Fir'adi Nasruddin

Ulama Su’, Ulama Jahat, Ulama Dunia

عُلَمَاءُ السُّوءِ جَلَسُوْا عَلَى بَابِ الْجَنَّةِ. يَدْعُوْنَ إِلَيْهَا النَّاسَ بِأَقْوَالِهِمْ وَيَدْعُوْنَهُمْ إِلَى النَّارِ بِأَفْعَالِهِمْ. فَكُلَّمَا قَالَتْ أَقْوَالُهُمْ لِلنَّاسِ هَلُمُّوْا, قَالَتْ أَفْعَالُهُمْ: لاَ تَسْمَعُوْا مِنْهُمْ. فَلَوْ كَانَ مَا دَعُوْا إِلَيْهِ حَقًّا كَانُوْا أَوَّلَ الْمُسْتَجِيْبِيْنَ لَهُ. فَهُمْ فِي الصُّوْرَةِ أَدِلاَّءُ وَفِي الْحَقِيْقَةِ قُطَّاعُ الطُّرُقِ

“Ulama su’ (jahat) duduk di depan pintu surga dan mengajak manusia untuk masuk ke dalamnya dengan ucapan dan seruan-seruan mereka. Tapi mereka mengajak manusia untuk masuk ke dalam neraka dengan perbuatan dan tindakannya. Ucapan mereka berkata kepada manusia: “Kemarilah! (lakukanlah ini)!” Sedangkan perbuatan mereka (seolah-olah) berkata, “Janganlah engkau dengarkan seruan mereka.” Seandainya seruan mereka itu benar, tentu mereka adalah orang yang pertama kali memenuhi seruan itu. Secara zahir mereka adalah penuntun jalan, tapi hakikatnya mereka adalah perampok jalan.” (Al-Fawaid, Ibnul Qayyim, hal. 94, Dar al-Kitab al-Arabi Beirut).

Saudaraku,
Ibnul Qayyim pada zamannya telah melihat fenomena munculnya ulama su’ (buruk atau jahat), masa yang bertabur ulama yang pakar di bidang tafsir, hadits, akidah, fiqih dan ushulnya, tarikh dan yang senada dengan itu. Apalagi di zaman kita hidup sekarang ini, yang sangat sulit mencari tipe ulama seperti pada masa itu.

Jauh-jauh hari Rasulullah s.a.w telah meramalkan akan munculnya ulama model ini. Beliau bersabda, “Akan muncul di akhir zaman orang-orang yang mencari dunia dengan agama. Di hadapan manusia mereka memakai baju dari bulu domba untuk memberi kesan kerendahan hati mereka, lisan mereka lebih manis dari gula namun hati mereka adalah hati serigala (sangat menyukai harta dan kedudukan). Allah berfirman, “Apakah dengan-Ku (kasih dan kesempatan yang Kuberikan) kalian tertipu ataukah kalian berani kepada-Ku. Demi Diriku, Aku bersumpah. Aku akan mengirim bencana dari antara mereka sendiri yang menjadikan orang-orang santun menjadi kebingungan (apalagi selain mereka) sehingga mereka tidak mampu melepaskan diri darinya.” (HR. Tirmidzi).

Ulama su’ adalah peringkat ulama yang paling rendah martabatnya. Ia adalah seorang alim yang tidak mengamalkan ilmunya dan tidak mengajarkannya kepada manusia. Di samping itu, ia mengajak kepada kejahatan dan kesesatan. Ia menampilkan keburukan dalam bentuk kebaikan. Ia menggambarkan kebatilan dengan lukisan kebenaran. Ada kalanya, karena menjilat para penguasa dan orang-orang zhalim lainnya untuk mendapatkan kedudukan, pangkat, pengaruh, penghargaan atau apa saja dari perhiasan dunia yang ada di tangan mereka. Atau ada juga yang melakukan itu karena sengaja menentang Allah dan Rasul-Nya demi menciptakan kerusakan di permukaan bumi ini. Mereka tidak lain adalah para pengikut setan durjana dan para wakil Dajjal Ankara murka.

Saudaraku,
Diriwayatkan bahwa Allah Ta’ala memberi wahyu kepada Nabi Daud a.s, “Wahai Daud jangan engkau jadikan antara Aku dan antara dirimu seorang alim yang sudah tergoda oleh dunia, sehingga ia bisa menghalangimu dari jalan mahabbah-Ku. Karena sesungguhnya mereka adalah para perampok yang membegal jalan hamba-hamba-Ku. Sesungguhnya hukuman terkecil yang Aku kenakan untuk mereka adalah Aku cabut kelezatan bermunajat dari hati mereka.” (Jami’ Bayan al-Ilmi, Ibnu Abdil Bar).

