Barangkali ada manfaatnya jika dalam memoar ini saya mengemukakan beberapa pandangan seputar tasawuf dan tarekat dalam sejarah dakwah Islam. Tema ini meliputi perkembangan tasawuf, pengaruhnya, juga bagaimana ia dapat bermanfaat bagi masyarakat Islam. Saya tidak akan berupaya menyampaikannya berdasarkan penelitian ilmiah atau mengupas makna-makna idiomatiknya. Ini sekedar memoar yang ditulis secara spontanitas , sehingga yang dikemukakan disini hanya yang dapat diingat dan dirasakan. Jika apa yang akan saya kemukakan ini benar, berarti kebenaran itu semata-mata dari Allah dan hanya milik-Nya segala puji. Jika tidak demikian, maka hanya kebaikanlah yang sebenarnya saya inginkan. Kuasa Allah-lah dalam segala urusan, sebelum dan sesudahnya.
Ketika kemakmuran pemerintahan Islam telah melebar luas pada permulaan abad pertama, penaklukan beberapa negeri juga banyak berlangsung, masyarakat dari berbagai penjuru dunia memberikan perhatian kepada kaum muslimin. Segala jenis “buah” telah tergenggam dan menumpuk di tangan mereka. Khalifah mereka ketika itu berkata kepada awan di langit, “Barat maupun Timur, entah bagian bumi mana pun yang mendapat tetesan hujanmu, pasti akan datang kepadaku membawa upeti.” Adalah suatu hal yang lumrah, apabila umat manusia ketika menerima nikmat dunia ini, menerimanya dengan menikmati kelezatan dan anugerah yang ada. Memang ada yang menikmatinya dengan kesahajaan, namun ada pula yang menikmati dengan berlebihan. Sudah menjadi hal yang lumrah juga bahwa perubahan sosial ini terjadi. Dari kesahajaan hidup di masa kenabian dahulu, kini telah sampai di masa kemewahan.
Melihat kenyataan ini, bangkitlah dari kalangan para ulama yang shalih dan bertaqwa serta para da’i yang menghimbau umat manusia untuk kembali kepada kehidupan zuhud terhadap kesenangan duniawi yang fana ini, sekaligus mengingatkan mereka akan berbagai hal yang dapat melupakan dirinya dari nikmat akhirat yang kekal abadi. Sungguh, kampung akhirat itulah kehidupan yang kekal lagi sempurna, jika mereka mengetahui.
Satu di antara mereka yang saya ketahui adalah seorang imam pemberi petuah yang mulia, Hasan Al-Bashri. Meski akhirnya diikuti pula oleh sekian banyak orang shalih lainnya semisal beliau. Terbentuklah sebuah kelompok ditengah-tengah umat manusia, yang dikenal dengan dakwahnya untuk selalu mengingat Allah dan akhirat, hidup zuhud di dunia, serta mentarbiyah diri untuk selalu menaati Allah dan bertaqwa kepada-Nya.
Dari fenomena ini lahirlah format keilmuan, sebagaimana disiplin ilmu-ilmu keislaman lainnya. Terbangunlah suatu disiplin ilmu yang mengatur tingkah laku manusia dan melukiskan jalan kehidupannya yang spesifik. Tahapan-tahapan jalan itu adalah dzikir, ibadah, dan ma’rifatullah. Sedangkan hasil akhirnya adalah surga Allah dan keridhaan-Nya.
Itulah ilmu tasawuf, yang saya namakan ‘Ulum At-Tarbiyah wa As-Suluk (Ilmu Pembinaan dan Perilaku). Tidak dapat diragukan lagi bahwa ia merupakan bagian dari intisari Islam. Tidak dapat disangsikan pula bahwa dengan ilmu itu, kaum sufi (orang-orang ahli tasawuf) dapat meraih suatu jenjang yang tidak dapat diraih oleh orang-orang selain mereka, yakni jenjang terapi dan pengobatan jiwa. Dengan cara ini pula mereka telah membawa umat manusia agar melakukan amal nyata, yaitu melaksanakan kewajiban yang dibebankan oleh Allah dan menjauhi larangan-Nya, serta benar-benar menghadapkan diri kepada-Nya, sekalipun seringkali terjebak dalam tindakan yang berlebihan. Ini karena pengaruh semangat perlawanan terhadap kondisi zaman ketika itu. Misalnya berlebihan dalam berdiam diri, menahan lapar, tidak tidur malam, dan uzlah (mengasingkan diri). Sebenarnya semua ini ada dasar pijakannya dalam agama. Diam misalnya, ia berarti menghindarkan diri dari laghwun (perilaku yang tidak berguna). Sedangkan menahan lapar, berarti ia puasa. Tidak tidur di waktu malam, berarti qiyamul lail, dan uzlah hakikatnya adalah memelihara diri. Kalau saja pengamalannya proporsional, tepat pada garis-garis yang telah ditetapkan oleh syara’, tentu hal itu merupakan gudang segala kebajikan.
