabat.  Adapun sahabat sendiri adalah orang yang bertemu dengan Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, mereka muslim dan mati di atas keislaman.  Rabb mereka dan Nabi mereka menyanjung para sahabat.  Rabbul ‘Izzati memuji mereka.  Demikian pula Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam juga banyak menyanjung mereka.  Dalam surat Al Fath disebutkan :

“Muhammad itu adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka”. (QS. Al-Fath : 29).

“Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan orang-orang Anshar, yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan”. (QS. At Taubah : 117)

Al Qur’an telah bersaksi –sedangkan dalil Al Qur’an itu qath’i dan pasti– bahwa tigapuluh ribu sahabat yang ikut andil dalam perang Tabuk, mereka itu telah diampuni Allah.

“Sesungguhnya Allah telah ridha terhadap orang-orang mu’min ketika mereka berjanji setia kepadamu di bawah pohon”. (QS. Al-Fath : 18)

Adapun mereka yang ikut dalam Ba’iaturridwan itu berjumlah seribu empatratus orang.  Mereka itu, berdasarkan nash Al Qur’an telah diridlai  oleh Allah.

Dalam hadits shahih disebutkan :

“Sebaik-baiknya kurun (abad/masa) adalah kurunku, kemudian yang sesudahnya kemudian yang sesudah mereka”. (HR. Al Bukhari)[i]

Dalam hadits shahih dari riwayat Abu Sa’id Al Khudri disebutkan : Pernah terjadi pertengkaran antara Khalid bin Walid dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf.  Dalam pertengkaran tersebut Khalid mencacinya.  Maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda :

“Janganlah kamu sekalian memaki salah seorang sahabatku.  Karena sesungguhnya sekiranya seseorang diantara kalian menginfakkan emas semisal gunung Uhud, maka amalnya itu belum mencapai satu mud (kurang lebih 6 ons) seseorang diantara mereka atau setengahnya”. (HR. Ahmad, Al Bukhari dan Muslim). [ii]

Padahal seperti telah diketahui Khalid juga seorang sahabat.  Akan tetapi karena ‘Abdurrahman telah mendahului keislamannya serta persahabatannya, maka Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam marah kepada Khalid seraya mengatakan : “Sesungguhnya kemuliaan persahabatan ‘Abdurrahman wahai Khalid, jika engkau berinfak emas sebesar gunung Uhud, dan engkau juga seorang sahabat, maka amalmu itu tidak akan mencapai amalnya”.  Kendati Khalid sendiri telah mulai berinfak sebelum Futuh Makkah dan ikut serta berperang.

“Tidak sama di antara kamu orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menafkahkan (hartanya) dan berperang sesudah itu”. (QS. Al Hadid : 10)

Dalam shahih Muslim dari hadits Jabir disebutkan bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam pernah bersabda :

“Tidak akan masuk neraka, seseorang yang pernah berbaiat di bawah pohon (Baitur Ridwan)”. (HR. Muslim dalam Shahihnya)

Ibnu Mas’ud berkata : “Sesungguhnya Allah melihat hati hamba-hamba-Nya , maka Dia dapati hati Muhammad itu lebih baik dari hati seluruh hamba-Nya, maka Diapun memilihnya dan mengangkatnya sebagai Rasul untuk mengemban risalah-Nya.  Kemudian melihat hati hamba-hamba-Nya sesudah hati Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, maka Dia dapati hati para sahabatnya (Muhammad) itu lebih baik dari hari seluruh hamba.  Lantas mereka dijadikan oleh Allah sebagai pembantu-pembantu Nabi-Nya”

Ibnu Hajar berkata : “Umat Islam telah bersepakat bahwa kemuliaan sahabat itu tidak dapat dibandingkan dengan sesuatu apapun jua”.

Dalam buku Aqidahnya, Abu Ja’far Ath Thahawi mengatakan : “Dan kami mencintai para sahabat Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam dengan tidak mengurangi sedikitpun kecintaan kami atas seseorang diantara mereka, dan kami membenci siapapun yang membenci mereka atau mengatakan sesuatu yang tidak baik terhadap mereka dan kami tidak mengatakan tentang mereka kecuali yang baik.  Mencintai mereka adalah termasuk agama (dien), iman, dan ihsan, sedangkan membenci mereka adalah tindak kekufuran, kemunafikan dan melampaui batas”.

Golongan manusia pilihan yang mulia ini, dipilih oleh Allah Rabbul ‘Izzati untuk menguatkan agama-Nya dan membela syariat-Nya.

“Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mu’mim”. (QS. Al Anfal : 62)

Bagaimana generasi satu-satunya dan prototipe yang unik dalam sejarah kemanusiaan secara keseluruhan ini keluar dan muncul dari antara dua sampul kitab ? Bagaimana mereka menterjemahkan ayat-ayat kepada manusia, sehingga berubahlah kata-kata tersebut menjadi manusia berasal dari daging dan darah ?  Dan engkau tidak dapat membedakan kehidupan nyata mereka dari ayat Al Qur’an manapun.

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah”. (QS. Ali Imran : 110)

Bagaimana mereka tumbuh berkembang sehingga menjadi generasi yang kuat dan matang dengan akarnya yang kokoh menghunjam ke dasar bumi.

“Akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya”. (QS. Ibrahim : 24-25)

Apa sebenarnya prinsip-prinsip yang menjadi esensi pembinaannya ?  Apa dasar-dasar yang dipergunakan Murabbinya, Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam untuk membina bangunan yang besar, mengagumkan dan mempunyai keteraturan yang unik.


[i] HR Bukhari (lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 3294)

[ii] HR Ahmad, Bukhari dan Muslim (Lihat : Shahih Al Jami’ Ash Shaghir 731)