Sa'id Hawwa

Tujuan Ikhwan dalam Individu dan Rumah Tangga

Di sini akan diuraikan tujuan ikhwan secara rinci berdasarkan penjelasan yang telah disampaikan oleh Imam Hasan Al-Banna, selaras dengan nash-nash yang berhubungan dengan itu.

(1). Individu

Individu muslim yang kita inginkan adalah individu yang memiliki fisik yang kuat, mulia akhlaqnya, berwawasan luas, giat berusaha, selamat akidahnya, benar ibadahnya, pejuang sejati, menjaga waktunya, tertib urusannya, bermanfaat bagi orang lain, mampu membimbing keluarga untuk mengikuti fikrahnya, menjaga tata krama Islam dalam segenap kehidupan rumah tangganya, pandai memilih istri, pandai menjelaskan hak dan kewajiban istrinya, serta pandai dalam mendidik anak-anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungannya dengan ajaran Islam.

Selain itu, juga individu yang mampu membimbing masyarakatnya dengan menyiarkan dakwah dan seruan kebaikan, yang siap memerangi segala bentuk keburukan dan kemunkaran, mensponsori kebaikan dan amar ma’ruf nahyi munkar, bersegera melakukan amalan yang baik, berusaha membangun opini umum yang mendukung Islam, berusaha membangun format kehidupan umum dengan Islam, berjuang membebaskan negeri Islam dari cengkeraman pihak asing yang bukan Islam; baik dalam politik, ekonomi maupun spiritual, berusaha menjadikan pemerintah Islam yang sebenar-benarnya, berusaha mewujudkan kembali kesatuan umat Islam dengan memerdekakan negara mereka, membangun kembali kejayaannya, mendekatkan peradabannya dan menghimpun kalimatnya. Demikian juga ia berjuang untuk mengembalikan khilafah yang hilang dan kesatuan yang diidam-idamkan, juga berjuang untuk memandu dunia dengna menyebarkan dakwah Islam di seantero wilayahnya sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama hanya milik Allah semata.

(2). Rumah Tangga

Rumah tangga muslim yang kita inginkan adalah rumah tangga yang suami istri di dalamnya mengetahui hak dan kewajibannya masing-masing lalu mereka komitmen memeliharanya. Pandai mendidik anak-anak dan pembantu rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Islam, yang antara lain etika Islam dalam kehidupan rumah tangga.

Istri yang ideal adalah istri yang sifat-sifatnya disebutkan oleh Allah dan dipilih untuk Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an:

“Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan memberi ganti kepadanya dengan istri-istri yang lebih baik dari kamu, yang patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadah dan yang berpuasa.” (QS. At-Tahrim : 5)

Baik itu janda maupun gadis. Allah kemudian menyempurnakan ayat-Nya dengan:

“Janda atau perawan.”

Islam, iman, taat, ibadah dan shiyam, semua itu merupakan ciri khas istri shalihah. Istri yang taat hanya ada pada wanita yang shalihah. Dalam hubungan ini Allah berfirman:

Kaum laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, sebab Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan harta mereka. Sebab itu maka wanita yang shalihah ialah yang taat kepada Allah dan memelihara diri di belakang suaminya, sebab Allah telah memelihara mereka.” (QS. An-Nisa’: 34)

Rumah tangga muslim harus beranggotakan orang-orang yang berpegang teguh pada penampilan islami, sekurang-kurangnya dalam kehidupan duniawinya. Dalam hal wanita, hendaknya berpakaian yang tidak menampakkan auratnya dan anak-anaknya hendaknya dididik untuk itu. Dalam hal ini, ibulah pelopornya.

Rumah tangga muslim tidak dimasuki hal-hal yang haram. Dinding-dindingnya tidak digantungi hiasan berbau maksiat. Perabot-perabotnya tidak begitu saja terbuka dan dapat dilihat oleh orang luar. Rumah tangga muslim yang sempurna adalah rumah tangga muslim yang disiplin dengan prinsip-prinsip Ikhwanul Muslimin, karena dialah representasi Islam modern. Karena itu Ustadz Hasan menjadikan sebagian dari kewajiban akh aktivis adalah memformat rumah tangganya dengan prinsip-prinsip Ikhwan.