Ternyata fikrah dakwah tasawuf tidak hanya berhenti sampai batas ilmu suluk dan tarbiyah. Kalau saja ia berhenti pada batas ini tentu saja membawa kebaikan baginya dan bagi umat manusia seluruhnya. Sayangnya, setelah abad-abad pertama berlalu, tasawuf berkembang melampaui wilayahnya. Ia sampai pada batas memberi kebebasan liar kepada dzauq (cita rasa nafsu) dan wajd (intuisi), disamping mencampuradukkannya dengan ilmu-ilmu filsafat, manthiq (logika), serta warisan cara berfikir umat terdahulu. Akhirnya, agama tercampur oleh sesuatu yang bukan berasal dari-Nya. Terbukalah lubang-lubang yang cukup lebar bagi masuknya perilaku zindiq, atheis, atau orang yang rusak pendapat maupun aqidahnya, dengan atas nama tasawuf dan zuhud. Dengan itu mereka berobsesi untuk dapat meraih nilai-nilai ruhiyah yang cemerlang. Dengan demikian, segala hal yang ditulis atau dikatakan orang tentang masalah ini harus benar-benar menjadi perhatian dan pelajaran yang mendalam bagi para pemerhati agama Allah, juga bagi siapa saja yang ingin menjaga kebersihan dan kesucian agama ini.
Setelah itu, tibalah saatnya fikrah tasawuf mendapatkan bentuknya yang aplikatif. Bersamaan dengan itu muncullah berbagai cabang fikrah tasawuf, yang masing-masing memiliki cara tersendiri dalam mempengaruhi anggotanya. Selanjutnya politik pun memainkan perannya dalam mempengaruhi berbagai aliran tasawuf ini. Ia terkadang lahir dalam bentuk institusi militer, terkadang pula lahir dalam bentuk organisasi khusus yang lain. Demikianlah, ia berkembang dengan berbagai bentuknya sebagaimana yang kita lihat sekarang ini, yang merupakan produk dari perjalanan sejarahnya yang panjang. Di Mesir, kini tampil berbagai aliran tasawuf dengan para syaikh, para tokoh, serta para pengikutnya yang fanatik.
Tidak perlu disangsikan bahwa tasawuf dan tarekat telah menjadi faktor penting dalam ikut menyebarkan Islam di berbagai negeri, juga mengantarkan Islam ke pelosok-pelosok bumi yang jauh, dimana ia tidak mungkin sampai di sana melainkan melalui tangan para da’i itu. Hal ini seperti yang telah terjadi dan akan terus terjadi di negeri-negeri Afrika, baik di gurun pasir maupun di pedalaman. Hal serupa juga terjadi di beberapa negeri di Asia.
Dengan demikian tidak juga diragukan bahwa penggunaan kaidah-kaidah tasawuf untuk tujuan tarbiyah dan pembenahan suluk memiliki dampak yang bagus dalam jiwa mutarabbi (orang-orang yang dibimbing). Ucapan-ucapan kaum sufi dalam soal ini sangat tajam kekuatan pengaruhnya, tidak seperti layaknya ucapan selain mereka. Sayangnya, kekacauan dan campur-aduknya dengan berbagai fikrah telah banyak merusak manfaat tersebut, bahkan menghilangkannya.
Adalah menjadi kewajiban bagi para pembaharu untuk berfikir secara mendalam bagaimana melakukan perbaikan pada kelompok-kelompok ini. Memperbaiki mereka sebenarnya mudah, karena mereka mempunyai kesiapan yang sempurna untuk itu. Bahkan barangkali merekalah orang-orang yang paling dekat dengan kebaikan itu, sekiranya mereka diarahkan secara benar dan bijaksana ke arah itu. Lagi pula, mereka tidak membutuhkan kecuali beberapa personil ulama yang shalih yang senantiasa beramal serta para pemberi petuah yang jujur dan tulus, untuk melakukan kajian terhadap komunitas ini. Selain itu juga bagaimana mengambil manfaat dari kekayaan ilmiah ini dan memurnikannya dari berbagai noda yang melekat padanya, lalu memandu mereka secara benar.
Saya ingat bahwa As-Sayyid Taufiq Al-Bakri rahimahullah pernah memikirkan masalah itu. Beliau melakukan kajian ilmiah dan amaliah (teoritis dan aplikatif) terhadap para syaikh tarekat, lalu menulis sebuah buku mengenai hal ini. Namun sayang, proyek yang telah diawali itu belum sempurna dan berhenti. Setelah itu, tidak ada lagi para syaikh yang memperhatikan masalah ini. Saya juga ingat bahwa Syaikh Abdullah Afifi rahimahullah pernah memberikan perhatian terhadap masalah ini. Beliau banyak membicarakan masalah ini dengan para syaikh Al-Azhar dan dengan para ulama lainnya. Namun sayang, ia sekedar gagasan belaka yang tidak pernah terlaksana secara nyata.
Seandainya Allah menghendaki –kekuatan ilmiah Al-Azhar bertemu dengan kekuatan ruhiyah kaum tarekat, ditambah kekuatan aktivitas jamaah-jamaah islamiyah- tentulah umat Islam akan menjadi umat yang tiada tandingannya. Segolongan umat yang berada pada posisi mengarahkan dan bukan diarahkan, memimpin dan bukan dipimpin, memberikan pengaruh kepada umat lain dan bukan dipengaruhi, serta dapat mengarahkan masyarakat yang sesat menuju jalan yang lurus.




























