Manna' Khalil Al Qaththan

Tingkatan-tingkatan Al Jarh wa At Ta’dil

Para perawi yang meriwayatkan hadits bukanlah semuanya dalam satu derajat dari segi ke’adilan, kedhabitan, dan hafalan mereka sebagaimana yang telah kami jelaskan sebelumnya. Di antara mereka ada yang hafalannya sempurna, ada yang kurang dalam hafalan dan ketepatan, dan ada pula yang sering lupa dan salah padahal mereka orang yang ‘adil dan amanah, serta juga ada yang berdusta dalam hadits, maka Allah menyingkap perbuatannya ini melalui tangan ulama yang sempurna pengetahuan mereka. Oleh karena itu, para ulama menetapkan tingkatan jarh dan ta’dil, dan lafazh-lafazh yang menunjukkan pada setiap tingkatan, sehingga tingkatan ta’dil ada enam tingkatan, dan tingkatan jarh ada enam juga.

1. Tingkatan At Ta’dil

Tingkatan pertama: yang menggunakan bentuk superlatif dalam penta’dilan, atau dengan menggunakan wazan “af’ala”, seperti: “Fulan kepadanyalah puncak ketepatan dalam periwayatan”, atau “fulan orang yang paling tepat periwayatan dan ucapannya”, atau “fulan orang yang sangat terpercaya”, atau “fulan orang yang paling kuat hafalan dan ingatannya”.

Tingkatan kedua: dengan menyebutkan sifat yang menguatkan ketsiqahannya, ke’adilan, dan ketepata n periwayatannya, baik dengan lafazh maupun dengan makna, seperti “tsiqah-tsiqah”, atau “tsiqah-tsabt”, atau “tsiqah dan terpercaya (ma’mun)”, atau “tsiqah dan hafizh”.

Tingkatan ketiga: yang menunjukkan adanya pentsiqahan tanpa adanya penguatan atas hal itu, seperti: tsiqah, tsabt, hujjah, mutqin.

Tingkatan keempat: yang menunjukkan adanya ke’adilan dan kepercayaan tanpa adanya isyarat akan kekuatan hafalan dan ketelitian, seperti: shaduq (jujur), ma’mun (dipercaya), mahalluhu ash shidq (ia tempatnya kejujuran), atau la ba’sa bihi (tidak mengapa dengannya) –menurut selain Ibnu Ma’in, sebab menurut Ibnu Ma’in kalimat “laa ba’sa bihi” adalah tsiqah.[1]

Tingkatan kelima: yang tidak menunjukkan adanya pentsiqahan ataupun celaan, seperti “fulan syaikh” (Fulan seorang syaikh), “ruwiya ‘anhu al hadits” (orang meriwayatkan hadits darinya), atau “hasan al hadits” (yang baik haditsnya).

Tingkatan keenam: isyarat yang mendekati pada celaan (jarh), seperti: shalaih al hadits (haditsnya lumayan), atau “yuktabu haditsuhu) ditulis haditsnya).

Hukum Tingkatan-tingkatan ini

  1. Untuk tiga tingkatan yang pertama, dapat dijadikan hujjah, meskipun sebagian mereka lebih kuat dari sebagian yang lain.
  2. Adapun tingkatan keempat dan kelima, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadits mereka boleh ditulis, dan diuji kedhabitan mereka dengan membandingkan hadits mereka dengan hadits-hadits para tsiqah yang dhabith. Jika sesuai dengan hadits mereka, maka bisa dijadikan hujjah. Jika tidak sesuai maka ditolak, meskipun dia dari tingkatan kelima yang lebih rendah daripada tingkatan keempat.
  3. Sedangkan tingkatan keenam, tidak bisa dijadikan hujjah, tetapi hadits mereka ditulis untuk dijadikan sebagai pertimbangan saja bukan untuk pengujian, karena mereka tidak dhabith.

2. Tingkatan-tingkatan Al Jarh

Tingkatan pertama: yang menunjukkan adanya kelemahan, dan ini yang paling rendah dalam tingkatan Al Jarh (kritikan) seperti: layyin al hadits (lemah haditsnya), atau fiihi maqaal (dirinya dibicarakan), atau fiihi dha’fun (padanya ada kelemahan).

Tingkatan kedua: yang menunjukkan adanya pelemahan terhadap perawi dan tidak boleh dijadikan sebagai hujjah, seperti: “Fulan tidak boleh dijadikan hujjah”, dhaif, “ia mempunyai hadits-hadits yang munkar”, atau majhul (tidak diketahui kondisinya).

Tingkatan ketiga: yang menunjukkan lemah sekali dan tidak boleh ditulis haditsnya, seperti: Fulan dha’if jiddan (dhaif sekali), atau wahin marrah (sangat lemah), atau “tidak ditulis haditsnya”, atau “tidak halal periwayatan hadits darinya”, atau laisa bisya’in (tidak ada apa-apanya), kecuali menurut Ibnu Ma;in, ungkapan “laisya bisya’in” sebagai petunjuk bahwa hadits perawi itu sedikit.

Tingkatan keempat: yang menunjukkan tuduhan dusta atau pemalsuan hadits, seperti: fula muttaham bil kadzib (dituduh berdusta), atau dituduh memalsukan hadits”, atau “mencuri hadits”, atau matruk (yang ditinggalkan), atau laisa bi tsiqah (bukan orang yang terpercaya).

Tingkatan kelima: yang menunjukkan sifat dusta, atau pemalsu dan semacamnya, seperti: kadzab (tukang pendusta), atau dajjal, atau wadhdha’ (pemalsu hadits) atau yakdzib (dia berbohong) atau yadha’ (dia memalsukan hadits).

Tingkatan keenam: yang menunjukkan adanya dusta yang berlebihan, dan ini seburuk-buruk tingkatan, seperti: “Fulan orang yang paling pembohong”, atau “ia adalah puncak dalam kedustaan”, atau “dia rukun kedustaan”.

Hukum Tingkatan-Tingkatan ini

  1. Untuk dua tingkatan pertama tidak bisa dijadikan sebagai hujjah terhadap hadits mereka, akan tetapi boleh ditulis untuk diperhatikan saja, dan walaupun orang pada tingkatan kedua lebih rendah daripada tingkatan pertama.
  2. Sedangkan empat tingkatan terakhir tidak boleh dijadikan sebagai hujjah, tidak boleh ditulis, dan tidak boleh dianggap sama sekali.[2]

Dan ta’dil boleh diterima tanpa menyebutkan alasan dan sebabnya menurut pendapat yang shahih dan masyhur, karena sebabnya banyak sehingga sulit menyebutkannya.

Sedangkan Jarh tidak boleh diterima kecuali dengan alasannya, karena hal itu terjadi disebabkan satu masalah dan tidak sulity menyebutkannya. Dan karena setiap orang berbeda dalam sebab-sebab jarhnya. Ulama yang menjarh seorang perawi karena berdasarkan pada apa yang diyakininya sebagai jarh, belum tentu dapat dijadikan alasan bagi orang lain. Oleh karenanya harus dijelaskan sebabnya untuk dapat dilihat apakah itu benar suatu cacat atau bukan?


[1] Karena Ibnu Ma’in dikenal sebagai ahli hadits yang mutasyadid (keras), sehingga lafazh yang biasa saja bila ia ucapkan sudah cukup untuk menunjukkan ketsiqahan perawi itu (Edt)

[2] Tadrib Ar Rawi hal 229-233, dan Taysir Musthalah Al Hadits hal 152-154