Hasan Al Banna

Tetaplah pada Fitrah Allah

Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah subhanahu wa ta’ala. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, juga untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat. Kita memulai dengan cara yang paling baik. Wahai Ikhwan yang mulia, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: assalamu’alaikum wa rahmatullah wa barakatuh.

Ikhwan sekalian, percayalah padaku bahwa setiap kali kita berpikir tentang nikmat agung ini, yaitu nikmat iman kepada-Nya dan kecintaan karena-Nya, maka kita akan semakin mengerti betul akan kelemahan kita dalam melaksanakan syukur dan kekurangan kita dalam memahami nikmat ini. Kita mengakui kelemahan ini sambil memohon kepada-Nya agar tetap menerima syukur kita, meskipun dengan berbagai kekurangan itu. Mahasuci Allah, kita tidak bisa menghitung pujian untuk-Nya sebagaimana pujian-Nya sendiri bagi diri-Nya.

Sebenarnya, di dunia ini tidak ada nikmat yang lebih sempurna dan lebih agung daripada nikmat iman. Ia merupakan setinggi-tinggi nikmat. Dan alangkah banyaknya nikmat yang dikaruniakan-Nya kepada hamba-hamba-Nya. “Dan jika kalian menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kalian tidak dapat menentukan jumlahnya.” (QS. An-Nahl: 18)

Nikmat agama adalah nikmat yang tidak bisa disetarakan dengan nikmat apa pun. “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Ku-cukupkan kepada kalian nikmat-Ku dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagi kalian.” (QS. Al-Maidah: 3)

Di dunia ini tidak ada ikatan yang lebih kuat daripada ikatan Islam yang menjalin putra-putranya. Sekalipun rumah-rumah kaum muslimin berjauhan, jarak yang jauh memisahkan antara mereka, akan tetapi mereka masih disatukan oleh kalimat “La Ilaha lllallah Muhammadur Rasulullah”[1]

Itulah aqidah yang telah memadukan hati dan menyatukan jiwa mereka. Jika tidak, lantas apakah yang mendorong kalian untuk datang dalam sebuah pertemuan yang di dalamnya tidak terdapat manfaat materi, kecuali kenikmatan ruhani yang kita rasakan dan kita nikmati kelezatannya ketika kita melalui saat-saat pembicaraan tentang Islam dan tentang keindahan-keindahan Islam, sehingga kalian merasakan adanya pengaruh yang dalam, yang tidak mungkin muncul kecuali berkat limpahan karunia Allah subhanahu wa ta’ala.

Amma ba’du. Pada kajian yang lalu, telah saya sampaikan bahwa Allah subhanahu wa ta’ala mengemukakan risalah kepada manusia secara global, kemudian menjelaskan sikap manusia terhadapnya. Di antara mereka ada orang-orang yang beriman, ada orang-orang yang kafir, dan ada pula orang-orang yang munafik. Dia juga menjelaskan sifat-sifat yang dimiliki oleh masing-masing dari mereka. Untuk orang-orang munafik, Allah juga telah membuat dua perumpamaan. Setelah pengklasifikasian ini, Allah subhanahu wa ta’ala hendak mengemukakan risalah tersebut kepada manusia dengan lebih terperinci. Karena itu Allah Yang Mahaluhur berfirman, “Hai manusia, beribadahlah kepadaTuhan kalian yang telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian agar kalian bertaqwa…” (QS. Al-Baqarah: 21-25)

Ayat-ayat ini mengupas tentang unsur-unsur risalah Muhammad, yang meliputi empat unsur: tauhid – nubuwah – tantangan dengan Al-Qur’an – pembalasan.

Dalam ayat-ayat ini terdapat ungkapan-ungkapan yang akurat. Perhatikan, wahai Akhi, bagaimana Allah subhanahu wa ta’ala berfirman dengan kalimat, “Wahai manusia”, bukannya “Wahai orang-orang yang beriman”, “Wahai orang-orang Arab”, atau “Wahai orang-orang Persi”. Itu mengandung isyarat mengenai universalitas risalah dan bahwa Nabi shalallahu ‘alayhi wa sallam diutus untuk seluruh umat manusia sejak zaman beliau diutus hingga hari kiamat. Karena itu, ayat-ayat Al-Qur’an datang menjelaskan hakikat ini.