Rumah tangga muslim adalah rumah tangga yang mempersiapkan anak-anaknya yang belum lagi baligh dengan bimbingan Islam menuju ke jalan yang benar, sebagai persiapan bila mereka dewasa kelak.

Rumah tangga muslim jauh dari pamer kekayaan, kemewahan dan segala nikmat dunia yang fana, jauh dari segala perilaku yang tidak islami.

Hasan Al-Banna menjadikan sebagai kewajiban mujahid hal-hal berikut ini. Ia berkata: “Zuhud dan sikap menjauhkan diri dari gemerlapnya kenikmatan dan kesenangan dunia yang fana ini dan menjauh dari hal-hal yang tidak islami baik dalam ibadah, muamalah maupun yang lainnya.”

Selain itu juga ada beberapa hal pokok yang perlu disebutkan, yakni perihal pendidikan anak dan menjaga perilaku orang-orang yang ada dalam kekuasaannya, juga menasihati dan mendakwahi setiap orang yang memiliki hubungan kekerabatan dengannya.

Sungguh, anak-anak Islam sekarang –di seluruh dunia—adalah anak-anak yang paling terlantar. Karenanya orangtua wajib menyadari, mengetahui dan mengamati dengan seksama, bahwa peringkat umur sebelum baligh merupakan peringkat persiapan untuk menghadapi kehidupan pasca akil balighnya. Hal-hal yang diperlukan oleh setiap muslim setelah baligh harus dilatihkan di masa-masa sebelumnya. Setiap muslim dibebani kewajiban dalam bidang aqidah, ibadah, akhlak, dan muamalah disamping jihad dan upaya mempersiapkannya. Semua ini memerlukan jihad jiwa dan raga. Seorang muslim tidak boleh menjadi beban orang lain, karenanya ia harus memiliki pekerjaan. Setiap orangtua harus memahami dan menyadari hal ini dan mempersiapkan anak-anaknya ke arah itu. Orangtua harus mendidik anak-anaknya untuk mengikuti dan mencintai Islam. Anak-anak harus dididik beriman dan terbiasa melakukan ibadah dengan disiplin.

Rasulullah shalallahu ‘alayhi wa sallam telah memerintahkan anak-anak supaya disuruh shalat ketika ia berumur tujuh tahun dan dipukul (jika mereka enggan melakukan shalat) setelah umurnya mencapai sepuluh tahun. Dalam hal ini ada ulama yang meng-qiyaskan puasa dengan shalat. Orangtua juga harus membiasakan anak-anaknya berinfak dan berakhlak baik. Mengajari mereka bekerja untuk mendapat penghasilan sendiri. Anak-anak harus dibina terus semangat jihadnya dan dilatih dengan latihan-latihan perang. Rasulullah memerintahkan kita agar mengajari anak-anak kita memanah, berenang, menunggang kuda serta latihan bagaimana cara melompat ke atas punggung kuda yang sedang berlari. Masuk dalam kegiatan ini adalah mengendarai kendaraan bermotor; sepeda motor, mobil dan lain-lainnya, disamping menunggang kuda tadi.

Jika seorang anak tidak mempunyai orangtua, maka walinya atau masyarakat di sekitarnya harus mengambil alih peran ini. Jika anak itu perempuan harus diingatkan bahwa kelak ia akan menjadi seorang istri, seorang ibu, atau ibu rumah tangga. Tugas ini tentu saja memerlukan penanganan serius. Seorang muslim harus memahami  bahwa seseorang yang gagal mendidik anak-anak, istri dan keluarganya pada umumnya juga bakal menemui kegagalan ketika mendidik dan memimpin umatnya.

Membiasakan anak-anak untuk melakukan hal-hal yang baik dan beretika adalah kewajiban Islam yang tidak bisa dielakkan oleh seorang muslim. Di antara hal-hal penting yang perlu mendapat perhatian serius dari kedua orangtua ialah, mendidik perasaan harga diri kepada anak-anaknya, menutup aurat, mengekang hawa nafsu seksual, menjauhkan mereka dari tempat-tempat kerusakan dan bergaul dengan para pelaku kerusakan itu. Orangtua harus membiasakan anak-anaknya menyukai cara hidup islami dan pakaian Islam.