Ulama su’ adalah perusak agama, pemadam sunnah, pelindung bid’ah, pelopor maksiat. Sesungguhnya tepat ungkapan Ibnul Mubarak, ”Tidaklah merusak agama ini melainkan para raja, ulama su’ dan para rahibnya.” Hal ini karena manusia ini bergantung kepada ulama (ahli ilmu dan amal), ubbad (ahli ibadah) dan muluk (umara, aghniya’). Jika mereka baik, manusia akan baik dan jika mereka rusak, pasti dunia menjadi rusak. (Tafsir Ibnu Katsir).

Saudaraku,
DR. Mustafa al-Siba’I pernah menggambarkan ulama’ su’ dalam karyanya “hakadza ‘allamatni al-hayat”:

Seorang da’i (ahli agama) yang munafiq pernah ditanya, “Mengapa engkau selalu berubah wajah setiap kali penguasa berganti?.”

Ia menjawab, “Demikianlah Allah menciptakan hati manusia selalu berbolak-balik. Jika hatiku tidak berubah, berarti aku menyalahi garis aturan Allah Ta’ala.”

Saudaraku,
Di negeri kita adakah da’i, penceramah, ahli agama, mufti yang bermental seperti itu? Jika ada berarti ia adalah seorang munafiq. Yang selalu memakai wajah, baju dan tampilan yang berbeda saat berganti penguasa atau pejabat Negara.

Tema-tema dan muatan pengajian dan ceramah serta fatwa-fatwanya selalu berubah disesuaikan dengan pesanan, maslahat dan kepentingan dirinya. Apalagi menjelang pemilu atau pilkada.

Saudaraku,
Kita khawatir kyai, syekh dan ustadz yang setelah khutbah nikah, ia menyumbang beberapa lagu sambil bergoyang-goyang di panggung dengan iringan orgen tunggal, termasuk ulama su’.

Kita khawatir orang yang berdakwah dengan menggunakan metode lawak, sehingga ungkapan yang kotor dan contoh-contoh yang seronok menjadi bumbu wajib dalam setiap ceramahnya, karena target keberhasilannya adalah puasnya hadirin, pemirsa dan pendengar, dengan gelak tawa dan senyuman lebar mengembang.

Jenis ulama penghibur (pelawak) ini mungkin telah keluar dari rel dakwah bahkan mengikuti nafsu syahwat demi mengejar popularitas dan menggapai ridha manusia. Mereka lupa akan ancaman Rasulullah s.a.w, ”Barangsiapa yang mencari ridha Allah dengan (resiko mendapat) murka manusia, maka Allah mencukupinya dari manusia. Dan barangsiapa mencari ridha manusia dengan (melakukan sebab) kemurkaan Allah, maka Allah menyerahkan dirinya kepada manusia.” (HR. Tirmidzi).

Saudaraku,
Umat Islam di Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia mendapatkan quota untuk jamaah haji sekitar 200 ribu orang pertahun. Jika dianalogikan sebuah Universitas, maka setiap tahun bangsa Indonesia menghasilkan sebanyak 200 ribu sarjana haji. Artinya, dari jumlah penduduk sekitar 200 juta lebih, ada 200 ribu orang yang dikaruniai Allah kemampuan untuk melaksanakan ibadah haji.

Pertanyaan yang menggelayut di benak kita, semakin banyak yang berangkat haji, apakah negeri kita semakin berdaulat dan bermartabat? Apakah grafik iman dan keshalihan masyarakat Indonesia semakin meningkat ataukah kian merosot? Apakah banyaknya jumlah orang bertitel haji berpengaruh bagi keadilan sosial, pemberantasan korupsi dan mengatasi dekadensi moral? Jawabannya sudah kita rasakan dan alami, sungguh memilukan sekaligus memalukan.

Bahkan nilai dan pesan dari rihlah ruhani yang memakan waktu paling lama, biaya besar dan pengorbanan yang tidak sederhana, kurang memberi bekas pada praktek ibadah, muamalah dan interaksi dengan sesama.

Ada yang kembali pada praktek riba. Curang yang berjual beli. Hari-harinya sepi dari shalat berjama’ah di masjid. Kehidupannya kosong dari sedekah. Empati terhadap orang-orang lemah secara fisik dan finansial belum terbangun. Dan seterusnya.

Kita khawatir, haji yang lepas kontrol, perkataan dan perilakunya tidak terukur, sepak terjangnya tidak terarah, termasuk dalam katagori ulama’ su’. Wallahu a’lam bishawab.

Semoga Allah Ta’ala menjauhkan kita dari bermental mendua dan menjauhkan orang yang berwajah dua dari kehidupan kita. Tidak mengelompokan kita dalam kelompok ulama su’.

Mudah-mudahan walau kita mungkin tidak tergolong ulama, tapi kita memiliki keteladanan dan kontribusi keshalihan bagi semua. Amien.

Metro, 16 Oktober 2014
Abu Ja’far Fir’adi