“Mahasuci Allah yang telah menurunkan Al-Furqan (Al-Qur’an) kepada hamba-Nya, agar dia menjadi pemberi peringatan kepada seluruh alam.” (QS. Al-Furqon: 1)

“Dan tiadalah Kami mengutus kamu,melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya’: 107)

Mukjizat Al-Qur’an terbukti setelah terjadinya peperangan-peperangan panjang serta membuktikan bahwa seluruh dunia ini membutuhkan satu peraturan dan tatanan, serta sebuah kesatuan yang utuh. Dunia sudah semakin sempit, sampai-sampai titik terjauh di dalamnya bisa ditempuh dalam tempo satu hari, tanpa malam. Sarana transportasi semakin canggih sehingga seseorang bisa bersarapan di Kairo, lantas makan siang di Iraq, makan malam di India, dan bermalam di Jepang.

Radio, pesawat terbang, dan alat komunikasi, serta transportasi lainnya telah mendekatkan jarak antarbumi. Satu kesatuan sosial dan kesatuan ekonomi yang akan membawa umat manusia kepada kesatuan politik, hampir-hampir terwujud setiap hari dan di setiap kota ada konferensi. Yang masih belum terwujud tinggallah kesatuan aqidah yang merupakan landasan bagi seluruh persatuan. Dan inilah tugas Islam. “Wahai manusia, bertaqwalah kepada Tuhan kalian yang telah menciptakan kalian dari seorang diri, dan darinya Allah menciptakan istrinya.” (QS. An- Nisa’: 1)

Perhatikan, wahai Akhi, bagaimana Islam telah mendahului pikiran manusia dengan dakwahnya yang abadi, lantas menyuguhkannya kepada manusia secara gratis. Barangkali ada orang yang mengatakan, “Bagaimana mungkin Islam bisa memadukan manusia di zaman sekarang yang memiliki perbedaan lingkungan, generasi, dan masa?”

Kita jawab bahwa Islam adalah ciptaan Allah Yang Mahatahu dan Maha-ahli, yang mengetahui segala kejadian di masa lalu, di masa sekarang, dan di masa mendatang. Karena itu, ia datang membawa segala hal yang dibutuhkan oleh manusia di setiap waktu dan zaman. Karakter Islam adalah kekal dan abadi. Maka Islam memegang teguh pokok dari prinsip-prinsip dan kaidah-kaidah yang tidak berubah, seraya membiarkan manusia mengurusi perincian-perincian dan penjelasan tentang hal-hal yang bersifat cabang. Biarlah mereka mengaturnya sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan manusia. Karena itu, Umar bin Abdul Aziz berkata, “Hukum diputuskan di tengah masyarakat seiring dengan perilaku mereka.”

Imam Syafi’i radhliyallahu ‘anhu mempunyai fatwa-fatwa ketika di Iraq dan fatwa-fatwa ketika di Mesir. Beliau mempunyai dua madzhab, yaitu madzhab lama (qaul qadim) dan madzhab baru (qaul jadid). Lingkungan dan kondisi bisa berubah-ubah, tetapi agama tetap satu, tidak berubah, karena ia kekal di setiap zaman. “Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segenap ufuk dan pada diri mereka sendiri, sehingga jelaslah bagi mereka bahwa Al- Qur’an adalah benar.” (QS. Fushilat: 53)

Ikhwan sekalian, seruan “Wahai manusia” adalah risalah pertama yang menyatakan universalitas dan keumuman risalah Islam.

“DanKami tidak mengutus kamu melainkan kepada umat manusia seluruhnya.” (QS. Saba’: 28)

“Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seoranglaki-laki di antara kalian, tetapi dia adalah Rasulullah dan penutup nabi-nabi.” (QS. Al-Ahzab: 40)

Ikhwan sekalian, selanjutnya Allah berfirman, Beribadahlah”,bukan “Bertauhidlah”. Hal itu karena ibadah merupakan amal yang tidak bisa dilaksanakan kecuali dengan pemikiran dan keyakinan. Dalam ibadah terkandung hakikat pemikiran, iman, keyakinan, dan amal yangdiiringi dengan pemujaan. Itu terwujud dengan melaksanakan perintah dan menjauhi larangan.

