Abbas Hasan As Sisi

Tarbiyatul Aulad

Sungguh, fitrah anak kecil itu lembut, bersih, dan sensitif. Wajib bagi para da’i memahami bahwa anak kecil itu mudah terpengaruh oleh setiap gambar, gerakan, dan ucapan. Oleh karenanya harus pandai-pandai memilih kata-kata, gambar, dan sikap yang sesuai dengan pikiran anak kecil, sehingga tidak mempengaruhi sensitivitasnya yang mudah menerima apa saja dengan polos dan jujur.

Sudah dimaklumi bila anak-anak sering mendengar dari ibu atau neneknya cerita tentang hal-hal yang menyeramkan, misal cerita drakula dan setan terutama  menjelang tidur agar ia mudah terlelap. Dampaknya, ketika sang anak sedang tidur maka yang terlintas dalam pikirannya adalah bayangan yang menakutkan, sesuatu yang membuatnya selalu terbayang dalam mimpi hingga ia merasa ketakutan.

Adalah kewajiban kita untuk menanamkan cerita-cerita yang menyenangkan, menggembirakan, dan membangkitkan keceriaan. Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Berilah kabar gembira dan jangan membuat mereka lari menjauh.”

Para pakar psikologi dan ilmu pendidikan telah menegaskan tentang bahaya keguncangan jiwa yang dialami ibu hamil, karena akan berdampak pada janin yang dikandung. Memang, hal yang wajar apabila ibu hamil itu sering mengalami instabilitas emosi. Yang men-jadi pertanyaan adalah bila janin yang berada dalam kandungan ibunya saja dapat terpengaruh, lalu bagaimana bila setelah lahir nanti?

Bagaimana bila alat indranya sudah mulai berkembang dan berfungsi?

Suatu saat saya pernah menguji seorang anak kecil yang belum genap setahun umurnya, apakah ia mengerti dengan akalnya atau dengan perasaannya? Saya ajak ia bermain dan bercanda dengan penuh senyum dan tatap-an kasih sayang. Secara tibatiba ia pun tersenyum gembira. Tetapi ketika saya berubah dengan tatapan sedih, maka ia pun menangis sambil memahngkan mukanya, dan berusaha lari dan hadapanku. Saya menyimpulkan bahwa anak kecil itu sejak keluar ke alam kehidupan, ia mengetahui dan memahami sesuatu melalui perasaannya. Jadi, ia memahami sesuatu yang tidak ia jangkau lewat akalnya.

Itulah sebabnya, perlu bagi para da’i (para guru dan murabbi) untuk memahami pentingnya fitrah dalam membina anak-anak kecil, sehingga dapat mengantisipasi kesalahan-kesalahan yang akan muncul.