Allah mengatakan “kepada Rabb kalian”, bukan “kepada Ilah kalian” atau “kepada Khalik kalian”, karena pernyataan ini mengisyaratkan adanya hubungan antara hamba dan Rabb-nya. Hubungan ini bukan sekedar hubungan khalq (penciptaan), tetapi hubungan tarbiyah (pendidikan, pengasuhan), birr (kebaikan), ri’ayah (perhatian), dan hidayah (petunjuk). Pernyataan ini mengisyaratkan bahwa seorang hamba itu, apakah ia kecil atau besar, berada dalam perhatian dan pendidikan Allah, semenjak ia diciptakan sampai dijemput oleh kematian.

“Yang telah menciptakan kalian” adalah keterangan lebih rinci mengenai jenis tarbiyah Allah, sebab andaikata Allah tidak menciptakan hamba-hamba-Nya, niscaya mereka menjadi sesuatu yang tiada.

“Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedangdia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?” (QS. Al-lnsan: 1)

“Dan tidakkah manusia itu memikirkan bahwa sesungguhnya Kami telah menciptakannya dahulu, sedang ia tidak ada sama sekali.” (QS. Maryam: 67)

Nikmat pertama yang diperoleh hamba adalah nikmat penciptaan. Allah membantah orang-orang yang mengatakan: “Yang terjadi hanyalah rahim yang mendorong kelahiran dan bumi yang menelan (bangkai); tidak ada yang membinasakan kita selain waktu.” Karena itu Allah berfirman, “Dan orang-orang yang sebelum kalian”. Jadi, Anda semua berutang kepada Allah atas nikmat penciptaan. Betapa banyak rahasia yang tersimpan. “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari tanah….” (QS. Al- Mukminun: 12)

Inilah nikmat besar yang diliputi dengan keajaiban-keajaiban penciptaan.“Dan (juga) pada diri kalian sendiri; maka apakah kalian tidak memperhatikan?” (QS. Adz-Dzariyat: 21)

“Agar kalian bertaqwa.” Agar kalian menempuh jalan ketaqwaan. Ketaqwaan dalam arti menghindari keingkaran, kekafiran, kemarahan, dan hal-hal yang diharamkan.

“Dialah Yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagi kalian danlangit sebagai atap”. Wahai Akhi, ayat ini mengingatkan kepada nikmat Allah subhanahu wa ta’ala yang lain, yaitu bumi yang di dalamnya terdapat penghidupan dan rezeki bagimu. Siapakah yang telah menghamparkannya? Siapakah yang telah menjadikannya mudah didiami? Dan langit yang di dalamnya terdapat matahari, bulan, bintang-bintang, dan planet-planet yang bisa dijadikan petunjuk bagi manusia dan sarana untuk menata kehidupan. Langit merupakan kelengkapan dari nikmat bumi. Manusia semenjak diciptakan butuh kepada Rabbnya. Jika Allah adalah yang memberikan semua nikmat ini, maka bagaimana kamu membuat tandingan-tandingan dan sekutu-sekutu bagi-Nya, sedangkan kamu mengetahui? Mahasuci Allah dari hal itu. Hawa nafsu, kedengkian, keras kepala, dan kesesatan adalah yang menyebabkan manusia ditimpa keraguan, kekufuran, dan kemunafikan.

Ikhwan sekalian, ma’rifah tentang Allah subhanahu wa ta’ala itu merupakan hal yang jelas dan gamblang, tidak memerlukan kerja keras, karena ia merupakan tuntutan fitrah. “(Tetaplah pada) fitrah Allah, yang diatasnya Dia menciptakan manusia.” (QS. Ar-Rum: 30)

Allah tidak berbicara kepada golongan elit atau orang-orang yang cerdik dan pandai berdebat saja, tetapi firman Allah tersebut ditujukan kepada manusia secara umum. Karena itu, Allah berbicara kepada mereka dengan firman-Nya, “Sedangkan kamu mengetahui.”

Ikhwan sekalian, saya akan mengalihkan pembahasan kepada tema baru, yaitu Al-Qur’an, yang merupakan makna kedua yang akan kita bicarakan dalam kajian mendatang, insya Allah.

Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada Sayidina Muhammad dan segenap keluarga serta sahabatnya.



[1] Kalimat Tauhid